
"Tidak lama lagi ujian sekolah. Segala keperluan kamu untuk melanjutkan belajar di Paris akan segera papi urus. Kamu hanya butuh belajar dan lulus dengan nilai bagus. Jangan kecewakan papi dan mami. Oke?!" Arman membuka suara setelah aktivitas makan malam semua anggota keluarganya selesai.
Setiap pagi keluarga Tarra selalu melakukan ritual sarapan pagi bersama sebelum memulai segala aktivitas masing-masing. Begitupun setelah seharian disibukkan dengan berbagai aktivitas yang berbeda, disaat tiba waktu makan malam, mereka pun akan berkumpul bersama untuk makan malam.
Sebisa mungkin, mereka meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga setiap harinya. Kecuali bila memang ada aktivitas lain yang mengharuskan mereka untuk berada diluar rumah disaat waktu makan malam tiba.
Dan malam ini, sang papi dapat pulang kerja tepat waktu, sehingga acara makan malam pun lengkap dihadiri semua anggota keluarga.
"Emang harus yah Pi, kak Tarra kuliah di Paris? Disini kan juga banyak kali Pi universitas yang bagus buat belajar. Kenapa harus keluar negeri segala? Kalau emang gak di kota ini, di kota lain kan juga banyak universitas bagus. Yang penting masih satu negara, gak diluar negeri. Kejauhan. Nanti kalau Eby kangen gimana?! Eby kan belum pernah jauh-jauhan ama kak Tarra. Masa iya cuma pengin ketemu doank harus keluar negeri segala Eby? Sayang kan Pi ongkosnya, bisa buat beli cilok berapa gerobak coba ongkos sekali jalannya? Papi itung aja, past.... "
"Sssttt... berisik tau gak dek?!" Tarra segera memotong ucapan sangat adik yang kalau dibiarkan panjangnya bisa melebihi panjangnya jalan tol trans jawa.
"Lagian kita hidup di era digital sekarang, bukan hidup di jaman batu. Ngapa dibikin bingung gitu sih dek?" lanjut Tarra heran.
Segelas air putih hangat segera di teguknya hingga habis untuk meloloskan sebagian sisa makan malam yang masih nangkring di tenggorokannya.
Eeeuuugggghhhh.....
Suara sendawa terdengar nyaring dari mulut Eby bukannya dari mulut Tarra yang baru saja menghabiskan menu makan malam di piringnya.
"Astaga, sayang... Kamu kebiasaan banget sih sendawa begitu didepan banyak orang. Kamu itu anak cewek loh, yang sopan dikit kenapa sih? Pantes aja kamu jomblo terus, pasti cowok-cowok udah takut duluan liat kamu seperti ini sebelum mereka deketin kamu." Diana langsung mengomentari kelakuan anak perempuannya yang tak ada anggunnya seperti anak perempuan lain itu.
"Gak usah bawa-bawa status dong Mi. Eby jomblo bukan karena nasib, tapi karena pilihan Eby sendiri." jawab Eby tak terima.
"Pilihan karena emang gak ada pilihan yang lain, gitu?" goda Diana.
"Iiiih.... Mami.... " rengek Eby.
"Keputusan papi akan tetap sama. Kamu harus terima itu." Arman membuka suara.
"Papi udah selesai. Selamat malam sayang." Arman beranjak dari duduknya sembari mengelus pelan rambut puterinya.
__ADS_1
Ketika melewati tempat duduk sangat putera, Arman pun menepuk pelan pundak Tarra.
Ekor mata Tarra terus memindai langkah sang papi yang menjauh dari ruang makan dan berjalan menuju ruang kerja.
"Papi ingin semua yang terbaik buat kamu." ucap Diana membuat Tarra mengalihkan pandangannya.
"Tarra tau Mi." jawab Tarra sembari tersenyum.
Diana bukan tak tau, dibalik senyum sang putera pasti ada sedikit perasaan kecewa. Perasaan seperti hendak di asingkan dari keluarga atau merasa tak diberi kasih sayang oleh sang papi.
💙💙
"Mami kok belum tidur?" tanya Arman ketika mendapati isterinya masih terjaga.
Diana nampak tengah duduk sembari menyenderkan punggungnya di head board tempat tidur mereka.
Arman baru saja keluar dari kamar mandi untuk sedikit membersihkan diri setelah menyelesaikan sisa pekerjaannya di ruang kerja tadi.
"Pekerjaan papi banyak banget yah?" tanya Diana sembari membenarkan letak bantal di sampingnya agar nyaman dipakai sang suami.
Arman merentangkan tangan kirinya, sembari mengisyaratkan agar sang isteri mendekat.
Dengan perlahan, Diana menyurukkan kepalanya di dada sang suami. Arman pun refleks melingkarkan tangannya ke pinggang Diana. Dengan sayang, Arman mengecup ujung kepala sangat isteri.
Diana, wanita yang sangat dicintainya yang dulu sempat terlepas beberapa saat dari genggamannya karena kesalahpahaman. Tak terasa kini sudah lebih dari enam belas tahun menemaninya dalam menjalani rumah tangga yang bisa dibilang sempurna.
Kekayaan, keturunan, kebahagiaan, Tuhan tak kurang dalam memberikan nikmat-Nya untuk rumah tangganya hingga saat ini.
"Pi... Apakah keputusan papi tidak bisa dirubah lagi? " setelah diam beberapa saat, akhirnya Diana membuka suara.
"Hhmm... " dengan mata terpejam, Arman menanggapi ucapan sang isteri.
__ADS_1
Rasa lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan membuatnya ingin segera merehatkan badan dan pikirannya dengan tidur secepatnya. Apalagi dengan adanya isteri tercinta di dalam pelukannya, membuat perasaan Arman tenang dan nyaman.
"Papi sudah mau tidur yah?" tanya Diana sembari mendongakkan kepalanya, untuk melihat wajah sang suami.
Perlahan, Arman membuka matanya. Senyum manis tersungging di sudut bibirnya, melihat tatapan sang isteri yang seperti tatapan kucing kecil yang meminta perhatian tuannya.
Cup
Arman perlahan mengecup bibir merah sang isteri. Bibir yang tak pernah mengucapkan kata kasar selama Arman mengenal si pemilik bibir itu sedari mereka kenal di masa sekolah menengah atas.
"Papi tau, seperti apa perasaan seorang ibu yang hampir tak pernah berpisah jauh dengan anak yang di lahirkannya tiba-tiba harus merelakan anaknya itu menjalani kehidupan seorang diri di luar negeri?" tanya Diana sembari bangun dari rebahan nya dan memilih duduk di samping sang suami yang berbaring nyaman di atas bantalnya.
"Mami tau, Tarra sudah dewasa, sudah harus bisa untuk hidup mandiri, tapi tidak harus diluar negeri kan, Pi? " lanjut Diana.
Arman menghela nafas mendengar ujaran sang isteri yang menyerukkan rasa protes itu. Perlahan, Arman pun merubah posisinya duduk bersandar di head board tempat tidur dengan nyaman. Diraihnya telapak tangan sang isteri, dan di usapnya dengan lembut.
"Mami tau sendiri, sekarang Tarra sudah beranjak dewasa. Sudah akan sulit untuk kita mengontrol tingkah lakunya. Selama ini mungkin Tarra terkesan cuek, dan tidak mau tahu tentang siapa ayah kandungnya. Tapi kita gak tau dibelakang, apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Apalagi setelah beberapa saat lalu Mami menceritakan masa lalu kalian. Papi sangat yakin, akan ada rasa ingin tahu di hati Tarra yang pada akhirnya akan mendorong keinginan untuk mencari tau keberadaan Dion si brengsek itu." ujar Arman menatap lekat manik hitam sang isteri yang nampak sedikit berembun.
" Tapi, Papi tau sendiri bukti test DNA itu membuktikan kalau Dion bukanlah ayah kandung Tarra." ujar Diana dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Lalu siapa ayah kandung Tarra? Mami sendiri juga tidak tau kan siapa laki-laki brengsek yang sudah melakukannya di malam sial itu?? Mami tau sendiri, bagaimana liciknya Dion dan Disya. Mereka bisa saja memanfaatkan keadaan jika sampai Tarra menemui mereka." Arman menaikkan nada suaranya, membuat bulir bening menetes di pipi Diana.
Arman meraih bahu Diana, dan membawa tubuh itu kedalam pelukannya.
"Maafkan papi, bukan maksud papi untuk mengingatkan mami dengan kejadian itu. Papi cuma tidak rela kalau sampai Tarra pergi mencari siapa ayah kandungnya, dan pergi meninggalkan kita. Dengan melanjutkan belajar diluar negeri, setidaknya dia akan disibukkan dengan belajar tanpa kepikiran untuk pergi mencari siapa ayah kandungnya. Paling tidak sampai nanti Tarra sudah benar-benar dewasa dan bisa tau mana yang benar dan tidak." jelas Arman.
"Anak laki-laki kamu hanya pergi untuk belajar, bukannya berangkat pergi berperang, Mi. Dan lagi, kita bukan orang yang miskin kan? Kapanpun Mami mau bertemu Tarra, Mami bisa langsung menemuinya." lanjut Arman, berusaha menghibur sangat isteri yang makin mengeratkan pelukannya.
Sungguh, Arman tak sedikitpun rela Tarra pergi menemui Dion. Orang yang sudah dengan tega menyakiti hati Diana. Wanita yang tadinya sudah ia ikhlaskan untuk hidup berbahagia dengan Dion, tetapi malah dengan kejam Dion memberikan luka yang teramat menyakitkan.
Andai saja tak dihalangi Diana, bisa saja dengan gampang Arman menghancurkan hidup Dion dan Disya. Namun, Diana tak memperbolehkan. Bukan karena masih memiliki perasaan pada Dion, tetapi pada dasarnya isterinya itu memang wanita yang baik dan lembut. Yang tak bisa tega menghancurkan hidup anak yang harus dihidupi Dion dan Disya.
__ADS_1
Masih teringat dengan jelas diingatan Arman bagaimana Diana mencoba melewati kerasnya cobaan hidup yang menghampirinya.
Bersambung.....