Jangan Pergi Antariksa

Jangan Pergi Antariksa
Bab 34. Keangkuhan Veena


__ADS_3

Kafka terlihat begitu marah mendengar apa yang Veena katakan, dia menatap Veena dengan tajam dan matanya yang memerah karena marah.


"Boleh gak Lo ulang apa yang lo katakan tadi, gue mau dengar bagaimana Lo akan menyingkirkan Bintang," Kafka tersenyum mengejek kepada Veena.


"Sebaiknya Lo berpikir lagi sebelum mulut Lo itu mengeluarkan kata-kata, wanita seperti Lo tak akan bisa di bandingkan dengan seorang putri seperti Bintang. Jadi jangan pernah berpikir untuk menyingkirkan Bintang, karena sebelum Lo melakukan itu Lo yang akan tersingkir terlebih dahulu," tambah Kafka lagi, sementara itu Veena tidak bisa berkata-kata lagi karena dia merasa takut dengan semua ancaman Kafka.


"Gue penasaran kira-kira apa yang akan om Arka lakukan kalau tau anak dari kacung disekolah miliknya berniat untuk mencelakai putri kesayangannya," Kafka menundukkan badannya mendekat kepada Veena dan terus membuat Veena tertekan.


"A-apa maksud Lo? Jangan sangkut pautkan bokap gue dengan urusan kita," ucap Veena terbata-bata mendengar ancaman Kafka.


"Hei ... apa yang terjadi sama Lo? Kemana sikap sombong Lo tadi, bukannya tadi Lo itu lagi banggain posisi bokap Lo yang sebagai kacungnya om Arka ya? Gue penasaran bagaimana nasib Lo kalau besok bokap Lo sudah bukan kepala sekolah SMA Bina Nusantara lagi," Kafka menyiramkan jus jeruk yang ada dihadapan Veena ke atas kepala gadis itu dan meninggalkan Veena dan teman-temannya yang masih shock dengan kehadiran Kafka.


"Vee, kayaknya kami pulang deh. Kami gak mau nanti dikeluarin dari sekolah cuma karena masalah Lo sama Bintang," ucap salah satu temannya Veena dan mereka segera pergi meninggalkan Veena yang saat ini perasaannya sudah campur aduk.


Veena tidak terima karena Kafka sudah mempermalukan dirinya didepan teman-temannya bahkan Kafka sudah mengancam dirinya.


"Aku akan membalas semua perlakuan Lo sama gue, Lo pasti akan menyesal karena Sudah membuat gue malu seperti ini."


Inilah Veena sekalipun dirinya sudah berada di tepi jurang tapi dia tidak akan pernah berhenti dengan niat jahatnya, seperti sekarang ini sekalipun jabatan ayahnya sedang dipertaruhkan karena kelakuan dirinya Veena tidak akan berhenti untuk mengganggu kehidupan Bintang.

__ADS_1


Setelah membayar tagihan di kasir Veena segera keluar dari dalam Cafe dengan penampilan yang berantakan karena jus jeruk yang disiramkan oleh Kafka tadi.


...****************...


Bintang yang saat ini baru selesai mandi dan berpakaian, segera turun untuk makan malam setelah ART dirumahnya memanggil dirinya untuk makan malam.


Melihat kedua orangtuanya sudah berada dimeja makan Bintang tersenyum kepada mereka, semenjak Bintang pindah ke sekolah Bina Nusantara karena dia yang tak pernah betah disekolah manapun dan selalu berkelahi untuk menarik perhatian orang tuanya maka sejak saat itu juga Sarah dan Arkatama tak lagi mementingkan pekerjaan mereka dan selalu menyediakan waktu untuk bersama dengan Bintang.


"Bintang senang deh akhir-akhir ini Mama dan Papa sudah perhatian sama Bintang, apalagi sekarang disekolah ada Moza yang sudah menjadi sahabat terbaik Bintang, dan juga ada kak Antariksa yang selalu sayang sama Bintang," ucap Bintang mengutarakan kebahagiaannya membuat kedua orangtuanya tersenyum melihat anak mereka bahagia, karena sejak saudara kembar Bintang pergi begitu sulit untuk mereka melihat senyum diwajah Bintang, tapi hari ini mereka begitu bahagia karena Bintang sudah kembali seperti Bintang yang dulu yang selalu ceria.


"Papa juga senang karena kepala sekolah sudah gak kangen sama papa lagi, karena anak papa sudah menjadi gadis manis di sekolahnya," Arkatama menggoda Bintang dan hal itu membuat Bintang tertawa.


Arkatama dan Sarah saling menatap melihat putri mereka yang sudah mulai membaik.


Setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka Bintang masuk ke kamarnya untuk belajar, walaupun dirinya sudah pintar tapi gadis itu tak pernah melewatkan waktu untuk belajar.


Saat dirinya duduk didepan meja belajarnya, Bintang menarik laci yang ada di meja belajarnya dan mengambil sesuatu dari dalam laci. Benda yang diambil Bintang ternyata adalah sebuah bingkai yang berisi foto dua orang gadis berseragam SMP yang memiliki wajah yang sama persis. Bintang mengusap foto itu, foto yang sudah lama tak dilihatnya karena setiap kali melihat foto itu Bintang akan merasakan sakit dalam hatinya dan berakhir dengan kepalanya yang terasa sakit dan dia akan kehilangan kesadarannya. Bintang memang sempat mengalami trauma akibat kematian Bulan yang terjadi dihadapannya.


"Lan, seandainya Lo masih ada mungkin Lo akan bahagia saat tau gue mencintai orang lain dan bukan Kafka, dan dengan begitu Lo akan bisa bersama dengan Kafka tanpa harus takut Kafka akan mendekati gue," ucap Bintang didepan foto itu yang ternyata adalah foto dirinya dan saudara kembarnya Bulan. Mereka memang memiliki wajah yang sama tapi sifat yang berbeda, Bintang yang memiliki sifat yang baik dan selalu ramah kepada semua orang berbeda dengan Bulan yang kasar dan sombong dia selalu membanggakan dirinya yang berstatus sebagai seorang putri dari pengusaha kaya. Karena perbedaan sifat mereka itulah yang membuat Kafka lebih menyukai Bintang dibandingkan Bulan.

__ADS_1


Bintang kembali memasukkan bingkai itu kedalam lacinya dan dia mulai membuka buku untuk belajar.


...****************...


Sementara itu Veena yang baru saja tiba dirumah terlihat begitu kesal dan dengan kasar dia melemparkan tas dan sepatutnya ke sembarang arah. Melihat putrinya yang terlihat kesal ayahnya Veena mendekati putrinya itu.


"Nak kamu kenapa? Apa yang membuat putri ayah yang cantik ini cemberut seperti ini?" ayahnya Veena mengusap kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Ayah, Veena mau Ayah mengeluarkan Kafka dan Bintang dari sekolah!! Buat alasan apapun agar mereka dikeluarkan dari sekolah," Veena merengek kepada ayahnya agar mau melakukan apa yang diinginkannya.


"Maksud kamu Bintang putri pak Arkatama? Astaga Veena sebaiknya kamu jangan mencari masalah dengan dia, Nak. Papanya Bintang itu pemilik sekolah itu jadi ayah tidak mungkin untuk mengeluarkan putrinya dari sekolah," ayahnya begitu terkejut saat mendengar perkataan Veena yang begitu mustahil untuk diturutinya.


Mendengar kalau ayahnya tak bisa berbuat apa-apa mood Veena semakin buruk, dia langsung meninggalkan ayahnya dan masuk kedalam kamarnya, bunyi pintu yang ditutup dengan kasar dapat terdengar dengan jelas oleh pak Agus ayahnya Veena.


"Ya Tuhan, jangan sampai Veena melakukan hal buruk kepada putri pak Arkatama karena hanya dengan menjentikkan jarinya pak Arkatama bisa langsung menghancurkan hidup Veena," pak Agus begitu menghawatirkan putrinya, dia menghawatirkan sifat putrinya yang bisa dikatakan begitu buruk dan bisa menjadi ancaman untuk dirinya sendiri.


~Visualnya Veena~


__ADS_1


__ADS_2