
Penulis : Adeviaaa14
Bab-14
Pov Melinda
Setelah ayah menyuruh untuk segera pergi dari sini, aku bergegas merapihkan baju-bajuku. Aku akan mengganti bajuku, tidak mungkin aku memakai baju yang kukenakan saat membunuh Tante Rita. Tadinya aku akan membakar baju ini, namun aku tidak sempat untuk membakarnya. Jadi akan ku simpan baju ini di tempat yang aman.
Setelah selesai memasukkan baju-bajuku kedalam koper, aku segera memasukkan motorku ke dalam rumah. "Ayah, cepatlah! Kita harus segera pergi dari sini," teriakku. Lalu mengeluarkan mobilku dari dalam garasi.
Tak lama kemudian, Ayah datang dengan membawa tas besar yang dijinjingnya.
Tujuan kami adalah pergi ke rumah nenekku yang ada di kampung. Aku dan Ayah akan tinggal disana untuk beberapa Minggu, sampai keadaan disini aman.
Dengan tangan yang masih gemetaran, kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Perjalanan menuju kampung halaman nenekku, memakan waktu yang cukup lama hampir sepuluh jam. Aku dan Ayah bergantian untuk menyetir. Namun saat di perjalanan, aku diributkan oleh suara handphoneku.
Kriiinnnggg!
Kriiinnnggg!
"Mel, berisik kali handphonemu, coba liat siapa yang menelepon!" ujar ayahku, sembari menyetir.
Aku mengambil tas yang aku simpan di kursi belakangku, karena handphoneku di taruh di dalam tas ini.
"Bagaimana kalau Aryan yang menelpon, Ayah?" ucapku panik.
Ayahku berdecak, kemudian memberhentikan mobilnya di sisi jalan secara mendadak dan langsung mengambil tasku.
"Lihat! Si pria tua itu yang menelpon, bukan Aryan!" ucap ayah, sembari memperlihatkan siapa yang menelepon.
Ayahku memencet tombol off untuk mematikan daya handphoneku. "Matikan saja dulu handphonemu ini, kita masih dalam perjalanan. Nanti kalau kita sudah sampai di rumah nenekmu, kita tanyakan pada seseorang situasi yang ada disana!" lalu ayahku memberikan handphonenya padaku.
Tepat pada jam dua malam, terlihat gapura dengan tulisan Selamat Datang di Kampung Hijau.
__ADS_1
Tak terasa kami sudah menempuh perjalanan selama sepuluh jam. Walaupun bulan telah menggantikan matahari, tetapi masih terasa suasana asri dan sejuk di kampung nenekku ini. Namun di kegelapan malam, terlihat pepohonan yang rindang seakan menyeramkan menambah kepanikkanku, dengan hujan rintik yang membasahi kampung ini. Tempat ini adalah tempat dimana aku dibesarkan. Tempat dimana aku menghabiskan masa kanak-kanak tanpa seorang ibu. Setelah kematian kakekku ketika aku berumur 10 tahun, hanya nenekku seorang yang membesarkanku sampai aku lulus SMA.
Ayah melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati ketika memasuki arah rumah nenekku. Karena jalan menuju rumah nenekku masih dengan bebatuan dan sedikit licin karena hujan.
Akhirnya mobil pun terparkir di depan rumah papan yang sederhana.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum Nek, buka pintunya!" ucapku, sembari mengetuk pintu.
"Bu, ini Hartono," ujar ayahku.
Ceklek!
Pintupun terbuka, menampilkan wanita yang berkisaran umur enam puluh tahun lebih, tetapi masih terlihat sehat dan bugar. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika melihat kami datang kerumahnya malam-malam tanpa memberitahunya.
"Hartono? Mela ...."
"Bu, tolong biarkan kami masuk dulu. Kami lelah," ucap ayah memotong ucapan Nenek. Lalu kami masuk sembari membawa koper dan tas ayahku.
"Besok saja Nek, bicaranya. Biarkan aku istirahat dulu," ucapku, lalu pergi ke kamar yang dulu pernah aku tempati. Terlihat kamar ini masih sama dan bersih seperti sepuluh tahun yang lalu. Mungkin Nenekku selalu membersihkannya.
Keesokan harinya, nenekku menghujam dengan banyaknya pertanyaan padaku. Aku bilang, aku mendadak kesini karena rindu pada beliau. Tidak mungkin, jika aku bilang yang sebenarnya, dan nenekku tidak menyangka jika aku sudah menjadi wanita yang sukses, namun aku tidak memberitahu apa pekerjaanku padanya.
Tak terasa, sudah dua Minggu aku berada di kampung halaman nenekku. Aku tidak mendapati notifikasi dari Aryan, karena aku sengaja memblokir nomornya sementara. Untungnya aku selalu mendapatkan informasi dari seseorang mengenai Aryan. Aku sangat bahagia ketika aku mengetahui bahwa Aryan menyalahkan Aisyah dan ibunya atas kematian Tante Rita.
Aku yang sedang makan, tiba-tiba ayah menghampiriku. "Mel, mana kunci mobilmu? Ayah mau pergi sebentar ke rumah pamanmu."
"Malam-malam begini?" tanyaku penasaran.
"Udah, jangan banyak tanya. Mana kuncinya?"
Aku bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobil, lalu memberikannya pada ayahku. Seketika deruman mobil menjauhi rumah nenekku.
__ADS_1
Kini matahari kembali terbit, tetapi aku belum menemukan ayahku, bahkan mobil aku pun tidak ada di tempatnya. Berarti ayah belum pulang dari rumah pamanku. Seketika aku di kagetkan oleh suara handphoneku, ternyata Ayah yang menelponku.
"Halo ... apa? Bagaimana bisa? Baiklah, aku akan segera kesana."
Setelah sambungan telepon dari Ayah, aku bergegas ke rumah tetangga nenekku, untuk meminjam motornya. Nenek yang melihatku buru-buru pun keheranan.
"Mau kemana, Nduk? Kenapa panik begitu?"
"Ada urusan," ucapku, lalu pergi minggalkan nenekku yang masih menatap ke arahku.
Kini aku sudah sampai di rumah sakit, aku bergegas ke ruangan UGD. Terlihat ada seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.
"Dok, dimana Pak Hartono?"
"Ada di dalam, Bu."
Setelah jawaban dari Dokter, aku langsung membuka pintu ruangan.
Ceklek!
"Ayah ...."
Seorang pria sedang berbaring dengan lemah, terlihat banyak sekali luka di tubuhnya, terlebih lagi di bagian kepala dan kakinya yang terlihat patah.
"Bagaimana bisa?" tanyaku, kepada seseorang.
Seseorang itu menceritakan semua kejadiannya. Setelah itu aku memiliki sebuah rencana, akan ku jadikan sebuah alasan kepada Aryan kenapa aku menghilang. Lalu, aku segera menemui Dokter untuk memindahkan pasien ke rumah sakit yang dekat dengan rumahku. Itu artinya besok aku harus pergi dari rumah nenekku.
Pagi ini aku sudah berada di rumah Nenek, aku berpamitan pada nenekku untuk kembali pulang ke rumahku. Tentu saja Nenek keheranan karena aku pulang sendiri, dia menanyakan keberadaan ayahku, aku bilang padanya kalau ayah sudah pulang ke rumah terlebih dahulu.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, sampai tak terasa aku sudah sampai di halaman rumahku.
Aku membuka nomor Aryan yang beberapa Minggu ini telah ku blokir. Aku akan menghubunginya sekarang. Setelah sambungan telepon itu di jawab olehnya, terdengar suaranya begitu panik ketika menanyakan kabar diriku. Aku memberitahunya, bahwa selama aku menghilang, aku mengurus ayahku yang sakit karena kecelakaan. Dia mengatakan kalau besok dia akan menemuiku. Aku sengaja bilang padanya bahwa aku sedang membutuhkan uang untuk biaya operasi ayahku, padahal uang itu untukku bukan untuk operasi, walau sebenarnya Dokter menyarankan pasien itu harus segera di operasi.
__ADS_1
Keesokan paginya, sesuai janji Aryan menemuiku. Dengan sengaja aku memasang raut wajah yang sedih. Saat dia menghampiriku, aku langsung menangis di pelukannya. Dia bertanya berapa biaya operasinya, aku memberitahunya bahwa aku sedang membutuhkan uang lima puluh juta untuk biaya operasi ayahku, tentu saja aku sangat senang ketika dia mengatakan akan membayar semua biaya rumah sakit dan operasinya, tetapi dia meminta untuk bisa menjenguk ayahku. Dengan terpaksa aku mengiyakan keinginannya, walaupun aku harus menyusun rencana baru ....