JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Sisi lain dari Melinda


__ADS_3

Penulis : Adeviaaa14


Bab-13


POV Melinda


Mataku membulat saat melihat satu lembar tisu yang jatuh dari atas meja.


'Gawat!' batinku.


Aku meringkuk di bawah meja makan. Aku bernafas lega, saat seseorang mengambil benda yang jatuh itu, tidak melihat ke arahku.


Kriiinnnggg!


Terdengar suara dari handphone seseorang di atas meja makan.


"Waalaikumsalam Harun. Apa? Innalilahi wa innailaihi roji'un. Iya Nak, Ibu dan Aisyah akan segera kesana,"


"Maafkan kami Jeng Rita. Kami harus buru-buru ke rumah sakit. Aku dapat kabar dari putraku di rumah sakit, adik bungsuku mengalami kecelakaan," ucap khawatir seseorang yang ku tau itu ibunya Aisyah.


"Innalilahi ... kalian harus segera kesana."


"Ya, Jeng. Sekali lagi aku mohon maaf, aku merasa tidak enak padamu. Kami telah merepotkanmu, Jeng. Mungkin lain waktu, aku datang lagi kesini dengan anak-anakku. Aku dan Aisyah pamit dulu, Jeng. Assalamualaikum." pamit mereka berdua, terdengar buru-buru.


"Waalaikumsalam, hati-hati Bu Lestari, hati-hati ya Nak Aisyah,"


Setelah mereka pulang, terdengar suara langkah kaki berjalan menuju arah dapur, aku menajamkan pendengaranku.


"Bi, kalau Aryan sudah pulang, katakan saja padanya, aku pergi menemui ibunya Ardi. Sebelum membersihkan makanan yang di meja makan, sampah yang di dapur buang dulu ya, Bi! Oh iya, makanannya nanti hangatkan lagi untuk Aryan!" titah Tante Rita.


"Baik Nyonya, saya akan membuang sampah itu dulu."


Aku yang masih berada di bawah meja makan, terdengar suara langkah kaki itu menjauhi ruang makan. Aku mengintip, terlihat Tante Rita berjalan menaiki tangga.


Saat pembantunya Aryan sedang membuang sampah, aku mengikuti langkah Tante Rita dengan pelan.


Tepat pada saat Tante Rita keluar dari kamarnya, dia sangat terkejut akan kehadiranku disini.


"Kamu? Kenapa kamu ada disini?"


"Tante tidak perlu tau kenapa aku bisa ada disini. Aku sudah mendengar semua percakapan kalian bertiga, aku tidak akan membiarkan perjodohan itu terjadi, Tante." Ucapku menahan emosi.

__ADS_1


"Lancang sekali kamu. Jadi kamu diam-diam ada disini dari tadi?"


"Ya, Tante benar. Aku mendengarkan semua apa yang kalian bicarakan."


"Baguslah, jika kamu sudah tau semuanya. Tante tidak peduli jika Aryan memiliki hubungan denganmu. Tapi ingat baik-baik, jangan berharap kamu bisa menjadi Nyonya disini, Tante tidak akan membiarkan Aryan menikahimu. Karena Tante tau kamu adalah wanita murahan dan simpanan dari pria-pria kaya yang sudah beristri," ucap Tante Rita, sembari menaikkan telunjuknya ke arah wajahku.


Mataku membulat saat mendengar perkataan dari Tante Rita. 'Bagaimana dia bisa tau pekerjaanku?' pikirku.


"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa Tante bisa tau tentangmu, Melinda. Itu sangat mudah, karena Tante sudah menyelidiki tetang kehidupanmu."


Emosi yang ku tahan dari tadi akhirnya membeludak didalam jiwaku, saat mengetahui Tante Rita diam-diam menyelidiki kehidupanku.


"Dan kamu bukan teman ...."


Bughtt!!


Seketika Tante Rita tak sadarkan diri, setelah aku memukul kepala bagian belakangnya.


Tidak. Aku tidak akan membiarkan Tante Rita memberitahu semuanya tentang kebenaran diriku pada Aryan.


Entah kenapa, pikiran jahatku memenuhi isi kepalaku.


Aku melangkah dengan pelan-pelan menuruni tangga. Aku akan memastikan pembantu itu tidak melihatku. Ketika aku berjalan menuju arah dapur, terlihat pembantunya Aryan sedang bersenandung sembari membersihkan dapur. Dengan sangat hati-hati, aku mengambil kursi dari meja makan.


Pembantu itu pingsan seketika, setelah aku memukul kepalanya dari arah belakang memakai kursi ini. Lalu aku menyeretnya ke kamar mandi, dan menguncinnya dari luar.


Aku kembali ke tempat Tante Rita yang tak sadarkan diri. Aku memegangi kedua tangannya, lalu menyeretnya menuruni anak tangga menuju halaman belakang rumahnya.


Namun, saat aku ingin menjatuhkan tubuh Tante Rita ke dalam kolam renang, dia sadarkan diri dan langsung memberontak.


'Sial, ternyata belum mati.' batinku.


"Arrgghhttt ... kamu tidak bisa membunuhku wanita ******. Akan kuberi tau semua kebusukanmu pada putraku," teriaknya, lalu mendorongku hingga aku tersungkur mengenai kursi santai yang ada di belakangku.


Tante Rita hendak berlari. Namun, aku segera bangkit dan berusaha menarik bajunya.


Aku berhasil menarik bajunya dan mencekal lengannya. "Aku tidak akan membiarkan Tante memberitahu semuanya pada Aryan. Karena aku yang akan terlebih dahulu membunuhmu, Tante." teriakku murka.


Dia terus saja memberontak. Tangannya melayang di udara, saat dia hendak menamparku, dengan sekuat tenaga aku segera mencekiknya. Sampai akhirnya tubuh Tante Rita melemah dan tak sadarkan diri.


Aku menendang tubuh Tante Rita untuk memastikan apakah dia sudah mati atau masih hidup, lalu aku memeriksa denyut nadinya. Aku bernafas lega setelah aku mengetahui bahwa Tante Rita sudah tidak bernafas.

__ADS_1


Aku menarik tubuh Tante Rita yang sudah tidak bernyawa sampai ke sisi kolam.


"Selamat jalan Tante, kau tidak bisa menjadi penghalang tujuanku. Seharusnya kau berterimakasih kepadaku, karena akhirnya kau sudah menyusul suamimu yang ada di neraka. Kalian pantas mendapatkan itu."


Byuurr!!


Dengan sekuat tenaga, aku menendang tubuh Tante Rita ke dalam kolam renang.


Karena sebentar lagi menjelang sore. Aku harus buru-buru untuk pergi dari rumah ini, karena yang ku tau biasanya Aryan akan segera pulang.


Aku melajukan motorku dengan cepat untuk segara kabur dari rumah Aryan. Saat aku sampai di halaman rumahku, aku melihat ayahku sedang duduk sembari merokok ditemani secangkir kopi kesukaannya. Aku langsung buru-buru masuk ke dalam rumah, tanpa bertanya atau menyapa ayahku terlebih dahulu.


"Heh Mela ...." teriak ayah dari luar rumah.


Aku memotong ucapan ayahku. "Melinda, Ayah! Sudah kukatakan jangan panggil nama itu jika aku berada disini," teriakku.


Ayahku menghampiriku. "Kau kenapa, hah? Kayak orang ketakutan liat setan aja. Bajumu, kenapa bajumu robek?"


Deg! Robek?


Aku baru menyadari baju lengan kananku robek. Ini pasti gara-gara tadi saat dia memberontak, sampai aku tidak menyadari jika bajuku sudah robek. 'Itu berarti robekan dari bajuku ada di rumahnya Aryan? Astaga, kenapa aku bisa seceroboh ini' batinku frustasi.


"A-ayah ... a-aku ... aku sudah membunuh Tante Rita," ucapku terbata dengan pelan.


"Apa?"


Aku membekap mulut ayahku. "Suuttt ... Ayah, jangan kencang-kencang ngmongnya."


Ayahku segera menutup pintu rumah. "Apa katamu? Kau membunuh ibunya Aryan?


"I-iya. Aku tidak punya cara lain selain membunuhnya. Dia sudah tau semuanya tentang kebenaranku, bahkan pekerjaanku, Ayah." ucapku dengan tubuh yang gemetaran.


"Bagus. Apa yang kau lakukan itu sudah benar, Mel. Seharusnya kau sudah lakukan itu sejak dulu padanya."


Aku tau perasaan ayahku sangat senang sekarang, setelah tau aku berhasil membunuh Tante Rita. Ayah mendukungku untuk menghancurkan keluarganya Aryan, bahkan sudah menyuruhku dari beberapa tahun yang lalu untuk membuat keluarga Aryan hancur.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Ayah? Robekan bajuku pasti ada di dalam rumahnya Aryan. Tidak mungkin aku kembali kesana hanya untuk mengambil kain itu, karena Aryan pasti sebentar lagi pulang," ucapku panik, sembari mondar-mandir.


"Kau bodoh, kenapa kau seceroboh ini? Pergi. Kita harus segera pergi dari sini, Mel."


"Kita harus pergi kemana?"

__ADS_1


"Ke kampung halaman nenekmu, disana sudah pasti aman."


__ADS_2