JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Cincin milik siapa?


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part-5


Di siang hari, tepat di belakang halaman rumah seseorang yang luas, terlihat dua anak kecil sedang bermain ayunan.


"Nindia, kita main petak umpet, yuk!" Ajak anak lelaki yang berumur 13 tahun itu.


"Ayok. Tapi Kak Aryan yang jaga, ya!" Jawab anak perempuan kelas 5 SD itu dengan riang.


"Iya ... kita mulai, ya. 1, 2, 3, 4, 5 ...." Ucap anak lelaki itu, sembari menghitung dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, di ujung tembok rumah tersebut.


"Aduh ... aku ngumpet dimana ya? Di pohon besar itu aja deh."


Anak perempuan tersebut pun bersembunyi di balik pohon beringin yang besar itu.


"8, 9, 10 ..."


"Nindia dimana ya ....?"


"Nindia ....?"


"Nindia, kamu dimana?"


Anak lelaki itu mencari keberadaan anak perempuan tersebut. Seketika mata anak lelaki itu tidak sengaja melihat ujung baju anak perempuan tersebut, di balik pohon beringin besar.


Dengan langkah hati-hati, dan wajah sumringah. Anak lelaki itu diam-diam menghampiri kearah pohon besar tersebut.


"Duwaarrr ... ketemu ...."


Anak perempuan tersebut pun kaget, dengan bibir dimanyunkan.


"Sekarang, giliran aku yang ngumpet." Ujar anak lelaki itu bergantian.


Ketika anak perempuan tersebut akan melangkah ke ujung tembok, dengan langkah berlari kecil, tiba-tiba kakinya tersandung, dan ... Bruuukkk ....


"Aduuuhhh ...."


Anak perempuan tersebut pun jatuh dengan tangan yang menahan tubuhnya, tanpa sengaja tangan tersebut tergores terkena pecahan beling.


"Nindia ...." Teriak anak lelaki itu.


"Huuhuuhuu, kak Aryan ...." Isak tangis dari perempuan tersebut.


"Kamu gak papa?" Tanya anak lelaki itu panik, dan langsung memeriksa keadaan anak perempuan tersebut.


Terlihat darah segar mengalir dari telapak tangannya, dengan goresan yang cukup panjang, dan luka yang cukup dalam.


"Huuhuuhuu ... sakit kak ...." Ucap anak perempuan tersebut, sembari menangis dengan memegang pergelangan tangan kanannya, terlihat ada beberapa serpihan beling di dalam lukanya.


"Adek ...." Teriak dari anak lelaki yang berusia 15 tahun dari pintu belakang rumahnya, lalu berlari menghampiri anak perempuan yang masih bersimpuh di tanah.


"Kak Nando ...." Ujar lirih anak perempuan tersebut, terlihat badannya melemah, lalu tak sadarkan diri.


"Nindiaaa ...." Teriakku. Seketika aku membukakan mata. Ternyata aku hanya mimpi. Tapi kenapa harus mimpi itu lagi?


Aku baru menyadari, badanku basah penuh keringat. Aku menoleh ke arah jam, ternyata ini sudah jam delapan pagi. Aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi.

__ADS_1


***


Pagi ini aku masih di rumah, dan belum ada niat untuk kembali bekerja. Biarlah, toh ada Ardi yang menggantikan ku di kantor. Ya, selama aku tidak masuk ke kantor, Ardi yang menggantikanku.


Ardi adalah anak bungsu dari Budhe dan pakdeku, bisa di bilang dia adalah tangan kananku. Dia sudah bekerja selama tiga tahun di kantorku sebagai kepala administrasi. Aku menempatkan dia disana karena dia lulusan sarjana akuntansi dan manajemen, serta memiliki banyak prestasi, jadi aku tidak meragukannya lagi. Walau sikap dia sering menjengkelkan, tetapi aku sudah menganggap dia sebagai adikku.


Aku menuruni anak tangga, karena kamarku memang ada di lantai dua.


"Den, sarapannya sudah Bibi siapkan di atas meja." Ujar Bi Ani.


"Terimakasih Bi, tapi aku belum ingin sarapan. Buat bibi aja, Bibi belum sarapan kan?" Tanyaku memastikan Bi Ani.


"Belum Den. Tapi Den ... Bibi nanti saja."


"Gak apa-apa Bi, sarapannya buat Bi Ani aja. Buatkan saya kopi seperti biasa aja Bi, dan kue kering juga, taruh di meja halaman belakang ya, Bi." Titahku pada Bi Ani.


Biasanya saat pagi begini, ibuku selalu berteriak.


"Aryan, sarapan dulu ...."


"Aryan, di bekal sarapannya, jika tidak makan disini."


"Aryan, kopinya sudah di meja ..."


Dulu aku merasa sedikit risih jika Ibu sering berteriak, tapi sekarang aku merindukan teriakannya. Kini, hanya kehampaan yang tersisa di rumah ini.


Pagi ini, aku ingin bersantai di tempat terakhir aku menemukan ibuku. Ku langkahkan kaki jenjangku menuju halaman belakang rumah. Biasanya Ibu yang selalu bersantai disini, di temani dengan koran atau majalahnya dengan teh rasa matcha minuman khas kesukaannya.


Kini, sudah dua Minggu setelah kepergian ibuku. Masih terasa begitu pedih di hati. Namun, aku mencoba untuk mengikhlaskan kepergian ibuku. Akan tetapi, aku belum bisa memaafkan orang yang dengan sengaja membunuh ibuku.


Aku pun langsung bergegas pergi ke kantor polisi, untuk mengetahui informasi apa yang sudah di dapatkan.


Setibanya di kantor polisi, aku langsung di persilahkan masuk ke ruangan penyidik.


"Selamat siang Pak Aryan, silahkan duduk dulu Pak!" Titah Pak Polisi tersebut.


Aku pun duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Jadi begini Pak Aryan, setelah Minggu kemarin kami menyelidiki Bu Lestari dan Mbak Aisyah. Memang benar, mereka berdua datang kerumah Pak Aryan menemui Bu Rita, tapi mereka bukan orang terakhir yang menemui Ibu anda." Ujar polisi tersebut. lalu menyerahkan hasil dari sidik jari. "Dan ini untuk hasil sidik jarinya, Pak. Dari haril tersebut, Bu Lestari dan Mbak Aisyah, tidak terkait dalam kasus ini, karena dari kedua hasil tersebut negatif, tidak ada yang cocok dari sidik jari di leher korban." Ucap Pak Polisi.


"Setelah mengumpulkan beberapa barang bukti. Kemungkinan besar, ada orang lain yang datang setelah kepergian Bu Lestari dan Mbak Aisyah. Karena dari keterangan Bu Ani, pembantu Pak Aryan, dia juga menjadi korban karena di pukuli dari belakang oleh pelaku memakai kursi meja makan, dan setelah di cek kursi tersebut, terdapat sidik jari yang sama seperti di leher korban." Aku mematung saat mendengar pernyataan panjang lebar dari Pak Polisi. Jika mereka berdua tidak bersalah. Lantas, siapa pelaku yang sebenarnya? Berarti pelakunya masih berkeliaran.


"Lalu siapa pelakunya Pak, jika bukan mereka?" Tanyaku penuh dengan penasaran.


"Apa mungkin, Pak Aryan atau Bu Rita memiliki musuh seorang perempuan?"


Aku berfikir sejenak, selama ini aku atau ibuku tidak memiliki musuh atau masalah dengan perempuan lain.


"Tidak, Pak." Jawabku dengan yakin, karena aku dan ibuku memang tidak memiliki musuh atau masalah seperti yang dikatakan oleh polisi tersebut.


"Karena barang bukti berupa potongan kain yang Pak Aryan berikan kepada kami, itu milik seorang perempuan, Pak. Jika Pak Aryan atau Bu Rita tidak memiliki musuh atau masalah dengan seorang perempuan, kemungkinan besar pelakunya orang terdekat Pak Aryan atau Bu Rita."


"Den ...."


Aku terperanjat saat Bi Ani memanggilku.


"Den Aryan ... melamun lagi?"

__ADS_1


"Eh-iya Bi. Kenapa?"


"Ini den, kopi dan kue keringnya." Ucap Bi Ani, lalu meletakkan secangkir kopi dan beberapa kue kering tersebut di atas meja.


"Iya Bi, terimakasih."


Aku menyeruput secangkir kopi itu, sembari mengetik beberapa pesan. Walaupun aku tidak masuk ke kantor, tetapi aku selalu memantau keadaan kantorku. Untungnya, Ardi selalu bisa ku andalkan.


Saat aku ingin memakan kue, handphoneku berdering menandakan ada telepon masuk. Keningku mengkerut seketika saat aku melihat nama yang menelpon ku. Melinda?


Aku segera menjawab sambungan telpon darinya, akan ku tanyakan padanya, kemana perginya dia selama dua Minggu ini.


["Assalamualaikum, Melinda?"]


Hening ... tidak ada jawaban dari sambungan telpon tersebut.


["Hallo, Melinda?"]


["Mas ...."] Terdengar lirih, jawaban dari sebrang sana.


["Melinda, sayang ... kamu dimana sekarang?"] Tanyaku panik.


["Maaf, Mas ...."]


["Maaf untuk apa Melinda? Kamu kemana seja? Selama dua Minggu ini tidak ada kabar? Mas menelpon mu berkali-kali, tetapi tidak satupun kamu menjawab telpon dari Mas. Bahkan Mas bolak-balik ke rumah mu, tapi kamu dan ayahmu tetap tidak ada di rumah ... tolong jawab, Melinda. Kamu baik-baik saja kan sayang?"] Tanyaku panjang lebar dengan rasa cemas, berharap orang di sebrang sana segera menjawab semua pertanyaanku.


["Aku ... aku baik-baik saja, Mas. Maaf, aku tidak sempat menghubungi mu. Karena ayahku mengalami kecelakaan, dan langsung di larikan ke rumah sakit dan harus di operasi. Dan sekarang aku sudah pulang ke rumah, tapi untuk meminta bantuan pinjaman uang dari tetangga, karena biaya operasi ayahku kurang."] Jelasnya, terdengar isak tangis dari sebrang sana. Membuat aku mengerti sekarang, kenapa dia menghilang selama dua Minggu ini.


"[Kenapa kamu tidak bilang ke Mas, dari awal Melinda? Jika ayahmu sedang di rumah sakit?]" Tanyaku khawatir.


"[Aku tidak ingin merepotkan mu ....]"


"[Tolong, jangan pernah bilang begitu. Mas akan membantumu melunasi semua biaya operasi ayahmu. Karena Mas tidak ingin merasakan kehilangan orang terdekat lagi ....]" Ucapku lirih


"[Terimakasih banyak, Mas. Tapi ... aku minta maaf. Aku baru dapat kabar dari tetangga tentang ibumu tadi. Aku--aku tidak datang ke rumah mu waktu itu.]" Terdengar, Isak tangis itu semakin menjadi.


"[Tidak apa-apa, sayang. Sekarang kamu dimana? Mas akan menjemputmu.]"


"[Aku di rumah, Mas.]"


"[Yasudah, Mas tutup dulu ya telponnya. Mas akan segera kesana. Assalamualaikum.]"


"[Iya Mas. Waalaikumsalam.]"


Setelah menutup telepon dari Melinda, aku bergegas untuk menjemputnya. Namun, langkahku terhenti di depan pintu halaman belakang rumah, saat kedua netraku tidak sengaja melihat benda yang berkilau, dari tumpukkan daun-daun yang gugur dari tangkai bunga mawar.


Keningku mengkerut, lalu menghampiri benda tersebut. Terlihat seperti ... cincin.


Dan benar saja, saat aku mengambil benda tersebut, benda bulat yang berukuran kecil berkilau itu adalah sebuah cincin.


Tapi tunggu ... aku rasa, aku mengenali cincin ini? Cincin yang pernah aku berikan untuk seseorang. Tapi, kenapa bisa cincin ini ada disini? Sedangkan pemiliknya pun tidak datang kemari dan tidak ada kabarnya setelah beberapa Minggu.


Terlihat, di dalam pinggiran cincin tersebut terukir nama seseorang ... Melinda.


"Jika Pak Aryan atau Bu Rita tidak memiliki musuh atau masalah dengan seorang perempuan, kemungkinan besar pelakunya orang terdekat Pak Aryan atau Bu Rita."


Seketika, ucapan dari Pak Polisi itu lolos begitu saja dari pikiranku.

__ADS_1


__ADS_2