
Penulis : Adeviaaa14
Bab-12
POV Melinda
"Lepas ... aku mohon lepaskan," aku memberontak, saat pria tua berbadan gumpal itu ingin memelukku.
"Aku sudah membayarmu mahal, jadi kau harus menuruti semua kemauanku baby," ucap pria tua itu, sembari membuka sabuk pengaman dan menarik tubuhku.
Pria tua itu adalah Om Hadi, dia adalah customerku, dan Om Hadi adalah customerku yang kedelapan.
Aku menjualkan diriku pada pria tua kaya ini. Setelah lulus SMA, aku bekerja ke luar negeri menjadi TKW selama tiga tahun. Namun disana aku tak dihormati layaknya seorang manusia, terkadang aku di lecehkan oleh majikanku. Karena aku tidak tahan akan kekerasan dan pelecehan disana, aku kembali ke negara asalku.
Aku mempunyai seorang teman dari kampung yang saat ini sudah menjadi wanita kaya raya, dia menyarankanku untuk bekerja. Namun siapa sangka, pekerjaan itu adalah menjadi sugar baby atau simpanan dari pria kaya. Awalnya aku menolak saran dari temanku. Namun, karena aku melihat dia sudah menjadi wanita sukses, akupun jadi tertarik untuk mencobanya.
Aku mulai menikmati pekerjaanku yang sekarang. Aku akan menjual tubuhku dengan sebuah kontrak perjanjian pada pria-pria kaya. Aku bercerita pada ayahku tentang pekerjaan baruku, aku pikir dia akan marah, akan tetapi ayahku mendukungku karena diapun menikmati hasilnya dari pekerjaanku ini. Sejak saat itulah aku mulai menikmati pundi-pundi rupiah, aku bisa membeli apapun yang kumau, dan merubah penampilanku dengan melakukan operasi untuk mempercantik wajahku, dan merubah badanku menjadi lebih sexy bak gitar spanyol.
"Tolong mengertilah, aku tidak ingin sekarang, Om." Aku berusaha melepaskan tangannya dari tubuhku, lalu mengigit jarinya.
"Aw, kurang ajar!" erangannya kesakitan. Saat Om Hadi melepaskan tangannya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk keluar dari mobil. Namun, Om Hadi segera menyusulku, dan berhasil menarik bajuku.
"Kau mau kemana baby, kau tidak bisa lari dariku!"
Aku memberontak. "Lepaskan!"
Aku melihat disekeliling, ada beberapa orang yang hanya menonton kaributan kami berdua. "Tolong!" Berharap ada seseorang yang menolongku untuk bisa terlepas dari pria tua ini.
"Jangan coba-coba ada yang berani menolongnya!" Ancamnya kepada mereka, lalu Om Hadi menarik lenganku dan menjambak rambutku.
__ADS_1
"Ayolah baby, kau harus menuruti perintahku. Jika tidak ...." Om Hadi melayangkan tangannya. Namun, saat ingin menamparku ....
Bughhttt!!
Om Hadi tersungkur. Seorang lelaki dengan memakai pakaian rapih ala kantoran memukuli pria tua itu. Aku terkesima saat dia membelaku, sampai akhirnya aku bisa bernafas lega ketika Om Hadi pergi, dan kerumunan orang-orang yang hanya menatap kamipun dibubarkan olehnya.
Namun, mataku membelalak saat aku melihat wajah lelaki itu. Aku sangat mengenalinya, dia adalah Aryan Wijaya. Orang yang selama ini aku cari, dia lelaki yang telah membuatku kehilangan saudara satu-satunya saat sepuluh tahun yang lalu.
Dia keheranan ketika aku memanggil namanya, rupanya dia tidak mengenaliku. Saat aku menyebutkan siapa diriku, dia sangat terkejut, bahkan memandangiku dengan tatapan yang tidak percaya karena perubahan penampilanku. Dia menawarkan untuk mengantarku pulang, tentu saja aku mau. Karena inilah awal permainannya. Sejak pertemuan itu, aku dan dia sering bertemu, bahkan tak jarang aku memberikan perhatian palsuku padanya.
Rumahku dan Aryan memang berdekatan. Akan tetapi, aku baru bertemu dia. Karena selama aku menjadi sugar baby, aku tinggal di luar kota di apartemen milikku. Takdir memang sedang berada di pihakku. Aku tidak perlu capek-capek untuk mencari Aryan, karena dia yang datang sendiri padaku. Tinggal aku memberikan sedikit bumbu-bumbu cinta padanya, agar permainan ini lebih seru.
Usaha memang tidak mengkhianati hasil. Aku berhasil membuat Aryan jatuh cinta padaku, dan kamipun menjalin hubungan. Karena memang itulah tujuanku selama ini, masuk ke kehidupan seorang Aryan Wijaya untuk menghancurkan kehidupannya. Aku akan membalaskan dendam pada keluarganya dan kehidupannya.
Selama menjalin hubungan dengan Aryan, aku tidak pernah meminta apapun padanya, karena aku tidak ingin Aryan mencurigaiku, aku harus menjadi wanita yang baik di depannya.
Saat hubunganku dan Aryan sudah menginjak satu tahun lebih, Aryan memutuskan untuk segera menikahiku, tentunya aku sangat bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi nyonya dan aku akan merebut semua hartanya Aryan. Akan tetapi, Aryan memberitahuku di sambungan telepon, bahwa ibunya akan menjodohkannya dengan orang lain. Tentu saja aku sangat marah setelah mendengarnya. Namun, untungnya Aryan memilih keputusan yang tepat untuk mempertahankanku.
Aku melajukan motorku. Tidak butuh waktu lama untuk aku sampai ditujuan. Aku memberhentikan motoku di sebrang jalan di depan rumahnya. Namun, aku melihat ada mobil yang terparkir di halaman rumah Aryan.
Aku penasaran siapa yang datang ke rumahnya, karena yang ku tau Aryan masih berada di kantornya. Aku ingin melihatnya, tapi tidak mungkin aku lewat depan, karena ada satpam yang menjaganya. Aku berfikir mungkin lewat gang samping rumahnya saja. Karena yang ku tau, gang itu terhubung ke halaman tempat pembuangan sampah yang ada disamping rumahnya.
Aku memarkirkan motorku di sebelah rumahnya. Aku berjalan memasuki gang, ada pintu pagar besi kecil yang ternyata tidak dikunci.
Dengan pelan, aku membuka pagar tersebut. Hanya arah dapur yang bisa masuk ke dalam rumahnya. Untung saja pintu dapur sedikit terbuka, dengan hati-hati aku melihat situasi yang ada di dalam, ternyata di dapur tidak ada siapa-siapa. Namun, aku mendengar suara langkah menuju kemari, aku segera mencari tempat untuk bersembunyi.
Sebelum orang itu datang, aku bersembunyi di bawah meja makan, untungnya taplak meja yang panjang ini berhasil menutupi tubuhku yang ada di bawah. Tapi tak lama kemudian, aku mendengar derap langkah kaki ke arah meja makan.
"Ayok, duduk! Jangan buru-buru pulang, kita makan dulu! Banyak sekali yang ingin aku bicarakan," ucap seseorang. Aku tau betul, itu adalah suara Tante Rita, ibunya Aryan.
__ADS_1
"Ah Jeng Rita, aku selalu merepotkanmu," ujar seseorang yang entah siapa, tapi bisa kutebak, suara itu dari orang yang seusia ibunya Aryan.
"Jangan bilang begitu, aku justru senang kalian datang kesini," jawab Tante Rita. "Ayok nak Aisyah, duduk dulu sayang!" Titahnya.
'Aisyah? Siapa dia?' batinku
"Sambil nunggu makanannya siap, kita ngobrol-ngobrol dulu saja, Jeng." ucap Tante Rita. "Nak Aisyah Masyaallah cantik, solehah, penghafal Al-Qur'an lagi. Sekarang sudah istiqamah ya sayang, memakai niqabnya. Tante tidak salah pilih wanita buat jadi istrinya Aryan," lanjutnya.
Aku menajamkan pendengaranku. 'Jadi, yang namanya Aisyah itu wanita yang akan dijodohkan oleh ibunya?' batinku
"Alhamdulillah. Insyaallah, Tante." jawab dari wanita itu terdengar sangat lembut.
"Jeng, apa Aryan sudah tau kalau Aisyah itu adalah teman masa kecilnya?" Tanya wanita itu, yang ku yakini bahwa yang bertanya itu adalah ibunya si Aisyah. "Aku masih ingat Jeng, dulu Aryan sering datang ke rumahku cuman untuk ngajak Aisyah main, Aryan sering bilang kalau Aryan suka sama Aisyah. Padahal dia masih ingusan," lanjutnya sambil terkekeh.
'Apa? Jadi wanita itu teman masa kecilnya Aryan?' batinku.
"Aryan belum tau soal itu, sepertinya Aryan lupa pada kalian. Karena sudah hampir 17 tahun, tidak pernah bertemu dengan kalian lagi," jawab Tante Rita. "Ternyata Aryan juga bilang begitu padamu? Kau tau Jeng, dulu Aryan selalu berceloteh tentang Aisyah, bahkan selalu memuji wajah cantiknya Aisyah," lanjutnya. Lalu terdengar gelak tawa mereka berdua.
"Lalu bagaimana tanggapan Aryan soal persiapan perjodohan anak kita, Jeng? Mungkin Aryan juga sudah punya kekasih?"
"Aku tidak memikirkan tanggapan dari putraku Jeng. Jeng Lestari tenang saja, Aryan punya kekasih atau tidak, perjodohan ini harus dilaksanakan. Terlebih lagi, yang ku tau Aryan masih menyimpan fotonya berdua bersama nak Aisyah ketika masih SD, dan ada beberapa foto Aisyah waktu kecil yang kutemukan di kamarnya. Jika Aryan tau bahwa Aisyah adalah Nindia, pasti Aryan akan menerima perjodohan ini," jawaban dari Tante Rita, yang berhasil membuatku naik pitam. Namun aku tahan, karena aku tidak ingin mereka tahu bahwa ada aku yang bersembunyi di bawah meja makan.
'Aku tidak akan membiarkan perjodohan ini terjadi. Aku harus membuat perselisihan diantara Aryan dan wanita itu. Tapi bagaimana caranya?' pikirku.
Terdengar suara langkah menuju arah meja makan. "Makanannya sudah siap Nyonya, silahkan!" ucap seseorang, yang ku tau itu adalah suara dari pembantunya Aryan.
Suara mulai hening ketika mereka makan, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan benda lain.
Mataku membulat saat melihat satu lembar tisu yang jatuh dari atas meja.
__ADS_1
'Gawat!' batinku.