
Panas hati, panas cuaca, di tambah panas suhu didalam bus yang di jubeli banyak penumpang benar-benar membuat Tarra berdecak sebal. Baru kali ini Tarra mengalami nasib sial secara beruntun setelah dirinya mengetahui isi hati Maya yang sebenarnya.
Hawa panas yang menyeruak, membuat para penumpang saling adu lincah ngipas-ngipas wajah agar sedikit merasa adem. Ada yang pake sapu tangan, koran, majalah, juga beberapa brosur.
Yang rada pinter, tapi nggak punya alat, nggak kehabisan akal. Sambil berlagak pilon, bagian tubuh yang kepanasan, dideketin ke penumpang sebelahnya yang lagi ngipas-ngipas. 😝
Tarra pun tak mau kalah, dari tadi dia juga ngipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan. Bukan tidak mau ngipas pakai buku, tapi karena memang sudah tidak ada buku yang rela dijadikan kipas wajah handsome nya.
Satu buah buku umumnya kepakai sebentar, sebelum kemudian diselipin ke dalam tas kembali dengan keadaan sudah lecek, sobek, bahkan tercabik-cabik karena saking hot nya dia ngipas. Cuaca benar-benar panas saat ini.
"Jalan napa, bang?!! Udah lama nih nunggunya!"
Tarra menengok kebelakang, kearah sumber suara. Seorang ibu nampak protes. Tubuhnya yang sebelum masuk bus nampak subur, kini mungkin sudah menyusut sekilo dua kilo akibat cuaca panas yang menerpa.
"Anggap saja di sauna, Mpok..." sang sopir bus ngejawab seenak jidat. 🙄
Ibu berbadan subur itu keki mendengar jawaban asal sang sopir. Dua orang penumpang lain menimpali, dengan ngungkapin kejengkelan dan minta bus segera berangkat.
Bikin kesel emang ini sopir. Biarpun bus sudah lumayan penuh, tega-teganya dia ngetem dengan maksud agar bis di jejali penumpang
Pak sopir mulai kelihatan kesal. Dia lalu bertingkah seolah-olah bus mau jalan. Penumpang mulai merasa lega. Tapi itu dia, licik benar si sopir bus tiga perempat ini. Rupanya, waktu persneling bus dimasukkan terus gasnya ditekan, itu cuma akal-akalan dia saja. Bus emang maju satu meter, tapi lalu mundur lagi satu meter. Di gas lagi, eh mundur lagi. Begitu terus beberapa kali.
Kalau seperti itu kan sama saja bohong. Mana ada penumpang yang bisa sampai tujuan kalau bus cuma jalan ndut-ndutan seperti itu?
Ibu berbadan subur mulai nyap-nyapan lagi, didukung dua orang tadi. Tapi ya itu tadi, si sopir tetap asyik-asyik saja. Padahal penumpangnya hanya nambah tiga orang. Seorang ibu dengan dua anak yang masih kecil-kecil yang semuanya di pangku supaya ngirit.
Omelan ibu berbadan subur akhirnya mentah begitu saja berkat strategi muka tebal setebal tembok sang sopir bus. Tarra menjadi sedikit kasihan dengan si subur and the gang.
__ADS_1
Tarra patut bersyukur, tidak harus mengalami hal seperti ini setiap hari. Mode transportasi umum seperti ini memang harus benar-benar di perbaiki.
"Sudah satu jam loh Pak kita disini, kapan sampai rumahnya kalau seperti ini?" Tarra akhirnya mengeluarkan suara indahnya.
"Tuh, kesian bang ini bocah udah di tungguin emaknya dirumah. Cepetan jalan." si ibu berbadan subur langsung menimpali, membuat sang sopir berdecak sambil mengeluarkan suara mirip cicak.
Baru saja sang sopir hendak memasukkan persneling, tiba-tiba pintu bus di ketuk-ketuk sang kernet memakai koin gope an, tanda ada penumpang yang mau masuk.
Tak lama, muncul seorang cewek berseragam putih abu dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai rapi, masuk bersama seorang anak kecil.
Cewek tersebut segera menduduki sisa jok kosong yang ada diseberang Tarra, ketika perlahan bus mulai berjalan perlahan. Anak kecil yang dituntunnya tadi segera didudukan di pangkuannya.
Seketika angin menerobos masuk melewati celah jendela kaca, membuat udara dalam bus menjadi sedikit adem. Para penumpang pun bisa bernapas lega karena terbebas dari panas yang menyiksa mereka sedari tadi.
Tarra mencuri pandang kearah cewek tadi yang nampak menyenderkan kepalanya di punggung jok. Matanya nampak terpejam sebentar ketika tak lama anak kecil dalam pangkuannya merengek, dan mengguncang-guncangkan lengannya.
"Kak Zalfa... aku laper, kak.... pengin makan..." rengek anak kecil tersebut sembari meringis memegangi perutnya.
"Luka hati kemarin karena seorang cewek aja belum kering, baru lihat senyuman cewek lain langsung terpesona. Ingat bambang..., jangan mudah jatuh cinta kalau tidak mau mudah terluka" suara batin Tarra nampak memberikan peringatan.
"Sabar yah dek... Kalau nanti kakak dapat bayaran upah dari kerja kakak hari ini, kita langsung beli nasi. Oke?! Sekarang kamu sabar dulu yah..." jawab Zalfa sembari mengelus pelan rambut sang adik yang duduk di pangkuannya.
"Tapi perut aku lapar kak... " sang adik masih merengek.
Tarra teringat dengan cokelat yang dia letakkan di saku tas nya. Cokelat yang beberapa hari yang lalu hendak dia berikan pada Maya.
Tarra segera mengambil cokelat tersebut dan memeriksanya, masih layak makan atau tidak cokelat tersebut yang sudah beberapa hari menghuni tas nya, di tambah cuaca panas saat ini yang mungkin saja bisa melelehkan cokelat tersebut.
__ADS_1
Tarra menghela napas lega, ternyata cokelatnya masih berbentuk, dan tidak rusak.
"Adik mau cokelat? Ini kakak punya cokelat..." Tarra mengulurkan dua batang cokelat kearah adik dari Zalfa dan sebotol air mineral yang tadi sempat di belinya di tukang asongan.
Anak kecil tersebut langsung mengalihkan pandangannya dari sang kakak kearah cokelat yang di berikan Tarra.
"Boleh, kak?" tanya nya pada sang kakak.
Zalfa menggeleng pelan, membuat sang adik tertunduk lesu.
"Padahal aku lapar banget..." lirih sang adik, membuat hati Zalfa serasa di cubit.
"Sudah terima aja..., lumayan mengganjal perut sejenak. Kasihan adik kamu lapar." ucap Tarra dengan senyum manis semanis gula pasir.
"T-tapi...."
"Udah neng..., terima aja. Orang yang ngasih ganteng gitu masa di tolak?? Ibu juga mau kalau di kasih cokelat ama cowok ganteng macam dia.." sang ibu berbadan subur yang tadi hobi nyap-nyap menyela kata-kata yang hendak keluar dari mulut Zalfa dengan mata kedap-kedip malu-malu meong, membuat Tarra bergidik ngeri.
"T-terimakasih..." ucap Zalfa akhirnya sembari menerima cokelat dan air mineral pemberian Tarra, yang disambut senyum riang sang adik.
"Nama aku Tarra... kelas dua belas SMA Merah Putih" Tarra mengulurkan tangannya dengan senyum manis yang terus mengembang di bibirnya.
"Zalfa" jawab Zalfa singkat tanpa menerima uluran tangan Tarra setelah terdiam beberapa saat.
Tarra menarik kembali tangannya tanpa menurunkan kadar senyumnya sedikitpun, walaupun Zalfa tak menerima uluran tangannya.
"Kenapa tidak dari tadi Ya Tuhan kau kirimkan bidadari ke dalam bus ini?!" batin Tarra.
__ADS_1
"Kenapa kakak senyum-senyum sendiri dari tadi, seperti orang gila." celutuk adik Zalfa disela kunyahan cokelat di mulutnya, membuat senyum Tarra seketika lenyap dari bibirnya.
Bersambung.....