JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
apakah mereka bertiga pelakunya?


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part-4


Seketika mereka menoleh bersamaan ke arahku dengan tatapan ibanya. Terlihat mereka langsung berdiri saat aku menghampiri mereka bertiga.


"Siapa kalian?" Tanyaku kepada mereka bertiga.


"Apakah kau teman Ibuku?" Aku menunjuk ke arah wanita yang seumuran dengan ibuku.


"Iya Nak Aryan, kamu benar. Nama Tante Lestari, teman baik ibumu." Jawabnya. Terlihat lengkungan kecil dari bibirnya, sembari mengulurkan tangannya memberikan berjabat tangan.


"Cuihh ... teman baik macam apa kau hah? Aku tidak sudi menyentuh tangan yang telah membunuh ibuku." Bentakku mendecih sinis, dengan menepiskan tangannya. Wajahnya seketika menunduk. Terlihat raut wajah lelaki dan wanita bercadar itu kaget melihat responku.


"Ibu ...." Ucap wanita bercadar itu dengan panik. Sembari memegangi pundaknya.


"Dan kau ...." Ucapku menggantung, aku menujuk ke wajah yang bersembunyi dibalik cadarnya. "Kau pasti Aisyah, bukan? Lanjutku, bertanya.


Hanya anggukkan kecil dari wanita itu sebagai jawaban. "Kau ... wanita yang ingin ibuku jodohkan denganku. Wanita berhati busuk, yang menyembunyikan kebusukan hatinya di balik cadar ini." Lanjutku, sembari menarik ujung cadarnya, namun di tahan oleh tangannya.


Seketika nafasku memburu, rahangku mengeras dan mengepalkan tangan kiriku yang bergetar. Terlihat wanita itu mundur satu langkah dan memejamkan matanya ketakutan, saat tangan kananku, ku layangkan di udara. Ingin ku menampar wajah wanita yang berhati busuk itu, yang bersembunyi dibalik cadarnya. Akan tetapi, lelaki yang di sampingnya menahan tanganku.


"Cukup Pak Aryan! Hentikan!" Ucap lelaki yang di samping wanita itu sembari mencekal lengan ku. Kulihat rahangnya mengeras.


Ku lepaskan paksa lenganku dari cekalannya. "Siapa kau? Berani-beraninya kau menghentikanku? Bukan kah kau lelaki yang ku temui saat berbincang dengan pakdeku di rumah sakit?" Tanyaku dengan emosi yang sudah memuncak.


"Ya Pak Aryan, saya Dokter yang menangani jenazah Ibu anda. Saya Harun, kakaknya Aisyah." Ucapnya tegas.


Mendengar kenyataan ini, emosiku semakin memuncak. Tanpa pikir panjang, ku layangkan tangan kananku lalu membogem wajah lelaki itu.


Bugh ....


Bugh ....


Bugh ....


Dia tersungkur, terlihat dia merasakan kesakitan karena darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Lalu wanita bercadar yang bernama Aisyah itu membantu kakaknya bangkit.


Praaank ... tiba-tiba Bi Ani datang, dengan membawa nampan berisi tiga minuman itu tumpah.


Bi Ani gegas menghampiriku dan menghentikan aksiku. "Sudah Den Aryan. Tenangkan dulu dirimu, Den ...!" Ucap Bi Ani sembari menahan tanganku.


Kutarik lenganku dari Bi Ani. "Bibi menyuruhku untuk tenang? Sedangkan orang yang telah membunuh ibuku ada di depan mataku." Teriakku sembari menunjuk ke wajah mereka bertiga.


"Ini juga salah Bibi, kenapa Bi Ani membiarkan pembunuh ibuku masuk, hah? Bibi tau? MEREKALAH YANG MEMBUAT IBUKU MATI, BI." Teriakku, dengan membentak Bi Ani.


"Maafkan Bibi, Den ...." Bi Ani memelas, lalu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kami tidak membunuh ibumu ...." Ucap lirih wanita bercadar itu, akhirnya bersuara juga.


Aku menoleh ke sumber suara. "Kau mungkin tidak membunuh ibuku, tetapi kau Ibu Lerstari ...." Ucapku menggantung, dengan menujuk wajah wanita yang ku sebutkan namanya. "Kau yang mencekik ibuku, karena kau sakit hati atas jawabanku dari penolakan perjodohan ini, dan kaulah yang mendorong ibuku ke kolam." Teriakku sembari menunjuk wanita bercadar itu. "Bukankah begitu NO-NA AISYAH YANG TER-HOR-MAT?" Bentakku, dengan tangan kananku yang gemetar, mencengkeram kedua pipinya di balik cadarnya.


"Sudah cukup. Hentikan, Pak Aryan!" Pinta Dokter Harun dengan membentakku, lalu menepiskan tanganku dari cengkeraman pipi adiknya. "Kurang ajar, berani-beraninya Anda menyakiti adik saya." Tangannya mengepal, lalu ... Bughhttt ... seketika aku tersungkur. ****! Dia memukul perutku.


"Den Aryan ...." Teriak Bi Ani. Terlihat ingin membantuku, namun di tahan oleh Dokter Harun.


Dokter Harun menghampiriku lalu menaikkan telunjuknya di depan wajahku. "Sudah cukup Anda menyakiti Ibu dan Adik saya. Dengar baik-baik Pak ARYAN WIJAYA. Kami datang kesini baik-baik, hanya untuk mengucapkan bela sungkawa."


Ku balas pukulan itu ke perutnya. Bugh ....


"Kakak ...."


"Harun ...."


Terdengar teriakkan dari mulut Adik dan Ibunya.


"Aku tidak butuh ucapan atau rasa kasihan dari kalian. Makam ibuku masih basah. Lalu kalian datang kemari ingin membunuhku juga. Hah? Seperti yang Ibu dan Adikmu lakukan, telah membunuh ibuku, setelah menemui ibuku ...."


"Sudah cukup tuduhan-tuduhan palsu anda pada kami, karena anda tidak memiliki bukti apapun jika benar kami membunuh ibumu." Ucap Dokter Harun memotong ucapanku.


"Hentikan kalian semua!" Aku menoleh ke sumber suara, begitu juga mereka bertiga, termasuk Bi Ani.


Terlihat dua orang polisi, Budhe, dan pakdeku di depan pintu.


"Maaf, selamat siang Pak Aryan. Kami dari kepolisian telah menyelidiki dan mendapati sidik jari di bagian leher korban." Ucap salah satu polisi tersebut.


"Kalian tidak perlu capek-capek untuk menyelidikinya, karena pelakunya ada di hadapan kalian." Ucapku dengan tatapan tajam, dan menunjuk ke arah Bu Lestari dan anak perempuannya.


"Tidak. Kami bukan pembunuh." Elak Bu Lestari


"Tangkap mereka berdua Pak Polisi! Karena merekalah orang terakhir yang bersama dengan ibuku." Ucapku menahan emosi.


"Tidak. Ibu dan adikku tidak melakukan hal sekeji itu, Pak. Kami hanya di fitnah." Jawab Dokter Harun membela Adik dan ibunya.


"Tolong tangkap mereka bedua sekarang juga Pak Polisi! Atau tidak, aku yang akan memberikan hukuman itu kepada mereka. Mereka harus membalaskan rasa sakitku ini. Karena salah satu dari mereka harus mati." Ucapku tegas, dengan mengepalkan kedua tanganku, dan terlihat mereka yang ada di ruangan ini langsung membulatkan matanya.


"Sabar Nak, tolong tenangkan dulu dirimu." Ucap pakdeku, berusaha untuk menenangkan ku.


"Baik kalo begitu Pak Aryan, kami akan membawa mereka berdua ke kantor polisi, untuk dimintai keterangan." Ucap salah satu Pak Polisi itu.


Lalu, salah satu polisi itu menghampiri wanita yang bercadar, dengan membawa borgol ditangannya. "Tidak, kami tidak bersalah." Ucap wanita yang bercadar itu memberontak. Lalu, Dokter Harun mendekati adiknya. "Tenang. Kamu jangan khawatir. Kakak akan selalu disamping kalian. Kalian akan bebas, karena kakak yakin, kalian tidak bersalah." Ucapnya, sembari meyakinkan Ibu dan Adiknya.


"Cepat, bawa mereka pergi dari sini, Pak. Dan penjarakan mereka seumur hidup, atas perbuatannya!" Titahku kepada Pak Polisi tersebut.


"Baik. Kalau begitu kami permisi dulu. Kami akan menghubungi Pak Aryan segera, setelah kami mendapatkan informasinya." Jawab Polisi tersebut. Lalu pergi, dengan membawa Ibu dan Anak perempuannya, dan diikuti dari belakang oleh kakaknya.

__ADS_1


Sebelum melangkahkan kakinya keluar, Dokter Harun membalikkan badannya, dan menatapku tajam.


"Nak Aryan, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukul Dokter itu? Bukankah dia Dokter yang menangani jenazah ibumu, waktu di rumah sakit?" Tanya budheku.


"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Budhe." Jawabku, lalu pergi meninggalkan Budhe dan pakdeku yang masih berdiri di sana.


"Aryan, tunggu! Mau kemana kamu? Tanya Budhe, meneriaki ku.


Aku membalikkan badanku. "Tolong, jangan ganggu aku dulu, Budhe, Pakde. Biarkan aku sendirian!" Ucapku memohon kepada Budhe dan pakdeku. Lalu melangkah pergi meninggalkan rumah.


***


Aku akan menghubungi Melinda, berharap dia bisa membawakan ketenangan untukku.


Ku sambungkan panggilan tersebut ke nomor teleponnya.


Bukan dari Melinda, namun dari operator seluler yang menjawabnya. [Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ....]


Sudah beberapa kali aku mencoba untuk menelponnya. Namun jawaban dari sambungan telponnya tetap sama. Nomor Melinda sedang tidak aktif. Mungkin, lebih baik aku harus menemui ke rumahnya.


Dengan tubuhku yang masih terasa lemas, dan masih tersisa rasa emosi. Kulajukan mobilku menuju rumah Melinda, berharap dia ada di rumahnya, dan wanitaku ini bisa menghilangkan rasa sedihku walau hanya sesaat.


Aku baru ingat, terakhir berbicara dengan dia di telpon, setelah itu aku tidak berbincang dengannya lagi. Bahkan, aku tidak melihat dia hadir di pemakaman ibuku. Apa mungkin dia belum tau kalau ibuku meninggal?


Dengan hanya memakan waktu 10 menit. Aku sudah sampai berada di halaman rumahnya.


Rumah sederhana namun terlihat elegan, yang bernuansa kuning-abu itu masih terlihat sama seperti dulu.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum ...."


Tok! Tok! Tok!


"Melinda ... apa kamu ada di dalam?" Teriakku dari luar rumah. Ku coba untuk membuka pintu rumahnya. Namun, ternyata pintunya terkunci.


Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak, dengan membawa beberapa kayu di pundak kanannya melewati halaman rumah ini. Ku hampiri dia, lalu bertanya padanya. "Maaf Pak, saya mau tanya. Penghuni rumah ini kemana ya, Pak?"


"Saya kurang tau, kemana perginya Pak Hartono dan anaknya. Tetapi kata tetangga, ada yang melihat dia dengan anaknya dua atau tiga hari yang lalu, katanya mereka berdua sedang buru-buru. Entah mau pergi kemana." Jawabnya. "Kalau sudah tidak ada yang ingin di tanyakan, saya pergi dulu." Lanjutnya bicara.


"Oh, iya Pak. Silahkan. Terimakasih atas informasinya." Ucapku, berterimakasih padanya. Bapak tersebut hanya mengangguk, lalu pergi.


Aku memikirkan perkataan dari Bapak tersebut, pergi kemana Melinda dengan ayahnya? Kenapa tidak menghubungiku jika ada hal yang penting?


Seperti hilang di telan bumi, hilang entah pergi kemana.


Ku coba untuk menghubungi Melinda kembali. Namun, nomornya masih tidak aktif. Sebenarnya pergi kemana dia? Kenapa tiba-tiba tidak ada kabar apapun darinya.

__ADS_1


__ADS_2