JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH

JASAD IBUKU DI BELAKANG RUMAH
Melan?


__ADS_3

Penulis: Adeviaaa14


Part7


Mobil pun berhenti, akan tetapi bukan di depan rumahku. Namun, di sebuah restoran.


"Gue laper bang. Lo mau makan kagak? Kalo kagak, lo harus nunggu gue selesai makan," ucap Elvira


Kebetulan, aku memang belum makan dari pagi, hanya minum kopi dan kue kering. Tanpa ba-bi-bu, aku mengikuti langkah Elvira.


Seorang waiters menghampiri meja dimana aku, dan Elvira duduk. Lalu, kami memesan makanan.


Praannkkk ... Terdengar suara dari benda jatuh. Aku menoleh ke sumber suara, dan benar saja, seorang waiters dengan membawa nampan yang berisi makanan itu tumpah, saat tidak sengaja tersenggol oleh seorang laki-laki, mengenai baju pria tua yang sedang makan di sampingnya.


Bukannya meminta maaf, laki-laki itu langsung pergi begitu saja.


"Gimana sih mbak, hati-hati kalo jalan. Jadi kotor gini kan, baju saya," ucap kesal pria tua tersebut, sembari membersikan bajunya yang terkena tumpahan makanan.


"Ma-maaf pak ...." ujar waiters meminta maaf.


"Maaf, ada apa ini ribut-ribut?" tanya seorang wanita yang baru saja menghampiri waiters tersebut.


Seketika mataku membulat saat melihat wanita itu, wanita yang memakai baju panjang yang menutupi seluruh tubuhnya dibalut dengan cadarnya, dia seperti seseorang yang ku kenal.


"Ma-mafkan saya Bu, saya tidak sengaja menjatuhkannya, dan mengenai Bapak ini."


"Maafkan kami pak, atas ketidaknyamanan dan kekacauan ini. Saya yang akan bertanggung jawab," ucap wanita tersebut.


Saat wanita itu ingin membantu waiters membersihkan makanan yang berserakan di lantai, tanpa sengaja kedua netra kami bertemu. Aisyah ....


Ku tarik paksa lengan Elvira menuju parkiran. "El, kita pergi dari sini."


"Kenapa sih bang, lepasin. Gue mau makan," ucap Elvira memberontak dan mencoba melepaskan cekalan dari tanganku.


Tak ku pedulikan tatapan dari para pengunjung yang sedang makan di restoran ini. Bahkan, wanita itu memandangi kami dengan sorot matanya yang tajam. "Kita makan di tempat lain saja."


"Gak. Gue mau makan disini. Lepasin. Lo kenapa sih Bang, dari tadi sikap lo itu aneh tau gak."


"Masuk!" titahku, menyuruh Elvira masuk ke dalam mobil. Terlihat ekspresi kesalnya, dengan terpaksa Elvira masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.


"Kita makan di rumah saja," ucapku, tak ada jawaban dari Elvira, bahkan menolehpun enggan, hanya melirik ke jendela mobil yang ada di sebelahnya.


Arrgghhttt ... aku tidak tahu, apa yang terjadi padaku setelah melihat wanita itu. Walau wajahnya tertutup oleh cadar yang ia kenakan, tetapi aku yakin dia Aisyah, karena aku mengenali dari suara dan sorot matanya. Seharusnya aku menemuinya dan meminta maaf padanya, setelah aku menuduh dia dan ibunya. Bukan langsung pergi seperti ini. Mungkin dia juga akan berfikir bahwa aku seperti lelaki pecundang.


***

__ADS_1


Sesuai janjiku, hari ini aku akan menjemput Melinda. Kami akan pergi menjenguk Pak Hartono di rumah sakit. Aku akan memastikan, apakah Pak Hartono benar-benar sakit, atau hanya pura-pura.


Jika memang Melinda pelaku yang sebenarnya, akan ku ikuti semua permainannya, dan akan ku cari tahu apa tujuan dia membunuh ibuku.


Aku menuruni tangga, terlihat Bi Ani sedang menyiapkan sarapan.


"Elvira sudah makan, Bi?"


"Belum Den, makanan yang kemarin di beli Den Aryan juga belum dimakan."


Setelah kejadian kemarin, aku rasa Elvira masih kesal padaku. Bahkan makanan yang aku pesan untuknya pun tidak dia makan.


"El ... sarapan dulu!" teriakku memanggil Elvira.


Orang yang ku panggil pun akhirnya keluar dari kamarnya, dengan pakaian yang sudah rapih. Lalu melangkah menghampiri ku ke meja makan. Baguslah, dia tidak marah lagi pada ku, buktinya dia terlihat seperti bahagia.


"Lo mau kemana? Tumben, pagi-pagi udah rapih?" tanyaku


Wajahnya menoleh ke arahku dengan tatapan sinisnya, tetapi Elvira tidak menjawab pertanyaanku. Terlihat Elvira menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Sebenarnya gue masih kesel sama lo Bang, tapi gue gak mau ngancurin mood gue sekarang gara-gara lo kemarin," ucapnya sembari mengunyah, terlihat cipratan air liur jatuh dari mulutnya.


"Gue ada janji, mau menemui alumni kampus gue itu, untuk minta tanda tangannya," lanjutnya.


"Maksud lo Dokter Harun?" tanyaku.


"Ya. Dia Dokter yang udah ngurus almarhum Ibu gue, El."


"Tol-ol. Kenapa lo gak bilang dari kemaren sih Bang, tau gitu gue kemaren minta anter sama lo buat minta tanda tangannya ... kayaknya lo emang seneng bikin mood gue ancur deh Bang. Dahlah, gue berangkat sekarang Bang," ucapnya dengan kesal, lalu meninggalkan sarapannya yang belum habis.


"Lo berangkat sama siapa?"


"Temen gue." Teriaknya.


Setelah selesai sarapan, aku bergegas pergi menuju rumah Melinda. Tidak butuh waktu lama, aku sudah sampai di depan rumahnya.


Tok!Tok!Tok!


"Assalamualaikum, Melinda."


"Waalaikumsalam ...." jawab Melinda dari dalam rumahnya.


Ceklek! Pintupun terbuka, menampilkan sosok perempuan cantik dengan wajah yang dipolesi makeup tebal, dengan memakai pakaian yang ketat sehingga membentuk lekukan tubuh seksinya, dan terlihat sedikit terbuka di kedua belahan dadanya. Ku akui memang Melinda sangat cantik.


"Apa kau akan memakai baju seperti ini, Melinda?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa Mas, jika aku memakai baju seperti ini?"


Bukannya aku melarang dia memakai baju seperti itu, tapi yaaa ... setidaknya dia memakai baju yang sedikit lebih sopan saat akan keluar, bukan memakai pakaian yang seperti kurang bahan ini.


"Hmmm ... tidak apa-apa. Yasudah, kamu sudah siap berangkat?"


"Sudah, Mas."


Kamipun bergegas masuk kedalam mobil. Ku lajukan mobilku dengan pelan, karena dijalan sedang macet-macetnya oleh kendaraan yang berlalu-lalang.


"Mas ...." ucapnya sembari memegang tanganku.


"Hmmm ... kenapa?"


"Maaf, aku tidak hadir saat pemakaman ibum ...."


"Tidak masalah," ucapku memotong perkataannya. Teringat tentang ibuku, akan ku tanyakan sesuatu padanya.


"Melinda?" Aku menggenggam tangannya. "Dimana cincinmu? Cincin yang ku berikan untukmu?"


Terlihat wajahnya pucat seketika, saat aku menanyakan hal itu. Beberapa saat, dia terdiam.


"Ci-cincin? Ah ya ... aku lupa memakainya, Mas."


"Kau lupa memakainya, atau ... cincin itu hilang, Hm?"


Seketika dia menegang seperti maling yang sedang ketahuan mencuri.


"Aku lupa memakainya, Mas." ucapnya, lalu melepaskan tangannya dari genggaman tangan ku.


'Aku tau kau berbohong Melinda, kau bukan lupa memakainya, tapi cincin itu hilang saat kau membunuh ibuku, karena saat ini benda bulat itu ada di tanganku dan sudah ku simpan dengan aman.' Batinku.


Hening. Setelah percakapan itu, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Mobilpun berjalan dengan kecepatan sedang, namun terasa sangat lambat bagiku.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobil pun berhenti tepat diparkiran rumah sakit.


"Ayo, Mas." ajaknya.


Aku mengekori langkahnya sampai di depan ruangan dimana ayahnya Melinda di rawat.


Melinda pun membuka pintu ruangan tersebut. "Ayah ... Melinda datang ...."


Saat aku masuk, aku mematung seketika, tatkala melihat seorang pria berumur sedang terbaring lemah. Hampir seluruh wajahnya diperban, hanya menyisakan bagian kedua mata dan mulutnya, dengan beberapa luka ringan dibagian tangannya.


Jadi, apa yang dikatakan Melinda bahwa ayahnya kecelakaan itu benar? Dan dia menghilang selama dua Minggu bukan untuk menghindar, melainkan menemani ayahnya di rumah sakit.

__ADS_1


"Me-melan ...." ucap serak pria yang sedang terbaring lemah itu, namun matanya membulat seperti ketakutan saat melihat Melinda.


__ADS_2