JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Kematian ibuku


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part-2


Aku mencoba untuk menghubungi Ibuku. Akan kutanyakan padanya apa ia baik-baik saja.


Hampir 10 kali aku menghubungi Ibu. Panggilan itu tersambung, tetapi Ibu tak kunjung menjawabnya. Tak biasanya Ibu tidak menjawab panggilanku.


Apa Ibu sedang ke rumah Budhe? Ah mungkin saja Ibu sedang berada di rumah Budhe, dan lupa membawa ponselnya.


Namun, perasaanku semakin gelisah memikirkan Ibu. Ibu memang sering ke rumah Budhe, akan tetapi tidak biasanya jika Ibu lupa membawa benda pipih itu. Lebih baik aku coba menelpon budheku saja. Akan ku tanyakan padanya, apakah ibuku ada dirumahnya atau tidak.


Ku telpon budheku, terdengar sambungan telepon itu diterima dari sebrang sana.


"[Assalamualaikum Budhe, apa Ibu ada di rumah Budhe?]" Tanyaku dengan nada cemas.


"[Waalaikumsalam Aryan, ibumu tidak ada disini.]" Jawabnya. "[Tapi ibumu tadi menelpon Budhe, katanya jam tiga sore ini dia akan kemari, karena ada sesuatu yang ingin ibumu katakan. Sudah satu jam lebih Budhe menunggu ibumu, tapi tidak kunjung datang.]" Lanjut Budhe dari sebrang sana.


Kali ini jawaban Budhe membuatku lebih cemas. Jika Ibu tidak datang ke rumah Budhe, lalu ibuku kemana? Dan apa yang dikatakan Budheku tadi, sesuatu apa yang ingin Ibu sampaikan pada Budhe?


"[Oh, iya Budhe. Daritadi Aryan juga menelpon, tapi tidak ada jawaban dari Ibu.]"


"[Apa mungkin ibumu tertidur, sehingga tidak menjawab telponmu dan lupa untuk datang ke rumah Budhe.]" Jawab dari sambungan telpon tersebut.


Aku mencerna apa yang Budhe katakan, mungkin saja Budhe benar, Ibu tertidur.


"[Yasudah, Budhe. Aku akan pulang saja. Aku tutup dulu telponnya ya, Assalamualaikum.]" Ucapku


"[Waalaikumsalam, kabari Budhe jika kau sudah datang ke rumah, dan tanyakan pada ibumu, sesuatu apa yang ingin ibumu katakan pada Budhe.]" Titahnya.


"[Iya, Budhe.]"


Budheku adalah satu-satunya kerabat terdekat dari ayahku, dan selalu ada di saat kami susah ataupun senang.


Ku tutup sambungan telpon tersebut. Lebih baik aku pulang saja, toh pekerjaanku sudah selesai semuanya, dan sebentar lagi juga waktunya untuk pulang.


Kuayunkan langkahku menuju parkiran, namun saat melewati lobi, Ardi menghentikan langkahku "Bang, tunggu dulu. Ini berkas untuk acara meeting besok." Ucapnya


"Taruh saja di ruangan ku." Jawabku, langsung bergegas pergi menuju parkiran. Kulajukan mobilku menuju rumah dengan kecepatan sedang, karena jalanan sedang ramai dengan banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang.


Mobil melaju pelan saat memasuki gerbang tinggi. Setelah menempuh kemacetan kurang lebih 30 menit yang lumayan menyita waktu, akhirnya aku sampai di depan gedung megah yang bernuansa putih ini.


"Assalamualaikum, Bu. Aryan pulang." Teriakku dari luar rumah.


Aku memencet bel, ku coba memegang gagang pintu ternyata tidak dikunci. Aku langsung melangkah masuk, namun aku tak mendengar jawaban salam dari ibuku.


Aku merasa aneh, kenapa rumah terasa begitu sepi. Kemana Bi Ani, dari tadi aku juga belum mendapati Bi Ani. Biasanya Bi Ani yang akan membukakan pintu saat aku pulang.


Dan ... dimana Ibu? Apa mungkin benar, Ibu sedang tidur?


Kulangkahkan kakiku menuju kamar Ibu, ku ketuk pintu kamarnya ternyata tidak di kunci juga, aku membuka pintu kamar, tak kudapati ibuku di dalam kamarnya.


"Bu ... Ibu dimana ...?" Teriakku.

__ADS_1


'Jika Ibu tidak tidur di kamarnya, lantas dimana dia? Apa mungkin Ibu sedang bersantai di halaman belakang.' Batinku.


Rumah kami memang memiki kolam renang di halaman belakang, biasanya Ibu akan bersantai di sana, di kala waktu senggangnya.


Entah mengapa jantungku berdetak lebih kencang saat melangkah ke halaman belakang rumah.


Halaman belakang rumah kami memiliki pintu kaca pembatas yang agak transparan, jadi bisa terlihat jika ada orang di luar sana.


Terlihat dari dalam rumah, tidak ada Ibu atau Bi Ani di halaman belakang itu.


Tapi tunggu. Apa itu?


Apa Ibu sedang berenang? Bagaimana mungkin, yang ku tau Ibu tidak suka berenang.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Deg. Ku perhatikan air kolam itu diam dengan damai, dan yang mengapung itu tidak bergerak sama sekali.


Ku kencangkan langkahku memasuki halaman belakang.


Dua netraku membelalak, terlihat disana ...


Ibu ... Ibu yang mengapung di kolam renang itu.


Segera aku melompat memasuki kolam untuk menyelamatkan ibuku. Ku angkat tubuhnya dan membaringkan kesisi kolam.


Ku tekan dada ibuku, takut jika ada air yang masuk ke dalam tubuhnya. Ku tepuk kedua pipinya. Namun nihil, Ibu enggan untuk tersadar.


"Bu ... bangun Bu ...." pintaku panik.


Aku memeriksa nadi di tangan ibuku.


Deg. Tidak ... tidak mungkin Ibu meninggalkan aku.


Seketika langit seakan runtuh di atasku. Lemas. Seolah semua tulang tak mampu lagi menjalankan tugasnya. Tangan yang bergetar menangkup mulut dan detik itu juga hujan luruh di pipi.


Ku guncang tubuhnya pelan, berharap keajaiban terjadi pada ibuku. "Bu ... bangun Bu ... lihat Aryan! Buka mata Ibu! Jangan tinggalkan Aryan sendirian ...."


Ku rogeh ponsel yang ada di dalam saku celana, ku sentuh layar ponselku dengan tangan yang gemetar dan memencet nama budheku.


Tuuuttt ....


Tuuuttt ....


Tak kunjung di jawab dari sambungan tersebut.


"Budhe ... tolong jawab telponnya ...."


Merasakan tubuh ini terguncang, dengan Isak yang naik turun tanpa jeda, membuat dada sungguh kian sesak.

__ADS_1


Sambungan telpon itupun akhirnya terjawab.


"[Budhe ... tolong segera kemari ....]" Pintaku lirih.


Terdengar samar, suara dari ponsel itu memanggil-manggil namaku. Namun tidak aku tanggapi. Bahkan, untuk melanjutkan bicarapun aku tak kuasa.


"BI ... BI ANI ...." Teriakku histeris.


Tidak ada sahutan dari orang yang ku panggil, namun terdengar gedoran dari dalam pintu kamar mandi.


Terdengar suara teriakan Bi Ani, dari dalam kamar mandi dekat dapur tersebut. "DEN ... DEN ARYAAAN ...."


"Bibi terkunci di kamar mandi, Den ... tolong bukakan pintunya ...." Teriaknya memohon sembari menggedor pintu tersebut.


Kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju sumber suara itu. Ku coba membukakan pintu tersebut. Sial. Kenapa pintunya sulit sekali dibuka.


"Bi ... Bibi menjauh dari pintu, aku akan mendobrak pintunya, karena pintunya sulit untuk dibuka ...." Teriakku, dengan badan yang sudah lemas tak kuasa menahan kenyataan pahit ini.


Dengan sisa tenagaku, ku coba untuk mendobrak pintu kamar mandi itu.


"Bismillah ...."


Bruuukkk


Bruuukkk


Bruuukkk


Akhirnya, pintupun terbuka. Terlihat, disana Bik Ani dengan ekspresi yang ketakutan.


"Bi ... Ibu, Bi ... sebenarnya, apa yang terjadi di rumah ini ....?" Tanyaku histeris dengan mulut gemetar.


Ku cekal lengan Bi Ani dan menarik paksa menuju tempat dimana ku baringkan tubuh ibuku.


"LIHAT BI ... LIHAT ...!" Teriakku, sembari menunjuk ke arah tubuh wanita yang terbaring kaku. Wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan ku itu sudah tidak bernafas.


"KATAKAN BI ... KATAKAN ... APA YANG SUDAH TERJADI DI RUMAH INI?" Ku pegangi pundak Bik Ani. Ku guncang tubuhnya untuk segera memberi jawaban dari pertanyaanku ini.


"Aaww ...." Pekiknya. "Sabar dulu Den. Hentikan ... sadar!" Pintanya. Sembari memegangi pundaknya, ku lepaskan tanganku dari pundak Bi Ani. Kulihat Bi Ani menahan rasa sakit.


"Bibi juga tidak tahu, apa yang sudah terjadi di rumah ini, Den. Tadi ada Bu Lestari temannya Ibu dengan anaknya Non Aisyah datang kemari. Setelah mereka pergi, Ibu menghampiri Bibi. Ibu bilang akan kerumah Budhe Den Aryan. Bibi kira Ibu sudah pergi. Saat Bibi membersihkan dapur, ada yang memukul Bibi dari belakang. Setelah itu Bibi tidak ingat apa-apa lagi. Bangun-bangun Bibi sudah ada di kamar mandi." Jelasnya panjang lebar. Lututku semakin lemas, seketika aku terdiam karena syok mendengar ucapan dari Bi Ani.


Kukerutkan keningku, aku baru melihat ada bekas merah dileher Ibuku. Itu artinya, ibuku di cekik dan dengan sengaja dibunuh.


Tapi siapa yang tega melakukan hal biad*b itu pada Ibuku? Bi Ani bilang, Bu Lestari dan anaknya datang kemari. Aku sangat yakin, mereka yang melakukan hal keji itu pada ibuku.


Kedua netraku menangkap sesuatu, terlihat di dekat kursi santai, ada sepotong kain berwarna merah bermotif bunga matahari. Ku ambil benda tersebut, akan ku simpan sebagai bukti. Aku yakin kain ini dari robekan baju salah satu dari kedua pelaku tersebut.


Seketika aku teringat pada percakapan tadi pagi bersama Ibuku. Apakah Ibu dan anak itu tidak menerima, jika aku menolak perjodohannya? Lalu membalas sakit hatinya pada ibuku dengan menghilangkan nyawa ibuku?


Rahangku mengeras, nafasku memburu. Jika itu benar, aku akan membalas apa yang mereka lakukan pada ibuku. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka. Sialnya, aku tidak memasang cctv di rumahku, tapi aku akan mengumpulkan bukti-bukti yang kuat. Akan ku buat hidup mereka hancur. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.


Tiba-tiba aku merasa penglihatanku mengerucut bersamaan dengan keringat dingin. Lalu tak lama penglihatan ku kabur dan . . . gelap.

__ADS_1


__ADS_2