Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 29


__ADS_3

Sudah seminggu Bintang tidak bertemu dengan Antariksa sejak pertemuan terakhir mereka saat turnamen, tapi meskipun mereka tidak bertemu Antariksa tak pernah tidak memberikan kabar, setiap waktu dia selalu mengirim pesan atau dia akan menelepon Bintang.


Sudah seminggu juga Antariksa dirawat karena penyakitnya dan setiap hari setelah pulang sekolah Kafka selalu datang untuk menemani Antariksa yang saat ini sudah menjadi sahabatnya.


"Hai, bro." Kafka menyapa Antariksa yang sedang duduk membaca diatas tempat tidurnya.


"Tumben Lo, jam segini udah kesini pasti Lo bolos lagi kan?"


"Udah tau pake nanya, gimana keadaan Lo, udah ada perubahan?" meskipun Kafka tau sebelum transplantasi sumsum keadaan Antariksa tak akan baik-baik saja tapi basa-basi itu tetap dia ucapkan.


"Seperti yang Lo lihat gue selalu terlihat baik-baik saja,"


"Gue kangen kangen sama Bintang, rasanya gue pengen keluar dari rumah sakit," tambah Antariksa lagi, terlihat jelas diwajah pria itu rasa rindu kepada sang kekasih yang begitu besar.


"Emang gak bisa Lo dirawat jalan aja, harus gitu nginap di rumah sakit terus? lagian lo harus sekolah bulan depan ujian akhir, teman-teman lo lagi sibuk tuh nyari universitas yang cocok Lo malah asik jadi pasien disini." Kafka pun menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada dikamar Antariksa.


"Nanti gue bakal ngomong sama nyokap dan dokter Sarah, lagian gue juga udah bosan ngeliatin muka perawat yang ada disini, mending gue ke sekolah ngeliatin Bintang kan bisa jadi mood booster gitu."


Kafka memutar bola matanya karena mendengar perkataan alay nya Antariksa. Kafka pun memutuskan untuk tiduran di sofa yang ada didalam kamar Antariksa, karena selama Antariksa dirawat di rumah sakit kalau Kafka bosan disekolah dia pasti akan datang menjenguk Antariksa dan tidur dikamar pasien itu.


"Woi, kebiasaan Lo molor di sini." Antariksa melempar Kafka dengan bantal tapi Kafka tak menggubris Antariksa malah dia mengambil bantal itu dan dipakai untuk tidur. Antariksa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah pria yang pernah menjadi rivalnya itu.


...****************...


Disekolah SMA Bina Nusantara, Bintang terlihat sedang berjalan menuju kantin bersama sahabatnya Moza saat mereka berdua tiba di kantin disana sudah ada Genta dan Arsen yang juga sedang makan, melihat kedatangan Bintang dan Moza, Genta segera melambaikan tangan dan mengajak mereka berdua untuk gabung duduk bersama mereka.


"Gabung bareng kita aja," ucap Genta sambil menunjuk kursi yang ada didepannya.

__ADS_1


Bintang pun menyetujuinya akhirnya dia dan Moza duduk bersama Genta dan Arsen.


"Bi, Antariksa kok udah seminggu gak masuk sekolah? Gak lama lagi kan ujian akhir dan Antariksa udah ketinggalan banyak pelajaran," Arsen yang menghawatirkan Antariksa akhirnya bertanya kepada Bintang mengenai sahabatnya itu.


"Kak Antariksa sering kok ngabarin gue, katanya dia harus ngurusin Tante Dinda yang lagi sakit, dan harus berobat keluar kota, tapi dia gak ngomong kalau masuk sekolahnya kapan."


"Emang dia ijinnya berapa lama sih, sampe guru aja gak ada yang nanyain tuh anak," ucap Genta menambahkan.


"Katanya sih Tante Dinda udah ijin sama wali kelas dan juga kepsek jadi gak masalah gitu." jelas Bintang dengan santai.


"Oh, gitu ya." Genta dan Arsen mengangguk mengerti dengan perkataan Bintang.


Mereka berempat pun mengakhiri percakapannya dan mulai menyantap makanan yang telah di pesan.


"Menurut Bintang Tante Dinda sedang sakit dan berada diluar kota, tapi kenapa kok kemarin aku lihat Tante Dinda ada di mini market dekat kompleks rumah Antariksa dan terlihat baik-baik saja, apa ada yang Antariksa sedang sembunyikan dari kita semua?" Arsen membatin dalam hatinya, begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya, dan juga rasa khawatir yang begitu besar terhadap sahabatnya itu. Apalagi sebelum Antariksa ijin sekolah pria itu selalu terlihat pucat bahkan didalam tasnya ada obat yang entah obat apa itu, Arsen yang selalu memperhatikan tingkah laku Antariksa yang mulai sedikit aneh akhir-akhir ini, dan juga dia sering sekali tidak masuk sekolah.


Setelah selesai makan, Bintang dan Moza pamit untuk lebih dulu balik ke kelas dan mereka berdua meninggalkan Genta dan Arsen yang masih sibuk dengan buku SNMPTN karena mereka yang memutuskan untuk mengambil jalur SNMPTN untuk masuk universitas nanti.


Setelah kepergian Bintang dan Moza, Arsen langsung menutup bukunya dan itu menarik perhatian Genta.


"Lo kenapa? Dari tadi gue perhatikan kayak gak fokus gitu," tanya Genta yang merasa heran dengan sahabatnya itu.


"Lo gak merasa kalau ada yang aneh sama Antariksa? Katak Bintang tante Dinda sedang sakit tapi kemarin gue lihat tante Dinda lagi belanja di minimarket kompleks rumah Antariksa dan juga keadaan tante Dinda gak terlihat kayak orang sakit." Arsen menceritakan kepada Genta apa yang dilihatnya.


"Jadi maksud Lo, Antariksa udah bohongin Bintang gitu?" Genta coba menebak apa yang Arsen maksud.


"Mungkin juga dia hanya terpaksa berbohong, Lo tau sendiri gimana bucin nya Antariksa sama Bintang, mungkin ada sesuatu yang dia gak mau Bintang tau jadi dia terpaksa harus berbohong seperti itu," Arsen tampak serius memikirkan apa alasan Antariksa harus berbohong.

__ADS_1


"Gue rasa juga gak mungkin Antariksa bohongin Bintang kalau gak dalam keadaan terpaksa, lihat Bintang nangis aja dia udah uring-uringan apalagi mau nyakitin Bintang," sambung Genta.


"Gimana kalau sepulang sekolah kita pergi kerumahnya Antariksa."


"Gue sih ikut lo aja."


Akhirnya Genta dan Arsen memutuskan sepulang sekolah mereka akan pergi kerumah Antariksa untuk mencari tau keadaan Antariksa yang sebenarnya.


...****************...


Dirumah sakit Kafka baru saja terbangun dari tidurnya, sementara antariksa masih dengan aktivitas semula yaitu membaca buku. Saat terbangun Kafka langsung melihat jam di ponselnya dan saat tau jam berapa sekarang Kafka langsung saja bangun dari sofa yang dia tiduri. Dan Antariksa terlihat tidak perduli dengan tingkah pria itu.


"Kenapa Lo gak bangunin gue, wah parah Lo udah jam segini bisa kena semprot sama nyokap gue, sengaja kan Lo mau buat gue dimarahin," Kafka ternyata panik karena sekarang sudah pukul 5 sore dan artinya sudah sejam lalu sekolah mereka bubar.


"Lo mimpi apa sih tadi? Bangun-bangun langsung ngomelin gue, masih bagus gue ijinin Lo tidur disini kalau gue minta perawat pasang infus sama Lo baru tau, atau gak gue nyuruh buat anterin Lo ke kamar mayat baru Lo tau," ucap Antariksa yang masih saja serius dengan buku yang ada ditangannya.


"Udah ah, gue balik aja. Kelamaan disini nanti gue sakit lagi," Kafka pun memutuskan untuk pulang karena memang saat ini sudah sangat terlambat baginya untuk pulang kerumah.


"Emang lo lagi sakit, Sakit jiwa." Antariksa menimpali ucapan Kafka, mendengar perkataan Antariksa, Kafka merasa kesal tapi Antariksa bahkan tak perduli justru dia menertawakan Kafka yang keluar dengan wajah cemberutnya.



Visualnya Genta



Visualnya Arsen

__ADS_1


__ADS_2