Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 24


__ADS_3

Tak terasa seminggu telah berlalu dan hari ini adalah pelaksanaan turnamen beladiri antar sekolah, selama seminggu itu juga Bintang dan Antariksa selalu berlatih untuk persiapan turnamen yang memang akan diadakan disekolah mereka.


Terlihat dengan jelas antusias dari siswa siswi SMA Bina Nusantara terutama para anggota OSIS yang ketuanya adalah Arsen sahabat Antariksa.


Saat ini Bintang sedang berada dirumahnya dia sudah siap untuk mengikuti turnamen bahkan kedua orangtuanya juga mendukung keinginan putri mereka itu. Dimeja makan Dokter Sarah dan pak Arkatama tak berhenti memberikan putri mereka itu semangat.


"Kalau meeting papa selesai cepat pasti papa akan pergi untuk melihat pertandingan Bintang, pokoknya Bintang harus menang," ucap pak Arkatama kepada putrinya itu.


"Hari ini pokoknya mama mau pergi nonton anak mama bertanding, mama gak mau ngelewatin untuk ngeliat Bintang kalahin lawan-lawannya, semangat ya sayang," Dokter Sarah juga ikut menyemangati putrinya itu.


"Terimakasih Papa, Mama. Awalnya Bintang pikir Papa dan Mama gak akan ijinin Bintang buat ikutan turnamen mengingat ini kan turnamen beladiri tapi Bintang sangat bahagia karena ternyata Papa dan Mama mendukung Bintang," Bintang tersenyum bahagia kepada kedua orangtuanya.


Disaat Bintang dan kedua orangtuanya sedang berbincang dari depan pintu terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam, bibi ART di rumah Bintang pun segera membukakan pintu.


"Siapa mbo yang datang," Bintang bertanya kepada Mbo Sum ART dirumahnya itu.


"Kamu sarapannya dipercepat sayang mungkin itu Antariksa yang datang buat jemput kamu," ucap papanya Bintang.


"Kayaknya gak mungkin Antariksa, karena semalam anak itu kambuh lagi, dan sudah dibawah ke rumah sakit," ucap mamanya Bintang dalam hatinya.


"Gimana ya perasaan Bintang kalau saat turnamen nanti Antariksa tidak datang untuk menyemangati Bintang," Dokter Sarah menatap putrinya itu dengan tatapan sendu.


Sengaja dia dan suaminya berusaha untuk meluangkan waktu untuk melihat Bintang bertanding agar saat itu Bintang tidak menyadari kalau Antariksa tidak ada disana, tapi hal itu hanya kemungkinan kecil karena sudah pasti Bintang akan mencari pria itu.


"Itu Non, kayaknya teman Non Bintang deh," ucap Mbo Sum kepada Bintang.


"Kak Antariksa ya, Mbo?" tanya Bintang penuh semangat.


"Bukan Non, kalau den Antariksa sih Mbo juga kenal tapi yang itu Mbo baru lihat, tapi cakep juga sih Non, tapi masih cakepan den Antariksa sih."


Mendengar perkataan Mbo Sum Bintang jadi bingung siapa yang datang kalau bukan Antariksa, trus kenapa Antariksa belum datang menjemputnya.

__ADS_1


Saat Bintang sedang larut dalam lamunannya, teman Bintang yang dimaksud Mbo Sum sudah masuk kedalam rumah.


"Pagi Om, Tante," ucap Kafka yang baru masuk kedalam.


Bintang merasa mengenal suara itu langsung menoleh kearah Kafka.


"Lo? Ngapain Lo kemari?" ucap Bintang sinis.


"Mau jemput kamu lah, udah sarapannya? Kalo udah yuk kita berangkat nanti telat lagi," ucap Kafka kepada Bintang tapi malah mendapatkan tatapan sinis dari gadis itu.


"Gak perlu, gue bisa berangkat pake mobil gue, makasih atas perhatiannya." Bintang langsung berdiri dan berpamitan dengan mama dan papanya, dia naik sebentar ke kamarnya mengambil tas dan kunci mobil lalu segera pergi.


Kafka masih terdiam di ruang makan rumah Bintang, sementara itu Pak Arkatama dan Dokter Sarah tak tau harus berkata apa lagi.


"Nak Kafka, maafin Bintang ya, dia masih belum bisa melupakan kejadian waktu itu, om harap Kafka dapat memaklumi hal itu," ucap pak Arkatama memecah keheningan itu.


"Iya gak apa-apa Om, kalau begitu Kafka berangkat dulu," ucap Kafka pamit kepada kedua orangtuanya Bintang.


"Neng, mau kemana buru-buru kayak gitu kebelet ya?" ucap Genta yang melihat Bintang berjalan begitu terburu-buru.


"Bi, kok muka Lo cemberut gitu? Mau kemana juga buru-buru kayak gitu?" Moza yang mengerti kalau sahabatnya itu dalam mood yang tidak baik langsung mendekati Bintang.


"Kak, Lo liat kak Antariksa?" Bintang bertanya kepada Genta.


"Gak tuh, dari gue nyampe sekolah sampe saat Lo nyampe gue belum lihat sahabat gue yang satu itu," jawab Genta.


"Kemana sih tuh anak, saat ceweknya mau tanding dia malah ngilang," Bintang berdecak kesal.


"Mungkin masih dijalan,Bi. Gak mungkin kan kak Antariksa gak datang buat ngasih Lo dukungan," Moza mencoba untuk menghibur sahabatnya itu.


"Udah ah, dari pada Lo bete mending kita ke tempat turnamen deh, kita lihat kayak apa lawan-lawannya Bintang." Genta pun langsung menarik tangan Bintang menuju tempat diadakannya turnamen.

__ADS_1


Bintang, Moza dan Genta pun berjalan menuju lokasi turnamen diadakan, dari kejauhan seseorang sedang menatap Bintang dengan tatapan sendu.


"Mungkin hari ini Lo bakal kecewa karena orang yang Lo harapin buat ada memberikan Lo semangat malah gak bisa datang, seandainya Lo tau kalau dia juga saat ini lagi berjuang untuk hidupnya," Kafka bergumam sendiri, dia tak tahu bagaimana jadinya Bintang kalau sampai dia tau Antariksa saat ini sedang sakit.


Flashback


Malam itu Antariksa sedang belajar dikamarnya dan tiba-tiba dia mulai merasa kalau kepalanya pusing, dadanya sesak dan suhu tubuhnya terasa panas.


Dia mencari obatnya tapi sebelum dia menemukannya dia sudah tak sadarkan diri lagi, Dinda yang mendengarkan ada keributan dari arah kamar putranya langsung berlari kedalam kamar Antariksa.


Didalamnya dia melihat Antariksa sudah terbaring tak sadarkan diri di atas lantai, Dinda berteriak meminta tolong dan mereka pun membawa Antariksa kerumah sakit. Dinda menghubungi dokter Sarah dan untung saja saat itu dokter Sarah masih berada di rumah sakit.


Dokter Sarah langsung menangani Antariksa dan Antariksa pun terpaksa harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"Sarah bagaimana keadaan anak saya," tanya Dinda yang sudah menangis sesenggukan.


"Berhubung leukemia yang dia derita sudah stadium akhir maka Antariksa akan sering mengalami hal seperti itu, bahkan dia juga akan mengalami pendarahan dan sesak nafas, sebaiknya kita secepatnya mencari sum-sum tulang belakang yang cocok untuk Antariksa," Dokter Sarah menjelaskan tentang keadaan Antariksa.


"Astaga Antariksa!!!" Dinda sudah tak dapat menahan tangisnya lagi melihat keadaan putra semata wayangnya itu.


Dokter Sarah berusaha untuk menenangkan Dinda yang sedang menangis, "Din, sebaiknya kamu ikut aku sebentar, aku akan memberikan resep obat untuk Antariksa."


"Baiklah Sarah," Dinda pun mengikuti Sarah ke ruangannya.


Sepanjang perjalanan Sarah dan Dinda sedang berbincang mengenai Antariksa.


"Aku khawatir dengan Bintang, besok adalah hari dimulainya turnamen beladiri, dan Bintang akan bertanding, bagaimana kalau dia tau Antariksa tidak datang memberikan support terhadap dirinya," Sarah mengutarakan ke khawatirannya.


"Aku pun merasakan hal yang sama, aku takut Bintang akan kecewa kalau sampai Antariksa tidak datang," ucap Dinda.


Tanpa keduanya sadari pembicaraan mereka tak sengaja didengar oleh Kafka. Mendengar pembicaraan Sarah dan Dinda, Kafka begitu terkejut.

__ADS_1


__ADS_2