Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)

Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)
Berkunjung


__ADS_3

"Zalfa, duduk sini!" seru Tarra menepuk jok kosong disampingnya ketika melihat Zalfa baru saja menaiki bus tiga perempat yang sengaja Tarra naiki, karena Tarra tau Zalfa pasti naik bus rute itu untuk mencapai akses tempat tinggalnya seperti kemarin.


Zalfa nampak ragu untuk menerima tawaran Tarra. Bus nampaknya sudah penuh dengan penumpang, dan hanya ada satu jok kosong yang bada di samping Tarra itu.


"Duduk, neng. Ngapa berdiri kalau ada jok kosong? Itu pacarnya sudah nungguin loh dari tadi." ujar salah seorang penumpang yang duduk di jok di belakang Tarra.


"Iya.., sampe ada penumpang lain mau duduk disitu aja kagak di bolehin ama si mas nya dari tadi." timpal penumpang lain yang duduk agak nyempil dibelakang dengan nada tak senang.


Rupanya penumpang itu salah satu korban Tarra yang tadi sedikit bersitegang berebut jok dengan Tarra, dan beberapa penumpang yang lain.


Zalfa mengalihkan pandangannya kearah Tarra yang terlihat tengah nyengir kuda ke arahnya.


Belum sempat Zalfa mengatur nafas, sang sopir tiba-tiba menarik persneling dan menginjak gas, menjalankan bus nya dengan segera karena beberapa penumpang sudah nyap-nyapan sedari tadi. Zalfa yang belum siap, sedikit terhuyung mencari pegangan.


Ecek... ecek... ecek...


Terdengar suara koin gopean beradu yang tengah di pegang kang kernet.


"Ongkos... ongkos..." seru kang kernet dengan terus membunyikan ecek-ecek koin gopeannya sembari menengadahkan tangan kanannya pada penumpang bus itu satu persatu, mencoba menarik ongkos.


"Gang doyong yah bang" ucap salah satu penumpang sembari menyerahkan selembar uang nominal lima ribu rupiah.


"Gang doyong atau waru doyong, mpok?" tanya kang kernet memastikan.


"Dih si abang, emang saya penyanyi dangdut, segala bahas waru doyong?" ujar sang penumpang mpok-mpok berpostur sedikit gembul itu.


"Lha, kirain si mpok ini Deli Berisik penyanyi yang suka nyanyi dangdut di tipi sambil goyang asoy" ujar sang kernet yang seketika membuat pipi si mpok gembul langsung merona mendengar penuturan kang kernet.


"Emang saya mirip dengan Deli Berisik yah, bang?" tanya si mpok senyum-senyum malu-malu kucing.


"Mirip banget, mpok, kalau dilihat dari ujung monas sono tapi." jawab kang kernet asal, yang langsung membuat si mpok gembul keki setengah mati, padahal tadi dia udah seneng banget karena seumur-umur akhirnya ada orang yang secara tidak langsung bilang dia cantik, apalagi mirip artis. Tapi ternyata itu hanya tipuan yang menyakiti hati.


"Duduk, neng. Ngapa berdiri aja? Itu jok kosong." ujar kang kernet pada Zalfa yang sedikit menghalangi jalannya.


Dengan sedikit terhuyung, akhirnya Zalfa menghampiri jok kosong di samping Tarra dan mendudukinya.


Bau campur aduk dari para penghuni bus yang sedari tadi sedikit mengusik indera penciuman Tarra akhirnya sedikit menghilang ketika mencium parfum aroma buah yang menguar ketika Zalfa duduk disampingnya.


"Hei..., kita ketemu lagi." ujar Tarra senang sembari tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih pada Zalfa.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Zalfa.


"Hehehe..., pulang lah. Tapi sebelum pulang, aku mau main ke rumah kamu boleh gak?" tanya Tarra dengan tak menurunkan sedikitpun kadar senyum di bibirnya.


"Main? Mau ngapain?" tanya Zalfa bingung.


"Yaa..., main aja. Hehehe... Oh iya, Ahsan mana? Kemarin kok ikut kamu?" tanya Tarra sok ingin tau.


"Ahsan dirumah. Kemarin aku hanya mengerjakan beberapa tugas disekolah, jadi Ahsan aku ajak ke sekolah, dan aku titipkan ke ibu kantin." jawab Zalfa.


"Emang dirumah gak ada yang jagain? Atau dititipkan ke penitipan anak mungkin." ujar Tarra sedikit heran.


"Dirumah ada ibu, tapi biar gak terlalu bosen dirumah, jadi kemarin aku ajak ke sekolah. Kalau mau dititipkan ke tempat penitipan anak, boro-boro. Kalau ada uang mending buat berobat ibu dan buat makan sehari-hari." ungkap Zalfa.


"Ibu kamu sakit apa?" tanya Tarra sedikit kepo.


Zalfa langsung menunduk , tak menjawab pertanyaan Tarra.


......................


"Kak Tara!" seru Ahsan senang ketika membukakan pintu rumah dan dia mendapati orang yang kemarin mentraktirnya makan ada didepan pintu rumahnya.


"Baik. Kak Tarra kenapa datang ke rumahku?" tanya Ahsan dengan nada girang.


"Tadaaaaa...., coba lihat apa yang kak Tarra bawa??" ujar Tarra sembari menunjukkan kantong plastik berisi beberapa makanan kesukaan Ahsan yang dibelinya tadi di penjual yang ditemuinya setelah turun dari bus.


"Asyiiiiiiik...., terimakasih banyak kak!!" seru Ahsan senang menerima pemberian Tarra dan segera membawanya masuk.


"Siapa yang datang, nak?" tanya seorang perempuan dengan suara lemah yang melangkah perlahan dari arah dalam sebuah kamar.


"Ibu, kenapa ibu keluar? Ibu sudah makan? Biar Zalfa siapkan makanan untuk ibu." seru Zalfa cepat menghampiri sang ibu, dan memapahnya duduk di sofa sederhana yang ada diruang tamu.


"Ibu tidak apa-apa. Ibu sudah makan tadi." jawab sang perempuan yang ternyata adalah ibu dari Zalfa.


"Siapa itu, nak? Teman kamu?" sang ibu bertanya ketika mendapati ada seorang asing di rumahnya.


"Selamat siang, tante... Perkenalkan, nama saya Tarra temannya Zalfa." sapa Tarra sopan sembari menyalami tangan kurus ibunya Zalfa.


"Kak Tarra yang kemarin beliin kita ayam goreng keefsi, bu. Sekarang kak Tarra juga bawain aku jajan banyak, bu!!" seru Ahsan riang menghampiri sang ibu sembari meminum milkshake cokelat pemberian Tarra tadi.

__ADS_1


"Terimakasih, nak. Maaf merepotkan. Silahkan duduk." ibu Zalfa merasa tak enak hati, teman dari anak perempuannya sudah membantu keluarganya.


"Terimakasih, tante. Tidak apa-apa. Sama sekali tidak merepotkan." jawab Tarra tersenyum ramah sembari duduk di sofa didepan ibunya Zalfa.


Ada sedikit rasa khawatir dihati ibu Zalfa, mendapati anak perempuannya berteman akrab dengan teman laki-laki, sampai membawanya main ke rumah.


"Maaf, disini cuma ada air putih." ucap Zalfa sembari meletakkan segelas air putih didepan Tarra yang diambilnya dari dalam rumahnya barusan.


"Terimakasih." ucap Tarra tersenyum manis.


"Aku tinggal ke dalam sebentar." ucap Zalfa, dan segera berlalu kembali kedalam rumah.


Senyum Tarra tak surut dengan pandangan yang tak lepas mengikuti langkah Zalfa.


"Maaf, nak Tarra. Apakah nak Tarra dan Zalfa...." ibunya Zalfa menggantung ucapannya, tak tau harus berkata apa.


"K-kami hanya berteman tante." ucap Tarra sedikit kikuk, mengetahui maksud dari omongan ibunya Zalfa.


"Syukurlah, tante harap pertemanan kalian tidak mempengaruhi kualitas belajar Zalfa. Dia bisa sekolah karena beasiswa prestasi. Kalau sampai nilai belajarnya turun, tante takut beasiswa yang diraihnya akan di cabut, dan dia tidak bisa sekolah lagi. Sebentar lagi kan sudah mau ujian. Sayang kalau sampai Zalfa tidak bisa ikut ujian karena beasiswa nya dicabut." ujar ibunya Zalfa dengan pandangan penuh harap pada Tarra, membuat Tarra semakin kikuk.


'Baru juga mau melangkah, eh sudah nemu tanda peringatan aja.' batin Tarra miris.


"Bu, Zalfa berangkat kerja dulu yah. Nasi untuk makan malam ibu dan Ahsan nanti sudah Zalfa masakin." suara Zalfa mengalihkan perhatian sang ibu dan Tarra.


Seragam sekolah yang tadi menempel di badannya sudah berganti dengan kemeja lengan panjang berwarna merah muda, dipadankan dengan rok bahan berwarna hitam panjang selutut, dengan rambut hitam panjangnya dicepol rapi. Tak ada make-up berlebih diwajahnya, hanya menggunakan pelembab wajah, dan polesan lip gloss di bibirnya.


Seragam kerja yang di kenakan Zalfa seperti nampak familiar di mata Tarra.


"Lu kerja Za?" tanya Tarra.


"Eh..., iya. Maaf, aku harus berangkat kerja sekarang." jawab Zalfa tak enak hati, karena harus meninggalkan Tarra yang tengah berkunjung kerumahnya.


"Dimana?" tanya Tarra dengan alis yang menyatu membentuk satu garis diwajahnya.


"Sweet Cake and Bakery" jawab Zalfa singkat, membuat kedua bola mata Tarra membulat dengan mulut melongo.


Zalfa


__ADS_1


__ADS_2