JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Melinda kepergok


__ADS_3

Penulis : Adeviaaa14


Bab-10


Langkahku diiringi oleh Elvira, kami tertegun sejenak, kami saling melemparkan pandangan serta menaikan alis bersama.


"Bang ...." Elvira memanggilku.


Aku menempelkan telunjuk dibibir, "Ssssttttt ... jangan berisik," ucapku berbisik.


Samar-samar aku mendengar suara lenguhan yang sedang mendesah.


"Ssshhh, aaahhh ...."


"terus sayang ... uugghhh ...."


Aku menajamkan pendengaran, suasana yang hening membuat telingaku lebih peka.


Erangan kenikmatan yang bersahutan berasal dari sana, kamar Melinda.


Dengan rasa penasaranku, aku dan Elvira memberanikan diri untuk membuka benda lebar berbentuk persegi panjang itu yang ternyata tidak di kunci.


Indra penglihatanku dan Elvira membeliak sempurna, seolah-olah hendak keluar dari kelopak mata. Jantungku merasa berhenti berdetak, seakan-akan lompat dari tempatnya tatkala menyaksikan pemandangan yang tersaji di hadapanku.


Pemandangan menjijikkan seketika menyambut mata ini. Melihat dengan kepalaku sendiri, wanita yang aku cintai telah bergerumul dengan gerakan erotis bersama pria lain.


Saking asiknya mereka bahkan tidak sadar dengan kehadiranku dan Elvira di kamar ini.


Rahangku mengeras, nafasku memburu dan mengepalkan kedua tanganku. "Melinda!" teriakku, "Dasar biada*ab kalian berdua," suaraku penuh dengan penekanan dan emosi.


Dua manusia itu kompak menoleh ke sumber suara. Mereka membelalakan matanya tampak bergeming di tempat dengan pandangan tidak percaya.


Emosiku membeludak. Aku menyunggingkan senyum mengerikan dengan gigi bergeletuk keras.


Setelah sadar apa yang terjadi, Melinda langsung mengambil potongan baju yang berserakan di lantai untuk menutupi tubuhnya.


"Ma-Mas Aryan ...." ucap Melinda terbata


Dengan langkah tertatih dia berjalan kearah ku.

__ADS_1


"Mas, a-aku ... aku ...."


Plakk ....!


Panas dan perih seketika menjalar di tangan kekarku, begitupun yang kulihat dengan Melinda. Dia memegangi pipinya menatapku dengan sorot mata ketakutan.


"Mas Aryan, maafkan aku ... aku khilaf ...." tangisnya, lalu bersimpuh memegangi kakiku.


Aku melepaskan paksa tangannya dari kakiku, lalu mendorongnya.


Pandanganku beralih pada pria tua yang masih diatas ranjang. Aku sangat mengenali betul pria tua itu. Pria tua yang kutemui saat pertama kali aku bertemu dengan Melinda di sebrang jalan.


Sebelum pria tua itu mengambil pakaiannya, aku cepat-cepat menghampiri pria itu, kulayangkan tangan kananku yang mengepal mengenai wajahnya.


Buugghhhttt ....


Buugghhhttt ....


Pria tua itu tersungkur, meringis kesakitan. Terlihat cairan merah yang mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.


"Kau ... pria tua bangkai ... bukankah kau lelaki yang selalu mengganggu Melinda?" tanyaku murka.


Pria tua itu tertatih berusaha untuk bangun. "Asal kau tau anak muda, aku tidak pernah mengganggunya. Wanitamu itu wanita panggilan, dia telah menyetujui kontrak selama dua tahun untuk memuaskan hasratku, dia telah menjual tubuhnya seharga satu miliar padaku," jawabnya, membuat aku tidak menyangka bahwa Melinda seperti itu, lalu pria tua mengambil jasnya, dan memberikan sebuah kertas padaku dari dalam saku jasnya yang berisi bahwa benar Melinda melakukan perjanjian kontrak dengannya.


"Mas ... itu tidak benar. Pria tua itu yang selalu menggangguku dan dia juga memaksaku untuk melakukan hal itu, Mas ... tolong percayalah!" elak Melinda, sembari bersimpuh memegangi kakiku.


Aku menarik tubuh Melinda untuk berhadapan denganku. "Jika dia memaksamu, lantas kenapa kamu sangat menikmatinya, Melinda?" tanyaku, "Jawab!" aku mengguncang tubuhnya.


"Ma-mafkan aku Mas, aku terpaksa melakukannya, karena aku ingin membantu ayahku untuk melunasi hutang-hutangnya," jawabnya lirih.


"Aku tidak peduli apapun alasannya, Melinda. Kau wanita ****** yang sudah membohongiku." ucapku emosi, sembari mencengkeram kedua pundaknya.


Aku menarik paksa baju yang sudah Melinda kenakan. "Lepaskan bajumu, Melinda!."


Melinda menggelengkan kepalanya dan menahan bajunya. "Ti-tidak, Mas."


Dengan sekuat tenaga, aku merobek baju yang Melinda kenakan. Aku menoleh kearah Elvira, ternyata dia sedang merekam keributan ini dengan ponselnya


"El, bawa wanita ****** ini keluar. Cepat!" titahku pada Elvira.

__ADS_1


Elvira langsung menghentikan aksinya, lalu menyimpan ponselnya kedalam saku celananya, dan segera melaksanakan perintah dari ku.


Melinda yang tanpa busana memberontak saat hendak ditarik keluar oleh Elvira. "Ti-tidak ... lepaskan!"


Saat aku ingin menghampiri pria tua itu, tiba-tiba ....


Prang!!


Suara itu menghentikan langkahku.


Terdengar suara benda jatuh dari luar kamar, aku segera menghampiri sumber suara itu dari ruang tamu. Mataku membulat sempura. Bagaimana tidak, darah segar mengalir dari bagian pelipis dan pipi Elvira. Aku tidak tau apa yang sudah dilakukan oleh Melinda pada Elvira. Namun, terlihat pecahan kaca dari vas bunga yang berserakan di bawah kaki Elvira.


"Elvira ...." teriakku panik.


"Bang*sat kau ******," teriak Elvira, lalu menampar wajah Melinda.


Aku yakin Elvira bisa mengatasi Melinda, karena yang ku tahu Elvira bisa bela diri.


Tok!Tok!Tok!


Terdengar ketukan pintu dari luar rumah, karena pintunya tidak di kunci, seseorang membuka pintu tersebut dari luar. "Astaghfirullah ... ada apa ini, kenapa kalian ribut-ribut?" ucap seorang lelaki berumur memakai kopiah, yang tiba-tiba datang dan berdiri di ambang pintu.


Elvira kembali berteriak, "Arak wanita ****** ini Pak! Dia telah melakukan zinah," lalu Elvira menjambak rambut Melinda dan menariknya keluar, di bantu oleh lelaki itu menarik tangannya Melinda.


Kini langkahku kembali ke kamar Melinda. Beralih ke pria tua itu, terlihat sedang merapihkan baju yang baru ia kenakan. Melihat pria tua itu mencoba ingin melarikan diri, aku segera mencekal lengannya, lalu menendang perut buncitnya.


Bughhttt ....


Pria tua itu meringis, dan tersungkur mengenai lemari yang ada di belakangnya, terlihat lemari itupun bergetar. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, aku merobek semua baju yang sudah ia kenakan, sampai seluruh tubuhnya terekspos tanpa sehelai benangpun.


"Kurang ajar!" teriaknya, murka. Saat pria tua itu ingin memberikan perlawanan padaku, aku segera menendang benda pusakanya.


Bughhttt!!


"Arrgghhttt ...." erangannya.


Aku tidak tau apa yang sedang terjadi di luar, namun terdengar suara riuh dari luar rumah. "Tolong ...." teriakku, berharap ada seseorang yang datang menghampiriku.


Benar saja, setelah aku berteriak, lelaki berumur yang memakai kopiah tadi langsung menghampiriku.

__ADS_1


"Tolong Pak, cepat bantu bawa dia keluar. Pria tua ini telah melakukan zinah dengan wanita itu," titahku kepada Bapak tersebut.


Aku menarik paksa lengan pria tua itu di bantu oleh Bapak yang memakai kopiah tersebut. Namun, saat posisi kami di ambang pintu kamar sebelum membawa pria tua ini keluar, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Kedua netraku tidak sengaja menoleh ke atas lemari, terlihat ada sedikit potongan kain yang sama persis aku temukan di belakang rumahku ....


__ADS_2