
Siti nampak khawatir sekali, melihat orang-orang dengan bakat memukau, sekarang tibalah gilirannya.
Aldo yang baru datang langsung duduk melihat Siti, dengan tatapan mengejek
"Lihatlah gadis kampung itu, apa yang dia lakukan didepan sana, apa dia mau melakukan pertunjukan badut?"Aldo tak pernah seantusias ini biasanya,jika ada acara penerimaan mahasiswa baru.
"Kau bersemangat sekali Aldo, untuk menonton bakat mereka"Jaka menggodanya
"Apa yang ada diotakmu itu, kau lihat Sarah, dia sangat cantik dan sempurna, mana mungkin aku tertarik dengan sampah kampung sepertinya!" lagi-lagi mereka terdiam
"Ayo tunjukkan bakatmu" Aldo berteriak dan membuat semuanya kaget, karena yang terdengar hanya suara lantangnya saja, membuat Siti semakin gemetar, karena melihat Aldo yang berteriak dibelakangnya.
"Astaga, apa yang sedang dia lakukan dibelakang sana, kenapa harus ada disini"Ratih menundukkan kepalanya,dia benar-benar merasa tidak nyaman saat ini.
"Ya ampun Siti, kamu langsung disemangati kakak tampan itu langsung"Dela dan Lidya nampan sangat bahagia
"Itu artinya dia menyukai kelompok kita"para gadis yang lainnya juga berucap.
Hanya Siti saja yang masih tertunduk lesu dengan tak berdaya
"Kalian tidak tau, jika sebenarnya dia sedang mengincarku, karena sakit hati, aduh"
panitia yang lain langsung menyuruh tim Siti, lagi, karena kelompok mereka mendapatkan giliran terakhir.
"Ayo sekarang tim Kelinci"
teman-teman satu tim-nya langsung bersorak memberikan semangat
"Siti semangat, kita berbeda dari yang lain, jika yang lain menunjukkan bakat yang bagus, kita menunjukkan bakat yang jelek ayo" Raka memberikan dukungannya
"Raka!" Dela melotot, begitu juga Lidya dan yang lainnya.
Siti langsung menarik nafasnya dalam-dalam, dengan satu tarikan, dia membacakan lantunan ayat suci Al-Quran, semuanya langsung terdiam,tak menyangka jika bakat yang akan ditunjukkan oleh Siti,adalah mengaji.
"Siti" Dela langsung berdecak kagum, begitu juga yang lainnya.Dan giliran Aldo,Boy, dan Jaka yang terpana.
"Surat Al-mulk" ucap ketua panitia,
mereka semua mendengarkan dengan seksama lantunan surat Al Mulk, tak ada yang menyangka jika Siti akan membaca surat tersebut, mereka mengira gadis itu akan bernyanyi.Siti teringat nasehat dari ayahnya, 'Jika banyak manusia yang berlomba-lomba untuk mengejar dunia, maka jadilah berbeda anakku, kau harus unggul dalam perihal akhirat, kelak dialah yang akan menjadi penyelamat dalam setiap langkah'.
Ucapan ayahnya membuat dia yakin, jika akan berhasil mendapatkan segala tujuan yang akan dia kejar.
__ADS_1
"Shodaqollahul Adzim" semua mahasiswa langsung bertepuk tangan
"Calon istri idaman" teriak salah satu mahasiswa laki-laki yang berada dihadapannya.
"Adem banget Siti, kamu membuat hati Abang langsung nyess" ucap Raka
Aldo tak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang Siti berbeda, dia istimewa dan memiliki talenta luar biasa, dibandingkan para gadis di zaman sekarang.
"Aku rasa aku jatuh cinta padanya" ucap Boy
dengan memegang dadanya.Mendadak hari itu Siti jadi terkenal satu angkatan.Walaupun yang memiliki wajah cantik dan rupawan banyak, tapi Siti istimewa, dia memiliki suara yang luar biasa, dengan hukum tajwid yang benar dan tepat saat membacanya.
Ketua panitia pun langsung menyuruh mereka untuk segera, duduk kembali, dan pengumuman pemenang akan di umumkan besok pagi, saat mereka akan berangkat, tentu saja fasilitas akan segera diberikan saat pemenangnya akan di umumkan.
"Siti, kamu keren sekali"ucap teman-temannya memberikan pujian.
"Aduh biasa saja kok, teman-teman, karena aku tidak percaya diri dengan suara nyanyian ku, lebih baik aku mengaji saja"ucap Siti dengan rendah hati
"Siti sepertinya kau sudah mencuri hatiku" ucap Raka dengan menutup wajahnya.Semuanya pun langsung tertawa geli melihat tingkah Raka yang menggoda Siti.
.....
"Sial!, kenapa dia jadi di elu-elukan di kampus, kampungan sekali,hanya mendengar suara orang mengaji saja, seperti itu, norak!"
"Aku akan memastikan jika bukan mereka yang akan menjadi pemenangnya, karena ini bukan acara keagamaan, ini acara kampus, tentu saja harus memilih yang mempunyai bakat luar biasa"
dia juga langsung melemparkan tas nya, kesembarang arah, tapi para pelayan di rumah nya sudah siap untuk mengambil, sepatu dan tasnya, untuk di taruh di tempat yang seharusnya.
"Capek sekali!" Aldo langsung naik ke atas untuk masuk kedalam kamarnya.Tapi dia lupa jika tadi telah melakukan kesalahan yang membuat kakaknya terkena imbasnya.
"Aldo!" teriak Bela dengan berkacak pinggang.
"Kak Bela.."Aldo langsung memandanginya yang saat ini sudah memangkas habis rambutnya, dia jadi seperti seorang laki-laki imut.
"Habislah aku"Aldo langsung berlari masuk kedalam kamarnya, dan buru-buru langsung mengunci pintu.
"Cepat buka pintunya!, atau aku akan mendobrak pintu kamarmu ini, cepat buka!" teriakan Bela, membuat seisi rumah panik, karena tak pernah mendengar Bela yang begitu marah.
"Kak, ampuni aku, aku minta maaf, aku tak sengaja membuat rambutmu menjadi seperti itu, lagi pula itu bukan salahku, kau sendiri yang selalu dekat dengan gadis kampung itu!"
Aldo berteriak dari dalam kamarnya, sungguh tak ada yang menyangka jika Aldo di rumah, dan di luar adalah dua orang yang memiliki kepribadian berbeda.
__ADS_1
"Katakan padaku Kak, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku!"
."Aku tidak mau tau, kau juga harus menbotakkan kepalamu seperti ku, atau aku akan melaporkan pada Mama, jika kau memiliki kekasih yang tidak tau diri itu, aku tidak menyukai kekasihmu itu!" teriak Bela
"Kak, jangan lapor Mama!, tapi jangan juga di botakin rambutku, Sarah tidak suka dengan pria botak"
"Bukan urusanku!, aku malah bersyukur jika kau bisa putus darinya, karena kau anak lelaki dirumah ini, jadi tentu saja Mama akan mencarikan perempuan terbaik untuk menjadi penerus keluarga kita"
"Kakak jahat, aku akan mengatakan pada Mama, kau tak membelaku, saat aku di tampar perempuan, kakak malah diam saja, ingat kak aku ini adikmu!" Aldo sengaja mengulur waktu,agar mereda emosi kakaknya
tapi ternyata, Bela semakin marah saja.
"Kau mau keluar dari kamar, atau aku akan mendobraknya, tinggal kau pilih saja, mau bagaimana, jangan membuat aku kehilangan kesabaranku Aldo!" teriakan seorang kakak perempuan, lebih mengerikan pada seekor singa besar di hutan.
"Satu, dua,ti..."
Aldo langsung membuka pintu kamarnya, dan ternyata Bela sudah siap dengan gunting ditangannya.
"Kak jangan!"
sepuluh menit kemudian
"Nah sekarang kan aku jadi bahagia, karena kepala kita sudah sama bentuknya, kau kelihatan tampan sekali,dengan kepala plontos itu, seperti seorang perwira yang berwibawa"
Aldo hanya diam saja, menatap wajahnya dengan pasrah, karena saat ini dia kehilangan rambutnya.
"Saat ini aku hanya butuh cream penumbuh rambut" Aldo menatap Bela, yang sangat puas dengan hasilnya.
"Kenapa?, apa kau mau marah padaku,aku congkel kedua matamu, baru tau nanti!"Bela menunjuk mata Aldo dengan kedua jarinya.
"Sekarang aku bisa melanjutkan tugasku"
Bela langsung pergi, dan meninggalkan Aldo yang murung.
Brum...brumm..
terdengar suara mobil meninggalkan parkiran
barulah Aldo berani, bersuara.
"Dasar keterlaluan, kenapa dia begitu menyeramkan sekali, seharusnya Mama dan papa yang marah, tapi dia begitu mengerikan, seperti monster betina yang siap menelan musuhnya!" para pelayan hanya menunduk melihat Aldo yang marah-marah
__ADS_1
"Kalian semua, kenapa diam saja, seharusnya tadi kalian membantu aku untuk menangkapnya!"Aldo melotot pada mereka semua.