Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)

Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)
Shelby Merajuk


__ADS_3

"Setelah lulus, kamu lanjutkan kuliah kamu ke Paris." ucapan sang kepala keluarga itu langsung membuat tiga anggota keluarga yang lain yang tengah menikmati makan malam dengan tenang itu seketika menghentikan aktivitas makan mereka sejenak.


Diana, Tarra, dan Shelby saling bertukar pandang. Sedangkan Arman nampak tetap menikmati makan malamnya.


"Kakak atau Eby yang ke Paris, Pi?" tanya Shelby akhirnya.


"Tentu saja yang sebentar lagi lulus." jawab Arman datar.


"Kenapa harus ke Paris, Pi?! Disini kan juga banyak universitas yang bagus. Dan lagi kenapa papi tiba-tiba memutuskan? Kita belum sepakat loh Pi." Diana nampak tak setuju mendengar keputusan sepihak sang suami.


Namun, Arman tak menanggapi ucapan sang istri. Dia tetap melanjutkan aktivitas makannya.


Tarra menggelengkan kepala pelan ketika sang mami hendak mengeluarkan suara kembali, membuat Diana menghembuskan nafas kasar.


"Baik, Pi..." jawab Tarra singkat.


"Maksud papi apa mau mengirim Tarra sekolah ke Paris? Kenapa papi tidak menanyakan hal ini pada Mami terlebih dahulu?" Diana langsung mencecar sang suami dengan pertanyaan ketika Arman baru keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dengan setelan baju tidur seusai makan malam. Kini, mereka tengah bersiap untuk merehatkan badan diruang pribadi mereka.


Arman mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur tanpa menjawab pertanyaan Diana.


Diana menarik nafas pelan, lalu membuangnya dari mulut, berusaha mengatur emosinya agar tak meledak. Didudukan nya bo kong seksinya disamping sang suami yang tengah mengecek notifikasi masuk di handphone pintarnya.


"Setidaknya papi tanyakan dulu pada Tarra, dia bersedia atau tidak sekolah di Paris. Jangan papi asal mengambil keputusan sendiri." ucap Diana berusaha tenang sembari menumpukkan tangannya di paha sang suami.


"Kenapa kamu menceritakan tentang masa lalunya tadi? Untuk apa kamu membicarakan tentang ayah kandungnya?" tanya Arman sembari meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"P-papi mendengar obrolan mami dan Tarra tadi?" Diana tak menyangka obrolannya dengan anak laki-lakinya ketika membahas siapa ayah kandung Tarra didengar oleh sang suami.


"Kita sudah sepakat, bahkan aku sudah memasukkan data anak itu dalam data anggota keluarga Atmaja. Untuk apa kamu mengungkit masa lalunya?" Arman berucap tenang, namun sorot matanya tajam menatap sang isteri.


"Tarra sudah dewasa, Pi. Dia berhak tau siapa dia sebenarnya." jawab Diana membalas tatapan sang suami.


"Siapa sebenarnya dia? Siapa ayah biologisnya? Apakah mami sendiri tau??" ucapan sang suami membuat Diana menundukkan kepalanya, terdiam.


Arman menghela nafas pelan melihat sang istri terdiam. Diraihnya bahu sang isteri, dan di dipeluknya dengan lembut.


"Maafkan, aku sayang. Seandainya dulu aku.........."

__ADS_1


"Tak ada yang harus di maafkan, Pi. Mami hanya ingin papi menyayangi Tarra seperti halnya papi menyayangi Eby." dengan terisak Diana mengeratkan pelukan di pinggang sang suami.


💞


💞


Ketika hendak ke dapur untuk mengambil segelas air putih untuk membasahi kerongkongannya yang kering kerontang bak gurun Sahara, Shelby mendapati sang kakak masih setia menghuni ruang makan.


Sang kakak nampak terduduk lesu, kedua bola matanya menatap kosong gelas berisi air putih yang ada didepannya yang ia genggam dengan kedua tangannya.


Ingin Shelby menghampiri sang kakak, akan tetapi mengingat kejadian tadi siang di sekolah, membuat Shelby kesal sendiri.


Dengan sedikit menghentakkan kakinya, Shelby segera melangkahkan kakinya menuju dispenser yang ada di samping lemari pendingin.


Glugh... glugh... glugh....


Suara air didalam galon yang volumenya berkurang karena berpindah ke dalam gelas yang Shelby bawa, terdengar nyaring.


Setelah meneguk segelas air, dan kembali mengisi gelas ditangannya yang sudah kosong dengan air minum dari galon itu lagi, Shelby segera melangkah meninggalkan dapur, melewati Tarra yang masih setia duduk diruang makan.


"Hiilliiihh...., ajak ngobrol aja pacar kakak. Ngapain ngajak ngobrol aku???" ketus Shelby , kemudian segera beranjak dari tempat itu.


"Pacar?"


Mendengar ucapan sang adik, Tarra mengernyit bingung, hingga akhirnya dia teringat dengan kejadian tadi siang di sekolah.


Bukan hanya sudah terkesan membela Maya, tetapi saat pulang sekolah juga Tarra menyuruh sang adik pulang dengan menggunakan ojek online karena Tarra hendak mengajak Maya jalan. Yang pada akhirnya hal itu membuka mata Tarra untuk mengetahui cewek seperti apa Maya itu sebenarnya.


Itu hal bagus, tapi hal tak bagusnya adalah sekarang sang adik merajuk. Shelby pasti salah paham padanya. Dan karena hal itu, berarti Tarra harus mempersiapkan isi dompetnya untuk membujuk sang adik agar suasana hatinya kembali membaik.


Untuk menghindari perang dingin berkepanjangan yang dinginnya melebihi suhu di kutub Utara, Tarra segera beranjak dari duduknya dan berlalu menuju kamar Shelby yang letaknya bersebelahan dengan kamar nya.


Didepan kamar yang di pintunya tertempel susunan huruf membentuk kata Shelby, Tarra menghirup nafas perlahan dari hidungnya dan membuangnya.


"Dek..., buka pintunya donk..." seru Tarra setelah mengetuk pintu kamar itu.


Hening. Tak ada sahutan.

__ADS_1


"Dek..., kakak masuk yah..." ucap Tarra akhirnya.


Klek! Klek!


Tarra meraih handle pintu dan berusaha membuka pintu itu, namun sayang karena sang empunya kamar ternyata sudah mengunci pintu itu.


"Udah tidur yah, dek?? Ya udah..., kita ngobrol besok aja yah?! .." lesu Tarra.


Menghela nafas berat, akhirnya Tarra meninggalkan pintu kamar Shelby dan berlalu menuju kamarnya sendiri.


Didalam kamar, Shelby yang tengah duduk di meja belajarnya langsung mendengus sebal.


"Ngobrol noh ama pintu. Seharian bikin orang kesel aja!!" gerutu Shelby.


Esok paginya dimeja makan ketika semua orang berkumpul untuk sarapan, Shelby tetap mendiamkan sang kakak. Padahal Tarra sudah berusaha bersikap manis pada sang adik.


Bahkan ketika hendak berangkat sekolah, Shelby sengaja nebeng ikut mobil sang papi yang hendak berangkat kerja untuk menghindari Tarra.


"****!!! Sial!" Tarra mengumpat,kesal ketika mobil yang di kendarai nya mengalami pecah ban dijalan sepulang sekolah, dan tak ada ban serep didalam mobilnya karena memang dia tak mengantisipasi nya.


"Oh My God! Apalagi ini?!" Tarra semakin frustasi ketika melihat daya baterai di HP-nya sudah kelap-kelip mirip lampu disko.


Shelby masih dalam mode ngambek, disekolah pun dia terus menghindar dari sang kakak. Hingga pulangnya pun Shelby memilih ikut Kinan dengan alasan mengerjakan tugas kelompok. Dan dengan berat hati akhirnya Tarra pulang sendirian dengan mengendarai mobilnya.


Tarra segera menghubungi mobil derek untuk mengambil mobilnya. Dan ketika hendak menghubungi ojek online, belum juga tersambung, daya baterai di HP nya mati total.


Beberapa saat setelah mobil nya di bawa tukang derek menuju bengkel langganan sang papi, Tarra memutuskan menunggu taxi, tapi setelah beberapa lama menunggu, tak jua muncul taxi yang kosong.


Jam pulang sekolah yang di majukan karena dewan guru mengadakan rapat, yang seharusnya membuat gembira karena jam pelajaran berkurang, malah menambah siksaan untuk Tarra.


Siang bolong disaat matahari tengah asyik-asyiknya ngegoreng bumi, radiasi sinarnya dengan sadis menusuk ubun-ubun kepala Tarra yang tengah berdiri di pinggir jalan.


Tarra yakin, meskipun tak memakai pewarna rambut yang lagi in, jambul hitam legamnya pasti tak lama akan berubah warna menjadi merah menyala kalau dia terus-terusan berdiam diri di pinggir jalan menunggu taxi.


Tak lama, akhirnya Tarra memutuskan menaiki bus yang dia lihat sudah beberapa saat ngetem tak jauh dari tempatnya berdiri. Bus tiga perempat yang rute jalannya melewati jalan raya depan komplek rumahnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2