JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Mencurigai Melinda


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part-6


"Jika Pak Aryan atau Bu Rita tidak memiliki musuh atau masalah dengan seorang perempuan, kemungkinan besar pelakunya orang terdekat Pak Aryan atau Bu Rita."


Seketika, ucapan dari Pak Polisi itu lolos begitu saja dari pikiranku.


Lalu, aku teringat ucapan terakhir Ibu.


"Jangan pernah menyesali keputusanmu itu. Karena Melinda bukan wanita baik-baik. Ingat itu Aryan!"


Mungkinkah peringatan yang di katakan Ibu itu benar? Bahwa Melinda bukan wanita baik-baik?


Aku jadi teringat, saat sambungan telpon dari Melinda dua Minggu lalu, yang terdengar seperti sedang buru-buru. Apa mungkin waktu itu Melinda sedang bersama Ibu? Karena polisi bilang, ada orang lain yang menemui Ibu, selain Bu Lestari dan anaknya.


Jika Bu Lestari dan Aisyah tidak bersalah. Apa mungkin Melinda pelaku yang sebenarnya? Tapi bagaimana mungkin, untuk apa dia melakukan hal sekeji ini?


Apa mungkin Melinda berbohong tentang ayahnya yang sakit? Dan sengaja menghilang supaya tidak di curigai olehku?


Arrgghhttt ... rahangku mengeras, emosiku seketika naik. Dentuman jantungku yang berdegup kencang, dan kepalaku terasa nyut-nyutan, pikiranku menari kesana kemari karena memikirkan hal ini.


Jika memang Melinda pelaku yang sebenarnya, lebih baik aku menyelidikinya secara diam-diam. Akan ku cari tau sendiri, untuk apa dia melakukan hal ini.


Ku ayunkan langkahku dengan gontai, untuk segera menemui Melinda di rumahnya.


Hanya memakan waktu 5 menit saja, aku sudah berada di depan rumahnya, karena aku mengemudikan mobil ku dengan cepat.


Terlihat Melinda sedang duduk di depan rumahnya. Rupanya, dia sedang menungguku. Dengan wajah yang terlihat lesu dan mata yang sedikit sembab.


Ku tarik nafasku, ku redakan emosiku. Aku akan menghampiri dia. Aku harus bersikap seperti biasa, supaya dia tidak curiga bahwa aku sedang menyelidikinya.


"Melinda ... sayang, kamu kenapa?" tanyaku dengan pura-pura panik saat menghampirinya.


"Mas ....," lirihnya, lalu memelukku dengan isak tangisnya. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengusap punggungnya.


"Mas ... ayahku ... Ayah harus segera dioperasi," tangisnya, sembari melepaskan pelukannya.


"Berapa biaya operasi nya?" tanyaku, lalu dia mendongakkan wajahnya menatapku.


"Li--lima puluh juta, Mas ....," jawabnya gugup. Lalu menundukkan wajahnya sembari menahan isak tangisnya.


"Biar Mas yang akan membayar semua biaya operasi ayahmu," ucapku. Terlihat matanya langsung berbinar seketika.


"Terimakasih Mas, tapi aku tidak mau merepotkanmu ...."


"Kamu tidak merepotkan ku sayang, asalkan aku bisa menjenguk ayahmu. Karena dia akan menjadi mertuaku, itu artinya ayahmu juga nanti akan menjadi ayahku. Bukan kah begitu, sayang?"


Aku tersenyum remeh, seketika matanya membulat dan terlihat badannya menjadi tegang.


"Ta--tapi Mas, ayahku di rawat di luar kota, dan kamu juga pasti harus bekerja, Mas." ujarnya gugup. Terlihat dia mencoba bersikap seperti biasa.

__ADS_1


"Mas belum masuk ke kantor, karena ada Ardi yang mengurus kantor untuk sementara. Besok, kita akan menjenguk ayahmu untuk di operasi, ya sayang." Ucapku, lalu memeluknya.


"Ba--baiklah, Mas. Terimakasih sudah mau membantuku, Mas." ucapnya sembari membalas pelukanku.


'Kita lihat saja nanti, mau sampai mana kamu menyembunyikan kebusukan mu itu, Melinda.' batinku.


Kriiinnnggg ....


Kriiinnnggg ....


Ku lepaskan pelukanku dari Melinda, karena terdengar suara panggilan telepon dari ponselku. Lalu, aku segera menjawabnya.


"Hallo, Bang ...."


"Gue udah nunggu lo dari tadi. Lo jadi jemput kagak?"


"Bang Aryan. Woy budeg, jawab ...."


Terdengar teriakkan seseorang memanggil namaku dari sebrang sana. Astaga, aku lupa untuk menjemput Elvira.


"Ah, iya El. Abang segera ke sana."


Ku tutup sambungan telepon tersebut.


"Mel. Mas pamit pulang dulu ya. Mas harus menjemput Elvira keponakan Mas," ujarku pamit. Terlihat wajah Melinda langsung masam.


"Emang dia gak bisa pulang sendiri, Mas? Padahal kita baru ketemu," manjanya, sembari bergelayut di lenganku. Entah kenapa, sekarang aku merasa jijik.


"Yaudah, iya Mas. Waalaikumsalam," jawabnya. Dengan melambaikan tangannya.


Ku lajukan mobil ku, untuk segera menjemput Elvira keponakan ku.


Tiga hari setelah kepergian ibuku, beberapa kerabat ibu dan ayah datang dari kampung. Paman, Bibi, Tante, Om, Keponakanku, juga saudara jauh ku pun datang. Tentu saja mereka sangat sedih dan syok saat mendengar kabar buruk ini, bahkan Bibiku sempat tak sadarkan diri setelah mendengar kenyataan pahit ini.


Mereka menginap selama lima hari di rumahku. Terkecuali Tante Arin dan Om Saga, mereka pulang terlebih dahulu, hanya menginap selama tiga hari dikarenakan ada pekerjaan, karena Om Saga adalah juragan kelapa sawit di kampungnya.


Tentu saja aku juga mengajak Ardi, Budhe dan pakdeku untuk menginap di rumahku. Terlebih lagi, ibuku memang sering mengajak Budhe dan pakdeku menginap, bahkan tinggal di rumahku.


Saat itu, rumahku menjadi lebih ramai karena banyak keluarga dan kerabat berkumpul. Namun, tetap saja aku merasakan kehampaan tanpa ibuku dirumah. Banyak nasihat-nasihat yang mereka berikan padaku, agar aku bisa legowo untuk menerima kenyataan ini. Akan tetapi, saat ini aku belum bisa, sebelum aku menemukan pelakunya.


Setelah lima hari mereka di rumah ku. Mereka pamit untuk pulang, terkecuali Elvira. Orang tuanya menitipkan putri bungsu mereka padaku, karena Elvira akan menjadi tanggung jawab ku untuk beberapa tahun ke depan. Terlebih lagi, aku yang notabennya anak tunggal, sudah menganggap dia seperti adikku, sama seperti Ardi juga. Setelah lulus S1 farmasi, Elvira akan melanjutkan pendidikan S2 kedokterannya disini.


Yaaa ... setidaknya aku tidak terlalu kesepian dirumah. Karena ada Elvira keponakan ku yang pecicilan dan bar-bar. Yang selalu membuat kegaduhan di rumah. Walau terkadang tingkah konyolnya membuatku sedikit pusing. Apalagi jika sudah bertemu dengan Ardi sikapnya tidak jauh beda 11-12.


Seperti sekarang ini, aku pasti akan dimarahi olehnya, karena aku lupa untuk menjemput Elvira di rumah temannya jam 11 siang. Setelah Elvira menjadi mahasiswi baru di kampusnya, dia memiliki teman baru, dan sejak kemarin dia menginap di rumah teman barunya.


Kriiinnnggg ....


Kriiinnnggg ....


Kriiinnnggg ....

__ADS_1


Handphone ku terus saja berbunyi, karena Elvira terus menelponku. Aku yakin dia sudah kesal menungguku untuk menjemputnya.


Ku jawab panggilan darinya.


"Woy Bang. Lo dimana? Lama kali gue nunggu lo."


"Ya sabar El, bentar lagi Abang nyampe."


Ku tutup sambungan telepon dari Elvira. Setelah menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya mobilku berhenti dihadapan gadis yang sedari tadi menunggu untuk dijemput. Terlihat wajahnya menatap sinis ke arahku. Lalu masuk ke mobilku.


"Lama banget sih bang, sampe laper gue nunggunya," keluhnya, dengan bibir di monyongkan.


"Abang habis dari rumah Melinda, El."


"Melinda siapa bang? Pacar Abang?" tanyanya, dengan penasaran. Tak ku jawab pertanyaannya, hanya anggukan sebagai jawaban.


"Gimana temen baru lo? Pada baik-baik?" tanyaku.


"Ya baik lah. Secara kan, gue juga anak baik Bang. Tapi gue sebel sama alumni di kampus gue Bang," tuturnya, sembari merapihkan rambut pendeknya.


"Sebel kenapa?" tanyaku


"Semua mahasiswa baru di kasih tugas aneh sama alumni. Abang tau? Gue kebagian tugas nyari orang yang sama dengan tanggal dan bulan lahir gue, dan orang itu harus senior atau alumni kampus, terus harus minta tanda tangannya."


Memang, awal perkuliahan ada masa orientasi pengenalan kampus untuk mahasiswa baru.


"Yaa lo harus nyari data-data senior atau alumni kampus lo, biar lo tau tanggal lahir yang sama kayak lo."


"Untungnya gue punya temen baik Bang, karena kakaknya temen gue alumni kampus, dia udah bantu gue nyari data orang yang sama dengan tanggal lahir gue," ucapnya, sembari mengeluarkan beberapa kertas.


"Disini tertulis nama Nando Harun Abidzar, dia alumni kampus gue. Tanggal lahirnya sama kayak gue bang, 29 Februari, tapi gue gak tau orangnya yang mana," lanjutnya. Sembari menunjukkan data seseorang dari kertas tersebut.


Seketika rem mobil, ku injak mendadak. Cciiiiitttttt ....


"Aduuuhhh ... Bang, lo mau mati, hah? Kalo lo mau mati, jangan bawa gue lah, gue masih mau hidup," cerocosnya.


Ku tarik kertas yang ada di tangan Elvira, tertulis biodata singkat seseorang.


Nando Harun Abidzar, M.M., S.Gz.,


29 Februari 1991. Dinyatakan lulus dan meraih gelar Doktor dengan predikat Cumlaude Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)


Seketika ingatanku teringat ke seseorang, yaitu kakaknya Aisyah, Dokter yang menangani jenazah ibuku. Karena aku penah melihat nametag yang ada di baju Dokter tersebut, bertuliskan N.Harun.Abidzar. Apakah ini biodatanya?


Namun, bukan itu yang membuatku kaget. Tapi namanya. Aku merasa nama awalnya tidak asing, yaitu Nando. Seperti nama seseorang di masalalu. Karena sewaktu aku masih kelas 5 SD, aku mempunyai teman yang namanya Nando. Apakah dia memang teman masa kecilku? Ah, tidak mungkin. Yang namanya Nando itu banyak, bukan hanya dia saja. Kalaupun benar dia teman masa kecilku, pasti dia akan mengenaliku. Tetapi, Dokter Harun seperti tidak mengenaliku.


Aku terperanjat, saat Elvira menarik kembali kertas tersebut dengan paksa.


"Bang, lo kenapa sih? Lo kesambet, hah? Ck. Udah, awas. Biar gue aja yang nyetir, kalo lo yang nyetir, bisa-bisa gue mati mendadak," ucapnya kesal, "Mungkin lo masih banyak pikiran, Bang. Lo harus banyak-banyak istirahat deh," lanjutnya.


Dengan paksa Elvira menyuruhku duduk ditempatnya, dan dia yang menyetir. Aku hanya mengiyakan perintahnya, karena kepalaku yang mendadak pusing.

__ADS_1


__ADS_2