JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Pertemuan dengan Aisyah


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Bab-17


Sesuai jadwal, hari Jum'at ini aku akan pergi ke panti asuhan. Aku sudah menyuruh Ardi menyiapkan semua donasi untuk panti asuhan.


Aku yang tengah sarapan pagi, Elvira menghampiriku.


"Lo kerja hari ini, Bang? Bukannya lo masih sakit, ya?" tanyanya.


Aku mengernyitkan dahi.


"Maksud gue yang sakit ininya," ledeknya sembari melengkungkan jari tangannya berbentuk hati.


Aku membuang nafasku dengan kasar, dan tidak menanggapi celotehannya.


"Yaelah, gue bercanda kali Bang," ujarnya lalu duduk untuk makan.


"Bang, udah gue siapin semuanya," ucap seorang lelaki yang berdiri di ambang pintu, lalu menghampiriku dan Elvira.


"Wih, lagi sarapan nih," ujar Ardi, kemudian mendekati Elvira yang tengah makan dan mengambil daging ayam yang ada di piring Elvira, lalu memakannya.


"Kampret!" umpat Elvira, dan Elvira mengambil kembali daging yang baru.


Aku yang menyaksikan kelakuan mereka berdua hanya menggelengkan kepala.


"Kalian berdua udah pada siap, mau kemana?" tanya Elvira penasaran, sembari mengunyah.


"Kepo lo," timpal Ardi, yang langsung mengambil nasi untuk makan.


"Lo ada kuliah gak, El? Kalo gak ada, bisa bantu Abang ke panti asuhan," ujarku.


"Yaelah, mana bisa seorang Elvira ke panti asuhan, Bang." Ardi menimpali sembari meledek Elvira. Yang di tanya, malah asik dengan ritual makannya.


"Gue gak bisa ikut, gue ada praktek hari ini," tutur Elvira


Aku menyudahi ritual makan ini, "Di, gue berangkat duluan, lo nanti nyusul aja dan bawa barang-barang yang sudah di siapkan!" titahku kepada Ardi. Lalu melangkah keluar.


Terlihat mobil pick up yang akan di bawa oleh Ardi sudah terparkir di luar rumah, di belakangnya membawa beberapa barang berat seperti lemari, kasur, beras, dan kebutuhan lainnya untuk anak-anak di panti asuhan nanti. Sedangkan aku membawa makanan di dalam mobilku.


Kulajukan mobilku yang terparkir di depan rumahku menuju panti asuhan. Biasanya almarhumah Ibu yang setiap minggunya selalu berkunjung ke panti asuhan, tapi mulai sekarang aku yang akan menggantikannya. Namun, karena aku memiliki banyak kesibukan, jadi aku hanya sempat sebulan dua kali untuk berkunjung ke sana.


Kini aku sudah berada di dekat gapura kecil yang bertuliskan Panti Asuhan, Yayasan Islam Barokah, dan memasuki halaman gedung yang sedang di renovasi.


Aku memarkirkan mobilku di halaman gedung panti asuhan, dan aku segera keluar dari mobil.


Terlihat ada anak-anak yang sedang asik bermain, dan anak-anak itu menatapku dengan heran, karena ini pertama kalinya aku datang kesini.


Seorang wanita berumur yang pernah aku temui di pemakaman ibuku kini menghampiriku.


"Eh, Pak Aryan, Assalamualaikum Pak. Saya Bu Neni, pengasuh panti asuhan di sini," sapanya dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Bu."


"Anak-anak, sini Nak! Salim dulu ke Pak Aryan!" titahnya kepada anak-anak yang sedang asik bermain itu, seketika mereka berhamburan menghampiriku, dan mencium punggung telapak tanganku satu persatu.


"Mari pak, masuk dulu!" titahnya mempersilahkan aku masuk.


Aku menimpali, "Disini saja, Bu." lalu aku duduk di kursi teras sembari melihat anak-anak, dan Bu Neni pun duduk di kursi sebelahku.


"Kebetulan Pak Aryan datang kemari, di dalam juga ada gadis yang selalu datang kesini bersama almarhumah Bu Rita, baru saja beberapa menit sampai disini, Pak." tuturnya.


"Siapa, Bu?" tanyaku penasaran.


"Namanya ...."


"Assalamualaikum Pak Aryan," sapa lembut seorang wanita yang baru keluar dari dalam. Wanita itu memakai baju abaya hitam dengan cadar hitam yang di kenakan di wajahnya, sembari menggendong bayi perempuan yang berkisaran umur satu tahun.


Ketika kontak mata kami saling bertemu, aku sangat mengenali mata wanita itu.


"Aisyah? Kamu juga ada disini?" tanyaku.


"Iya Pak," jawabnya, lalu menjauhi kami karena bayi yang digendongnya menangis dan Aisyah berusaha menenangkannya.


"Pak Aryan kenal Bu Aisyah?" tanya Bu Neni.


Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Bu Aisyah lah gadis yang sering datang kemari bersama almarhumah Bu Rita, Pak." ujar Bu Neni. "Dulu Ibu pikir Bu Aisyah ini keluarga Bu Rita atau menantunya, ternyata Ibu salah," lanjutnya sembari menawan tawanya.


Tak lama kemudian, mobil pick up yang di bawa oleh Ardi pun datang dan memasuki halaman depan gedung ini.


"Bu Neni, kami ada sedikit donasi untuk anak-anak disini. Di terima ya Bu, semoga bermanfaat," ucapku sembari tersenyum ramah.


Terlihat mata Bu Neni berbinar seketika, "Masyaallah Pak Aryan, terimakasih banyak Pak. Entah kami harus membalasnya dengan apa, kalian sangat baik dan peduli pada kami," tuturnya, sembari menyatukan kedua telapak tangannya.


"Pak Aryan tau, jika kami tidak mengenal Bu Aisyah dan almarhumah Bu Rita mungkin panti asuhan ini tidak akan sampai sebesar ini. Mereka berdua orang yang sangat berpengaruh untuk panti asuhan ini," lanjutnya.


Aku yang mendengarnya pun merasakan bahagia, "Iya Bu, sama-sama. Itu juga sudah menjadi rezekinya untuk panti asuhan ini, terutama anak-anak disini," jawabku.


Aku mengalihkan pandanganku ke Aisyah yang terdengar sedang membacakan shalawat untuk bayi yang di gendongnya. Entah kenapa, ketika aku melihatnya, suasana hatiku menjadi tenang.


"Ekhem, Bu Aisyah memang sangat menyayangi anak-anak yang ada disini, Pak." gumam Bu Neni membuyarkan pandanganku dari Aisyah.


"Eh, iya Bu." jawabku, salah tingkah.


"Tidak enak jika Pak Aryan datang kemari tidak di tawari apa-apa, saya buatkan kopi dulu ya Pak. Permisi," pamit Bu Neni, aku hanya mengangguk menimpali ucapannya.


"Kakak ganteng, kita main bola, yuk!" ajak anak lelaki yang berkisaran umur delapan tahun itu menghampiriku sembari menarik tanganku.


"Ayok! Kakak yang akan menjaga gawangnya, ya!" timpalku. Lalu bermain sepak bola dengan anak-anak, dengan semangat dan waspada, aku melindungi gawang dari kebobolan lawan dengan menggunakan seluruh badan termasuk tanganku.


Ketika lawan menendang bola yang hampir masuk ke gawang yang aku jaga, aku segera mencegah dan menangkap bolanya, lalu memberikannya kepada timku, dan tak lama kemudian ... Gooolll ... Tim kami menang, dan anak-anak memelukku sembari berloncat-loncat, terlihat sekali mereka sangat bahagia.

__ADS_1


"Kakak ganteng hebat," puji salah satu anak yang memelukku.


Aku berlutut mensejajarkan dengan mereka, "Bukan kakak yang hebat, tapi kalian yang sangat pintar dan hebat," pujiku kepada mereka.


Mataku kembali beralih ke wanita yang sedang menyuapi bayi yang di gendongnya.


"Kakak ganteng suka ya, sama kakak cantik itu? tanya seorang anak yang bertubuh gumpal nan menggemaskan itu sembari menujuk ke arah Aisyah.


"Dari mana kamu tau jika kakak itu cantik, hem?" tanyaku sembari mencubit pipinya gemas.


"Alif liat dari matanya. Mata kakak itu sangat cantik, pasti wajahnya juga lebih cantik," ujarnya.


"Selain cantik, kakak itu juga baiiikkk banget," timpal anak lelaki yang ada di sampingnya.


Tanpa aku sadari, aku mengiyakan ucapan dari mereka berdua.


"Kalian lanjut mainnya, ya! Kakak kesana dulu," pamitku sembari mengacak-acak rambut mereka.


Aku melangkah ke arah Aisyah yang sedang memberi makan bayi yang di gendongnya.


"Aisyah," panggilku, lengkungan tipis aku pancarkan ketika menghampirinya.


"Eh, iya Pak Aryan."


"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kau sering datang kemari bersama almarhumah ibuku,"


"Aku pikir Tante Rita sudah memberitahunya dari dulu, Pak." jawabnya lembut. Namun, aku terfokuskan kepada bayi perempuan yang sedang di gendongnya.


"Boleh aku menggendong bayi itu?" tanyaku, karena bayi itu terlihat sangat menggemaskan bagiku, dengan rambut ikal, berkulit seputih salju dan memiliki mata yang sangat cantik berwarna hazel.


Aisyah menyerahkan bayi itu padaku, lalu aku menggendongnya. "Kau sangat cantik, siapa namamu sayang?" ucapku sembari memainkan hidungnya.


"Namaku Haliza, kakak." tutur Aisyah dengan menirukan suara anak kecil, sembari menyuapkan bubur kepada bayi yang ku gendong ini.


"Ekhem! Kalian sangat cocok."


Aku menoleh ke seseorang yang bicara dari arah belakangku.


"Hajar, Bang!" ledek Ardi sembari menahan tawanya.


Kring ....


Terdengar suara handphone Ardi berbunyi.


"Halo ... Apa? Iya Bu, Ardi kesana sekarang," jawab dari sambungan telponnya.


Setelah sambungan telepon itu terputus, wajah Ardi mendadak panik.


"Bang, gue harus pergi, rumah gue kebakaran ...."


***

__ADS_1


Pertemuan adalah takdir, dan setiap pertemuan selalu membawa kita ke takdir yang lain.


-Aryan Wijaya-


__ADS_2