JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Kebenaran Melinda


__ADS_3

Penulis : Adeviaaa14


Bab-11


Aku menarik paksa lengan pria tua itu di bantu oleh Bapak yang memakai kopiah tersebut. Namun, saat posisi kami di ambang pintu kamar sebelum membawa pria tua ini keluar, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Kedua netraku tidak sengaja menoleh ke atas lemari, terlihat ada sedikit potongan kain yang sama persis aku temukan di belakang rumahku.


"Pak, tunggu. Tolong Bapak bawa dulu keluar pria tua ini," titahku, meminta tolong kepada Bapak tersebut.


Bapak tersebut menarik paksa lengan pria tua itu "Ayok. Cepat!"


Aku segera melangkah ke arah lemari yang ada di kamar Melinda. Aku menoleh ke atas lemari, ada beberapa tumpukkan koper yang di atasnya ada balutan kain hitam, di dalam kain hitam itu terlihat sedikit kain warna merah bermotif bunga matahari.


'Apakah itu adalah baju dari potongan kain yang kutemukan di belakang rumahku?' batinku.


Untung saja tinggi badanku bisa mencapai koper yang ada di atas lemari. Aku berjinjit mencoba untuk menurunkan koper tersebut satu-persatu. Tepat pada saat aku ingin mengambil balutan kain hitam itu, ada sebuah kotak berwarna merah di belakang kain hitam itu.


Aku mengambil kain hitam, dan kotak berwarna merah tersebut, mataku membulat sempurna saat aku membuka balutan kain hitam ini, ada sebuah mini dress dengan motif bunga matahari di dalamnya, dress tersebut terlihat robek di bagian lengan kanannya.


Aku mematung seketika, jadi potongan baju yang kutemukan di belakang rumahku itu dress milik Melinda? Dan pelaku yang membunuh ibuku itu berarti Melinda? Darahku seketika mendidih, namun aku menahan emosiku saat rasa penasaranku lebih tinggi pada kotak berwarna merah ini.


Aku mencoba untuk membuka kotak ini. "Sial, kotaknya dikunci," umpatku.


Brakk!


Aku membanting kotak merah itu dengan sekuat tenagaku, terlihat semua isi dari kotak tersebut berhamburan. Banyak foto-foto Melinda waktu SMA dan kertas-kertas yang berserakan. Namun, mataku teralihkan pada foto seorang lelaki memakai baju seragam putih abu tengah duduk luar kelas. Foto itu ... itu adalah diriku.


Aku mengumpulkan foto-foto dan kertas-kertas yang berserakan di lantai. Namun, ada satu amplop tebal dan aku membukanya, di dalam amplop tersebut banyak sekali foto-foto ku. Apakah waktu SMA Melinda selalu diam-diam mengambil fotoku?


Aku membuka salah satu kertas itu, yang di dalamnya berisi tulisan. 'Aku mencintainya, dia pria pertama yang membuat aku jatuh cinta pada seorang. Akan tetapi, aku harus mengubur dalam-dalam perasaan ini, aku sadar diri, karena aku tidak secantik teman-teman wanitanya. Aryan, aku mencintaimu.' Isi dari kertas tersebut.


'Jadi, Melinda sudah mencintaiku sejak kami masih SMA?' pikirku.


Lalu aku membuka kembali kertas yang lain, yang isinya ....


'Hari ini adalah hari perpisahan sekolah. Aku bahagia karena sekarang aku telah lulus sekolah SMA, dan aku memenangkan dua piala karena aku mendapatkan peringkat pertama murid paling pintar di kelas dan peringkat ke tiga murid paling rajin di angkatan ku, dan aku juga mendapatkan full beasiswa di Universitas terkenal.


Namun, kebahagiaanku lenyap seketika, saat mereka mencegahku ketika aku berjalan kaki menuju arah pulang. Mereka merebut kedua pialaku, dan melemparnya sampai kedua pialaku hancur. Mereka adalah teman-teman sekelasku.


Saat aku tengah di-bully, aku melihat Aryan menuju ke arahku dengan sepeda motornya, aku tau dia akan pulang, karena rumah kami searah. Aku memanggilnya, berharap dia akan menolongku. "Aryan ...." teriakku. "tolong ...."

__ADS_1


Aku pikir dia akan menolongku. Namun aku salah, dia hanya melewatiku tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Aku terus di-bully oleh mereka, bahkan kali ini lebih parah dari yang pernah aku rasakan. Aku ingin meminta pertolongan, namun jalanan amat begitu sepi hanya aku dan teman-temanku yang ada disini. Sampai akhirnya salah satu teman sekelasku melempar sebuah batu yang sebesar bolla volly ke arahku dan mengenai kepalaku, saat itu tidak ingat apa-apa lagi.


Dan sekarang, aku sedang berada di rumah sakit. Aku mengalami banyak pendarahan dari kepalaku, karena kepala belakangku bocor akibat kejadian itu. Kata dokter, ini masalah serius, dan nanti malam aku akan segera di operasi. Aku berharap, aku akan segera sembuh.'


Setelah membaca dari beberapa kertas itu, entah kenapa lututku seketika menjadi lemas.


"Me-melinda, separah itukah? Bahkan saat itu dia sangat membutuhkan pertolongan dariku," ucapku, berargumen sendiri.


Aku mengingat saat terakhir kali aku bertemu dengan Melinda ketika selesai acara perpisahan sekolah, memang aku melihat Melinda sedang di-bully oleh teman sekelas kami, dan terdengar Melinda memanggilku. Akan tetapi, aku mengacuhkannya begitu saja. Aku tidak tau, jika kejadiannya akan berakibat separah itu pada Melinda.


"Apakah dia hadir kembali di hidupku, hanya untuk membalaskan dendamnya dengan membunuh ibuku? karena dia sakit hati olehku. Kuakui, dulu aku sering mengacuhkannya bahkan menoleh kepadanya pun enggan."


Tiba-tiba Elvira masuk ke kamar Melinda dan menghampiriku. "Bang ...." panggilnya. "Di luar sudah banyak warga, Melinda dan pria tua itu akan segera di arak oleh warga sini." lanjutnya.


Terlihat luka dan cairan merah yang mengalir dari pelipis dan pipinya Elvira sudah mengering.


"El, lo gak kenapa-napa?" Tanyaku khawatir.


"Gue baik-baik aja, Bang," jawabnya. "Cepet kita keluar, Bang!" Titahnya.


Aku segera membereskan barang bukti dari dress dan kotak berwarna merah itu.


"Hukum rajam saja mereka berdua!"


"Kita bakar hidup-hidup saja!"


"Pezi*nah seperti mereka harus mati!"


"Usir saja wanita ****** itu dari Desa kita!"


Aku langsung bergegas menembus kerumunan warga. Tepat aku berdiri dihadapan mereka berdua, terlihat Melinda menunduk dengan rambut yang sudah acak-acakan, dan mereka berdua sedang menutupi bagian tubuh yang sensitifnya tanpa sehelai benang pun.


"Mas Aryan ...." tangis Melinda semakin pecah.


Plakk!


Plakk!


Plakk!

__ADS_1


Aku menampar pipinya Melinda berkali-kali. Melinda menangis meraung-raung menahan sakit. Kedua pipinya sudah banjir air mata.


Aku menaikkan telunjukku yang gemetar di hadapan wajahnya. "Kau ... ternyata kau wanita ****** yang telah membunuh ibuku!" Bentakku.


"Kau wanita murahan yang telah mencekik leher Ibuku."


Dadaku bergemuruh saat amarah yang membeludak di dalam jiwa.


Aku membelalakkan mataku, saat Melinda menyunggingkan senyum kematian, lalu menghapus air matanya dengan kasar.


"Rupanya kau sudah tau semuanya, Aryan." ucapnya, menatapku dengan tajam.


Melinda tersenyum remeh. "Aku tau, sebenarnya kau sudah mencurigaiku dari dulu. Namun kau sangat bodoh, Aryan!" Teriaknya.


"Kau ...."


"Apa, hah? Yang kau katakan itu benar, Aryan. Aku yang telah membunuh ibumu," teriak Melinda. "Ingat baik-baik Aryan, aku akan membalaskan dendam seseorang padamu! Akan kubuat hidupmu dan orang-orang terdekatmu itu hancur!" Bentaknya murka, terlihat wajahnya merah padam.


Plakk!!


Tamparan keras mendarat di pipi Melinda, namun bukan aku yang menamparnya melainkan Elvira. Terlihat wajah Melinda merah tak tersisa.


Bughtt!!


Melinda tersungkur saat Elvira mengeluarkan jurus bela dirinya.


"Kau harus mati, ******!" teriak Elvira murka.


Bughtt!!


Elvira menendang dadanya Melinda. Terlihat Melinda meringis kesakitan sembari memegangi dadanya.


Aku tidak menghalangi apa yang Elvira lakukan pada Melinda, karena aku merasa Melinda pantas mendapatkannya.


"Sudah-sudah, kita bawa saja mereka berdua ke kantor polisi," ujar Bapak kopiah itu.


"Ya Pak RT, kita penjarakan mereka berdua atau kita hukum mati saja, karena mereka tidak pantas untuk hidup," ucap ibu-ibu berambut pendek.


"Ya betul, kita hukum mati saja!" ujar warga serempak.

__ADS_1


__ADS_2