JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Suara desahan


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Bab-9


Kini aku sudah bekerja seperti biasa di kantorku, dan baru saja menyelesaikan meeting, namun ada satu meeting lagi yang harus dilakukan.


Hari ini aku mendapatkan keuntungan besar, karena telah memenangkan sebuah tender saat bekerjasama dengan perusahaan terbesar di kota ini.


Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka menampilkan sosok laki-laki, lalu dia melangkah ke arahku. "Bang, ini persiapan untuk donasi ke panti asuhan," ucap Ardi seraya memberikan sebuah dokumen.


Besok adalah hari Jum'at, biasanya almarhumah ibuku akan pergi ke panti asuhan disetiap hari Jum'at. Namun sekarang aku yang menggantikan tugas Ibu. Karena besok aku yang akan pergi ke panti asuhan itu.


Setelah memenangkan tender, aku berencena untuk menyalurkan sejumlah donasi kepada panti asuhan, seperti tempat tidur, uang, sembako dan makanan untuk anak-anak di panti asuhan.


Kini sudah satu bulan berlalu setelah kematian ayahnya Melinda, aku selalu memantau keadaannya. Sesuai dengan surat wasiat dari ayahnya Melinda, aku selalu menjaganya bahkan tak jarang aku menemani Melinda di rumahnya. Aku juga sering mengajak Melinda ke rumahku, hanya sekedar untuk makan bersama.


Aku pernah mengajaknya untuk tinggal di rumahku, namun Melinda menolaknya. Alasannya karena jika aku belum menikah dengannya, Melinda tidak akan tinggal di rumahku.


Disaat kami sering bersama, rasa cinta yang telah lenyap pun datang kembali. Bahkan aku melupakan untuk mencurigai Melinda sebagai pembunuh ibuku. Sampai pada suatu malam, Melinda memintaku untuk datang ke rumahnya karena dia merasakan kesepian. Tepat pada malam itu, pertama kalinya aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.


Saat aku datang ke rumahnya, aku di sambut oleh wanita cantik itu, dengan memakai baju tidur seksinya.


"Maaf Mas, aku merepotkan mu, memintamu untuk datang kemari di saat hujan begini, padahal Mas bisa saja menolaknya," ujarnya seraya mempersilahkan aku duduk di sofa.


"Tidak, Melinda. Mas juga mengerti. Karena Mas juga merasakan kesepian saat merindukan orang tua Mas."


"Mas, bajumu basah."


"Ya, cuma sedikit," jawabku


"Aku akan buatkan Teh hangat dulu buat Mas," ucapnya.


Melinda melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuatkan Teh hangat untukku. Tak lama kemudian, Melinda membawakan secangkir Teh itu.


"Di minum dulu Mas, Mas pasti kedinginan kan?" ucap Melinda sembari menyodorkan secangkir Teh hangat. "Mas memaksakan malam-malam datang kemari, padahal di luar sedang hujan deras," lanjutnya, terlihat senyum merekah dari bibirnya.

__ADS_1


Setelah berbincang beberapa saat dengan Melinda. Tiba-tiba Melinda melingkarkan tangannya ke leherku dari samping. Namun, aku merasakan hal aneh yang menjalar dari tubuhku, rasanya begitu panas.


"Melinda ...." ucapku parau.


"Iya sayang, kenapa Mas?" tanyanya dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Aku menatap wajah Melinda sesaat, tanpa ku duga tanganku telah melepaskan segala sesuatu yang melekat ditubuh Melinda. Lalu aku membopong tubuh Melinda ke kamarnya. Kami melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Setelahnya kami hanya bisa pasrah di atas permainan kami berdua. Terlihat Melinda begitu lihai mempermainkan permainan ini, yang mampu melenakan diriku. Terdengar racauan yang keluar dari bibir tipis Melinda. Hingga kami mencapai puncak yang sama dan tepian yang sama.


"Abang besok ke panti asuhan dengan siapa? Elvira?" tanya Ardi, membuyarkan lamunanku.


"Mana mungkin Elvira bisa di ajak ke panti asuhan. Lihat anak kecil aja Elvira selalu risih, katanya," jawabku sembari merapihkan berkas-berkas yang berserakan di meja.


Ardi menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Elvira ... Elvira ... gak kebayang gimana nanti jika sudah menjadi Ibu."


Aku mengambil tas dari kursiku. "Ardi, tolong kamu handle meeting terakhir nanti! Abang ada urusan."


"Dengan Melinda?" Tanyanya menebak dengan penasaran.


"Hmm," hanya deheman sebagai jawaban.


Aku terdiam sejenak. Seketika amarahku naik, teringat bayangan ibuku saat mengapung di belakang rumah. Tujuanku memang menyelidiki Melinda. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa aku mencintai Melinda.


"Aku masih memikirkannya," jawabku. Lalu pergi meninggalkan Ardi yang masih ada di ruangan kerja ku.


***


Aku melajukan mobilku ke arah rumah. Aku memang akan pergi ke rumah Melinda. Namun sebelum ke rumahnya, aku akan pulang terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu yang akan kuberikan kepada Melinda.


Setelah sekian lama hatiku bergulat dengan pikiranku, akhirnya aku berencana untuk melamar Melinda hari ini. Aku sengaja tidak memberitahu Melinda, karena aku akan memberikannya surprise.


Mobil yang aku kendarai, akhirnya terparkir di halaman rumahku.


Sebelum aku masuk ke dalam rumah, terlihat Bi Ani sedang menyapu halaman rumah.


"Eh Den Aryan, sudah pulang." Sapanya. Lalu tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Bi."


"Non Elvira juga ada di dalam Den." Ucapnya.


'Bukannya Elvira ada kuliah hari ini? Kenapa dia ada di rumah?' Pikirku.


Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah, dan benar saja terlihat Elvira sedang duduk bersantai dengan memainkan ponselnya.


"Lu kagak kuliah, El?" Tanyaku, membuat dia terkejut akan keberadaanku.


"Eh, Bang Aryan. Kagak. Gue cuma di suruh nyiapin presentasi buat besok," jawabnya. "Lo tumben udah pulang, Bang?" lanjutnya bertanya.


"Ada urusan," jawabku, langsung menaiki tangga menuju kamarku untuk mengambil sesuatu.


Ku simpan tas kerjaku, dan mengganti pakaianku. Lalu mengambil benda tersebut.


Saat hendak menuruni tangga terakhir, Elvira menyipitkan matanya dan menghentikan langkahku.


"Eh mau kemana Bang? udah rapih begini bawa bunga segala," tanyanya penasaran.


"Ke rumah Melinda."


"Gue ikut Bang. Gue gabut di rumah," keluhnya.


Aku berpikir sejenak, 'boleh juga Elvira ikut. Biar ada saksi bahwa aku akan melamar Melinda dan biar ku manfaatkan dia untuk mengabadikan momen bahagiaku dengan Melinda nanti.'


"Yaudah, ayok kalo mau ikut!" ajakku.


Terdengar Elvira nyengir kuda lalu mengikuti langkahku menuju mobil.


Hanya 10 menit, aku sudah sampai di halaman rumah Melinda. Namun, keningku mengkerut saat melihat sebuah mobil putih terparkir di halaman rumahnya.


Tok!Tok!Tok!


Aku mengetuk rumahnya, aku menekan handle pintu ke bawah yang ternyata tidak dikunci. 'tidak biasanya.' Pikirku.

__ADS_1


Aku memasuki rumahnya. Namun, terdengar samar suara ******* bersahut-sahutan dari arah kamar Melinda ....


__ADS_2