
Siti pun memilih untuk tetap memejamkan matanya, karena ini untuk pertama kalinya dia pergi jauh dari keluarga
"Nak, Siti sebaiknya istirahat saja dulu, setelah sampai di kota, bapak akan membangunkan kamu"
ucap Pak Bento.
Pak Bento dan Siti tak hanya berdua saja, karena di belakang mobil, ada dua orang anak buah yang selalu menemani nya, untuk bongkar muat hasil panen kedalam mobil
"Baik Pak" Siti mengangguk perlahan, karena memang dia sangat mengantuk, karena beberapa hari ini sama sekali tak bisa beristirahat dengan tenang, karena memikirkan nasib kuliahnya
Mobil melaju dengan cepat, tapi karena perjalanan tak terlalu mulus , beberapa kali pak Bento berhenti, untuk mendinginkan mesin mobil dan juga berisitirahat, tapi karena Siti sangat mengantuk, dia tak menyadari hal itu, di tambah pula suasana malam perjalanan dari desa ke kota sangat lah sejuk dan dingin sekali, semakin membuat Siti tak bisa membuka matanya.
Tak terasa sepuluh jam diperjalanan akhirnya mobil sayur tersebut berhenti di kampus yang mereka tuju.
Pak Bento pun langsung membangunkan Siti,
"Nak, bangunlah kita sudah sampai" ucapnya dengan lembut, Pak Bento tahu bagaimana Siti sangat di manja dan di ratu kan orang tuanya
perlahan Siti pun membuka matanya,
"Iya Pak, apa kita sudah sampai?" mengucek matanya
"Jam berapa sekarang Pak?"
Siti masih terlihat berat untuk bangun, karena ini masih terlalu pagi
"Jam enam pagi, dan ini kampus nya Nak, tapi bapak tidak bisa berlama-lama di sini, karena sayur-mayur ini harus segera dibawa kepasar,tapi jangan khawatir, Nak Siti nanti bisa mencari kos-kosan di sekitar sini"
Siti pun mengangguk mengerti, baginya itu bukanlah hal yang menyulitkan, dia juga sudah sering membaca beberapa kali, artikel tentang kehidupan kampus dan lingkungan sekitarnya,
dia pun langsung turun dari mobil,
berikut barang-barang nya yang tidak terlalu banyak, karena Siti memang berniat untuk membeli saja perlengkapannya di kota
"Terimakasih Pak" sambil mencium tangan supir kepercayaan keluarga nya tersebut.
hal itu sangat lumrah dia lakukan, pada orang yang lebih tua, sekalipun dia hanya anak buah di keluarga nya, sungguh didikan sopan santun yang sangat luar biasa sekali di keluarga nya,tanpa memandang rendah status sosial orang lain.
"Selamat berjuang Nak"
mobil truk sayur itu pun langsung berangkat pergi meninggalkan Siti seorang diri didepan gerbang kampus, tertulis dengan sangat besar nama kampus tersebut
"Universitas Negeri Konoha"
sungguh benar-benar takjub sekali dia melihat gedung yang sangat tinggi dan luas tersebut, apa lagi untuk pertama kalinya dia sampai di kota ini,
bentuk bangunan yang sangat megah sekali,sama sekali tak ada di kampung nya
karena dia datang terlalu pagi, tak ada mahasiswa ataupun mahasiswi di kampus tersebut, namun itu tak membuat nyali Siti menjadi ciut, justru dia semakin percaya diri untuk melangkah masuk kedalam area kampus
"Sebaiknya aku masuk saja kedalam dulu, untuk mandi, setelah itu aku akan berkeliling untuk mencari kos-kosan disekitar sini
baru saja dia melangkahkan kaki,
seorang satpam langsung menghampirinya
"Maaf Nona, anda mau kemana?"
Siti pun langsung menjelaskan perihal dirinya
__ADS_1
lalu satpam pun mengizinkan untuk nya masuk kedalam,apa lagi sepertinya dia sudah tak terlalu kaget melihat Siti, karena banyak Siti-siti lain dari desa yang memang datang pagi-pagi seperti ini untuk melanjutkan studinya
"Kalau begitu, saya boleh menitipkan barang-barang saya di sini ya Pak"
"Ya Nona,taruh saja di sini tidak apa-apa" ucapnya dengan baik, karena Siti yang juga berlaku sangat sopan dan ramah padanya, sehingga membuat dia dengan mudah bisa akrab dengan siapapun juga
"Kalau jam segini pihak administrasi kampus belum datang Nona, biasanya jam delapan pagi"
Siti pun tersenyum "Kalau begitu saya mau numpang membersihkan badan saja dulu Pak" ucapnya dengan sopan
dia melihat jam tangannya yang ternyata masih jam enam, berarti masih ada waktu sekitar dua jam lagi,
"Baiklah silahkan Nona"
Siti pun tak membuang-buang waktu dia langsung buru-buru, mandi dan mengganti pakaiannya, setidaknya ada waktu dua jam lagi untuk dia mencari kos-kosan di sekitar kampus, karena aktivitas kampus di mulai pukul delapan pagi
"Syukurlah setidaknya aku sudah kembali segar, karena semalaman berada di dalam mobil"Siti langsung buru-buru keluar untuk segera mencari kos-kosan didekat kampus
Siti pun. langsung kembali menuju pos satpam untuk segera mengambil barang-barang miliknya
"Terimakasih sebelumnya Pak"
Siti pun langsung keluar
tapi kemudian security tersebut langsung memanggil nya
"Nona, maaf sebelumnya apa anda sedang mencari kos-kosan?"
Siti pun langsung berbalik" Ya Pak, saya memang sedang mencari kos-kosan yang ada disekitar kampus"
"Nah, kebetulan sekali Nona, di sini banyak sekali mulai dari yang murah sampai yang sangat mahal sekalipun ada, tinggal Nona mau yang budget berapa? dan juga murah, kalau kamu mau saya akan menelpon istri saya untuk mengantarkan kamu , nanti biar dia juga yang menemani kamu untuk daftar ulang," Siti terdiam sebentar untuk berpikir, lalu dia pun mengiyakan apa yang di tawarkan oleh security tersebut
"Baiklah kalau begitu, ini akan lebih baik" bagi Siti yang terpenting adalah saat ini pakaian yang dia bawa saat ini, bisa berada pada tempatnya, jika nanti tidak sesuai bisa pindah ke tempat yang lain.
karena dari penampilannya begitu sederhana dan sama sekali tidak seperti orang-orang kaya pada umumnya, dia tidak tahu jika perekonomian orang-orang di desa itu banyak lebih baik, makanya memilih untuk bertahan di desa,namun itu tadi tingkat pendidikan dan pola pikir mereka banyak yang kurang maju.
"Ayo kita berangkat sekarang" ucap Siti
Untuk mempersingkat waktu, karena jam delapan dia harus sudah berada di kampus kembali.
"Tunggu sebentar Nona, aku akan menelpon yang punya kuasa"
Siti terdiam heran "Maksudnya mempunyai kuasa bagaimana?"
"Yang mempunyai kuasa atas segalanya" mode serius
Siti langsung heran lagi " Punya kuasa yaitu Tuhan" ucapnya dengan tersenyum mengajak bercanda
tapi kemudian langsung datang
seorang perempuan yang cukup berumur menghampiri mereka
Siti terlihat kaget karena istrinya terlihat lebih tua dari suaminya, namun tak sempat dia utarakan takut menyinggung mereka.
"Nona aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, jadi tak perlu khawatir dengan apa yang namanya Mbak Mumun, kalau orang yang pertama kali melihatnya, memang sering mengira dia adalah ibu saya, Tapi sebenarnya dia jauh lebih muda dari saya "
Siti pun langsung tersenyum dengan tidak enak, karena memang dia terlihat tua.
Namun dia malah menyadari mungkin saja Mbak Mumun kelihatan tua dari umurnya karena faktor ekonomi, lihat saja pagi-pagi sekali sudah berada di kampus.
__ADS_1
"Mamiii, ini yang mau ngekost dirumah kita"
Lagi-lagi Siti kaget mendengar panggilan dari security tersebut untuk istrinya, "Mami?"
panggilan yang sangat khusus menurut Siti, tapi di kota itu adalah panggilan biasa, siapapun bebas menggunakan panggilan tersebut
Soalnya kalau di kampung, panggilan mami Papi, itu anak juragan yang sangat kaya raya, walaupun di kampung nya tak ada yang menggunakan panggilan tersebut, karena terlalu modern dan kebarat-baratan. namanya juga hidup di kampung harus tebal telinga
"Ayo sekarang mau lihat kontrakannya?"
ucap suami Mpok Mumun
"Oh, jadi ini yang mau ngekost di rumah kita?"
dia memandang dengan sinis
"Iya Mbak saya Siti?"
Siti mengulurkan tangannya, tapi mbak Mumun sama sekali tak membalasnya malah langsung saja berjalan melewatinya untuk mengambil mobil yang sedang terparkir
"Ayo angkat semua barang-barangmu kita akan segera kerumah saya "
Nah ternyata benar kan, jangan menilai seseorang dari pekerjaannya, Siti sangat kaget sekali, saat mbak Mumun menyetir mobil yang lebih bagus dari mobil milik ayahnya di kampung, dan hebatnya lagi dia yang menyetirnya sendiri seorang perempuan, benar-benar membuat Siti memujinya, padahal kalau di kota-kota besar itu adalah hal yang lumrah dan sangat biasa.
"Jadi kamu dari desa mana?"
Siti langsung kaget mendengar mbak Mumun mengajaknya berbicara, walaupun sebenarnya dia ingin tertawa karena mendengar nama Mumun, seperti nama tokoh film horor yang viral yang sering dia tonton di kampung.
"Desa X Mbak"
Langsung tersenyum dengan ramah
sekaligus kaget juga mendengar nama Desa yang disebutkan oleh Siti
"Wah jauh sekali ya, bukannya desa X itu jauh di atas kaki bukit?"
"Iya Mbak memang benar, jauh sekali desa saya, akses listrik juga belum merata, kebanyakan juga hanya mengandalkan mesin genset,dan selebihnya beberapa penduduk juga masih menggunakan lampu tempel, makanya saya ingin mengubah desa saya menjadi lebih maju dengan pendidikan yang saya tempuh disini"ucap Siti dengan penuh keyakinan
Mbak Mumun pun langsung tertawa
"Ya ampun mulia sekali pikiran kamu ya,
tapi saya sudah sering mendengar beberapa anak desa yang berbicara seperti kamu ini saat baru tiba di kota, namun setelah beberapa bulan tinggal di kota, beberapa orang dari mereka terjebak kehidupan hedon ibu kota, ada yang sampai jadi,maaf ya simpanan Om-om bahkan ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah lagi, harapan diawal tadi hancur ditengah jalan"
Siti terdiam mendengarkan ceritanya, tapi dari cerita yang disampaikan Mbak Mumun dia kembali mengambil hal positif jika harus berhati-hati dalam menjaga diri.
"Nah itu kos-kosannya "
Akhirnya mereka sampai disebuah rumah yang cukup sederhana, tapi tak begitu mewah juga. Siti pun turun dan langsung membawa semua barang-barangnya.
"Itu kompor minyak jangan dibawa masuk kedalam kamar, bisa berbahaya, karena di sini anak-anak kos makannya catering dengan saya, kalau mau cuci baju juga tinggal laundry saja, jadi kamu cukup belajar dengan baik di kampus"
"Oh begitu ya Mbak"
Siti langsung mengeluarkan uang dari tasnya dan memberikan pada Mbak Mumun
"Mbak apa uang segini cukup untuk saya bertahan selama dua minggu?"
menunjukkan uang dua puluh juta yang diikat mengunakan karet dengan gulungan yang cukup tebal, tentu saja Mbak Mumun langsung kaget, melihatnya.
__ADS_1
"Kamu anak juragan ya di kampung?!"
matanya terbelalak