Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)

Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)
Biang Rusuh


__ADS_3

💙


💙


"Tarra, tolong kamu ambilkan buku materi yang ada dimeja Ibu yah? Tadi sudah Ibu siapkan, tapi tertinggal tidak terbawa kesini." ucap bu Lilis, guru yang mendapat jam pertama mengajar dikelas Tarra, ketika tengah mulai mengajar dan tak mendapati buku materi yang hendak diajarkan kepada muridnya pagi itu.


"Siap bu Li!" Jawab Tarra segera dengan senang hati.


Tarra pun segera beranjak dari duduk manisnya, namun ketika hendak melangkah tiba-tiba datang pak Fedi, salah satu staf pengajar kelas XII mengetuk pintu.


"Ada apa, pak Fedi? Sekarang adalah jam saya mengajar dikelas ini" tanya bu Lilis heran.


"Punten, bu Lilis nu geulis. Ini, kebetulan saya mau mengajar di kelas sebelah, tapi tadi saya diminta tolong pak kepala sekolah, katanya Altarra diminta untuk segera datang keruangan beliau sekarang." jawab pak Fedi sembari mesam-mesem memandang bu Lilis.


Sudah menjadi rahasia umum, jikalau sang guru yang konon masih perjaka tong-tong itu menaruh hati pada bu Lilis, sang guru yang juga masih berstatus jomblo di usianya yang tak lagi muda itu.


Semua murid pun pun hanya mesam-mesem mendengar penuturan pak Fedi itu.


Tarra mendadak lemas mendengar penuturan pak Fedi, sudah barang pasti pak kepala sekolah yang mempunyai kepala plontos dan berkumis lebat itu pasti hendak menyuruh ini itu padanya.


"Ya sudah, Tarra kamu keruangan pak kepala sekolah saja sekarang. Dan Alan, tolong kamu yang ambilkan buku materi dimeja ibu yah?!" ujar bu Lilis akhirnya.


"Dan untuk pak Fedi, terimakasih informasinya. Dan silahkan anda kembali ke pekerjaan anda sendiri karena saya mau melanjutkan jam pelajaran saya di kelas ini." lanjut bu Lilis pada pak Fedi yang baru saja hendak mangap mengeluarkan suara.


"Baik, bu." jawab Tarra dan Alan berbarengan.


"Baik bu Lilis nu gareulis. Jangan kangen ya bu, saya tinggal ke kelas sebelah sebentar." ujar pak Fedi yang sontak membuat gaduh seluruh penghuni kelas.


"Hhuuu... Suit suit...." seru beberapa murid.


Tarra dan Alan segera berlalu keluar kelas, untuk segera menjalankan misi yang dibebankan kepada mereka.


"Itu bujang lapuk getol banget keknya mo ngegaet bu Li. Hahaha..." ujar Alan ketika mereka tengah menyusuri lorong deretan kelas, berjalan menuju tujuan mereka yang terletak di bagian utara sekolah.


"Jaga tuh mulut. Ketahuan menghina guru bisa kena sp lu! Suka-suka mereka lah. Lagian bujang lapuk ama perawan tua, cocok mereka tuh. Hahaha..." ujar Tarra pula.

__ADS_1


"Tadi bilangnya gak boleh menghina guru, sendirinya juga sama. Dasar somplak!" omel Alan sembari memukul kepala Tarra dengan telapak tangannya.


"Woy, ini kepala bukan kelapa! Kampret lu main pukul kepala orang!" omel Tarra tak terima.


"Kidding bro... Sorry... Hahaha..." Alan tak bisa berhenti tertawa.


"Eh..., tunggu bro! Itu yang ada di lapangan, Eby sama Kinan bukan?" ujar Alan ketika melihat Shelby dan Kinan tengah berada di lapangan basket.


"Eh, iya. Ngapain tuh anak pada berjemur disaat jam pelajaran coba?!" gerutu Tarra dan segera mengambil jalur langkah menuju lapangan basket menuju tempat Shelby dan Kinan berada.


"Ini semua gara-gara elu tau gak, gue jadi ikut kena hukum pak Ganjar." terdengar suara Kinan menggerutu.


"Dih, nyalahin gue. Salahin noh semut yang udah sembarangan main ci-um ketek gue!" terdengar pula suara Shelby membela diri.


"Kalian kenapa main panas-panasan di lapangan basket disaat jam pelajaran?!" tanya Tarra segera sesampainya didekat Shelby dan Kinan.


"Eh, kakak ngapain juga ada diluar kelas? Bukannya jam pelajaran udah dimulai dari tadi?" tanya Shelby heran, mendapati sang kakak dan sohibnya berkeliaran diluar kelas disaat jam pelajaran.


"Ditanya malahan balik nanya lu, dek. Gimana sih?!" kesal Tarra.


"Lu juga kagak usah nanya, bro. Adik lu ini udah jelas lagi jadi ikan asin yang sengaja lagi dijemur di mari." ujar Alan meledek.


"Dih, lagian gue main juga kagak mau ngapelin elu chubby. Kagak lu bukain pintu juga pasti mak Ipah yang bukain." ujar Alan.


"Dan lagi, kalau gue ngapelin elu, ntar cewek cakep di samping lu ini cemburu lagi..." lanjut Alan sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Kinan.


Mendengar gombalan Alan, Kinan hanya mendengus dan memutar bola matanya malas.


"Kak Alan lama-lama mulutnya pedes banget sih kalau ngomong?! Minta di tampol pake sepatu kayaknya." omel Shelby sembari melepas sebelah sepatunya dan segera menimpukkannya ke arah Alan.


Mendapat serangan mendadak Alan pun segera menghindar. Tak ingin sepatu kotor milik Shelby mengenai tubuhnya.


"Woy..., becanda woy!" seru Alan sembari menghindar.


"Becandaan kakak garing, gak lucu!" omel Shelby terus menyerang Alan dengan menggunakan sepatu ditangannya sebagai senjata.

__ADS_1


"Kenapa kalian di hukum?" tanya Tarra pada Kinan yang tengah melihat Shelby dan Alan kejar-kejaran seperti Tom and Jerry.


"Oh, biasa kak. Pak Ganjar kan emang hobi menghukum muridnya." jawab Kinan tersenyum ramah.


"Oh, ya udah. Makanya lain kali hati-hati kalau berhubungan dengan pak Ganjar. Jangan sampai menyinggungnya." nasihat Tarra.


"Iya, kak. Lha kak Tarra sama kak Alan ngapain diluar kelas? Di hukum juga?" tanya Kinan ingin heran.


"Enggak lah, aku kan murid yang ganteng, pintar dan baik hati, mana mungkin kena hukum?! Hehehe..." jawab Tarra sedikit narsis sembari terkekeh, membuat Kinan tersenyum geli.


Mungkin memang hak semua orang untuk narsis, apa lagi memang Kinan akui kalau Tarra memang masuk dalam kategori cowok terganteng di sekolah.


"Bro..., adik lu nih, di jinakin ngapa?! Dikira badan gue samsak tinju main gaplok-gaplok aja!" ujar Alan berlari ke arah Tarra dan berlindung di belakang tubuh Tarra dari amukan Shelby yang gak nanggung-nanggung.


"Wah wah , bagus yah kalian semua. Sedang di hukum malah asyik-asyikan main, becandaan seperti itu. Memang biang rusuh yah kalian berempat. Selalu saja kompak!" terdengar suara pak Ganjar membuat Tarra, Alan, Shelby, dan Kinan mengalihkan pandangan mereka.


"Tarra, Alan, apa yang kalian lakukan disini? Mau dihukum juga seperti Shelby dan Kinan?" tanya pak Ganjar menatap tajam Tarra dan Alan.


"Maaf, pak. Kami berdua hanya kebetulan lewat disini. Saya mau keruangan kepala sekolah, pak. Ada perlu." jelas Tarra.


"Betul, pak. Dan saya mau keruang guru mengambil buku materi di meja bu Lilis." sambung Alan.


"Ya sudah, terus kenapa kalian malah disini mengganggu murid bapak yang sedang bapak hukum? Kalian mau di hukum juga?!" tanya pak Alan tajam.


"T-tidak, pak. Maaf..., kami permisi pak." ucap Alan cepat, dan segera berlalu setelah membungkukkan badan sopan, yang disusul juga oleh Alan.


"Shelby, Kinan, walaupun bapak ada didalam kelas, jangan kira bapak akan melepaskan pengawasan bapak dari kalian. Lanjutkan hukuman kalian!!" tegas pak Ganjar.


"Siap, pak!!" jawab Shelby dan Kinan sembari kembali ke tempat mereka melaksanakan hukuman.


'Sabar Shelby yang cantik, berjemur di pagi hari baik untuk kesehatan.' batin Shelby berusaha menyemangati diri sendiri.


Bersambung....


💙

__ADS_1


💙


💙


__ADS_2