
Kafka yang mendengarkan pembicaraan Dinda dan Sarah begitu terkejut.
"Apa Antariksa yang dimaksud adalah pacarnya Bintang, soalnya tadi Tante Sarah sama ibu-ibu yang satunya sempat nyebutin namanya Bintang, lebih baik gue pastikan sendiri." Kafka pun segera pergi mencari ruang rawat inap Antariksa.
Kafka mengintip satu persatu ruangan VVIP di rumah sakit itu, dan saat tiba di ruangan paling ujung mata Kafka langsung membulat sempurna, dia begitu kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Oh Tuhan, ini tidak mungkin. Pria ini selalu terlihat baik-baik saja bagaimana bisa saat ini dia terbaring lemah di dalam kamar ini," Kafka bergumam lirih melihat keadaan Antariksa yang begitu menyedihkan.
Antariksa yang ada dihadapan Kafka saat ini sedang terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang menempel ditubuhnya. Pria yang terlihat sempurna disekolah itu dan selalu menjadi pusat kekaguman para kaum hawa disekolah saat ini sedang tak sadarkan diri.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipi Kafka, sekalipun Antariksa adalah rivalnya disekolah tapi melihat keadaan Antariksa yang seperti itu membuat hati Kafka terasa perih.
"Apakah Bintang mengetahui semua ini?" gumam Kafka pelan.
Dia hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, tapi tiba-tiba pintu kamar Antariksa terbuka dan tampak seorang wanita paruh baya memasuki ruangan itu. Wanita itu terkejut melihat kehadiran Kafka didalam ruangan anaknya.
"Kamu siapa?" tanya ibunya Antariksa kepada Kafka.
"Maaf Tante saya tadi salah masuk kamar, saya mau jenguk sepupu tapi malah nyasar kekamar ini, dan ternyata yang dirawat ini teman sekolah saya Antariksa, nama saya Kafka," ucap Kafka dengan perasaan tak enak.
"Oh, jadi kamu teman sekolah anak saya," ibunya Antariksa mengangguk dan tersenyum kepada Kafka.
"Antariksa kenapa Tante? Di sekolah dia terlihat baik-baik saja, tak nampak kalau dia sedang sakit," Kafka pun bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Sebenarnya Antariksa melarang kami untuk memberitahukan tentang penyakitnya kepada orang lain terutama Bintang dan teman-teman sekolahnya, tapi karena nak Kafka sudah berada disini Tante akan bercerita," ucap ibunya Antariksa.
__ADS_1
Kafka pun terlihat begitu serius mendengarkan perkataan Ibunya Antariksa.
"Antariksa mengidap kanker darah, kata dokter Sarah leukemia, saat ini kanker Antariksa sudah sampai pada stadium akhir Tante tak tau sampai kapan Antariksa akan bertahan tapi Tante hanya mengharapkan ada keajaiban yang datang, Tante terus berdoa supaya Antariksa bisa sehat seperti dulu lagi, tapi melihat keadaan Antariksa saat ini Tante merasa itu mustahil," ibunya Antariksa menceritakan keadaan putranya itu, air mata sudah mengalir di pipinya.
"Saya turut bersedih Tante mendengar keadaan Antariksa, saya juga akan mendoakan semoga akan ada keajaiban dan semoga Antariksa segera mendapatkan donor sum-sum tulang belakang."
"Oh ya, Kafka boleh Tante minta sesuatu?"
"Iya Tante, katakanlah."
"Tolong sembunyikan tentang keadaan Antariksa saat ini terutama dari Bintang karena Antariksa tak mau membuat Bintang bersedih apabila dia tau tentang penyakitnya Antariksa," ucap Dinda dengan tatapan memohon.
"Baiklah Tante saya janji tak akan menceritakan kepada siapapun tentang kondisi Antariksa saat ini," Kafka tersenyum kepada ibunya Antariksa.
Dinda pun merasa lega, dia menatap sendu putranya yang masih belum sadar juga.
Saat berada diluar ruangan Kafka masih tak habis pikir dengan keadaan Antariksa, dia masih belum percaya kalau yang sedang terbaring didalam adalah pria yang menjadi rivalnya di sekolah.
"Astaga, ternyata Bintang pun tidak mengetahui tentang keadaan Antariksa, Bintang pasti akan merasa hancur kalau suatu saat nanti dia mengetahui semua kenyataan ini," Kafka bergumam lirih.
Flashback off
Kembali lagi ke sekolah Bina Nusantara Bintang yang saat ini sedang merasa kesal hanya bisa mondar-mandir kayak setrika di dalam ruangan tempat diadakannya turnamen sementara itu Moza dan Genta hanya bisa menatap Bintang dan sesekali mereka membuang nafas melihat tingkah gadis itu.
"Bi, boleh gak Lo duduk aja dulu, kepala gue udah pusing ngeliatin Lo yang dari tadi mondar-mandir, nanti juga pasti kak Antariksa datang," Moza menghentikan Bintang yang dari tadi tak mau diam.
__ADS_1
"Ck," Bintang hanya berdecak. Membuat Moza memutar bola matanya jengah.
"Bi, mungkin Antariksa punya keperluan mendadak makanya dia gak datang, positif thinking lah," Genta menambahkan ucapan Moza.
"Berisik ah, Moza sama kak Genta berisik tau," Bintang yang semakin kesal hanya bisa memanyunkan bibirnya.
Tak lama kemudian terdengar panitia meminta para peserta untuk menempati tempat yang sudah disediakan untuk peserta turnamen, Bintang pun akhirnya meninggalkan Moza dan Genta ditempat mereka duduk.
Ruangan tempat diadakannya turnamen pun lama kelamaan sudah mulai penuh dengan pendukung dari para peserta, terlihat juga disana ada Dokter Sarah yang duduk didekat Moza, Dokter Sarah melambai kepada Bintang putrinya dan Bintang tersenyum kepada mamanya itu, setidaknya rasa kesalnya sedikit berkurang karena kehadiran mamanya.
Tak lama kemudian turnamen pun dimulai, dengan tahapan sistem gugur jadi siapa yang kalah kali ini akan segera tereliminasi dan yang menang pun akan kembali bertanding.
Panitia sudah mulai memanggil satu persatu peserta yang akan saling berhadapan nanti, melihat hal itu Bintang semakin gelisah karena sampai saat ini Antariksa tidak juga datang.
Sementara itu di rumah sakit, Antariksa baru saja terbangun setelah semalam dia sempat pingsan karena suhu tubuhnya yang sangat tinggi, dan dia mengalami sesak nafas karena sel kanker yang mulai menggerogoti paru-parunya.
"Bun, hari ini Bintang bertanding An pengen pergi buat ngasih dia support, kasihan dia pasti lagi nungguin An," ucap Antariksa dengan nada lemah.
"Sayang kamu masih sakit, lagian juga saat ini kamu masih terlihat pucat, kalau kamu sakit lagi disana gimana?" Dinda tak mungkin mengizinkan putranya itu, dia tak mau mengambil resiko kalau Antariksa pingsan lagi disekolah nanti.
"Nanti An perginya sama Bunda aja, gak lama kok cuma mau ngasih support ke Bintang saat dia tanding aja trus udah gitu kita balik lagi ke sini," Antariksa masih berusaha untuk membujuk ibunya, dia tak mungkin membiarkan Bintang kecewa karena ketidakhadirannya. Dinda tidak menjawab dia takut kalau nanti keadaan Antariksa memburuk cuma kerena dirinya yang meninggalkan rumah sakit.
"Bun, plis. Sekali ini aja, An gak mau Bintang kecewa nanti, An takut kalau nanti Bintang membenci An," ucap Antariksa dengan wajah memohon.
Dinda tetap menggeleng, dia tak mau membahayakan kesehatan anaknya, Antariksa adalah putra semata wayangnya jadi dia tak mau sampai Antariksa menjadi semakin parah lagi cuma karena turnamen itu. Terlebih lagi suaminya sedang berada diluar kota jadi dia tak mau mengambil resiko.
__ADS_1
Tapi Antariksa tak mau menyerah dia tetap berusaha untuk membujuk sang bunda, dan tiba-tiba pintu kamar Antariksa terbuka.