JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Penyesalan


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Bab-16


Kembali Pov Aryan.


"Bang!" panggil Elvira mengagetkanku dari lamunan. "Jadi, bagaimana? Kau masih mau melamar wanita ****** itu, hem?" tanyanya.


Aku menarik nafasku lalu membuangnya dengan kasar. "Sudahlah, El. Lupakan saja!" jawabku yang masih emosi, "Yang penting kita sudah tau siapa dalang yang membunuh ibuku," lanjutku.


"Gue heran, kenapa bisa seorang Aryan Wijaya kepincut dengan Melinda alias si wanita ******," ledeknya, sembari menahan tawanya.


'Dipikir-pikir yang dikatakan Elvira benar juga, aku bodoh telah mencintai wanita murahan itu.' pikirku sesal.


Setelah pertikaian di hadapan warga itu, Melinda dan si pria tua itu benar-benar di arak oleh warga, dan tak lama kemudian polisi pun datang menangkap mereka.


Dari kejadian ini yang aku dapatkan hanya sebuah penyesalan.


Menyesal telah mencintai Melinda, menyesal telah percaya pada ucapannya, menyesal telah mengenalnya.


Apa yang dikatakan oleh Ibu benar. Bahwa Melinda bukanlah wanita baik-baik. Aku sangat menyesali karena tidak mempercayai perkataan ibuku, dulu.


Aku memukul setir mobil beberapa kali.


bughhttt ....


bughhttt ....


bughhttt ....


"Bang, udah Bang, hentikan!" ucap Elvira menghentikanku sembari menahan tanganku.


"Gue tau lo marah, gue tau lo ngerasa kesel dari kejadian ini, Bang. Gue juga udah memperingati lo jangan terlalu percaya dengan wanita murahan itu. Gue pikir lo bakalan fokus sama penyelidikan lo terhadap Melinda. Tapi gue salah, lo malah kepincut sama si ****** itu dan ngelupain penyelidikan lo," omelnya kesal.


Aku mengusap kasar wajahku dengan frustasi, dan emosiku yang masih meluap-luap.


Aku langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Bang, lo mau mati, hah?" bentaknya.


"****. Bang-sat lo Bang!" umpatnya


Aku tidak peduli dengan umpatan Elvira, aku terus melajukan mobilku dengan cepat. Tepat di depan parkiran rumah sakit, mobil pun berhenti.


"Kenapa malah berhenti di sini?"


"Turun!" titahku. "Luka lo harus segera di obati," lanjutku.


"Di bilang gue baik-baik aja, Bang," elak Elvira.


"Lo jangan ngeyel, Elvira. Kalo lo kenapa-napa gue juga yang di salahin oleh nyokap lo!" ucapku, lalu menarik tangan Elvira masuk ke dalam rumah sakit.


Bruk!


Langkahku terhenti ketika aku menubruk seseorang. Aku mendongakkan kepalaku ke seseorang yang ada di hadapanku.


Dia ... Dokter Harun?


Mata kami membulat ketika melihat satu sama lain.

__ADS_1


"Dokter Harun?" pekik Elvira.


Dokter itu menatapku dengan tatapan tajamnya. Aku rasa dia masih marah padaku karena aku telah menuduh Ibu dan adiknya.


Ku akui, aku sudah salah faham kepada mereka bertiga, dan sekarang aku ingin meminta maaf kepada mereka.


"Dok, gue ... Gue minta maaf atas kesalah pahaman gue yang udah nuduh kalian," maafku ke Dokter Harun.


Dokter Harun tidak bergeming sama sekali, hanya menatapku dengan muka datarnya.


"Gue nitip Elvira, dan gue minta tolong ke lo, tolong obati dia. Pipi dan pelipisnya terluka," ucapku.


"Saya gak bisa, ada urusan," jawabnya, lalu melangkah meninggalkan aku dan Elvira.


"Tunggu!" cegahku.


Dokter Harun menghentikan langkahnya, dan aku segera menyusulnya.


"Lo mungkin masih marah ke gue. Tapi gue minta tolong ke lo, gue titip Elvira dulu. Nanti gue balik lagi," mohonku ke Dokter Harun.


"Lo mau kemana, Bang?" tanyanya, "Lo mau ninggalin gue sendirian di sini?" pekiknya.


"Gue ada urusan, El. Lo bisa minta tolong ke Dokter Harun dulu untuk obatin luka lo," ucapku, lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih menatapku.


Aku melangkah ke arah parkiran dan memasuki mobilku. Kulajukan mobilku dengan kecepatan yang tinggi.


'Melinda, breng*sek.' umpatku dalam hati


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, aku tiba di depan pemakaman elite.


Aku melangkahkan kakiku sampai ke makam ibuku.


Aku berjongkok di tengah-tengah makam Ibu dan ayahku.


Mataku berembun, bulir-bulir mataku mengalir begitu saja.


Aku mengusap batu nisan Ibu dan ayahku. "Ayah, Ibu ... Aryan merindukan kalian."


"Ibu, maafkan Aryan. Aryan tidak menuruti permintaanmu."


"Maafkan Aryan, Bu. Aryan sungguh menyesal, tidak mendengarkan ucapanmu dulu," tangisku, sembari memeluk makam ibuku.


Aku beralih memeluk ke makam ayahku.


"Ayah ... aku minta maaf padamu, putramu tidak becus mengurus Ibu."


"Aryam gagal menjaga Ibu, Yah."


"Kamu tidak gagal Pak Aryan, Kita terlahir dengan satu cara, namun kematian menjemput dengan berbagai cara. Jangan biarkan musibah yang menimpamu menghancurkan hidupmu. Dengan sabar dan iman, kamu harus bisa melewatinya dan menjadi orang yang lebih baik," ucap seseorang di belakangku.


Aku menengok ke arah belakang.


Deg!


Dia, wanita itu ... wanita yang memakai cadar.


"Aisyah ... kau?"


"Iya Pak Aryan, aku Aisyah,"

__ADS_1


"Aisyah ... a-aku ... aku minta maaf padamu, waktu itu aku telah menuduh kal ...."


"Kamu tidak perlu minta maaf padaku, Pak. Karena aku sudah memaafkanmu. Aku juga mengerti, karena kamu tau sebelum kejadian itu kami menemui almarhumah ibumu, jadi kamu menganggap aku dan Ibu seperti itu" jawabnya, memotong ucapanku.


"Maafkan atas kesalahanku, aku merasa tidak enak pada kalian," ucapku dengan menyatukan kedua telapak tangan.


"Sudah Pak Aryan, lebih baik kita doakan Ayah dan ibumu," ujarnya.


Aisyah pun berjongkok di sisiku, namun kami memberi jarak. Aisyah memulai dengan doanya, lalu di lanjutkan dengan membaca Surah Yasin.


Aku mendengarkan suara Aisyah yang sangat merdu ketika mengaji, membuat aku merinding takjub padanya.


Beberapa menit kemudian, Aisyah menutup doanya. Lalu gegas berdiri.


"Aisyah ... apa kau selalu ke makam ibuku?"


"Iya, Pak. Setiap bulan aku selalu datang ke sini. Terutama ke makam ayahku," jawabnya, sembari menunjuk ke arah makam ayahnya.


Jadi, ayahnya Aisyah sudah meninggal? Aku baru tau. Aku hanya mengangguk setelah mendengarkan ucapannya.


"Pak Aryan, jika tidak ada yang ingin di tanyakan, aku pulang dulu,"


"Terimakasih banyak ya Aisyah," ucapku sembari menganggukkan kepala.


"Sama-sama, Pak Aryan. Assalamualaikum," pamitnya.


"Waalaikumsalam," jawabku.


Aku menatap kepergian Aisyah hingga punggungnya tidak terlihat lagi.


Aku berjongkok kembali. "Ayah, Ibu, Aryan pamit dulu. Nanti Aryan datang kesini lagi," ucapku pamit sembari mencium batu nisan Ayah dan ibuku.


Aku berdiri, lalu melangkah menjauhi area pemakaman menuju mobilku.


Aku harus segera ke rumah sakit kembali, untuk menjemput Elvira.


Tak lama kemudian, aku sudah berada di depan rumah sakit. Aku berjalan masuk untuk mencari Elvira. Kedua netraku melihat Elvira sedang berbincang dengan Dokter Harun.


Aku melangkah untuk menemuinya. Terlihat luka yang ada di wajahnya sudah di obati oleh Dokter Harun.


"El, kau sudah di obati?" tanyaku memotong pembicaraan mereka.


"Hmm," jawabnya datar.


Aku melihat Dokter Harun menatapku dengan tatapan yang tidak suka.


"Terimakasih Dok, sudah menjaga dan mengobatinya," ucapku berterimakasih padanya. Lalu memberikan beberapa lembar uang kepada Dokter Harun.


Dokter Harun menolak pemberianku.


"Tidak usah, lebih baik kau simpan saja itu. Saya permisi dulu karena masih ada pasien yang harus saya tangani," pamitnya, lalu pergi meninggalkan aku dan Elvira.


"Ayo cepat, kita pulang, El. Abang sudah lelah, gantian kamu yang nyetir," ujarku, lalu melemparkan kunci mobil kepada Elvira, dan Elvira menangkapnya.


Kami melangkah ke arah luar rumah sakit, dan menuju ke parkiran. Gegas Elvira melajukan mobilnya sampai ke depan rumahku.


***


Salah satu cara Tuhan yang membuat Anda menjadi hebat adalah dengan meletakkan penyesalan di posisi paling belakang.

__ADS_1


-Aryan Wijaya-


__ADS_2