
Penulis: Adeviaaa14
Bab-15
Pov Melinda
Sebelum pergi ke rumah sakit bersama Aryan, aku sudah meminta dokter untuk membalutkan perban di luka kepalanya.
Hari ini aku sudah siap untuk mengajak Aryan ke rumah sakit, aku melihat diriku di dalam cermin. Cantik. Walaupun hanya pergi ke rumah sakit, aku harus tampil cantik di depan Aryan, aku membayangkan dia akan terpesona padaku.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara mobil yang terparkir di halaman rumahku. Terdengar ketukan pintu, dan aku langsung membukanya. Terlihat penampilannya yang sudah rapi dengan kemejanya. Dia menatapku cukup lama, aku tau dia pasti akan memujiku karena aku sangat cantik. Tapi ternyata dia mengomentari penampilanku karena aku memakai pakaian yang ketat.
Di perjalanan aku mencoba untuk mencairkan suasana yang hening, karena aku merasa, tidak biasanya Aryan menjadi dingin padaku. Aku memulai percakapan dengannya untuk meminta maaf karena aku tidak bisa hadir di pemakaman ibunya, akan tetapi dia acuh padaku, aku pikir dia masih belum menerima kepahitannya. Setelah itu dia menggenggam tanganku, dia menanyakan cincin yang dia belikan untukku. Tentu saja aku sangat terkejut, ketika aku baru menyadari bahwa cincin yang dia berikan untukku telah hilang, dan aku memberikan alasan kepadanya kalau aku lupa untuk memakai cincin darinya.
Setelah percakapan itu, di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Aku yang tengah sibuk memikirkan cincinku yang hilang, rasa takut tumbuh di dalam diriku. Bagaimana jika cincin itu hilang saat aku membunuh Tante Rita? Atau mungkin sikap dinginnya Aryan padaku karena Aryan sudah tau bahwa aku yang membunuh ibunya? Akan tetapi aku merasa tidak mungkin, jika hilang di rumah Aryan pasti Aryan sudah tau lebih dulu dan pasti saat itu juga Aryan akan marah padaku. Apa mungkin cincin itu hilang saat di rumah nenek?
__ADS_1
Tak terasa aku dan Aryan sudah sampai di rumah sakit. Aku menyunggingkan senyuman saat aku membuka pintu itu, terlihat seseorang yang terbaring lemah dengan kepalanya di tutupi oleh perban, itu adalah rencanaku yang memerintahkan Dokter untuk memakaikan perban di kepalanya yang hanya menyisakan mata dan mulutnya. Sialnya dia memanggilku dengan nama itu. Namun untungnya aku segera memotong ucapannya.
Aku tau dia akan memberikan sebuah kertas pada Aryan, yang berisikan meminta tolong dan membongkar semua kebusukanku, untungnya aku menyuruh seseorang untuk memantau keadaannya dan memberitahuku akan hal itu. Untung saja seseorang itu sudah merubah isi dari kertas tersebut.
Sebelum aku dan Aryan datang ke rumah sakit, seseorang yang menjaga pasien itu telah sengaja untuk memperburuk keadaannya, alhasil saat aku dan Aryan tiba disana, keadaan dia semakin lemah, dan tak lama kemudian dia tak sadarkan diri. Aku sengaja berpura-pura khawatir dan menangis di depan Aryan. Dokter bilang dia harus segera di operasi, akan tetapi setelah beberapa saat di operasi, Dokter membawa kabar bahagia untukku bahwa orang yang ku sebut Ayahku pada Aryan itu telah tiada.
Aku sengaja menangis meraung-raung di hadapan Aryan, dan Aryan menenangkanku. Aku tidak akan membiarkan Aryan mencurigaiku sedikitpun.
Saat di pemakaman, Aryan terus berusaha untuk menenangkanku. Bahkan banyak para tetanggaku yang datang, dan mereka tidak menyangka bahwa yang meninggal adalah dia yang ku sebut ayahku.
Dua Minggu berlalu, aku mendapatkan kabar buruk untukku, bahwa Aryan mencurigaiku. Karena cincinku yang hilang itu berada di tangan Aryan. Itu artinya cincinku jatuh ketika aku berusa membunuh ibunya Aryan, dan Aryan yang menemukan cincin itu di rumahnya. Tapi kenapa dia tidak marah dan menghukumku? Apa Aryan sudah menyelidikiku dari beberapa Minggu yang lalu? Tidak. Ini tidak boleh di biarkan. Aku harus membuat Aryan luluh padaku agar dia bisa melupakan untuk mencurigaiku.
Aku berusaha untuk menggodanya, dan aku juga sering mengajaknya ke rumahku. Akan tetapi sangat sulit mengajak Aryan untuk melakukan berhubungan suami istri.
Aku selalu menjebaknya, namun rencanaku selalu gagal. Akan tetapi aku rasa Aryan mulai melupakanku sebagai pembunuh ibunya. Karena aku telah berusaha membuat dia luluh kembali oleh perhatian-perhatianku pada Aryan.
__ADS_1
Tepat di malam itu, malam yang dingin dan hujan deras. Aku meminta Aryan untuk datang ke rumahku dengan beralasan aku merasakan kesepian merindukan ayahku. Aku kira dia akan menolak, akan tetapi dia memaksakan untuk datang ke rumahku. Aku sudah menyiapkan rencana baru untuk menjebak Aryan, yaitu dengan memberikan obat perangsang yang telah aku campurkan ke dalam minuman Teh hangatnya.
Setelah obat itu bereaksi ke tubuhnya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, untuk menggodanya dan membuat hasrat sek*sualnya naik. Alhasil kami pun bermain dengan pan*as. Aku pikir dia akan lihai memainkan permainannya, akan tetapi dia masih sangat pemula. Ah Aryan aku suka itu, aku wanita pertama yang menyentuhmu dan kau belum pernah di sentuh oleh wanita manapun. Aku akan membuatmu merasakan kenik*matan dari permainanku. Terbukti dia sangat terbuai dengan permainan erotisku. Hingga kami mencapai puncak kenik*matan yang luar biasa.
Setelah kejadian itu, hubungan kami semakin hangat dan romantis. Dia juga selalu menuruti semua kemauanku, bahkan aku melihat dia sudah tidak lagi membahas tentang kematian ibunya. Namun aku masih terbayang-bayang kejadian malam itu. Jika kau tau Aryan, tubuhmu menjadi candu untukku.
Sejak kematian lelaki tua itu, hidupku menjadi kesepian terutama saat di rumah. Terkadang jika Aryan tidak datang ke rumahku, aku selalu di temani oleh Om Hadi. Tentu saja kami melakukan hubungan itu setiap kami bertemu. Karena aku sudah berjanji untuk selalu memuaskan hasratnya.
Sejujurnya aku tidak selalu puas oleh pelayanan Om Hadi. Akan tetapi aku harus pura-pura merasa nik*mat saat bermain dengannya. Selain akan menambah penghasilanku, dia juga akan menambah bonus-bonus menarik. Setelah itu Om Hadi akan mengajak aku ke mall untuk belanja barang-barang branded untukku.
Waktu itu Om Hadi memaksaku untuk bertemu, dan aku meminta Om Hadi untuk datang saja ke rumahku, karena aku pikir Aryan tidak akan datang.
Tapi aku salah, inilah awal kehancuranku. Ketika aku sedang memadu kasih dengan Om Hadi, Aryan dan keponakannya memergokiku. Bodohnya lagi aku tidak tau jika Aryan sudah ada di kamarku.
Sejak saat itulah, Aryan marah besar padaku dan menamparku habis-habisan. Bahkan aku dan Om Hadi sampai di arak oleh warga. Akan tetapi bukan itu saja yang membuat emosi Aryan membeludak. Kebusukanku yang lain juga terbongkar. Kenapa aku bodoh tidak memikirkan akibatnya, ketika aku menyimpan baju itu di atas lemari. Alhasil Aryan tau jika aku adalah pembunuhan ibunya. Dan saat ini aku harus mendekam di penjara untuk beberapa tahun kedepan. Akan tetapi aku selalu mengawasi kehidupan Aryan.
__ADS_1
Kita lihat saja nanti, walaupun aku berada di penjara. Hidupmu akan hancur berkeping-keping.