Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 35. Ketulusan hati Bintang


__ADS_3

Esok harinya disekolah Veena yang sedang berjalan di koridor menuju ke kelasnya mendapatkan tatapan dari para siswa yang melihatnya, ada yang menatapnya dengan jijik dan ada yang menatapnya iba, bahkan ada juga yang mencibir nya saat dia melewati para siswa itu.


Bintang yang kebetulan sampai tak berselang lama dengan Veena melihat semua perlakuan para siswa itu kepada Veena, Bintang merasa heran kenapa mereka seperti itu karena biasanya Veena selalu disanjung bahkan para siswa tidak ada yang berani untuk menyinggungnya.


Veena merasakan ada yang aneh dengan tatapan siswa-siswa itu menghentikan langkahnya dan melihat kearah mereka.


"Kenapa kalian ngeliatin gue seperti itu?" dengan angkuhnya Veena bertanya kepada para siswa itu dan hanya dibalas dengan senyum jijik dari mereka.


"Sudah jatuh masih saja sombong, makanya kalau tidak punya apa-apa jangan sok-sok mau melawan orang berkuasa akhirnya diri sendiri yang hancur," ucap salah satu siswa yang sedang menatap Veena itu.


"Apa maksud kalian, berani kalian sama gue huh?" Veena semakin kesal dengan para siswa itu tapi mereka seakan tak memperdulikan kekesalan Veena dan langsung pergi meninggalkan dirinya.


Semua yang terjadi tak luput dari penglihatan Bintang dan Antariksa.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa anak-anak bersikap seperti itu kepada Veena?" Bintang yang merasa heran mencoba mencari jawaban dari pria yang ada disampingnya, tapi Antariksa hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya karena dia pun tidak tau apa yang sudah terjadi.


Saat ini Veena sudah masih kedalam kelasnya, dan perlakuan teman-teman kelasnya sama seperti siswa-siswa yang ditemuinya di koridor tadi. Veena mendekati teman-temannya untuk mencari jawaban tapi malah berakhir dengan teman-temannya yang pergi menjauh dan meninggalkan dirinya.


Merasa kalau temannya mengabaikan dirinya Veena semakin penasaran dan dia mencekal lengan salah satu temannya dan bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Sebenarnya kalian itu kenapa sih, kenapa sejak tadi gue melihat satu sekolahan sedang membicarakan gue dan melihat gue dengan tatapan yang aneh, dan kalian juga kenapa malah mau pergi saat gue datang, sebenarnya apa yang sudah terjadi," Veena yang sudah sangat kesal membentak temannya itu.

__ADS_1


"Mending Lo langsung tanya ke bokap Lo deh, dan plis jangan dekat-dekat kita karena kita gak mau bernasib sama kayak Lo," temannya itu langsung menghempaskan tangan Veena yang saat itu sedang mencekal lengannya dan mereka segera meninggalkan Veena dalam kebingungan.


Tanpa menunggu lama Veena segera pergi keruangan ayahnya untuk bertanya tentang apa yang sudah terjadi, Bintang yang sempat melihat Veena berjalan terburu-buru menuju ruangan kepala sekolah pun mengikuti Veena untuk menghilangkan rasa penasaran yang sejak tadi mengganjal di hatinya.


Sesampai di ruangan ayahnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Veena langsung menerobos masuk kedalam dan ternyata didalam ruangan ayahnya ada pak Arkatama yang sedang duduk bersama Agus ayahnya Veena. Kedua pria itu sempat terkejut melihat kehadiran Veena didalam ruangan itu sama halnya dengan kedua pria itu Veena juga merasa terkejut melihat kehadiran papanya Bintang itu.


"Veena kenapa kamu tidak sopan seperti itu, kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk," Pak Agus begitu geram dengan perbuatan putrinya itu yang membuat dirinya malu didepan pak Arkatama.


"Maafkan Veena Ayah, Veena tidak tau kalau ada tamu didalam ruangan Ayah," Veena menundukkan kepalanya dan merutuki dirinya yang terlalu emosional dan malah membuat dirinya berada dalam masalah saat ini.


"Tidak apa-apa berhubungan Veena sudah berada disini sebaiknya dia juga ikut dalam pembicaraan ini," ucap pak Arkatama dengan nada dinginnya.


"Papa ngapain datang ke sekolah, dan kenapa papa gak ngomong apa-apa tadi saat sarapan?" Bintang bertanya pada dirinya sendiri, rasa penasarannya semakin besar dan di memutuskan untuk menguping pembicaraan orang-orang dalam ruangan itu.


"Saya mau langsung saja dengan tujuan saya datang kemari, saya ingin pak Agus mendidik anak bapak sebelum bapak mendidik siswa-siswi disekolah ini," ucap pak Arkatama terus terang tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.


"Maaf pak, maksud bapak apa saya kurang paham dengan perkataan bapak," pak Agus sudah mulai berkeringat dingin mendengarkan perkataan pak Arkatama, sementara itu Veena merasa takut kalau-kalau kedatangan papanya Bintang itu karena ingin memecat ayahnya.


"Anak bapak sudah berani untuk merencanakan akan menyingkirkan putri saya, rupanya saya sudah salah memilih bapak sebagai kepala sekolah disekolah saya ini karena anak bapak sudah menyalah gunakan jabatan bapak itu," Pak Arkatama terlihat begitu emosional saat menyampaikan bagaimana sifatnya Veena kepada pak Agus.


Pak Agus memandang Veena dengan tatapan penuh kemarahan, dia berdiri dan langsung memarahi putrinya itu.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu lakukan Veena? Kamu tau apa akibatnya dari semua perbuatan mu itu?" Pak Agus memarahi Veena, bahkan dia hampir saja menampar putrinya itu.


"Bapak dan putri bapak tak perlu berakting dihadapan saya, apa mungkin sebaiknya saya mengeluarkan bapak dan anak bapak dari sekolah ini?" Pak Arkatama menyampaikan keputusannya kepada kedua anak dan ayah itu.


Veen segera mendekati pak Arkatama dan memohon kepada pria itu.


"Om, say mohon jangan lakukan itu. Saya berjanji tidak akan mengganggu Bintang lagi, tolong om jangan memecat ayah dan mengeluarkan saya dari sekolah," Veena sudah menangis saat mendengar ayahnya terancam dipecat karena ulahnya.


Bintang yang mendengarkan semua pembicaraan itu merasa tidak tega apalagi saat dia mendengar Veena yang menangis memohon kepada papanya, Bintang langsung masuk kedalam dan hal itu membuat semua yang berada didalam ruangan terkejut.


"Papa jangan lakukan itu, maafkanlah Veena lagipula dia sudah menyesali semua perbuatannya, Papa kasihan dia kalau papa keluarkan dia dari sekolah dan juga memecat ayahnya lalu bagaimana Veena akan sekolah dan bagaimana pak Agus akan menghidupi keluarganya. Papa Bintang mohon berikan mereka kesempatan sekali lagi," Bintang mendekati papanya dan memeluk papanya untuk membujuk agar papanya tidak melakukan apa yang menjadi ancamannya itu.


"Seharusnya kamu senang Bintang saat papa mengeluarkan gadis jahat ini, sehingga sudah tidak ada lagi yang akan menggangu dirimu disekolah," Pak Arkatama meras heran dengan putrinya itu sekaligus juga bangga dengan kebesaran hati putrinya.


"Papa semua manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, lagipula Bintang sudah memaafkan Veena dan Veena juga sudah menyesali semua perbuatannya jadi Bintang mohon agar papa tetap membiarkan pak Agus dan Veena berada disekolah ini," rengek Bintang yang masih berada di pelukan papanya.


"Baiklah papa akan menuruti perkataan putri papa ini, papa harap Veena tidak akan menyakiti Bintang lagi."


"Terimakasih Om, saya janji saya tidak akan menggangu Bintang lagi. Terimakasih kasih Bintang karena kamu sudah mau memberikan aku kesempatan kedua," Veena dengan tulus mengucapkan terimakasih dan berjanji tidak akan menggangu Bintang lagi.


"Terimakasih Bintang, betapa mulia hati kamu karena sudah mau memaafkan Veena dan membiarkan kami tetap berada disekolah ini," Pak Agus merasa begitu terharu dan juga bahagia karena dirinya tidak jadi dipecat dari sekolah itu.

__ADS_1


__ADS_2