Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)

Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)
Altarra


__ADS_3

Tarra berkali-kali terus mengarahkan tinjuannya pada samsak tinju yang ada didepannya. Berharap, emosi yang sedari tadi bercokol di hatinya bisa menghilang.


Salahkah dirinya jika dia bukan anak kandung dari seorang Arman Atmaja? Salahkah jika ibunya menikah dengan Arman Atmaja?


"Bugh.... Bugh...." Tarra semakin kuat melepaskan tinjuannya.


Tangannya yang hanya dibalut hand wrap itupun makin terasa nyeri. Tetapi emosinya mampu mengalahkan rasa nyeri itu.


Dirinya benar-benar tak menyangka kalau selama ini dia cuma dijadikan mainan oleh Maya. Ketika dulu tiba-tiba Maya mendatanginya, Tarra sama sekali tak menaruh rasa curiga. Ucapan manis Maya benar-benar mampu menghipnotis nya.


Peluh terus mengalir dari wajah dan badan Tarra. Kaos singlet yang dikenakan nya pun telah basah oleh keringat.


"Tarra..., sudah gelap loh nak. Kamu belum selesai latihannya?" suara sang Mami tiba-tiba muncul dari arah belakang tubuh nya.


Tarra menghentikan aktivitas nya, dan mencoba mengatur kembali nafasnya yang tersengal.


"Iya, sudah Mi..." jawab Tarra sembari mengelap peluh yang membanjiri wajahnya dengan sebuah handuk kecil. Sebotol air minum pun langsung tandas berpindah melewati kerongkongan Tarra yang kering bak sawah kekurangan air dimusim kemarau.


Diana berjalan perlahan mendekati anaknya. Senyum manis tipis tersungging di wajah ayu nya ketika memandang wajah sang anak.


"Ada apa, nak? Kamu ada masalah?" tanya Diana sembari meraih handuk kecil dari tangan Tarra dan kemudian di usapkan nya perlahan handuk itu ke wajah Tarra untuk mengeringkan keringat yang masih menempel di dahi anak laki-laki nya itu.


"Enggak Mamiku yang cantik. Tarra gak apa-apa kok." jawab Tarra sembari tersenyum.


"Kamu tidak bisa membohongi Mami, Tarra. Mami tau kamu sedang tidak baik-baik saja." sang mami tak percaya.


Tarra menghela nafas perlahan. Senyum tipis belum luntur dari bibirnya.


"Mami itu sok tau. Sok jadi cenayang. Orang Tarra gak apa-apa juga." jawab Tarra berusaha tenang.


"Kamu lupa yah? Mami ini ibu yang sudah mengandung dan juga melahirkan kamu. Dari kamu masih berwujud seperti kacang di perut Mami sampai kamu lahir dan tumbuh gede juga ganteng gini, kamu itu mami yang ngurus. Mami tahu kapan kamu bohong dan kapan kamu jujur tau!!" ujar sang mami, membuat Tarra memutar bola matanya malas mendengarnya.


"Ya iyalah Mami yang ngurus aku, masa iya harus Lady Diana." jawab Tarra asal, membuat Diana kesal dan langsung menjewer telinga sang anak.


"Kamu ini, gak bersyukur banget punya Mami cantik macam Putri Diana gini yah!!!!"


"Aduuuuhh...., sakit Mi. Ampun... Mi. Sudah...." jerit Tarra, membuat sang Mami menghentikan capitan jari telunjuk dan jari jempol nya di telinga Tarra.


Dengan bersungut-sungut, Tarra menjauh dari sang mami, dan segera duduk di kursi rotan yang tergeletak di teras belakang tak jauh dari tempatnya memainkan samsak tinju tadi. Diusap-usapnya telinganya yang memerah akibat ulah sang mami.


Sang mami pun mengikutinya, dan duduk disebelah Tarra. Di genggamnya jemari sang anak yang sudah menginjak dewasa itu akan tetapi bagi dirinya, anaknya itu tetap seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatiannya, sama seperti sewaktu anaknya itu masih kecil.


"Ada apa,nak? Cerita sama Mami." ucapnya lembut, setelah menghembuskan nafas pelan untuk mengontrol emosinya yang kadang meledak-ledak.


"Mi...." Tarra akhirnya membuka suara setelah terdiam sekitar tiga menit, sama seperti waktu minimal untuk merebus mi instan agar matangnya pas. 😜😜


"Iya, nak. Kenapa?!"


"Mami kenapa dulu berpisah dengan papa?" tanya Tarra, membuat sang mami terdiam sesaat.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu, sayang?" tanya Diana akhirnya.


"Apakah papa orang yang jahat?"


"Atau papa orang miskin hingga Mami berpisah dengan papa?"


"Kenapa mami harus menikah dengan papi Arman?" tanya Tarra beruntun, membuat Diana menghela nafas pelan.


"Sayang, kamu tau kenapa mami memberi mu nama Altarra" tanya Diana sembari menggenggam lembut jemari tangan sang anak.


Tarra mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Ditatapnya dalam mata sang ibu, berusaha mencari jawaban.


"Kamu adalah bintang malam mami. Kamu keindahan, sumber kekuatan mami disaat kegelapan menerpa." ucap sang mami tersenyum lembut.


Tarra terdiam, menunggu sang mami meneruskan ceritanya.


~Flashback On~


"Please, Di..., jangan perlakukan kami seperti ini." pinta Diana dengan air mata yang mengalir deras yang membasahi pipinya.


Baby Altarra yang berumur belum genap dua bulan itu terus menangis dalam gendongan sang ibu. Mungkin hatinya pun ikut merasakan kesedihan yang tengah dirasakan sang ibu.


"Buang anak itu, maka kita masih bisa terus bersama. Tapi, jika kau lebih memilih anak haram itu, maka cepat angkat kaki dari rumah ku ini." ucap datar seorang laki-laki yang berdiri angkuh di depan pintu rumah mereka.


"Kamu bicara apa, Di? Ini anak kamu, anak kita. Kenapa kita harus membuangnya? Huhuhu..." Diana bersimpuh di kaki Dion, sang suami yang sama sekali tak merasa iba mendengar tangisnya dan sang anak.


"Dasar ****** tidak tahu malu!!" seorang perempuan tiba-tiba datang menghampiri mereka dan dengan kasar melemparkan sebuah map ke wajah Diana.


Perempuan yang dipanggil Disya itu tersenyum miring melihat keadaan Diana, sembari bergelayut mesra ke lengan Dion. Perutnya nampak buncit, tapi bukan karena cacingan, akan tetapi Disya saat ini tengah hamil tua.🙄


"Maksudnya apa ini? K-kalian kenapa....."


"Aku sedang hamil anak Dion. Kita sudah menikah tepat disaat kamu melahirkan anak haram yang tengah kau gendong itu." tanpa ragu Disya memotong kata-kata yang hendak di ucapkan Diana.


Diana menutup mulutnya dengan telapak tangannya, air mata terus mengalir bak sungai di kedua pipinya, dirinya tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan Disya.


"Di, ini gak benar kan Di?? Pasti Disya bohong. Katakan kalau Disya bohong, Di...." Diana memelas, hendak meraih tangan Dion, tetapi sang suami malah memundurkan langkah dan menepis uluran tangannya.


"Kamu yang pembohong, dasar wanita murahan. Anak kamu itu bukanlah anak Dion. Baca hasil tes DNA itu." hardik Disya sembari mendorong mundur bahu Diana.


Dengan tangan gemetar, Diana meraih map yang tadi dilempar Disya. Diana menggelengkan kepalanya tak percaya setelah membaca berkas didalam map itu.


"B-bagaimana mungkin Di..., ini gak benar. Tarra anak kita Di." Diana mencoba meyakinkan Dion.


"Apakah kamu lupa, sebelum kita menikah bahkan kamu sudah tidak perawan. Bodohnya, aku tetap mau melanjutkan pernikahan denganmu!!" sentak Dion.


"Pergi jauh kamu dari hidupku, dan bawa anak sialmu itu!!" lanjut Dion dengan emosi membuncah.


Sungguh malang nasib Diana, seorang yatim piatu, hidup dan pernikahannya hancur, dikhianati oleh suami dan sahabat.

__ADS_1


Terusir dari rumah dengan seorang baby dalam gendongan. Diana merasa frustasi. Tak tau apa yang harus dilakukan. Beruntung hari tidak hujan, dengan ditemani cahaya bintang yang berkelap-kelip di langit, Diana terus melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota , tak tau harus menuju kemana.


Ketika hendak menyeberang jalan, tanpa diduga sebuah sedan hitam meluncur dari arah kanan.


"Ccckkkiiitttt....." suara roda mobil yang bergesekan dengan aspal jalan terdengar keras.


"Aaaaarrrrrrgggghhhh......" Diana berteriak, kakinya terhenti tak mampu melangkah untuk sekedar menghindar.


Dipeluknya erat baby Altarra didekapannya. Matanya terpejam, tak sanggup untuk melihat hal apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya dan anak dalam dekapannya.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Empat detik


Lima detik


Tak terjadi apapun. Rasa sakit atau apapun tak terjadi pada dirinya.


'Apakah aku langsung sampai ke surga? Kenapa tak merasakan sakit?' Diana membatin, belum berani untuk membuka matanya.


"Dee...." terdengar suara seseorang memanggilnya.


Suara yang sangat di kenalinya, walaupun sudah hampir satu tahun tak didengarnya.


"Dee..., kamu baik-baik saja?" suara itu terdengar lagi dengan nada khawatir, kali ini disertai tangan yang menggoncang-goncangkan bahunya.


Perlahan Diana membuka matanya, dan tampaklah seorang pria didepannya yang terus memandanginya dengan raut khawatir.


Arman, pria yang sudah hampir satu tahun tak dilihatnya, tepatnya hari dimana Diana memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahan dengan Dion.


Arman pria yang dulu pernah merajut tali kasih dengannya, namun karena kesalahpahaman akhirnya tali kasih itu pun terputus.


Arman memutuskan untuk pergi dari kota A dan kembali ke kota asalnya setelah hubungan asmaranya dengan Diana berakhir, namun karena ada hal pekerjaan yang harus dilakukan, dia harus menginjakkan kaki kembali di kota A ini.


Setelah pekerjaan selesai dan dia hendak langsung kembali ke kotanya, tak disangka di tengah jalan dia bertemu lagi dengan Diana, wanita yang sampai saat ini masih menempati seluruh hatinya.


~Flashback Off~


🔥


🔥


🔥


Bersambung...

__ADS_1


🤒🤒


__ADS_2