JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Ayahnya Melinda meninggal


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part8


"Melinda, Ayah ... Melinda ada disini, ayah akan segera di operasi, jangan pikirkan tentang biayanya, yang penting ayah segera sembuh," jawab Melinda dengan mengusap kepalanya yang ditutupi oleh perban itu.


Pria tersebut menatapku sendu, lalu menggerakkan tangannya dengan pelan menuju laci yang ada di samping kirinya, dia mengambil sebuah kertas, lalu memberikannya kepadaku. "N-Nak, i-ini ...." Belum sempat melanjutkan perkataannya, pria itu pun tak sadarkan diri dan kertas tersebut pun jatuh.


Aku mengambil kertas yang terjatuh itu, lalu menyimpannya di saku kemejaku. 'Lebih baik, akan ku buka nanti saja'. Pikirku


"Ayah, bangun ...." ucap Melinda panik. "Dok ... Dokter ... Tolong A-ayahku ...." Melinda bergegas keluar ruangan memanggil Dokter. Lalu, seorang Dokter datang memasuki ruangan ini.


"Maaf, kami akan memeriksa keadaannya, kalian bisa menunggunya diluar," ujar Dokter tersebut. Lalu, pintu pun tertutup.


Terlihat Melinda mondar-mandir dengan gelisah.


Aku pun terdiam, 'Apa aku mencurigai orang yang salah? Apa bukan Melinda pelakunya? Tidak mungkin jika Melinda membunuh ibuku, disaat dia sedang berjuang untuk ayahnya dirumah sakit? Lantas, kenapa bisa, cincin Melinda ada di halaman belakang rumah ku?' Batinku, dengan banyak pertanyaan di pikiranku.


Ceklek! Pintupun terbuka, dan Dokter tersebut menghampiri kami. "Keadaannya kritis, kaki kirinya harus segera di amputasi, karena lukanya yang cukup besar di bagian pahanya ...."


"Lakukan apa yang terbaik, Dok." ujar Melinda dengan cepat.


"Baik, kami akan segera mengoprasinya"


Seketika ayahnya Melinda di pindahkan ke ruang operasi.


"Mas, Ayah ..." lirih Melinda, terlihat cairan bening itu tumpah dari matanya.


Ku rangkul tubuhnya, memberikan kekuatan padanya. Setelah menunggu satu jam lebih, Dokter itupun keluar dari ruangan operasi tersebut.


"Dok, gimana dengan operasi ayahku?" tanya Melinda dengan khawatir.

__ADS_1


"Maafkan kami, kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Namun, Tuhan lebih menyayangi Ayah anda."


Tangis Melinda berubah menjadi raungan panjang yang semakin pilu. Aku bisa merasakan rasa sakitnya Melinda, saat kehilangan selamanya orang yang di sayangi.


"Ayah, jangan tinggalkan Melinda." lirihnya, mengguncang tubuh ayahnya yang sudah kaku.


Aku mengusap punggungnya mencoba untuk menguatkannya. "Sayang ... yang sabar ya, yang kuat."


"Mas ... ayahku, Mas. Jika ayahku pergi, lantas aku akan tinggal bersama siapa lagi, Mas. Hanya Ayah yang membuatku bertahan sampai sekarang," tangis Melinda, dengan memeluk tubuhku dengan erat. Aku merasakan guncangan saat naik turunnya isak tangis Melinda.


"Melinda. Lihat Mas! Masih ada Mas disini yang akan selalu bersamamu," ujarku, mengusap pucuk kepalanya.


***


Sore ini, jenazah ayahnya Melinda akan di makamkan. Kepergian untuk selama-lamanya menyisakan duka dan luka yang dalam bagi Melinda.


Setelah berjuang hidup karena kecelakaan yang menimpanya, Pak Hartono tak mampu menolak takdir kematian.


Aku mengerti, Melinda sangat terpukul dengan kepergian ayahnya, sama seperti yang kurasakan dulu saat kedua orang tuaku pergi untuk selamanya.


Setelah selesai berdoa, pemakaman pun mulai ditinggalkan para pelayat, dan para tetangga yang satu persatu sudah mulai pergi. Menyisakan aku, dan Melinda yang masih menangis di atas makam yang penuh dengan taburan bunga segar.


"Ayah, kenapa Ayah pergi begitu cepat ...."


"Kenapa Ayah meninggalkanku sendirian ... bahkan aku belum memenuhi janjimu."


"Bukankah Ayah ingin melihatku menikah dengan orang yang aku cintai?"


"Bukankah Ayah menginginkan seorang cucu? Lantas, kenapa Ayah pergi meninggalkanku sebelum aku memenuhi keinganmu ...." racau Melinda, bertubi-tubi. Tangisnya terdengar begitu pilu, yang sedari tadi mengusap batu nisan ayahnya.


Aku menenangkannya dengan mengusap punggungnya dari samping. "Ma-mas ... aku melihat saat di rumah sakit, Ayah memberikan sesuatu padamu," ucapnya tergagap yang terdengar pilu, terlihat matanya yang begitu sembab.

__ADS_1


Aku mengingat ucapan Melinda. "Iya Melinda ... ayahmu memberikan sebuah kertas pada Mas," jawabku, seraya mengambil sebuah kertas yang ada di dalam saku kemejaku.


"Coba lihat, Mas."


Aku memberikan kertas itu pada Melinda. Terlihat, dari lipatan kertas itu terdapat sebuah tulisan, yang entah isi tulisannya apa.


Cairan bening yang keluar dari matanya, dengan tangis yang di tahannya saat Melinda membaca dari isi kertas tersebut.


"Ma-Mas ... Ayah ...."


"Kenapa Melinda?" tanyaku, lalu menarik kertas tersebut dari tangan Melinda.


Terlihat tulisan yang tidak beraturan. Namun, masih bisa dimengerti olehku, dan aku membaca dalam hati isi dari tulisan ini.


'Nak Aryan, aku tahu bahwa putriku sangat mencintaimu. Setelah kecelakaan itu, aku merasa waktuku tidak akan lama lagi. Tolong jaga Melinda, jangan tinggalkan dia jika aku sudah tidak bersama putriku lagi. Aku menitipkan Melinda putriku padamu. Aku harap kamu bisa menikahinya.'


Sesaat aku terdiam, setelah membaca isi dari tulisan ini. Aku memang mencintai Melinda. Namun, saat aku menemukan cincin di halaman belakang rumah ku, rasa cintaku pada Melinda seakan-akan lenyap begitu saja. Karena saat ini aku masih mencurigai Melinda sebagai pelaku yang sebenarnya, walau aku belum memiliki bukti-bukti yang kuat.


"Mas ... kenapa?" tanyanya, membuatku sedikit terkejut.


"Tidak apa-apa Melinda."


"Ma-Mas ... ja-jangan pikirkan tentang isi dalam surat itu. A-aku ... aku tidak akan memaksamu untuk menikahiku ... biarkan aku pergi saja keluar kota, Mas. Karena aku juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi disini ...." ucapnya terbata. Kedua tangannya gemetar menangkup wajahnya sembari menangis.


Aku menggeleng. "Tidak, Melinda. Sesuai permintaan ayahmu, Mas akan menjagamu. Tapi ... jika untuk menikahi mu, saat ini Mas belum siap. Karena Mas masih belum bisa menemukan pelaku sebenarnya yang membunuh ibuku, Melinda."


Maatanya membelalak seketika, tatkala mendengar penuturan dariku dan wajahnya menunjukkan rasa kecewa.


"I-iya mas, aku juga tidak akan memaksamu. Terimakasih jika mas akan menjagaku," ucapnya, terlihat lengkungan tipis itu di paksakan dari bibirnya.


Awan hitampun bergerak menutupi matahari. Mendadak seberkas sinar matahari membersit dari gundukan mendung, dan gerimis pun turun bersama kilas cahaya tipis di langit. Pelan-pelan membasahi tanah.

__ADS_1


"Melinda, sebaiknya kita pulang," ajakku untuk pada Melinda untuk segera pulang, karena hujan semakin deras, lalu menuntun tangannya.


Saat aku akan membalikkan badan, kedua netraku tidak sengaja melihat seseorang memakai Hoodie hitam dengan wajah ditutupi oleh masker hitam, berdiri di dekat pohon besar menatap tajam ke arahku.


__ADS_2