Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 36. Begitu sulit untuk memaafkan


__ADS_3

"Entah sampai kapan kamu akan membenciku tapi percayalah aku akan selalu menunggu sampai kamu mau memaafkan diriku"


Setelah permasalahan Veena selesai, Bintang dan papanya keluar dari ruang kepala sekolah. Sementara itu Veena masih berada didalam ruangan ayahnya.


"Bintang antar Papa sampai ke parkiran yuk," Bintang pun menggandeng tangan papanya dan berjalan bersama pak Arkatama menuju tempat parkir khusus petinggi sekolah.


"Tumben anak Papa bersikap manja kayak gini, apa ada sesuatu yang diinginkan?" par Arka sudah sangat mengenal sifat putrinya dan tidak biasanya Bintang bermanja-manja seperti ini kalau tidak ada maunya.


"Bintang cuma mau bilang makasih karena Papa udah mau maafin Veena dan juga pak Agus, kasihan pak Agus kalau sampai di pecat padahal dia sudah mengabdi cukup lama disekolah kita ini."


"Sayang, semua itu terjadi karena ketulusan hati kamu, karena permintaan kamu kepada papa untuk memaafkan mereka makanya papa gak jadi kasih temanmu dan papanya itu hukuman," ucap pak Arkatama sambil mengelus kepala putrinya itu.


"Bintang cuma gak mau Veena semakin membenci Bintang apabila dia dikeluarkan dari sekolah dan ayahnya dipecat dari pekerjaannya."


"Kamu memang sangat bijaksana sayang." pak Arka sangat salut dengan sifat Bintang yang memang selalu baik terhadap orang lain, sejak dulu Bintang memang tak pernah merendahkan orang lain atau pun menyakiti mereka, sekalipun dia anak seorang pengusaha yang sukses tapi dia selalu rendah hati. Hal itu yang membuat Sarah dan Arka selalu menyayangi putri mereka ini.


Karena keasikan berbicara pak Arka dan Bintang tak menyadari kalau mereka sudah sampai di dekat mobil papanya Bintang.

__ADS_1


"Kalau begitu papa pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik dan belajar yang giat," ucap pak Arka sebelum memasuki mobilnya.


"Siap Boss." jawab Bintang sambil menggoda dengan gaya menghormat kepada papanya. Pak Arka hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan putrinya itu.


Di saat Bintang bermanja-manja kepada papanya, berbeda dengan Veena saat ini di ruangan ayahnya.


"Veena bukankah Ayah sudah memperingatkan kepada mu untuk tidak menggangu Bintang tapi kenapa kamu tidak pernah mau mendengarkan ayah, sekarang kamu lihat akibatnya ayah hampir saja dipecat dan kamu hampir dikeluarkan dari sekolah. Kalau bukan karena kemurahan hati Bintang entah apa yang terjadi pada ayah dan dirimu, mulai sekarang kamu jangan pernah mencari gara-gara dengan Bintang kamu dengar itu," pak Agus menceramahi Veena panjang lebar, dia berharap dengan adanya kejadian pada hari ini Veena akan memperbaiki sikapnya.


"Baik Ayah, Veena gak akan gangguin Bintang lagi. Kalau begitu Veena balik ke kelas dulu."


"Hmm ..."


"Kenapa gadis seperti Bintang selalu mendapatkan segalanya, sedangkan aku apa yang bisa aku sombongkan bisa hilang sewaktu-waktu karena Bintang. Aku memang tak akan pernah mengganggu kamu lagi Bintang tapi bukan berarti aku akan berhenti untuk membencimu," ucap Veena dalam hatinya.


Saat ini jam pelajaran sudah dimulai semua siswa sudah berada dalam kelas mereka masing-masing, terlebih lagi kelas 12 mereka yang tinggal dua minggu lagi akan menghadapi ujian akhir harus lebih fokus untuk belajar bahkan mereka sering pulang terlambat karena ada pelajaran tambahan untuk mengejar keterlambatan atau sekedar belajar menyelesaikan soal-soal ujian.


Seperti pada hari ini, Bintang terpaksa harus pulang sendiri karena kekasihnya harus pulang terlambat karena ada tambahan pelajaran untuk persiapan ujian.

__ADS_1


Bintang berjalan dengan lesu menuju gerbang sekolah, sebenarnya dia berniat untuk memesan taksi online tapi sialnya ponselnya kehabisan daya alhasil dia harus menunggu sampai ada sebuah taksi yang lewat didepan sekolahnya.


Saat ini Bintang sedang berdiri menunggu di sebuah halte yang ada didekat sekolah, hampir setengah jam dia menunggu tapi taksi tak kunjung datang. Tiba-tiba sebuah motor sport berhenti didepan Bintang. Bintang menoleh kearah motor itu dan dia terlihat tidak senang karena dia tau siapa pemilik motor itu.


"Mau apa Lo disini? Pergi sana gue gak sudi dianterin sama kamu," Bintang membuang muka tak mau melihat kearah Kafka yang masih duduk di atas motornya.


"Mending Lo ikut gue, dari tadi gue liatin gak ada taksi yang lewat sini. Kalau gue hitung-hitung udah setengah jam Lo berdiri di sini emang kaki Lo gak sakit berdiri selama itu?" Kafka berusaha untuk membujuk Bintang agar mau ikut dengannya. Tapi sekalipun Kafka memaksa dirinya Bintang tidak akan pernah ikut dengan dia.


"Ogah banget gue, mending gue jalan kaki sampe rumah dari pada ikut Lo."


Sebelum Kafka menjawab perkataan Bintang sebuah taksi lewat didepan mereka dan Bintang segera menghentikan taksi itu. Bintang dapat bernafas lega karena dirinya tak harus terus-menerus berurusan dengan Kafka. Kafka hanya bisa menatap kepergian Bintang bersama taksi yang dipanggilnya.


"Sampai kapan kamu akan terus membenciku, Bi. Setidaknya kalau kamu tak mencintaiku lagi, anggaplah aku sebagai sahabat atau saudaramu."


"Entah sampai kapan kamu akan membenciku tapi percayalah aku akan selalu menunggu sampai kamu mau memaafkan diriku" Kafka bergumam lirih sambil menatap taksi yang semakin menjauh.


Didalam taksi Bintang sempat meneteskan air matanya, sampai saat ini dia belum bisa melupakan kejadian yang menimpah saudara kembarnya. Rasa sakit saat menyaksikan sendiri di depan matanya kematian Bulan membuat dia begitu sulit untuk memaafkan Kafka.

__ADS_1


"Aku tak tau kapan aku akan melupakan semuanya dan dapat memaafkan dirimu. Tapi untuk saat ini kata maaf masih begitu sulit untuk aku berikan kepada mu Kafka," ucap Bintang dalam hatinya sambil melihat foto yang berada dalam ponselnya. Foto dirinya beserta Bulan dan Kafka, dalam foto itu mereka terlihat sedang tertawa lebar.


__ADS_2