JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Rumah Ardi kebakaran


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Bab-18


Setelah Ardi pulang, aku pun menyusul Ardi dan pamit pulang kepada Bu Neni pengasuh panti asuhan.


Bak di sambar petir di siang bolong, rumah Ardi tiba-tiba kebakaran.


Setibanya di depan rumah Ardi, aku melihat begitu banyak orang yang sedang berkerumun menyaksikan kericuhan yang terjadi di rumah Ardi. Terlihat rumah dengan perpaduan coklat putih nan elegan itu sedang dilahap oleh si jago merah.


Tak sedikit pula orang-orang yang sedang berbolak-balik dengan langkah yang cepat sembari membawa ember dijinjingnya yang berisikan air, untuk membantu dan berusaha mematikan api yang semakin membesar, dan tak lupa di bantu oleh pemadam kebakaran.


Mobil ambulans pun tiba, gegas langsung bersiap dengan tugasnya.


Terlihat budhe meraung-raung dengan tangisan pilunya sembari memberontak kepada orang-orang yang sedang berusaha menahan tubuh budheku. Kedua tangannya ditahan oleh beberapa orang. Terdengar jelas teriakan Budhe yang sangat histeris, "Lepas! Tolong lepaskan saya! Saya harus menolong suami dan anakku."


"Bu, tolong diamlah! Jangan masuk, di dalam bahaya!" ujar bapak-bapak yang sedang menahan tangan budheku.


Aku segera menghampiri Budhe, "Budhe, apa yang sudah terjadi? Kenapa rumah Budhe tiba-tiba kebakaran?"


"Aryan, Budhe tidak tau kenapa rumah Budhe tiba-tiba kebakaran. Ayan, to-tolong pakdemu dan Ardi ada di dalam," jawab budheku, dengan raut wajah yang sudah acak-acakan.


Saat aku hendak ingin masuk ke rumah Ardi untuk menolong Pakde, orang yang berada di sampingku menahanku. "Berhenti, Pak! Sebaiknya Bapak jangan ke dalam, apinya malah semakin besar, ada Ardi yang sedang menyelamatkan ayahnya di dalam."


"Pak, tolong selamatkan suami dan putraku di dalam," teriak Budhe.


Tak lama kemudian, terlihat pakdeku yang sudah tak sadarkan diri dibopong oleh Ardi. Ketika akan melewati pintu luar ... Bruk!


Puing-puing dari bangunan rumahnya terlempar keras mengenai punggung Pakde dan Ardi. Sehingga mereka berdua ambruk mengenai api yang ada di sisinya, seketika Ardi pun tak sadarkan diri.


"Mas Bowo ...."


"Ardi ...." teriak Budhe meraung-raung.


Gegas aku dan warga langsung menolong Ardi dan pakdeku, lalu segera membawa mereka berdua ke dalam mobil ambulans, dan langsung di larikan ke rumah sakit, Budhe pun ikut di dalam mobil ambulans itu.


Saat aku akan memasuki mobil, tak sengaja kedua netra hitamku melihat ke arah kerumunan warga, dimana salah satunya ada seseorang yang memakai Hoodie hitam dengan wajah yang ditutupi oleh masker hitam menatap tajam ke arahku. Seseorang itu sama percis yang pernah aku lihat ketika aku sedang di pemakaman ayahnya Melinda.


Ketika aku ingin menghampiri seseorang itu, seketika dia menjauh dari kerumunan warga. Aku ingin mengejarnya, tetapi keselamatan keluargaku lebih penting.


Gegas aku memasuki mobil dan mengikuti jejak ambulans dari belakang.


Setibanya di rumah sakit, Pakde dan Ardi dilarikan ke ruangan UGD. Aku dan Budhe hanya bisa menunggu di luar ruangan, sembari berusaha menenangkan budheku.


"Budhe yang sabar, kita doakan supaya Pakde dan Ardi baik-baik saja," ucapku sembari merangkul pundak budheku.

__ADS_1


Tiba-tiba Elvira menghampiriku dan Budhe yang sedang duduk.


"El, lo ada disini?" tanyaku heran.


Kenapa dia bisa ada di rumah sakit ini, bahkan aku tidak sempat memberitahunya.


"Gue lagi ada praktek di rumah sakit ini Bang, tadi di luar gue liat lo sama Budhe, jadi gue nyusul ke sini," jelasnya. "Ada apa bang? Siapa yang sakit?" tanyanya.


"Rumah Ardi kebakaran, El. Ardi dan Pakde tak sadarkan diri," jelasku.


Nampaknya Elvira tak kalah terkejutnya ketika aku memberitahunya.


Tiba-tiba seorang Dokter keluar dari dalam ruangan yang kami tunggu.


"Keluarga pasien?"


Budhe langsung berdiri dan berhadapan dengan Dokter itu.


"Iya Dok, ba-bagaima keadaan suami dan putraku?" tanya Budhe.


"Putra Ibu baik-baik saja, hanya saja tubuhnya masih lemas."


Terlihat Budhe menghembuskan nafasnya dengan lega.


"Lalu bagaimana dengan keadaan suamiku, Dokter?"


Seketika tangis budheku pecah, dan badannya terhayung lemas. Untung saja Elvira segera menahan tubuh Budhe saat hendak terduduk di lantai.


Tak lama kemudian, pakdeku di pindahkan ke ruangan ICU.


Budhe menghampiri Ardi yang sedang terbaring lemas. Seketika langsung menyambar tubuh Ardi untuk dipeluknya.


Merasakan tubuh Ardi terguncang oleh isak tangis Budhe. Ardi pun akhirnya siuman.


Dengan badan yang masih lemas, Ardi berusaha untuk duduk. "Bu, Ayah dimana?" tanya Ardi serak.


"Ayah mengalami kritis, Nak."


"Ardi harus ke sana, Bu." ucap Ardi, sembari membuka paksa selang infus yang ada di tangannya. Budhe ingin menahannya, namun Ardi segera turun dan keluar menuju ruang ICU dengan langkah yang tertatih.


"Ardi, kau mau kemana, Nak? Tubuhmu masih lemas," teriak Budhe sembari menyusul Ardi.


Aku dan Elvira pun mengekori langkah Ardi dan Budhe.


Tiba di depan ruang ICU. Terlihat suster yang akan masuk ke ruangan. Ardi memaksa ingin masuk ke dalam, namun di cegah oleh suster itu.

__ADS_1


"Maaf Pak, anda tidak boleh masuk dulu. Keadaan pasien sedang kritis, silahkan tunggu di luar!"


"Tapi sus, saya ingin melihat keadaan Ayah saya," ucap Ardi sembari memaksa.


"Kami mohon, jangan menganggu tugas kami dulu. Kami sedang berusaha untuk menangani Ayah anda," jawabnya, lalu segera menutup pintu ruangan.


Budhe menghampiri Ardi, sembari merangkul pundaknya.


"Kita tunggu di sini, Nak! Kita do'akan ayahmu, semoga bisa melewati masa kritisnya." ucap Budhe seraya menenangkan Ardi.


Tiba-tiba seorang gadis menghampiri Elvira.


"El, dari tadi aku cariin rupanya kamu ada di sini. kau masih ada praktek, dipanggil Dokter Harun. Cepat sana!" titah gadis itu. Lalu tersenyum ramah ke arah kami.


"Bang Ardi, Budhe, Elvira tinggal dulu, ya. Elvira masih ada praktek," pamitnya. "Bang Aryan, kabari gue jika Pakde sudah sadar!" titahnya padaku, aku hanya mengangguk menimpali ucapannya.


"Kami permisi dulu," pamit gadis itu dengan ramah. Lalu Elvira dan gadis itu perlahan hilang dari hadapan kami.


**


Setelah menunggu beberapa menit, pintu ruangan pun terbuka. Menampilkan seorang lelaki berumur yang memakai jas putih, dan kami segera menghampiri lelaki tersebut.


"Bagaimana Dok keadaan Ayah saya?" tanya Ardi.


"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya," jawab Dokter tersebut.


Seketika mata Budhe dan Ardi berbinar bahagia mendengar kabar baik ini.


"Alhamdulillah ...." ucap kami berbarengan.


"Kami boleh masuk, Dok?" tanya Budhe.


"Hanya satu orang yang diperbolehkan untuk masuk, itupun tidak boleh berlama-lama."


Budhe dan Ardi saling beradu pandang. "Ibu saja dulu yang masuk!" titah Ardi. Lalu Budhe pun masuk terlebih dahulu.


Aku dan Ardi masih menunggu di luar ruangan, tiba-tiba tak sengaja aku melihat seseorang yang sedang berjalan ke arah luar.


Walaupun terlihat dari belakang, seseorang itu seperti orang yang ku kenal, seseorang itu seperti ... Pak Hartono.


Tapi bagaimana mungkin, Pak Hartono itu sudah meninggal. Tidak mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali. Mungkin aku yang salah liat, bahkan orang yang mirip dengan kita pun banyak di dunia ini.


***


Ketika kamu bisa berjuang dan menghadapi musibah yang menghampirimu, maka sejatinya kamu adalah seseorang yang telah berhasil untuk membuktikan bahwa kamu adalah sosok yang kuat.

__ADS_1


-Aryan Wijaya-


__ADS_2