Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)

Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)
Flashback (Arman-Diana)


__ADS_3

Perasaan itu tumbuh tanpa bisa Arman mencegahnya. Diana, teman sekelas yang berhasil mencuri hatinya, tanpa ia duga ternyata juga mempunyai perasaan yang sama dan membalas perasaan itu dengan sangat manis.


Hubungan yang awalnya hanya sebuah cinta monyet di saat mereka berseragam putih abu-abu itu, nyatanya mampu mereka jalin hingga jenjang kuliah.


Bukan tanpa ada halangan mereka mempertahankan hubungan yang berawal dari cinta monyet itu hingga tahap serius disaat mereka sudah dewasa ini. Sikap Arman yang terkadang meledak-ledak, mengharuskan Diana harus memperbanyak stok sabar agar hubungan itu tidak hancur.


Diana, anak yatim piatu yang tumbuh di lingkungan panti asuhan, beruntung mempunyai otak yang cerdas dalam hal akademik. Sehingga dia bisa menempuh pendidikan formalnya tanpa terhalang masalah biaya.


Sedangkan Arman, tak ada yang tau kalau Arman adalah keturunan Atmaja. Orang tuanya menyuruh Arman untuk menyembunyikan identitas aslinya agar dia bisa belajar dan mempunyai orang yang benar-benar tulus disekelilingnya. Yang orang lain tau, Arman hanya anak orang biasa yang menjalani beberapa pekerjaan untuk bisa melanjutkan sekolahnya.


"Dee..., ntar malem mau gak nonton? Gue ada referensi film bagus loh. Gue jemput ntar yah?" ujar Dion riang ketika mendapati Diana di perpustakaan kampus tengah membaca-baca buku.


Dion bukan tak tau kalau Diana tengah menjalin hubungan dengan Arman hingga dia dengan gigih berusaha mendekati Diana. Tapi motto hidupnya yang mana dia harus memiliki apapun hal yang dia inginkan, membuatnya harus berusaha keras merebut hati Diana.


Diana, cewek yang dia jumpai ketika dulu ada ospek mahasiswa baru, dan berhasil mencuri perhatiannya. Namun, Diana selalu saja menolak perasaannya. Bukannya mundur, Dion malah merasa tertantang untuk benar-benar mendapatkan Diana.


"Sorry, Di. Aku gak bisa." jawab Diana dengan suara pelan sembari sesekali celingukan, takut ada pengunjung perpustakaan yang merasa terganggu dengan suaranya.


Tak jauh dari tempat yang didudukinya untuk membaca buku, memang ada beberapa pengunjung lain yang tengah serius menekuni buku-buku dihadapan mereka.


"Besok weekend kali Dee. Gak apalah sesekali main." Dion masih berusaha membujuk.


"Aku beneran gak bisa Di. Weekend kafe lagi rame-ramenya. Dan lagi, aku harus ngerjain makalah yang di tugasin pak Arfan." jelas Diana.


"Ya elah Dee... Lu punya cowok gak guna banget kek nya. Weekend aja lu masih kudu kerja juga. Orang mah weekend itu buat me time, bukan kerja mulu." ujar Dion sedikit mengejek.


"Udah tau Diana punya cowok, terus ngapain lu masih deketin? Udah ditolak masih aja gak tau malu!" sebuah suara membuat Dion dan Diana mengalihkan pandangan mereka.


Beberapa pengunjung perpustakaan itu pun langsung saling berbisik melihat ada keributan didepan mereka.

__ADS_1


"Huh, yang harusnya malu itu elu! Punya cewek tapi lu biarin bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya." sinis Dion pada si pemilik suara yang ternyata adalah Arman yang tengah memandang tak ramah padanya.


"Eh gue lupa, lu sendiri kan juga orang miskin. Mana bisa ngejamin kebutuhan hidup cewek lu, buat hidup lu sendiri aja udah kesusahan." sambung Dion dengan senyum mengejek.


"Brengsek. Lu buat makan aja masih ngandelin kekepan ketek orang tua lu aja belagu minta ampun. Ngaca dong lu!!" ujar Arman emosi sembari melangkah maju dan dengan kasar menarik kerah baju Dion dengan tangan kirinya.


"Arman... udah. Ini di perpustakaan jangan ribut." Diana dengan segera meraih tangan Arman, berusaha melepas cengkraman tangannya di kerah baju Dion yang hampir membuat leher Dion tercekik.


"Bukan baru satu kali ini dia ganggu kamu Dee." Arman tak terima.


"Iya, tapi ini di perpustakaan. Kalau kita ribut-ribut nanti kena masalah." ujar Diana, membuat Arman perlahan melepaskan cengkraman nya.


Uhukk... Uhukk...


Dion langsung terbatuk dengan badan sedikit terhuyung sesudah Arman melepaskannya.


"Ada apa ini ribut-ribut? " tanya pengawas perpustakaan yang datang karena mendengar ada keributan di wilayahnya.


"Kalau mau ribut jangan disini. Ini perpustakaan, bukan pasar. Kalian sudah mengganggu banyak pengunjung yang datang untuk belajar tau?! " ujar petugas itu sedikit kesal.


"Iya, Pak. Maaf. Kalau begitu kami permisi ya Pak. " jawab Diana takut, dan dengan segera menarik lengan Arman, mengajaknya keluar dari perpustakaan.


"Kenapa kamu mengajak keluar sih? Aku belum puas memberi itu cowok brengsek pelajaran tau?! " ujar Arman kesal setelah mereka keluar dari perpustakaan.


"Itu perpustakaan, bukan ring tinju. Kalau kalian ribut, nanti kita semua bisa kena masalah." jelas Diana.


"Tapi dia udah berani ngeganggu kamu, Dee. Aku gak terima. Dia juga udah berani ngehina aku." ujar Arman masih emosi.


"Ya udahlah biarin aja. Gak ada untungnya juga kan kita ngeladenin Dion?" Diana masih berusaha menenangkan sang pacar.

__ADS_1


"Alaaahh... jangan-jangan kamu udah mulai kecantol ama tuh cowok brengsek. Makanya kesannya kamu ngelindungin dia!" ujar Arman masih emosi.


"Oh astaga Tuhan....." Diana tak percaya mendengar omongan yang keluar dari mulut Arman. "Man, kita hubungan udah berapa lama sih? Bukan baru sebulan dua bulan loh kita pacaran. Udah dari kelas 2 SMA kita hubungan, dan selama ini emang kamu suka lihat aku macem-macem ama cowok lain? Enggak kan?" lanjut Diana mengingatkan.


"Bukankah kita pernah berjanji, seperti apapun keadaan kita, kita akan melewati bersama. Apakah menurut kamu itu hanya sekedar omong kosong yang tak ada artinya?! Please, Man... Kita bukan anak kecil. Setiap apa yang kita perbuat, kita juga yang akan bertanggung jawab. Nggak ada gunanya juga kita bermain-main." bujuk Diana.


Arman menghela nafas pelan. Benar apa kata Diana, mereka sudah sama-sama dewasa. Janji yang pernah mereka ucapkan bukanlah sekedar omong kosong yang gak ada artinya.


Lima tahun lebih mereka merajut tali kasih, dan selama itu pula Diana tak pernah menghianati nya. Walaupun banyak cowok lain yang lebih bisa menjamin hidupnya dengan materi berusaha mendekatinya, tapi Diana tak pernah goyah.


"Maafkan aku Dee. Aku cuma takut kalau sampai kamu kepincut dengan cowok lain lalu pergi ninggalin aku." sesal Arman sembari membawa tubuh Diana ke dalam pelukannya.


"Jangan pernah meragukan perasaan aku, Man. Jika aku berusaha melerai kamu, itu karena aku gak mau kamu terkena masalah." ucap Diana sembari membalas pelukan Arman.


Arman tersenyum. Diana benar-benar perempuan baik, dia tak salah pilih, dan dia yakin orang tuanya pasti akan bisa menerima hubungan mereka.


"Hei, kamu ada kelas kan di jam ini? Kalau sampai telat nanti kamu kena hukum loh! " ujar Diana mengingatkan.


Arman melepas pelukannya, dan melihat kearah jam tangannya. "Ah, sial!! " umpat nya.


"Ya udah, aku ke kelas dulu yah. Ingat kamu jangan deket-deket ama Dion." tegas Arman serius sembari menunjuk kearah sangat kekasih.


"Ish apaan sih?! Iya... aku gak bakal deketin Dion." jawab Diana gemas sembari menurunkan jari telunjuk sang kekasih yang diarahkan kemukanya.


"Oke... aku pergi dulu. Bye... " ujar Arman, kemudian segera berlalu dari hadapan Diana setelah mecuri kecupan singkat dipipi sang kekasih.


"Ishhh... Dasar... " omel Diana sembari tersenyum dengan rona merah terlihat jelas di pipinya.


"Diana.., " terdengar seruan seseorang dari arah belakang Diana.

__ADS_1


"Disya... " seru Diana senang setelah melihat siapa orang yang memanggilnya.


Bersambung....


__ADS_2