Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)

Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)
Rahul dan Anjali


__ADS_3

Setelah melewati drama tukang ojek cantik (katanya) dan rempong, yang tidak mau bersentuhan dengan Tarra itu, akhirnya sampai juga Tarra di SMA Nusa Bangsa.


"Ada yang bisa di bantu, mas?" sapa seorang pria berbadan tegap yang berpakaian seragam security yang tengah berjaga di pos dekat gerbang menyapa Tarra yang berjalan mendekat.


"Maaf, pak. Saya mau menyerahkan map ini ke pak kepala sekolah. Beliau ada tidak yah, pak?" tanya Tarra sembari memperlihatkan map berwarna biru tua di tangannya.


"Dari SMA Merah Putih ya?" tanya sang satpam.


"Iya, pak. Benar. Saya Tarra dari SMA Merah Putih." jawab Tarra sopan.


"Oh, iya mas. Mari masuk, biar saya antar keruangan kepala sekolah." ujar sang satpam dan segera membuka sedikit pintu gerbang sekedar untuk bisa Tarra masuk.


Tarra pun melangkah masuk, dan segera mengikuti langkah tegap sang satpam yang mengantarkannya menuju ke sudut dimana ruang kepala sekolah berada.


Sesampainya di ruang kepala sekolah menyampaikan maksud kedatangannya, dan setelah diajak ngobrol ngalor ngidul oleh sang kepala sekolah, Tarra bisa menyimpulkan kalau kepala sekolah tersebut dulunya adalah sahabat karib pak Budi, kepala sekolah berkepala plontos dan berkumis lebat yang hobi menyuruh-nyuruhnya.


"Beeuuhh..., dua kepala sekolah yang aneh." gumam Tarra di sela langkahnya meninggalkan ruang kepala sekolah tersebut setelah urusannya selesai.


Ketika tengah sibuk memperhatikan beberapa hal yang ada yang dilihatnya sepanjang perjalanannya meninggalkan ruang kepala sekolah SMA Nusa Bangsa, tak sengaja Tarra menabrak seorang murid yang berjalan dari arah berlawanan dengannya yang membawa setumpuk buku.


Kesibukannya melihat sekeliling membuatnya tak memperhatikan ada orang lain yang berjalan didepannya.


Brugh...


Buku-buku yang di bawa murid itu pun berhamburan jatuh ke lantai ketika tak sengaja bersenggolan dengan bahu Tarra.


"Sorry, gue gak sengaja." ucap Tarra cepat dan segera berjongkok membantu siswi yang di tabraknya itu memunguti buku-buku yang terjatuh di lantai.


Tak sengaja, tangan Tarra menyentuh kulit halus tangan siswi tersebut ketika tangan mereka tanpa sengaja berbarengan hendak mengambil buku yang sama. Adegannya persis seperti adegan yang sering muncul di drama-drama yang kadang-kadang Tarra lihat.


"Ups, sorry." ucap Tarra, ketika tiba-tiba dengan cepat siswi tersebut menarik tangannya yang bersentuhan dengan tangan Tarra.


Siswi tersebut segera berdiri, setelah semua bukunya yang berserakan tadi berhasil tersusun rapi kembali.

__ADS_1


"Zalfa .." ucap Tarra cepat ketika mendapati sosok siswi tersebut adalah sosok cewek yang kemarin ditemuinya di drama ngetem bus tiga perempat. Cewek yang dia ikuti langkahnya ketika keluar dari bus, untuk sekedar agar dia bisa berlama-lama dengan cewek itu. Yang berakhir dengan dia memborong banyak jajan untuk Shelby.


Tarra tersenyum riang. Rasanya ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dadanya. Sekelilingnya serasa bergerak perlahan seperti slow motion adegan romantis yang ada di film-film.


Semilir angin nampak mengibarkan pelan rambut hitam panjang Zalfa yang tergerai indah. Keduanya saling mengunci pandangan dengan senyum manis yang terus tersungging di sudut bibir masing-masing. Rona wajah keduanya nampak menyiratkan kebahagiaan.


Lagu cinta seakan-akan terdengar merdu di telinga keduanya, menambah syahdu momen pertemuan tak terduga ini. Ingin rasanya Tarra menjadi sosok Rahul yang berlari kecil mengejar Zalfa yang memerankan sosok Anjali. Merasakan suasana romantis seperti di film Bollywood. Bermain lari-larian, hujan-hujanan, kejar-kejaran, peluk-pelukan, sayang-sayangan.....


"Maaf kak... Permisi." ucap Zalfa.


Pett...


Seketika adegan romantis yang ada di bayangan Tarra menghilang ketika mendengar ucapan Zalfa. Rasanya seperti sedang asyik-asyiknya nonton acara romantis di televisi, dan tiba-tiba listrik mati gegara listrik dicabut oleh pihak PLN gegara telat bayar tagihan listriknya.


Zalfa melangkah cepat meninggalkan Tarra dengan membopong tumpukan buku tadi.


"Za... tunggu!!" seru Tarra sembari mengejar langkah Zalfa.


"Gue Tarra. Yang kemarin kita ketemu di bus Kopaja. Yang kemarin kita beli ayam goreng keefsi kesukaan adik kamu, Ahsan. Ingat??" ucap Tarra riang ketika berhasil menjejeri langkah cepat Zalfa.


Tarra nyengir, tersenyum riang ketika bertukar pandang dengan Zalfa, memamerkan deretan gigi putihnya seperti iklan pasta gigi di televisi. Dan Zalfa nampak menarik nafas pelan untuk mengatur nafasnya setelah berhadapan dengan Tarra.


"Iya, kak. Aku ingat. Nanti kalau aku sudah ada uang, pasti aku ganti kok. Tapi mungkin tidak bisa cepat-cepat. Kakak tidak usah sampai harus mendatangi aku ke sekolah untuk menagihnya." ucap Zalfa menunduk.


'What? Busyet, dikira gue debt kolektor apa yang lagi kerja nagih hutang. Muka udah keren gini mirip om Shahrukh Khan muda dikira tukang tagih hutang.' batin Tarra.


Senyum manis iklan pasta gigi yang tadi tersungging di bibirnya berganti dengan senyum miris.


"Gue kesini bukan mau nagih apa-apa ke elu. Lagian, gue beneran ikhlas kok kemarin." ujar Tarra memberi tahu.


"Iya, kak. Terimakasih banyak. Tapi tidak apa, nanti kalau aku sudah ada uang aku bakal ganti kok." ujar Zalfa.


"Terserah kamu saja." jawab Tarra akhirnya.

__ADS_1


"Kakak....."


"Gue Tarra. Panggil aja Tarra, kita satu angkatan kan?" tanya Tarra ketika melihat badge kelas yang ada di seragam sekolah yang dikenakan Zalfa.


"Oh, iya. Kamu ngapain disini? Bukannya kamu dari SMA Merah Putih? Nanti kalau ada anak-anak lain melihat, bisa ada salah paham." ujar Zalfa yang tahu bagaimana sensitifnya beberapa murid di sekolahnya terhadap murid dari sekolah lain.


"Oh, iya. Tadi gue abis ketemu kepala sekolah buat nyerahin berkas dari kepala sekolah SMA Merah Putih." jawab Tarra.


"Berkas apa?" tanya Zalfa heran.


"Persetujuan pertandingan olahraga persahabatan yang akan di adakan di SMA Merah Putih sebelum kelas dua belas di sibukkan dengan kegiatan belajar persiapan menghadapi ujian." jelas Tarra.


"Oh... iya. Ya sudah, kenapa kakak eh kamu masih disini? Nanti bisa timbul salah paham kalau ada murid lain yang melihat." ujar Zalfa sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka, takut kalau sampai ada murid bengal di sekolahnya melihat Tarra.


"Lu ngusir gue?" tanya Tarra sedikit kesal karena seakan Zalfa tak senang berjumpa dengannya.


"Bukan begitu, tapi ada beberapa murid disini yang suka mencari masalah, takutnya nanti kalau sampai melihat ada murid dari sekolah lain kesini, nanti kamu terkena masalah dengan mereka." jelas Zalfa.


"Za..., cepat bukunya di bawa kesini." sebuah suara seorang teman Zalfa yang berdiri di depan pintu ruang perpustakaan mengalihkan perhatian mereka.


"Aku duluan yah! Kamu cepat kembali ke sekolah kamu kalau urusannya sudah selesai." ujar Zalfa sembari melangkah cepat menjauh dari Tarra.


Tarra tersenyum, merasa ge er karena seakan Zalfa tengah memberi perhatian padanya. Tarra merasa seperti tengah diperhatikan pacar.


'Pacar..' batin Tarra tersenyum.


Bersambung.....


🌹


🌹


🌹

__ADS_1


Si bambang..., belum apa-apa udah mikir jadi pacar aja. Ketemu juga baru dua kali. Mentang-mentang ganteng!! Inget bang, waktu patah hati di sakiti Maya.


Ganteng-ganteng kok gampangan 😏😏


__ADS_2