Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 28. Jadi pendonor


__ADS_3

Veena terlihat sibuk mencari nama seseorang di daftar kontak yang ada di ponselnya, dan akhirnya senyum mengembang diwajahnya setelah menemukan apa yang dia cari, Veena segera menekan tombol dial dan panggilan pun tersambung. Tak perlu menunggu lama seseorang diseberang sana sudah menjawab panggilan telepon Veena.


"Hallo, ini siapa?" tanya orang yang diseberang sana.


"Hai, Bintang. Ini gue Veena,"


"Veena anak IPS itu yah?"


"Yup, 100 buat Lo yang udah jawab bener," Veena menjentikkan jarinya saat Bintang menebak tentang dirinya meskipun sebenarnya Bintang tak bisa melihat apa yang dia lakukan.


"Ada perlu apa Lo nelpon gue?" nada suara Bintang terdengar seperti tidak suka setelah tau siapa yang meneleponnya.


"Gue punya info penting buat Lo," jawab Veena yang menampakkan senyum liciknya.


"Maksud Lo? Info apaan, sepenting apa sih?" Bintang terdengar mulai tak sabar.


"Ini tentang Antariksa, kekasih Lo itu."


"Kak Antariksa? Ada apa sama kak Antariksa? Ngomong aja Lo gak usah terlalu banyak basa-basi deh!!" dari suaranya dapat terdengar dengan jelas kalau Bintang begitu khawatir dan juga penasaran.


"Hahaha, sabar dong Bintang." Veena merasa senang karena sudah berhasil membuat Bintang merasa penasaran.


"Ck, Lo itu ya." Bintang berdecak kesal dengan tingkah Veena.


"Ok ... ok, gue kasih tau kalau saat ini pacar Lo si Antariksa ..." ucapan Veena harus terhenti saat tiba-tiba ada yang merebut ponselnya.


"Apa-apaan sih Lo, balikin ponsel gue," Veena begitu marah karena Kafka sudah merusak kesenangannya.

__ADS_1


Kafka langsung memutuskan sambungan telepon Veena dan Bintang, hal itu semakin membuat Veena marah.


"Balikin ponsel gue, dasar cowo rese taunya cuma ngerusak kesenangan orang aja," Veena menatap Kafka dengan penuh kemarahan, sementara itu Kafka hanya diam saja melihat kemarahan Veena.


"Lo ngatain gue apa? Lo mau ngomong apa sama Bintang? dengerin ya, kalau sampe Bintang tau tentang Antariksa gue gak segan-segan buat bikin Lo menderita, mending Lo gak usah ngurusin urusan orang lain dan gak usah mencari tau tentang Antariksa karena gue gak main-main dengan apa yang gue katakan," ancam Kafka kepada Veena sambil menunjuk wajah Veena.


Kafka menarik satu tangan Veena dan mengembalikan ponsel Veena, "Nih ponsel Lo! Ingat baik-baik apa yang gue bilang!"


Kemudian dia segera berjalan meninggalkan Veena yang merasa begitu kesal dan sedang menghentakkan kakinya.


"Iiih, dasar cowo rese." Veena mengumpat kepada Kafka yang sudah tak berada disana lagi.


"Tapi sebenarnya Antariksa sakit apa sih? Kenapa juga harus dirahasiakan?" Veena semakin merasa penasaran, tapi terpaksa dia harus melupakan rasa penasarannya itu setelah mengingat ucapan Kafka tadi. Dengan langkah berat akhirnya Veena pun ikut pergi meninggalkan rumah sakit tempat Antariksa dirawat.


Setelah pergi meninggalkan Veena, Kafka memutuskan untuk pergi menemui dokter Sarah. Saat tiba didepan pintu tempat praktek dokter Sarah, Kafka segera mengetuk pintu. Saat mendengar kalau orang didalam ruangan itu mempersilakan dirinya masuk, Kafka pun segera masuk kedalam.


"Waalaikumsalam, Kafka?" dokter Sarah tampak sedikit terkejut melihat Kafka yang, datang menemuinya.


"Maaf ganggu Tante, Kafka mau ngomong sama Tante, apa Tante punya waktu?"


"Oh, silahkan Kafka, kamu mau ngomong apa?" dokter Sarah pun menpersilahkan Kafka duduk di kursi yang berada di hadapannya.


"Begini Tante, saya mau bertanya apa saya bisa menjadi pendonor sumsum tulang belakang buat Antariksa?"


Sarah begitu terkejut mendengar perkataan Kafka, "Kamu serius mau jadi pendonor?"


"Saya serius Tante, saya mau Antariksa kembali sehat agar nanti Bintang gak akan bersedih lagi," Kafka terlihat begitu serius, dia merasa kalau ini satu-satunya cara agar Bintang mau memaafkan dirinya, dan juga dia tak mau kalau sampai Bintang nanti bersedih karena kepergian Antariksa.

__ADS_1


"Berapa usia kamu saat ini?"


"Dua bulan lagi usia saya genap 18tahun."


"Tapi untuk menjadi pendonor sum-sum tulang belakang kamu harus melakukan tes pencocokan sum-sum tulang belakang dulu, ada beberapa tes yang harus kamu lakukan, yang pertama adalah Human leukocyte antigen nanti di tes ini akan menentukan kalau sum-sum tulang belakang kamu cocok tidak dengan punya Antariksa, kalau cocok artinya kamu bisa jadi pendonor, tapi setelah itu masih ada beberapa tes lagi, jadi selama dua bulan ini usahakan jaga kesehatan kamu kalau kamu berniat untuk jadi pendonor," Sarah menjelaskan apa yang harus Kafka lakukan kalau ingin jadi pendonor. Kafka mengangguk mengerti.


"Tapi ada beberapa resiko yang akan kami dapatkan setelah melakukan transplantasi sumsum tulang belakang, dan juga butuh waktu untuk masa pemulihan kamu setelah transplantasi itu, apa kamu sanggup?" Sarah tampak masih ragu untuk menyetujui keinginan Kafka, tapi yang dihadapannya itu Kafka dan pria ini bukanlah orang yang mudah menyerah apapun tantangan yang akan dihadapinya.


"Kafka siap Tante apapun resikonya, asalkan semua itu dapat membuat Bintang selalu bahagia," tatapan mata Kafka memperlihatkan keseriusan, dan dokter Sarah tak bisa melakukan apa-apa karena dia tau betul siapa Kafka.


"Kalau begitu kamu harus meminta ijin dari orang tua kamu."


"Iya, Tan. Saya akan meminta ijin dari mama dan papa, kalau begitu saya permisi dulu." Kafka pun undur diri dan segera pergi meninggalkan ruangan dokter Sarah.


...****************...


Disekolah Bintang, Moza dan Genta sedang makan siang bersama dikantin, setelah turnamen itu Bintang merasa lapar jadi dia mengajak kedua sahabatnya itu untuk pergi ke kantin. Tapi saat mereka bertiga sedang asik bercerita nada dering ponselnya membuat Bintang harus menjawab panggilan itu, dan saat dirinya melihat ke layar ponsel ternyata itu panggilan dari nomor yang tak dikenal.


Bintang segera menjawab barangkali ada hal yang penting, tapi ternyata itu adalah Veena gadis yang selalu merasa bersaing dengan Bintang, Veena sepertinya ingin memberitahukan sesuatu tentang Antariksa tapi saat dia akan berbicara tiba-tiba teleponnya terputus, Bintang merasa penasaran sekaligus kesal dengan Veena. Dan ternyata semua itu tak luput dari penglihatan Moza sahabatnya.


"Lo kenapa Bi? Muka kok cemberut gitu?" Moza bertanya setelah melihat wajah Bintang yang tidak baik-baik saja setelah mendapatkan panggilan telepon itu.


"Itu si Veena anak IPS, nelpon gue gaje amat, katanya mau ngomong soal kak Antariksa, udah serius dengerinnya, eh malah diputus teleponnya,"


"Paling juga cuma mau ngerjain Lo aja, kan tau sendiri gimana kelakuan tuh cewe," Genta yang mendengar perkataan Bintang langsung menambahkan.


"Bener tuh kata kak Genta paling cuma mau ngerjain Lo, biar Lo curiga sama kak Antariksa trus kalian berantem dan akhirnya putus," ucap Moza mengiyakan apa yang Genta pikirkan.

__ADS_1


"Mungkin juga sih, ya udah gak usah dipikirin, makanannya mana? Cacing diperut gue udah demo minta dikasih makan,"


__ADS_2