
Kafka terlihat menatap Bintang tanpa rasa bersalah padahal dia sudah merobek formulir pendaftaran Bintang untuk ikut turnamen. Lain halnya dengan Bintang yang wajahnya sudah memerah karena marah.
"Kenapa Lo sobek formulir gue? Ada masalah apa sih Lo?" Bintang bertanya dengan penuh emosi tapi dia mencoba untuk meredam amarahnya karena mengingat saat ini begitu banyak orang yang sedang memandangi mereka.
"Lagian Lo ngapain ikutan turnamen berbahaya kayak gini?" Kafka balik bertanya pada Bintang.
"What? Gak salah Lo ngelarang gue? Emang lo siapa?" Bintang tersenyum sinis saat mendengar Kafka mengatakan hal itu.
"Karena gue perduli sama Lo, Bi. Gak seperti orang lain yang katanya cinta tapi malah akan mencelakai dirimu," Kafka menyindir Antariksa yang masih berdiri dia disana.
"Lo gak usah berkata seperti tentang kak Antariksa, dia tidak berniat mencelakai ku, ini hanya turnamen antar sekolah dan tak ada yang akan celaka karena hal itu, kamu terlalu berlebihan," Bintang segera pergi meninggalkan Kafka dan pria itu hanya terdiam mematung ditempatnya.
Antariksa segera mengejar Bintang tapi sebelum pergi dia memberikan peringatan kepada Kafka, "Gue udah pernah bilang sama Lo berhenti ganggu cewe gue."
Sementara itu Arsen dan Genta tetap bediam diri ditempat pendaftaran itu mereka menatap Kafka dengan bingung.
"Astaga, Lo kenapa doyan banget buat Bintang nangis sih," ucap Genta kepada Kafka.
"Bukan urusan Lo." Kafka segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Udahlah, biarkan itu menjadi urusan mereka, kamu tunggu disini aku akan mengambilkan
yang baru buat Bintang," Arsen pun meninggalkan Genta dan pergi menuju ke panitia untuk mengambil formur yang baru.
Setelah mendapatkan formulir baru, dia segera mendekati Genta lagi dan mengajak sahabatnya itu untuk pergi mencari Bintang dan Antariksa.
Saat ini Bintang dan Antariksa sedang berada di taman belakang sekolah, Bintang terlihat sangat kesal dan Antariksa sedang berusaha untuk menenangkan Bintang.
"Aku heran deh, kenapa dia selalu gangguin hidup aku," ucap Bintang kesal.
__ADS_1
"Sabar sayang, mungkin dia hanya khawatir sama kamu, baru tau ya aku ternyata pacar kesayangan ku ini hobinya marah-marah," Antariksa mengusap kepala Bintang.
"Gombal aja terus," Bintang memutar bola matanya.
Arsen dan Genta akhirnya menemukan kedua sejoli itu, mereka segera mendekati keduanya dan memberikan formulir itu untuk diisi Bintang.
"Nih, formulir yang baru cepat diisi nanti gue anterin ke panitianya," Arsen menyerahkan formulir itu kepada Bintang.
"Terimakasih, Kak." ucap Bintang dengan tulus dan dia pun segera mengisi formulir pendaftaran itu.
Setelah selesai mengisi formulir itu mereka pun pergi menyerahkannya kepada panitia, dan Antariksa memutuskan untuk melatih Bintang secara langsung.
"Nanti pulang sekolah kita akan berlatih," ucap Antariksa kepada Bintang.
"Berlatihnya dimana Kak?" tanya Bintang.
"Oh iya, nanti aku ajak kamu ke basecamp, disana ada tempat untuk berlatih," Antariksa menyetujui saran dari Genta.
Basecamp yang mereka maksud adalah sebuah gudang kecil disamping rumah Antariksa yang mereka sulap menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk berkumpul, disana ada alat band, ring tinju, AC, televisi, PlayStation, dan banyak barang lainnya.
Sepulang sekolah Bintang dibawah ke basecamp oleh Antariksa, saat mereka sampai di sana Genta dan Arsen sudah menunggu, mereka sudah berganti pakaian begitu juga dengan Bintang dan Antariksa yang sudah memakai seragam taekwondo mereka.
Antariksa tampak begitu serius melatih Bintang dia juga mengajarkan Bintang beberapa gerakan untuk menaklukkan lawan, Bintang yang memang hobi dengan olahraga itu begitu cepat mengerti dengan apa yang diajarkan Antariksa.
Mereka berdua pun memutuskan untuk bertanding, tapi saat bertanding dapat terlihat jelas kalau Antariksa sengaja untuk selalu mengalah dari Bintang dan pada saat Bintang berhasil mengunci Antariksa dan membanting pria itu, Antariksa menjerit kesakitan.
"Aaaa ..." jerit Antariksa.
Dia merasakan sakit yang sangat hebat pada bagian kepalanya dia merasa pusing hal itu membuat Bintang dan kedua sahabatnya khawatir. Bintang bahkan sudah menangis karena dia pikir rasa sakit itu disebabkan oleh dirinya.
__ADS_1
"Kakak kenapa? Mana yang sakit? Maafin Bintang ya," ucap Bintang dan air mata mulai membasahi pipi gadis itu.
Bintang merasa sangat takut melihat Antariksa yang kesakitan karena dirinya padahal yang sebenarnya itu bukan karena Bintang tapi penyakit Antariksa yang kambuh, karena tak mau membuat Bintang dan kedua sahabatnya tau akan penyakit yang dia derita Antariksa berpura-pura kalau dia hanya sedang mengerjai Bintang.
"Taraa ..." Antariksa tiba-tiba berdiri dan menunjukkan kalau dia baik-baik saja walaupun sebenarnya dia sedang menahan rasa sakit itu.
Bintang, Genta dan Arsen terkejut menatap Antariksa merasa merasa kesal karena sudah dikerjai oleh Antariksa.
"Apaan sih, Kak. Gak lucu tau, Kakak tau gak aku tuh takut banget sampe nangis kayak gini tapi ternyata Kakak hanya main-main aja," Bintang yang merasa kesal akhirnya mengomeli Antariksa.
"Bener tuh, gue tadi sampe loncat ke atas ring gara-gara gue pikir Lo kenapa-kenapa taunya ..." Genta langsung berdiri dan turun dari atas ring lalu dia kembali bermain PlayStation.
Arsen membuang nafas kasar hanya dia saja yang tak berkomentar apa-apa kepada Antariksa.
Tapi Antariksa tak perduli dengan kedua sahabatnya itu dia pergi mengejar Bintang yang sedang kesal karena meras telah dibohongi.
Antariksa berhasil mengejar Bintang dia menahan tangan gadis itu tapi Bintang menghempaskan tangan Antariksa.
"Kakak mau apalagi sih? Masih belum puas udah buat aku khawatir? Kakak pikir bercandaan kakak itu lucu? Aku khawatir kak, aku takut kalau aku harus kehilangan kakak," ucap Bintang kesal dan saat ini dia sudah menangis, melihat Bintang menangis Antariksa langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Maafkan aku, Bi. Aku tak tau kalau kamu akan sampai ketakutan seperti ini, maafkan aku," ucap Antariksa sambil memeluk Bintang dan mengelus kepala gadis itu.
Melihat Bintang yang menangis seperti itu hati Antariksa terasa begitu sakit.
"Baru lihat aku kesakitan seperti itu saja dia sudah menangis seperti ini, bagaimana nanti kalau aku pergi ninggalin dia untuk selamanya." hal itu pun langsung terlintas di pikiran Antariksa.
"Oh tuhan, aku harus bagaimana, aku tak mungkin menjauhinya karena aku pun tak akan sanggup kalau harus jauh dari dia, aku pun tak akan sanggup kalau melihat dia menangis saat dia mengetahui tentang penyakit ini," Antariksa bergumam dalam hatinya.
"Rupanya aku harus mengikuti saran dokter Sarah untuk pergi berobat keluar negeri setelah selesai ujian nanti, aku harus sembuh demi Bintang," Antariksa pun melepaskan pelukan dirinya dan Bintang dia menatap wajah kekasihnya itu dan mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis itu. Kemudian dia mengecup kening Bintang dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1