JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Rumah Ardi kebakaran


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Bab-19


Hari ini setelah selesai bekerja, kini aku kembali ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Pakde.


Sudah tiga hari pakdeku masih dirawat di rumah sakit, dan semakin hari keadaannya semakin berangsur membaik.


Pakde menceritakan semua kronologi kejadiannya. Berawal dari Pakde dan Budhe berangkat ke ladang jam tujuh pagi, karena sedang musim panen di ladangnya.


Memang Pakde dan Budhe memiliki ladang jagung yang cukup luas, dan jarak rumah ke ladang jagungnya juga tidak terlalu jauh, hanya berjarak satu kilometer.


Saat itu Pakde dan Budhe sedang berada di ladang jagungnya, dan sedang mengumpulkan jagung yang sudah di panen dengan dibantu oleh beberapa para pekerja.


Pakde memang termasuk orang yang sangat taat pada agamanya, bahkan Pakde tidak pernah melewatkan shalat-shalat sunnahnya. Jadi sebelum shalat Jum'at, jam sepuluh Pakde sudah pulang terlebih dahulu untuk melaksanakan shalat Dhuha.


Pakde pulang dengan kendaraan roda duanya. Rumah Pakde memang berjauhan dengan para tetangga. Setibanya di rumah, pakde membersihkan diri. Setelah itu Pakde melaksanakan shalat Dhuhanya. Namun, di saat rakaat pertama, api itu sudah menjalar dan membesar di dalam rumahnya Pakde, dan membuat Pakde terjebak di dalam kamarnya. Sehingga rumah hasil jerih payahnya hangus tak tersisa.


Sehari kemudian, polisi mengusut kasus kebakaran ini. Setelah diselidiki, tidak ada masalah dari rumahnya Pakde, dan penyebab kebakaran ini juga bukan dari masalah kabel atau korsleting listrik, melainkan polisi menemukan cairan yang berceceran bekas minyak tanah didalam rumahnya Pakde. Besar kemungkinan ada seseorang yang dengan sengaja membakar rumahnya.


Tapi siapa yang dengan sengaja membakar rumahnya Pakde?


**


Seorang wanita yang baru memasuki ruang rawat dengan tangan kanannya memegang food tray stainless atau piring rumah sakit dan tangan kirinya memegang botol minuman.


"Ayah, waktunya makan sekarang," ucap seorang wanita itu, senyum hangatnya terpancar dari bibirnya, lalu menghampiri kami.


Wanita yang hampir berusia kepala empat itu adalah Mbak Dian, anak pertama dari Pakde dan Budheku. Pakde dan Budhe memiliki tiga orang anak, namun anak kedua mereka wafat ketika ia masih berusia delapan belas tahun.


Setelah menikah, Mbak Dian jarang pulang ke rumah orang tauanya, selain ikut tinggal bersama suaminya, jarak dari rumah suami ke rumah orang tuanya memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih sekitar lima jam.


Setelah Pakde dilarikan ke rumah sakit, Mbak Dian langsung datang ke rumah sakit bersama Pak Rehan suaminya.


"Gimana keadaan sekarang, Yah? Apa Ayah masih merasa sakit?" tanya Mbak Dian pada Pakde sembari menyuapinya.


"Ayah sudah mendingan, Nak." jawab Pakde.


Setelah Pakde selesai makan, tiba-tiba dua orang perawat menghampiri kami untuk mengecek keadaan Pakde.


"Apa suami saya sudah diperbolehkan untuk pulang sus?" tanya Budhe ke salah satu perawat.


"Untuk saat ini pasien belum bisa diperbolehkan untuk pulang, Bu. Mungkin lusa, jika pasien sudah tidak lemas lagi. Karena sekarang keadaan pasien masih lemas," jelas salah satu perawat tersebut.


Lalu kedua orang perawat itu memeriksa keadaan pakdeku. Setelah selesai, mereka pamit dan melanjutkan tugasnya untuk memeriksa keadaan pasien yang lain.


"Bu, Yah, setelah Ayah pulang dari sini, kalian bisa tinggal di rumah kami," ucap menantu dari Pakde dan budheku.


"Jika kami bertiga tinggal di rumah kalian, apa tidak merepotkan kalian berdua, Nak?" tanya Budhe kepada Mbak Dian suaminya.

__ADS_1


Mereka berdua terdiam sejenak, "Tidak sama sekali, Bu." jawab Pak Rehan.


"Emm ... maaf Pakde, Budhe ... jika berkenan, kalian boleh tinggal di rumahku," ucapku


"Jika Mbak Dian dan Pak Rehan mengijinkan. Pakde, Budhe, dan Ardi akan tinggal di rumahku. Terlebih lagi Pakde dan Budhe sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri," lanjutku.


Bukannya aku ingin mencampuri urusan mereka, tetapi mereka juga kerabatku. Terlebih lagi Pakde dan Budhe pernah membantu usaha ayahku dulu saat mengalami kebangkrutan, itung-itung aku membalas budi kepada mereka.


Mbak Dian dan Pak Rehan saling beradu pandang, memikirkan apa yang aku ucapkan.


"Apa tidak membebanimu, Aryan? Jika orang tua dan adikku tinggal di rumahmu?" tanya Mbak Dian.


"Tidak Mbak. Pakde dan Budhe sudah sangat berjasa kepada orang tuaku dan menyelamatkan usaha ayahku dulu dari kebangkrutan, itung-itung kali ini aku membalas budi pada kalian," jawabku.


"Hem ... baiklah, kami mengijinkan. Tapi itu kembali lagi kepada Ayah dan ibuku," ujar Mbak Dian sembari mengusap lembut tangan Pakde.


"Nak Aryan, jika itu tidak membebankan dan merepotkanmu, kami akan tinggal di rumahmu," timpal Pakde serak.


"Aku tidak merasa terbebani sama sekali Pakde, justru aku senang karena rumahku akan menjadi ramai, jadi aku tidak merasa kesepian lagi, apalagi ada Ardi," jawabku melirik ke arah Ardi yang sedari tadi hanya diam sembari duduk bersila di bawah yang dilapisi karpet.


"Baiklah Aryan, terimakasih sudah menolong keluargaku," ucap Mbak Dian sembari menepuk-nepuk pundakku.


"Iya, mbak."


**


Setelah dari rumah sakit, aku langsung pulang ke rumah.


Aku yang baru datang ke rumah, tak ku dapati Elvira, padahal ini sudah jam setengah enam sore. Apa belum pulang dari kampusnya? Padahal yang ku tau dia tidak ada praktik hari ini.


"Elvira belum pulang, Bi?"


"Belum, Den."


"Bi, biasa ya buatkan kopi kesukaan saya," titahku pada Bi Ani untuk membuatkan kopi.


"Baik, Den Aryan."


Terasa sangat melelahkan untuk hari ini. Gegas aku menaiki tangga untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, aku langsung ke halaman belakang untuk bersantai sejenak. Tak lama kemudian, Bi Ani membawakan secangkir kopi untukku lalu menyimpannya diatas meja.


Sayup-sayup aku mendengar suara deruman mobil yang baru saja terparkir di halaman depan rumahku.


Aku melangkah ke depan rumah, terlihat Elvira yang baru saja pulang diantar oleh seorang lelaki


Aku tau betul siapa lelaki itu.


"Terimakasih, Kak Harun," ucap Elvira.

__ADS_1


Aku berdiri di ambang pintu sembari bersidekap di belakang Elvira, tetapi Elvira tidak menyadari bahwa aku ada dibelakangnya. Sedangkan si lelaki itu hanya menatapku dengan tajam.


Elvira yang keheranan karena menyadari tingkah aneh lelaki yang ada didepannya pun menengok kebelakang.


Tidak bisa dipungkiri, Elvira pun terkejut ketika aku memperhatikannya sedari tadi.


"Eh, Bang Aryan. Hehe," ujarnya salah tingkah.


"Lo gak akan nyuruh masuk pacar lo itu?" tanyaku sembari memberi kode mengangkat kedu alisku.


Elvira melirik ke arah lelaki itu. "Emm ... mari masuk dulu, kak," titahnya ke Dokter Harun, terlihat senyum merekah dari bibirnya.


"Mungkin lain waktu aja El, saya masih harus kembali ke rumah sakit," tolaknya halus.


"Hem ... baiklah," jawab Elvira sedikit kecewa.


"Kalau begitu saya pulang dulu," pamit Dokter Harun tanpa menatap ke arahku.


Saat Dokter Harun hendak membuka pintu mobil, aku menghampirinya.


"Tunggu!"


Dokter Harun menghentikan Aktivitasnya, lalu membalikan badannya menatapku.


"Apa kau menyukai keponakanku?" tanya serius ke Dokter Harun.


"Kau salah paham Pak Aryan, saya tidak menyukai keponakanmu. Kami hanya kebetulan berpapasan di parkiran rumah sakit. Keponakanmu sudah menunggu lama temannya untuk menjemputnya, jadi dia yang merengek meminta padaku untuk mengantarnya," jelasnya dengan wajah datar.


Aku menengok ke arah Elvira. "Lo ke rumah sakit, El?" tanyaku.


"Hu'um. Gue lagi remedial praktek di rumah sakit, Bang," jelasnya tanpa malu sembari cengengesan.


Jika Elvira memberitahuku dirinya berada di rumah sakit mungkin aku akan menunggunya sampai selesai praktiknya.


"Kenapa lo gak ngabarin gue? Padahal gue juga baru pulang dari rumah sakit," tuturku kesal.


"Lah, gue juga gak tau lo ada di rumah sakit," timpalnya dengan bibirnya yang dimonyongkan.


Aku menghembuskan nafasku dengan kasar, lalu melirik Dokter Harun.


"Gue minta maaf, keponakan gue udah bikin lo repot. Tapi makasih udah mengantarnya pulang," ucapku berterimakasih kepada Dokter Harun.


Tidak ada jawaban darinya, hanya anggukan menimpali ucapanku.


"Kalau begitu, saya permisi pulang," pamitnya, lalu masuk ke dalam mobilnya. Namun, saat dia hendak menutup pintu mobilnya, aku menahannya. Terlihat wajahnya sudah mulai kesal.


Aku membungkukan badanku sedikit mensejajarkan dengan wajahnya.


"Tapi kalau lo suka beneran ke keponakan gue. Gue gak keberatan, asal lo bisa ngejaga keponakan gue dan jangan pernah sekali-kali lo menyakitinya!" tuturku.

__ADS_1


"Saya tidak akan menyakiti siapapun termasuk keponakan anda. Tidak seperti yang anda lakukan, sudah menyakiti adik saya sejak tujuh belas tahun yang lalu," ucapnya penuh penekanan, terlihat rahangnya mulai mengeras.


Aku mengerutkan dahiku, karena aku tidak mengerti sama sekali apa yang dia bicarakan. "Maksud lo?"


__ADS_2