Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 21. Hampir ketahuan


__ADS_3

Antariksa POV


Saat ini aku baru saja tiba di kelasku setelah aku pergi mengantarkan Bintang dikelasnya, belum juga aku duduk dibangku ku Genta datang dengan nafas ngos-ngosan menyampaikan kalau Bintang ribut lagi dengan Kafka pria yang selalu saja mengganggu Bintang ku.


Aku begitu marah dan kesal kenapa pria itu tak mau menjahui Bintang padahal aku pernah memperingati dirinya untuk menjauh dari gadis yang sudah menjadi kekasihku itu.


Aku melemparkan tas sekolahku begitu saja dan langsung berlari menuju kelas Bintang, aku lihat Arsen dan Genta pun mengikuti diriku dari belakang mungkin mereka khawatir kalau aku akan memukuli Kafka seperti waktu itu lagi.


Saat ini aku sudah berada didepan kelasnya Bintang dan didalam aku melihat Bintang sedang menangis di pelukan Moza sahabatnya, mataku mengelilingi seisi kelas Bintang tapi aku tak menemukan Kafka disana, perlahan aku berjalan mendekati Bintang, aku berjongkok didekatnya dan meraih tangan gadis itu.


Dari matanya aku bisa melihat luka yang gadis itu rasakan, aku tak tau apa penyebab semua itu tapi aku tak akan memaksanya untuk bicara.


Saat Bintang menyadari kehadiranku dia langsung memelukku, aku mengelus punggungnya, entah kenapa aku merasa kalau hati ini begitu sakit saat Bintang menangis sesenggukan seperti itu.


"Kamu kenapa, Bi. Apa yang membuat kamu menangis," aku mencoba untuk bertanya kepadanya, seandainya dia tak mau cerita pun aku tak mengapa.


Tapi diluar dugaan ku ternyata Bintang bersedia untuk menceritakan apa yang membuat dia begitu sedih.


Aku tak menyangka kalau Bintang ternyata mempunyai saudara kembar dan fakta lainnya yang membuat aku begitu terkejut adalah Kafka yang hampir bertunangan dengan Bintang, tapi itu hanya masa lalu aku tak boleh cemburu.


"Aku turut sedih mendengar tentang Bulan, tapi sayang Kafka benar kamu tak boleh menyalahkan dirinya karena itu bukan salah dia sepenuhnya, bukan aku ingin membela Kafka, tapi aku cuma tak ingin gadis yang aku sayang membenci seseorang untuk sesuatu yang tak pernah diperbuat," aku mencoba untuk membuat Bintang mengerti dan semoga saja hal ini tak akan membuat Bintang jauh dariku, karena jujur saja aku tak akan pernah sanggup kalau dia sampai meninggalkanku, karena dia adalah penyemangat ku saat ini, karena dia aku jadi semangat untuk mengobati penyakit ku, walaupun kemungkinan sembuhnya adalah 1% tapi aku akan terus berusaha demi Bintang.


Saat ini tangisan Bintang sudah mulai mereda, aku menghapus air mata di pipinya.

__ADS_1


"Terimakasih, Kak. Kakak sudah mau datang untuk menghibur aku. Aku akan mencoba untuk tidak menyalahkan Kafka lagi, tapi mungkin itu butuh waktu."


Mata gadis itu terlihat begitu sembab tapi dia masih saja mencoba untuk tersenyum kepadaku, aku pun balas tersenyum kepadanya. Aku harap senyum gadis itu tidak akan pernah luntur dari wajah cantiknya.


Sepulang sekolah aku, Moza, Arsen dan Genta mampir ke rumah Bintang, saat kami sedang duduk mengobrol di teras rumah Bintang tak sengaja mataku melihat Kafka yang sedang menatap kami dari gerbang rumah Bintang.


Entah darimana saja dia karena seharian tadi aku tak melihatnya disekolah setelah dia bertengkar dengan Bintang. Saat ini Bintang begitu manja bercerita dengan ku dan aku tau Kafka pasti kesal melihat semua itu, bukan aku sengaja ingin pamer kemesraan tapi entah kenapa Bintang yang dulunya pertama kali bertemu dengan ku begitu cuek sekarang malah menjadi sangat manja. Tapi aku suka dia yang manja seperti itu.


Aku melihat Kafka pergi dengan motornya meninggalkan rumah Bintang, aku tau dia pasti marah tapi apa boleh buat, aku juga sangat mencintai Bintang dan aku tak akan melepaskan dia gadis yang aku cinta.


Hari ini aku kembali menjemput Bintang untuk pergi ke sekolah bersama, saat kami tiba diparkiran motor Kafka sudah ada disana, aku dan Bintang pun berjalan bergandengan menuju ke kelasnya Bintang, seperti biasanya aku akan mengantarkan kekasih ku itu terlebih dahulu ke kelasnya.


"Kak ..." Bintang memanggil ku dengan lembut dan aku langsung menoleh kearahnya.


"Hmm ..."


Astaga apa yang dipikirkan Bintang, kenapa juga permintaannya aneh begini, kalau aku tak menuruti keinginannya pasti dia akan marah, aku tak punya pilihan lain.


Saat ini kami sudah berada di kelasnya Bintang, beruntung saja didalam kelas hanya ada Kafka dan Moza jadi aku tak perlu menjadi tontonan teman-teman dikelasnya Bintang, kami pura-pura tak melihat kalau disana ada Kafka, aku pun pamit ke Bintang kalau aku akan pergi ke kelasku, dan aku pun mencium keningnya dan juga pipinya.


Aku melirik Kafka dengan ekor mataku dan dapat ku lihat wajahnya yang memerah mungkin dia sangat marah saat ini, tapi aku tak perduli. Aku pun segera pergi dari kelasnya Bintang.


Saat aku masuk kedalam kelasku disana sudah ada Arsen dan Genta, aku pun menyapa kedua sahabatku itu dan duduk dibangku ku yang bersebelahan dengan Arsen.

__ADS_1


Saat aku sedang asik bersenda gurau bersama kedua sahabatku itu tiba-tiba aku merasa kepalaku begitu sakit, terpaksa aku harus pergi kelas agar kedua sahabatku tak menyadari penyakit ku ini.


"Bentar yah bro, gue mau ke kantin bentar, mau beli minum haus nih," aku pun langsung beranjak dari tempat dudukku tanpa menunggu persetujuan kedua sahabatku. Tak lupa aku mengambil obat ku dari dalam tas.


Sampai di kantin aku membeli air mineral dan meminum obat ku, aku pergi ke halaman belakang sekolah dan duduk disana sebentar untuk menghilangkan rasa sakit ku.


Menurut dokter Sarah kalau penyakit ku sudah masuk stadium akhir mungkin beberapa bulan lagi aku tak akan bisa seperti sekarang, dokter Sarah meminta ku untuk ikut kemoterapi tapi aku menolaknya, untuk saat ini aku belum mau jauh dari Bintang.


Setelah merasa lebih baik aku kembali ke kelasku, dan ternyata disana sudah ada Bintang yang sedang duduk dibangku ku, saat ini guru-guru sedang rapat makanya Bintang bisa ada di kelasku, saat aku mendekati Bintang yang sedang mengobrol dengan kedua sahabatku betapa kagetnya aku saat melihat benda yang ada ditangannya.


Astaga itu obat ku, bagaimana bisa ada ditangannya Bintang, apa yang harus aku jawab kalau dia bertanya mengenai obat itu, rupanya dia menyadari kedatanganku dan gadis itu tersenyum kepada ku.


"Kak, tadi aku lihat tas kamu gak ditutup, pas aku mau menutupnya tak sengaja obat ini terjatuh, emang ini obat apaan sih?" tanya Bintang penasaran.


Dan akhirnya yang aku takutkan terjadi Bintang akan bertanya tentang obat itu.


*Bonus buat pembaca tercinta*


Visualnya babang tampan Antariksa dan si cantik Bintang


Antariksa Rahardian


__ADS_1


Bintang Nazania Hazel



__ADS_2