
"Tadi katanya lu nunggu gue di perpustakaan, tapi kok pas gue samperin lu udah gak ada? " tanya Disya sembari menyeruput jus stroberi kesukaannya.
Setelah tadi berhasil menjumpai Diana, Disya langsung mengajak sang teman pergi ke kantin. Dan sekarang disinilah mereka berdua berada, duduk di bangku di salah satu sisi didalam kantin.
Ya... Disya adalah salah teman Diana dan Arman sewaktu mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas hingga sekarang mereka kuliah dikampus yang sama.
"Iya..., sorry Dis. Tadi didalam perpustakaan ada sedikit keributan, jadi aku langsung ajak Arman keluar. Dan sekarang dia ada kelas. " jelas Diana sembari memainkan botol air mineral ditangannya yang sudah berkurang isinya hingga separuh.
"Arman ngamuk lagi yah?" tanya Disya menelisik sembari memusatkan pandangannya pada Diana.
"Ish..., apaan sih Dis? Lu kira cowok gue macan ampe ngamuk-ngamuk segala?! Haha... " ujar Diana menganggap lucu omongan Disya.
"Heran sumpah gue Dee ama lu. Apa sih yang lu harepin dari cowok modelan Arman itu? Udah kere, emosian banget lagi orangnya. Betah banget lu pacaran ampe bertahun-tahun gitu. Kalau gue jadi lu, udah lama gue putusin tuh si Arman dan nerima cowok lain yang udah jelas ada duitnya." ujar Disya kesal.
"Please, Dis... Kita udah sering bahas masalah ini, dan lu juga udah tau jawaban gue apa. Kenapa harus di bahas terus sih?! " tanya Diana sedikit kesal juga.
"Lu terlalu naif, Dee. Dalam hubungan itu bukan cuma butuh cinta tau?! Dan lagi, kalau emang lu mau serius dalam sebuah hubungan, emang lu pikir nantinya lu bakal kenyang makan cinta doank? Realistis dong Dee, jangan bego-bego amat jadi cewek." omel Disya.
"Sekarang aja lu masih harus kerja sendiri buat biaya hidup lu ama buat kuliah. Yakin gue, kalau lu sampe jadi married ama Arman, hidup lu bakal lebih blangsak." sinis Disya.
Menanggapi omongan Disya, gak bakal ada ujungnya kalau diladenin. Maka dari itu, Diana memilih diam saja, tak menanggapi omongan Disya.
Dari awal Diana menjalin hubungan dengan Arman, Disya memang sudah menunjukkan sikap tak suka. Arman yang berasal dari kalangan biasa, menurut Disya bukanlah cowok yang pantas untuk diajak menjalin komitmen. Tidak ada untungnya sama sekali menurut Disya.
"Eh..., tugas yang kemarin dikasih pak Arfan udah selesai belum lu?" tanya Disya tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.
Diana, mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Disya. Hatinya sudah gak enak, menebak arti selanjutnya dari pertanyaan Disya yang menyinggung masalah tugas kuliah.
__ADS_1
"Lu kerjain sekalian punya gue yah? Hehehe... Gue lagi sibuk mulu, gak sempet ngerjain tugas kuliah." ujar Disya cengengesan yang membuat Diana menghela nafas kasar mendengarnya.
"Tapi inget, Arman jangan sampe tau kalau gue minta tolong lu buat ngerjain tugas gue, oke?! Gue gak mau kena damprat cowok lu kayak yang kemarin-kemarin. " lanjut Disya dengan nada kesal.
"Ya lagian lu, Dis. Pacaran sempet tapi ngerjain tugas kuliah kagak sempet. Kasihan lho Dis orang tua lu kalau sampe lu kagak lulus tahun depan." ujar Diana berusaha menasihati sang teman.
"Ya elaaah... gue cuma minta tolong lu sekalian ngerjain tugas gue aja lu segala pake ceramah. Kagak ikhlas banget lu bantuin temen?!" kesal Disya.
Begitulah pertemanan mereka, Disya hanya sekedar mencari keuntungan pribadi semata dalam berteman dengan Diana. Sudah sedari jaman sekolah Disya memanfaatkan kecerdasan otak Diana dalam hal pelajaran. Dengan mengatasnamakan pertemanan, Disya kerap kali meminta Diana mengerjakan tugas sekolahnya, dan itu berlanjut hingga mereka kuliah. Sial buat Diana karena Disya memilih kampus yang sama dengannya, bahkan mereka mengambil jurusan yang sama pula.
Sudah sering Arman menasihati Diana agar jangan bergaul dengan Disya, karena Arman tau Disya hanya memanfaatkan kecerdasan Diana. Sudah sering pula Arman mengomeli Disya, namun Disya selalu memasang jurus muka tembok jika Arman mengkritiknya. Itulah sebabnya Disya tak menyetujui hubungan Diana dan Arman, karena Arman selalu menjadi ancaman untuknya.
"Woiii... Di... Kita disini... " seru Disya sembari melambaikan tangannya dengan senyum riang diwajahnya.
Diana melihat kearah pandangan Disya, dan nampak Dion melangkah pasti menuju meja mereka dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Gak apa-apa kali Dee. Cowok lu juga lagi ada kelas kan sekarang. Jadi gak bakal ngamuk dimari. " jawab Disya cuek.
"Gila lu, Dis! " kesal Diana.
"Hai Dee... " sapa Dion riang, sesampainya dia dihadapan Diana dan Disya.
"Di, tentang masalah tadi diperpus...... "
"Gak apa kok, Dee. No problem. Yang penting lu udah mau ntar malem nonton bareng gue ama Disya. Nih gue udah pesan tiketnya. " ujar Dion tersenyum senang sembari menunjukkan layar handphone nya yang menampakkan aplikasi penjualan tiket online memotong kata-kata yang hendak diucapkan Diana.
Diana melongo mendengar penuturan Dion. Dia sama sekali tidak merasa pernah menyetujui ajakan nonton dari Dion, tapi kenapa tiba-tiba Dion berbicara seperti itu? Diana mengalihkan pandangannya ke arah Disya, menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Tenang aja, Di. Ntar malem Diana bisa kok ngosongin waktunya buat nonton bareng kita. " jawab Disya tak kalah membuat Diana memelototkan matanya, tak percaya dengan pendengarannya mendengar penuturan Disya.
"T-tapi gue gak..... " Diana hendak menolak, tapi perkataannya segera diputus oleh Dion.
"Oke... ntar malem gue jemput kalian berdua. Sekarang gue ke kelas dulu yah. Bye.... " ucap Dion riang dan segera berlalu dari hadapan Diana dan Disya.
"Lu gila, Dis. Gue punya tanggung jawab tau dengan kerjaan gue di kafe. Lu malah seenaknya ngiyain ajakan nonton ama Dion." omel Diana pada Disya, sepeninggal Dion dari tempat itu.
"Yaelah Dee! Ijin satu hari gak bakal bikin lu dipecat kali dari kerjaan lu. Udah... sekali-kali ijin gak apa-apa lah, Dee! " jawab Disya cuek.
Akhirnya Diana ijin dari kerjaannya dikafe karena paksaan dan tekanan dari Disya dan Dion. Dia tak tahu kalau diam-diam Arman mengikuti dan mengawasinya.
"Bagus... 3D, sangat kompak. Diana-Dion-Disya." ucap Arman dari arah belakang Diana ketika Diana hendak membuka pintu gerbang kos-kosan nya sepulangnya dari acara nontonnya bersama Dion dan Disya.
"Arman... aku.... " Diana terbata melihat tatapan tajam dari mata sang pacar ketika mereka berhadapan.
"Kamu mulai berubah Dee... " ucap Arman sembari tersenyum sinis, kemudian melangkah pergi dari hadapan Diana.
"Man, aku bisa jelasin semuanya. Jangan pergi dulu. " seru Diana, namun Arman tak menggubris nya walaupun untuk sekedar menghentikan langkahnya.
Arman hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh merespon seruan sang pacar.
Diana frustasi. Sungguh otaknya lelah memikirkan semuanya. Badannya lelah setelah acara nonton bersama Dion dan Disya. Hatinya lelah, memikirkan Arman yang kerap kali salah paham. Otaknya lelah memikirkan tugas kuliahnya yang menumpuk. Pikirannya lelah dengan pekerjaannya yang terpaksa bolos malam ini.
Sejak saat itu, Dion dan Disya sering memonopoli waktu Diana. Arman yang sering dibuat salah paham akhirnya membuat hubungan percintaan mereka merenggang. Percekcokan seringkali tak bisa dihindari jika mereka berdua bertemu.
Renggangnya hubungan Diana dan Arman pun dimanfaatkan Dion dengan sangat baik. Hingga akhirnya Arman menyerah dengan hubungannya dengan Diana yang dianggapnya sudah mulai tak sehat itu. Namun, Arman tak tau dengan menyerahnya dia dengan keadaan itu adalah awal dari hancurnya hidup Diana, perempuan yang sejatinya sangat dia cintai.
__ADS_1