
*Asalkan dapat melihat mu tersenyum dan bahagia aku rela untuk terluka, meskipun bahagia yang kau rasa bukan bersamaku, aku tak perduli asalkan aku masih bisa melihat senyum diwajah indah mu itu
#Kafka Cakrawala*
"Kakak kemana aja sih? Kenapa juga datang nanti aku udah mau selesai bertandingnya?" Bintang langsung saja menghujani Antariksa dengan berbagai pertanyaan saat mereka sudah berada diluar gedung turnamen, mendengar ocehan Bintang pria itu hanya bisa tersenyum.
"Banyak amat pertanyaannya sayang, mau jawab yang mana dulu nih," canda Antariksa kepada kekasih hatinya itu.
"Pokoknya jawab semuanya, gak boleh pilih-pilih," Bintang sudah memperlihatkan wajah merajuknya dengan bibirnya yang sudah maju ke depan.
"Kalau lagi ngambek begini pacarku kelihatan lebih cantik lagi," Antariksa menggombal kepada Bintang.
"Udah ah, gak usah cari-cari alasan, jawab aja apa yang aku tanya," ucap Bintang dengan nada juteknya.
Antariksa pun akhirnya menyerah, dia terlihat berpikir keras harus bagaimana menjawab semua pertanyaan Bintang.
"Maaf ya sayang, tadi aku masih nganterin Bunda ketemu dokter, trus nganterin balik ke rumah, makanya telat datangnya. Tapi aku bersyukur karena masih sempat ngeliat kamu bertanding," hanya itu alasan yang bisa Antariksa berikan, dia berharap Bintang akan percaya dengan apa yang dia katakan.
"Oh, gitu ya." Bintang manggut-manggut tanda dia mengerti dengan keadaan Antariksa.
"Lain kali kalau Kakak sibuk sebaiknya Kakak kabarin Bintang dong biar Bintang gak kesal nunggunya," tambah Bintang lagi.
"Iya sayang, maaf yah." Antariksa mengusap kepala gadis yang selalu mengisi hatinya itu.
Mendapatkan perlakuan yang begitu romantis dari Antariksa membuat wajah Bintang merona, dan taman bunga tumbuh didalam hatinya Bintang.
Saat mereka berdua sedang asik berbicara ponsel Antariksa tiba-tiba saja berbunyi. Antariksa segera menjawab panggilan itu.
"Hallo, Bun."
"...."
"Iya, Bun. An akan segera pulang."
__ADS_1
"...."
"Bintang udah selesai bertandingnya tadi, Alhamdulillah dia bisa menang."
"...."
"Baik, Bun. An pulang sekarang, An mau pamit sama calon mantu Bunda dulu," Antariksa pun langsung memutuskan sambungan telepon itu, sementara itu Bintang menatap Antariksa dengan kening yang berkerut.
"Bunda kenapa, Kak?" tanya Bintang penasaran.
"Katanya bunda lagi gak enak badan, trus mana dirumah lagi gak ada orang sama sekali jadi bunda meminta Kakak untuk pulang secepatnya," Antariksa menjelaskan dengan wajah sendunya.
"Kalau gitu Kakak pulang gih, kasihan bunda kalau mau apa-apa harus ambil sendiri padahal lagi sakit, Kakak pulang aja Bintang gak apa-apa kok," Bintang menampakkan senyumnya yang manis, di tak mungkin egois menahan Antariksa sementara ibunya Antariksa lebih membutuhkan putranya itu.
"Kamu gak apa-apa Kakak tinggal?" tany Antariksa ragu.
"Iya sayang, aku gak apa-apa kok." Bintang mencoba untuk meyakinkan.
Saat ini Kafka sudah menunggunya diparkiran sekolah, Antariksa buru-buru masuk ke mobilnya Kafka sebelum ada yang melihat mereka, dan setelah keduanya masuk Kafka segera menjalankan mobilnya.
Sementara itu tanpa keduanya sadari Veena sedang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Antariksa ngapain ya pergi sama anak baru itu? Mana kelihatannya kayak buru-buru gitu," Veena bergumam sendiri.
...****************...
Di mobilnya Kafka Antariksa terlihat membuang nafas lega, dia senang karena akhirnya bisa melihat Bintang bertanding dan juga tak di curigai oleh kekasihnya itu.
"Makasih ya, Kaf. Lo udah bantuin gue, suatu saat nanti aku akan membalas semua kebaikan Lo hari ini," ucap Antariksa tulus.
"Lo gak perlu membalas semuanya, gue cuma minta satu hal aja sama Lo," Kafka terlihat begitu serius saat menanggapi perkataan Antariksa.
"Maksud Lo? Permintaan seperti apa?" Antariksa tampak mengangkat alis sebelahnya.
__ADS_1
Kafka menoleh sebentar kepada Antariksa dan kemudian kembali fokus dengan jalanan, dia tampak tersenyum melihat kekhawatiran diwajah Antariksa.
"Gue gak minta yang aneh-aneh kok, gak usah panik kayak gitu juga kaleee." Kafka masih saja senyum-senyum, sementara itu Antariksa terdengar menghela nafas lega.
"Udah gak usah lama-lama, ngomong aja permintaan Lo apa?" desak Antariksa dengan tak sabar. Kafka terbahak melihat Antariksa.
"Gue minta Lo harus sembuh, jangan buat Bintang sedih, Lo gak boleh nyerah sama penyakit Lo. Terus berjuang bro dan bahagiain Bintang," kali ini Kafka tidak tertawa lagi tapi dia sudah terlihat serius dengan ucapannya.
"Gue pasti akan berusaha untuk sembuh bro, saat ini bokap dan nyokap gue lagi berusaha untuk mencari donor sum-sum tulang belakang buat gue dan gue berharap ada seseorang yang cocok dengan sum-sum tulang belakang gue, tapi jika suatu saat nanti gue gak bisa bertahan dan harus pergi, gue nitip Bintang sama Lo, karna gue tau selain gue hanya Lo orang yang tulus mencintai Bintang," ucap Antariksa lirih dan dapat terlihat jelas kilatan kesedihan dari mata Antariksa.
"Lo gak boleh ngomong kayak gitu, Lo harus optimis kalau Lo bakal sembuh, gue gak bakal sanggup kalau harus lihat Bintang terluka untuk yang kedua kalinya," Kafka mencoba untuk menyemangati Antariksa.
Antariksa menganggukkan kepalanya dalam hatinya dia berjanji akan terus berusaha untuk sembuh demi Bintang orang yang telah berhasil merubah hidupnya dan mencairkan hatinya yang beku.
Mobil Kafka sudah memasuki halaman parkir rumah sakit, karena terlalu asik bercerita mereka berdua tak menyadari kalau sedari tadi ada yang sedang mengikuti mereka.
Setelah memarkirkan mobilnya Kafka dan Antariksa turun dari mobil, merek berdua berjalan bersama masuk kedalam rumah sakit. Orang yang mengikuti mereka pun ikut turun dari mobilnya.
"Mau kemana mereka berdua, kok datang ke rumah sakit sih?" gumam Veena dengan tatapan curiganya, dan ternyata dia sudah mengikuti Antariksa dan Kafka sejak dia melihat keduanya pergi bersama.
Veena pun mengikuti Antariksa dan Kafka dengan berhati-hati agak tidak ketahuan oleh keduanya, Antariksa dan Kafka pun tanya menyadari akan hal itu. Keduanya malah asik bercerita sambil menuju ruang VVIP tempat Antariksa dirawat.
Saat ini mereka sudah sampai di kamar perawatan Antariksa dan disana juga sudah ada Dinda bundanya Antariksa dan juga dokter Sarah mamanya Bintang.
Melihat kedua wanita paruh baya itu Kafka dan Antariksa memberikan salam dan menyalami keduanya.
"Tante pikir kamu gak akan datang ke turnamen, An. Tapi Tante mau ucapin terimakasih karena udah buat Bintang senang," Sarah mengatakan semua itu dengan begitu tulus.
"Bunda udah dengar semua dari Dokter Sarah tentang kemenangan Bintang, dan terimakasih nak Kafka karena sudah menjaga Antariksa, sekarang kamu harus nurut sama mama, dokter Sarah akan memeriksa keadaan kamu dan setelah itu kamu harus dirawat lagi sampai kondisi kamu benar-benar membaik," ucap Dinda panjang lebar, Antariksa mengerti dengan kekhawatiran bundanya itu, dia segera mendekati Dinda dan memeluk ibu tercintanya itu.
Sementara itu dari luar ruangan Veena terkejut mendengar kalau Antariksa harus dirawat.
"Antariksa harus dirawat? Tapi dia kan baik-baik aja, apa Bintang tau dengan keadaan Antariksa ini? Tapi yang jadi dokternya Antariksa itu ibunya Bintang, aku harus cari tentang sakitnya Antariksa, apa lebih baik aku hubungi Bintang aja," Veena bergumam sendiri, dia mengetuk-ngetuk kan jari telunjuknya di dagunya sendiri.
__ADS_1