Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 22. Mendaftar untuk turnamen


__ADS_3

Terkadang kita menilai seseorang hanya dari luarnya saja, kita akan mengatakan orang itu sempurna hanya karena dia memiliki sebuah kelebihan yang tampak di mata kita, tapi kita tak pernah tau kelemahannya yang tersembunyi.


Author POV


Bintang saat ini memasuki kelasnya Antariksa dan disana dia hanya menemukan Arsen dan Genta, terlihat Genta yang melambai kearahnya Bintang pun mendekati kedua sahabat kekasihnya itu.


"Kak Antariksa kemana?" tanya Bintang kepada kedua pria yang ada didepannya itu.


"Tadi katanya mau ke kantin mau beli air haus soalnya dia," Genta menjelaskan kepada Bintang.


"Oh ... gue boleh duduk di sini nungguin kak Antariksa?" Bintang meminta ijin Arsen yang dari tadi hanya diam saja dan sibuk dengan ponselnya.


"Boleh duduk aja," jawab Arsen sambil tersenyum kepada Bintang.


Bintang pun mengangkat tas milik Antariksa yang diletakkannya di bangku kebetulan tas itu tidak terkunci dan sesuatu jatuh dari dalam tas itu.


Bintang berjongkok mengambil benda yang terjatuh itu, keningnya berkerut menatap heran kepada benda itu.


"Ini botol obatnya kak Antariksa?" Bintang bertanya kepada Arsen dan Genta tapi kedua pria itu tidak menjawab mereka hanya mengangkat bahu karena mereka juga sebenarnya heran melihat botol obat itu.


Bintang pun duduk di kursinya Antariksa sambil melihat dengan jelas obat yang ada ditangannya itu, dia memainkan botol obat itu sambil bercerita dengan Genta karena Arsen hanya diam saja dan dia akan menjawab hanya ketika ditanya saja.


Tak lama kemudian terlihat Antariksa memasuki ruang kelas, Bintang tersenyum melihat kekasihnya itu, Antariksa pun berjalan mendekati gadis kesayangannya itu yang sedang menatapnya.


Tapi saat dia semakin dekat dengan Bintang dan kedua sahabatnya mata Antariksa membulat sempurna.


"Astaga itu obat ku, bagaimana bisa ada ditangannya Bintang, apa yang harus aku jawab kalau dia bertanya mengenai obat itu," Antariksa bergumam dalam hatinya, dia merasa begitu gelisah apalagi saat ini Bintang sedang menatap kearahnya dan tersenyum melihat kedatangannya.


"Kak, tadi aku lihat tas kamu gak ditutup, pas aku mau menutupnya tak sengaja obat ini terjatuh, emang ini obat apaan sih?" tanya Bintang penasaran.


"Ini yang aku takutkan, dia akan bertanya tentang obat itu," ucap Antariksa dalam hatinya, dia merasa panik tapi dia tetap bisa menyembunyikan rasa itu dan tetap bersikap tenang.


"Oh itu vitamin, kemarin dikasih sama sepupu ku, waktu dia berkunjung ke rumah," Bintang mencoba mengelak dengan memberikan alasan yang dianggapnya tepat.


"oh ..." Bintang mengangguk.

__ADS_1


"Kamu kesini nyariin aku?" Antariksa bertanya pada Bintang.


"Huum, aku bete dikelas mana disana ada Kafka lagi, Moza juga lagi gak ada di kelas tadi dipanggil sama Bu Erna," ucap Bintang dengan nada kesal.


Saat Bintang dan Antariksa sedang bicara datang Veena yang masuk ke kelasnya Antariksa dan langsung berdiri didekat pria itu dan merangkul tangan Antariksa, hal itu membuat Antariksa kaget sekaligus kesal, bukan hanya Antariksa yang kaget Bintang pun merasakan hal yang sama, berbeda dengan reaksi Antariksa dan Bintang, Genta malah menepuk jidatnya melihat hal itu.


"Pasti bakal ada perang nih," ucap Genta dalam hatinya. Sementara itu Arsen masih dalam mode yang sama sibuk dengan game di ponselnya.


Sontak Bintang langsung berdiri dan melepaskan rangkulan Veena. Veena merasa sangat kesal dan juga marah, tapi dia takut untuk melawan Bintang yang notabenenya adalah putri dari pemilik sekolah itu.


"Lo ganjen amat sih, dah tau Antariksa pacar gue masih aja Lo kegatelan gitu, emang di badan Lo ada ulet bulunya?" sinis Bintang kepada Veena, dan ucapan Bintang membuat Veena marah sekaligus malu, pasalnya dia menjadi pusat perhatian teman-teman kelasnya Antariksa. Dan juga siswa dikelas itu mulai membicarakan tentang dirinya.


Veena langsung balik kanan dan meninggalkan kelas Antariksa, beruntung Bintang yang sekarang sudah tidak doyan main kekerasan kalau tidak pasti udah babak belur Veena dibuatnya.


Genta yang melihat Bintang berhasil mengusir Veena dari kelas mereka langsung mengangkat kedua jempolnya kepada Bintang.


"Udah gak usah marah-marah nanti cantiknya hilang," ucap Antariksa sambil mengelus kepala Bintang, wajah Bintang seketika langsung merona.


"Oh ya, Bi. Nanti sekolah kita akan mengadakan turnamen beladiri, Lo gak ikutan? Pasti kalo Lo ikut bisa jadi juara," ucap Arsen yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponselnya sekarang akhirnya buka suara.


"Serius mau ikutan?" Antariksa terlihat khawatir tapi Bintang hanya tertawa geli melihat kekhawatiran kekasihnya itu.


"Kakak meragukan kemampuan Bintang? mau coba bertanding sama Bintang?" Bintang menantang Antariksa yang kelihatannya tidak yakin.


Genta dan Arsen yang mendengar Bintang menantang Antariksa untuk bertanding taekwondo kaget sampai-sampai mulut keduanya ternganga.


"Gak ah, aku gak mungkin mukulin orang yang aku sayang," Antariksa tersenyum kepada Bintang, "Kalau kamu pengen ikutan aku dukung kok, asal kamu harus berhati-hati," Antariksa mengelus pipi mulus Bintang dan Bintang bisa merasakan kalau saat ini pipinya terasa panas.


Antariksa dan kedua sahabatnya menemani Bintang yang akan mendaftar diri untuk mengikuti turnamen beladiri, kebanyakan pesertanya adalah pria tapi hal itu tak membuat nyali Bintang menciut dia malah semakin bersemangat saat melihat antusias dari para peserta yang mendaftar.


Saat mereka sedang mengantri untuk mendaftar terdengar desas-desus dari para siswa disana.


"Itu bukannya Antariksa," ucap siswa A


"Bener, dia itu yang memenangkan turnamen dua kali berturut-turut," siswa B menambahkan.

__ADS_1


"Kalau dia mendaftar lagi kayaknya impian kita buat menang harus terkubur dalam-dalam," ucap siswa A dengan wajah kecewanya.


Bintang yang mendengarkan percakapan kedua siswa itu langsung melirik pria yang ada disampingnya itu.


"Ternyata pacar gue jagoan ya, bangga banget gue jadi pacar Lo, udah jadi pemain basket andalan dan juga juara beladiri, pokoknya perfect deh pacar gue," ucap Bintang dengan begitu senangnya, bahkan dia sampai mencubit kedua pipi Antariksa saking gemesnya dia kepada pria itu.


Antariksa tersenyum kepada Bintang tapi dalam hati Antariksa merasa sedih, "Menurut penglihatan kamu aku memang perfect tapi aku tak sesempurna itu, Bi. Kamu bahkan tak tau kalau hidupku mungkin tak akan lama lagi," Antariksa mengeluh dalam hatinya.


Sementara itu Arsen yang pergi mengambilkan formulir pendaftaran untuk Bintang sudah kembali, dia menyerahkan formulir itu untuk diisi Bintang.


"Gue yakin Lo bakal ngalahin mereka yang ada disini, lagian alasan kamu selalu pindah sekolah karena suka buat anak orang bonyok, iya kan?" ucap Genta kepada Bintang entah itu tujuannya menyemangati atau menyindir tapi Bintang hanya nyengir kuda menanggapi perkataan Gentar.


"Makanya gue tawarin Bintang ikut turnamen ini, dari pada dia mukulin anak orang tanpa alasan trus dikeluarkan dari sekolah lebih baik dia mukulin anak orang di arena aja kan kalau semuanya tumbang karena Bintang dia gak bakal dikeluarin tapi bakal dapat piala," Ucap Arsen menambahkan.


Bintang hanya bisa tersenyum geli mendengar percakapan kedua sahabat Antariksa itu, saat mereka sedang asik ngobrol dan Bintang sedang mengisi formulir tiba-tiba seseorang datang mendekati mereka, dia merebut formulir Bintang dan menyobeknya, hal itu membuat Bintang, Antariksa dan kedua sahabat Antariksa terkejut dan menatap orang itu tak percaya.


Note : Mohon dukungannya untuk karya saya


✅ Vote 👇


✅ Follow 👇


✅ Koment 👇


✅ Like 👇


Dan kalau menurut kalian karyanya bagus jangan lupa hadiahnya 🎁🎁🎁


Bonus Visualnya Kafka Dan Moza


Kafka Cakrawala



Moza Putri Darmawan

__ADS_1



__ADS_2