
Penulis: Adeviaaa14
Part-3
Aku mengerjapkan mata, bau obat-obatan pun mulai tercium di indra penciuman ini, sepertinya aku berada dirumah sakit. Orang pertama yang kulihat ternyata bukan ibuku, melainkan budheku.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar Nak Aryan. Sudah semalaman kamu pingsan." Ucap budheku penuh syukur.
Aku mengingat apa yang sudah terjadi. Tidak. Ini tidak mungkin. Aku yakin ini pasti hanya mimpi.
Aku melihat sekeliling ruangan, disini hanya ada Bi Ani, Budhe, dan Ardi anak bungsu dari budheku.
"IBUUU ...." Teriakku, berusaha untuk bangun.
Arrgghhttt ... Kupegangi kepalaku yang terasa begitu sakit.
"Hati-hati Aryan, tenangkan dirimu dulu." Ucap Budhe, sembari memegangi pundakku.
"Budhe. Dimana Ibu?" Tanyaku panik.
"Ibumu sudah dipindahkan ke ruang jenazah. Pakdemu yang sedang mengurusnya."
Setelah mendengar penuturan dari Budhe, ku ayunkan cepat kaki jenjangku menuju tempat yang Budhe ucapkan tadi.
Terlihat dari jarak 10 meter di depan pintu ruang jenazah, pakdeku sedang berbincang serius dengan seorang lelaki muda yang memakai jas putih. Kuhampiri pakdeku dan lelaki itu menatapku sendu. Kulihat nametag yang menempel di baju lelaki itu bertulisan N.Harun Abidzar.
"Pakde, dimana ibuku?" Tanyaku pada pakde.
Belum sempat pakdeku menjawab, lelaki itu bicara "Kalau begitu saya permisi dulu pak, masih ada pasien yang harus saya tangani, mari..." Ucap lelaki itu dan pergi meninggalkan kami.
"Aryan, ibumu ada di dalam nak." Jawab pakde.
Ku tarik nafasku, ku kuatkan diriku lalu membuka pintu kamar itu. Ku langkahkan kakiku masuk kedalam ruangan, dimana mereka yang berbaring kaku itu ditutupi dengan kain putih. Pakdeku menuntunku dimana posisi Ibu dibaringkan.
Pakde menghentikan langkahnya, tepat dihadapan jenazah yang tertutup dengan kain putih itu. Aku yakin, ini pasti bukan ibuku. Ini hanya mimpi.
Aku mencoba untuk membukanya. Dan ... Deg. Duniaku benar-benar sudah hancur, tatkala melihat wanita yang telah melahirkan dan membesarkan ku dengan kasih sayangnya, telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Kini terlihat jelas wajah ibuku yang sangat pucat itu sedang tertidur, namun terlihat begitu sangat damai.
__ADS_1
Seketika tubuhku ambruk, bahkan kaki ku sudah tak kuasa untuk menahan bobot tubuhku dan cobaan berat ini.
Ku peluk erat tubuh kaku ibuku, berharap ibuku akan bangun.
"Ibu ... tolong bangun ...."
"Tolong katakan pada Aryan, ini hanya lelucon untuk mengeprank Aryan."
"Ibu ... tolong jangan pergi ...."
"Kenapa Ibu tega meninggalkan Aryan sendirian ...."
"Bukankah kita sudah berjanji, untuk selalu bersama, Bu? Lalu bagaimana bisa, aku menjalani hidup tanpamu?"
"Ayah pergi, sekarang Ibu ikut pergi. Aryan sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Bu."
"Maafkan Aryan, tidak sempat menolong Ibu."
"Aryan janji, akan menemukan pelaku yang sudah membuat Ibu seperti ini."
"Aryan janji, akan membalaskan apa yang mereka buat pada Ibu."
Aku menangis histeris. Cairan bening yang mengalir deras dari mataku ini, tak kuasa untuk ku hentikan. Duniaku sudah hancur berkeping-keping, dadaku begitu sesak seakan ada bongkahan batu yang menghimpit.
"Pakde sudah melaporkan kasus ini kepada polisi, biarkan polisi yang akan melakukan tugasnya untuk menemukan siapa pelakunya." Ujar pakdeku.
Sekuat tenaga, aku berusaha untuk berdiri. "Aku akan menyelidikinya Pakde, aku tidak akan melepaskan orang yang telah membunuh ibuku." Ucapku dengan mengepalkan kedua tanganku.
Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan dua sosok laki-laki berbaju putih. Pakde bersuara kembali. "Ibumu harus segera dimakamkan Aryan. Pakde sudah mengabarkan pada keluarga dan kerabat ibumu dikampung. Tidak baik jenazah ibumu jika tidak segera dimakamkan."
Kata Pakde, mereka hanya bisa menangis histeris setelah mendengar kabar buruk ini, dan mereka langsung bersiap-siap untuk datang kemari. Namun, ada juga beberapa kerabat yang tidak bisa datang. Karena jarak yang sangat jauh bisa memakan waktu berhari-hari.
***
Pagi ini, jenazah ibuku sudah berada di mobil ambulans dan siap untuk dipulangkan ke rumah. Budhe dan Bi Ani berada di mobil ambulans. Sementara aku bersama Pakdeku, dan yang mengemudi adalah Ardi. Takut jika aku yang mengemudi terjadi apa-apa, karena pikiranku masih sangat kacau.
Ketika kami sudah berada di depan rumah, terlihat semua tetangga berhamburan keluar menyaksikan kedatangan kami dan jenazah ibuku.
Semua orang memandangku dengan rasa iba. Ketika jenazah ibuku dibawa masuk kedalam rumah, tangis mereka pecah seketika, saat mereka menyaksikan tubuh ibuku yang sudah membeku.
__ADS_1
Air mataku tidak berhenti mengalir saat aku terus memandangi jenazah ibuku. Aku memeluk ibuku yang sudah terbujur kaku, sesekali mengelus wajahnya, dan menciumnya untuk yang terakhir kalinya.
Budhe menghampiri ku sembari mengusap punggungku. "Sudah Nak Aryan, Budhe ngerti, kita semua sangat kehilangan orang baik seperti ibumu. Kamu harus legowo dan mengikhlaskan kepergian ibumu. Kalau kamu menangis terus, ibumu pasti akan sedih dan tidak akan merasa tenang disana."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, tak sepatah kata pun keluar dari bibirku. Namun air mataku masih setia mengalir.
***
Jenazah Ibu akan segera dimakamkan. Kini putramu telah mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu, Ibu.
Perlahan, tanah itu menimbun tubuh kaku ibuku, sampai tanahnya tertutup dengan sempurna. Kini sudah tidak terlihat lagi tubuh wanita yang selalu ku sayangi itu.
Akupun berlutut dan membelai batu nisan yang bertuliskan nama ibuku. Makamnya tepat disisi makam ayahku. Sekarang pasti Ibu bahagia, karena sudah berada disamping Ayah.
"Saya turut berdukacita atas kepergian almarhumah ibumu, pak Aryan. Dia orang yang sangat baik dan sangat berjasa untuk kami, terutama untuk panti asuhan." Aku menoleh ke sumber suara, terlihat seorang wanita mungkin seusia ibuku, dengan tangan kanan menuntun anak lelaki yang usianya kisaran sepuluh tahunan, dan tangan kirinya menggendong anak kecil yang mungkin baru berusia dua tahun.
"Ibumu tidak pernah lupa untuk setiap minggunya selalu berkunjung ke panti asuhan, terkadang ibumu ditemani oleh seorang gadis, dia juga sangat baik pada kami." Lanjutnya, sembari menenangkan anak kecil yang di gendongnya, karena menangis.
Ya, memang setiap hari Jum'at Ibu selalu pergi ke panti asuhan, tetapi aku tidak tau jika Ibu ditemani oleh orang lain, karena Ibu tidak pernah cerita akan hal itu. Ingin ku tanyakan siapa gadis itu tapi wanita itu bicara kembali.
"Saya permisi dulu Pak Aryan. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu kembali. Saya akan merasa sangat senang jika Pak Aryan bisa mengunjungi kami." Upanya. Lalu pergi. Aku tidak menjawab dari perkataannya, hanya anggukkan dan senyum kecil dari bibirku.
Diperjalan pulang dari pemakaman, aku hanya diam. Termenung mengingat semua kejadian yang telah aku alami, terlebih kenangan manis bersama dengan kedua orangtuaku.
Budhe hanya mampu mengusap bahuku. Memberiku kekuatan agar selalu ikhlas. Namun tidak mampu meredakan kesedihan ini.
***
Sesampainya di depan rumah, keningku berkerut saat aku melihat sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman rumahku.
'Apa mungkin beberapa kerabat dan keluarga ibuku dari kampung sudah sampai?' Batinku
Tapi tidak mungkin rasanya jika mereka datang lebih cepat.
"Budhe pamit dulu. Kabari jika ada sesuatu yang terjadi. Mungkin kerabat ibumu sudah ada yang sampai." Ucap Budhe sembari menunjuk mobil yang terparkir di rumahku.
Aku segera turun dari mobil, namun Budhe dan Pakde melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor polisi karena mendapatkan kabar dan petunjuk dari pelaku.
Aku melangkah gontai menuju rumahku. Ketika aku membuka pintu rumah, terlihat di sofa ruang tamu, seorang wanita yang seusia dengan ibuku, dia sangat mirip dengan foto yang pernah aku lihat bersama ibuku. Ibu pernah bilang, dia teman baiknya. Apa mungkin dia Bu Lestari? Orang yang sudah membunuh ibuku? Seketika nafasku memburu dan mengepalkan kedua tanganku.
__ADS_1
Terlihat di sampingnya, ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan cadarnya. Dan lelaki itu? Kenapa lelaki itu ada disini? Lelaki yang ku temui di rumah sakit saat berbincang dengan pakdeku. Sebenarnya apa yang mereka lakukan disini? Kenapa mereka ada di rumah ku?
Seketika mereka menoleh bersamaan ke arahku dengan tatapan ibanya.