
Mariam langsung berlari mengejar Siti yang sedang membela nya, sayang nya dia hanya terdiam saja melihat Aldo, yang sedang memegang wajah nya dengan kesakitan.
"Siti ayo kemarilah" langsung menarik tangan Siti, untuk menjauh dari Aldo, karena Mariam tahu bagaimana mengerikannya Aldo jika sedang marah besar.
"Mariam apa yang kau lakukan, kenapa kau takut?"
Mariam tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, karena ini menyangkut banyak hal, tapi dia memilih untuk menenangkan Siti dahulu
"Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu saja Siti"
"Sudah jangan khawatirkan apapun Mariam, aku akan membuat nya menyesal karena telah memperlakukan mu dengan buruk"
Siti langsung menepuk pundak Mariam
Mariam nampak ambigu, tapi dia juga tak mungkin mengatakan pada Siti, jika laki-laki yang baru saja dia tampar adalah adik kandungnya sendiri. Apalagi posisinya saat ini sedang bertugas, dan menyamar menjadi mahasiswi untuk menangkap mafia pengedar obat-obatan terlarang, yang berada di dalam kampus tersebut.
Menurut seorang informan yang memberikan informasi, di kampus tersebut, banyak sekali yang menjadi pengedarnya.
Tentu saja sebagai seorang polisi wanita yang bertugas dia harus menjalankan perintah, apa lagi ini menyangkut kepentingan masyarakat dan keselamatan anak bangsa, jiwa muda adalah generasi selanjutnya yang harus membangun bangsa ini menjadi lebih baik.
"Sakit sekali, dasar perempuan kampung!"
Aldo memegang wajah nya
“ Mariam, selama aku ada disini, kau tak perlu khawatir kan apapun, aku akan menjagamu. Dia hanyalah manusia yang tak berguna, dengan titipan harta yang tak dimanfaatkannya dengan baik"
Siti benar-benar tak menyadari jika di kota, pemilik kedaulatan tertinggi adalah mereka yang memiliki uang, apapun bisa mereka kontrol dan kuasai, apa lagi dia tidak tahu bagaimana sepak terjang seorang Aldo.
Mariam hanya tertunduk tak berani menatap Aldo,adik laki-laki kesayangannya baru saja ditampar oleh perempuan di hadapannya, karena kesalahpahaman yang terjadi karena ulahnya.
“Siti sebenarnya,kau tak perlu melakukan itu padanya,aku khawatir nanti dia akan membalas mu lebih dari ini, apalagi dia tau jika kau berasal dari kampung. Kau tidak tahu bagaimana laki-laki di kota jika membalas sakit hati kepada perempuan yang tidak dia sukai, akan melakukan berbagai cara"
Mariam tertunduk lesu, mendalami peran sebagai seorang Mariam yang lugu,
meskipun nama aslinya bukanlah Mariam
__ADS_1
tapi demi lancar semuanya, dia harus menggunakan identitas palsu, agar bisa mendapatkan apa yang sedang dia cari.
Mendengarkan nasehat dari Mariam, Siti terlihat santai menyikapi semuanya, “Jangan khawatir karena, aku pasti baik-baik saja, aku percaya satu hal, Tuhan akan selalu melindungi orang-orang yang selalu berada dijalan yang benar"
"Siti tapi kau tak tahu, jika di kota besar, orang yang memiliki uang akan selalu berkuasa, kita yang tak berpunya ini tak akan bisa berkutik"
Mariam menakuti Siti, karena dia juga penasaran dengan mental gadis yang baru dia temui ini.
"Sudah jangan pikirkan apapun, yang terpenting kau baik-baik saja sekarang, Jiak dia berani mencelakai aku, aku akan lapor polisi, ini negara hukum kita bisa melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Jangan khawatir kita pasti menang apalagi yang dilakukan memang salah, lihatlah baju mu robek, aku dididik oleh orang tua ku, untuk selalu menolong sesama, aku tak bisa hidup dengan melihat penindasan ada dihadapan ku, apapun resikonya akan aku terima, lagi pula kembali kepada Tuhan sebagai orang yang benar itu lebih baik, dari pada sebagai pecundang, yang akan diselimuti rasa bersalah seumur hidup"
ucapan Siti lagi-lagi membuat Mariam tercengang,dia tak menyangka jika Siti begitu istimewa, walaupun berasal dari kampung,
tapi pikirannya benar-benar sangat luar biasa sekali, memikirkan orang-orang dengan hati, dan itu sangat jarang sekali terjadi
“Baiklah, Mariam aku rasa aku sudah tenang, karena kau sudan aman disini, atau kau masih takut?, jadi aku antarkan kau naik taksi dulu ya?"
"Tidak usah, aku rasa semuanya sudah baik-baik saja, kau langsung pulang saja duluan ya" ucap Mariam dengan lembut
Mariam melirik ke arah Aldo, untuk memastikan adiknya baik-baik saja.
"Iya jangan khawatir, aku baik-baik saja,
tidak perlu cemas, aku bisa pulang sendiri dan aku aman, dan terimakasih banyak karena pembelaan mu hari ini,aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan teman sebaik dirimu” ucap Mariam dengan menepuk pundak nya
Siti pun langsung tersenyum "Jangan sungkan-sungkan ya denganku, karena karena aku pasti akan selalu membantumu jika terjadi sesuatu, kalau di kampungku namanya teman itu harus dibela apalagi saat sedang diganggu oleh orang yang jahat"
Siti pun langsung berpamitan pulang duluan.
Saat melihat Siti pergi, Mariam pun melambaikan tangan nya, karena sesekali Siti menoleh kebelakang, untuk memastikan jika dia baik-baik saja.
"Astaga, dia benar-benar sangat baik"
setelah memastikan Siti sudah pergi, Mariam langsung mengeluarkan handphonenya dan pergi ke dalam toilet, bermaksud untuk menghubungi Aldo,
Mariam khawatir jika ada yang mengenalinya, apa lagi saat ini dia menggunakan tai lalat besar seperti tompel.
__ADS_1
"Syukurlah tak ada yang mengenaliku"
"Tapi urusan kita belum selesai kak, aku akan marah sekali padanya nanti" ucap Aldo langsung mematikan telpon kakaknya.
Jaka dan Boy langsung mendekati Aldo, dengan tertawa terbahak-bahak
"Wah keren sekali gadis itu, bahkan dia berani sekali memukul seorang Aldo yang kaya dan tampan ini"
wajah Aldo tampak sangat merah sekali
“Sial!, perempuan itu berani' sekali berurusan dengan ku, dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa!"
Jaka dan Boy tersenyum-senyum sendiri melihat Aldo yang masih saja memegang wajahnya,
“Apa yang sedang kalian lihat ha!, apa kalian pikir ini lelucon?"mengelus pipinya
Jaka pun langsung tertawa, dia juga melihat ke arah Boy
" untungnya tidak ada orang yang melihat kejadian tersebut, jika tidak, habislah harga diri mu Aldo" mereka masih saja meledeknya
" aku melihat dengan jelas sekali bagaimana wajah Aldo ditampar oleh gadis tersebut, dan dia tak memiliki rasa takut sama sekali" membuat mereka tertawa terbahak-bahak
Aldo yang terlanjur emosi langsung memegang kerah baju kedua temannya itu "Apa yang kalian tertawakan ha?, apa ini lucu Menurut kalian!, dasar payah".
"Woy sabar Bos, santai, jangan di bawa serius, kita hanya sedang tertawa saja"
sepertinya Jaka dan Boy sama sekali tidak perduli dengan apa yang terjadi.
“Akan aku pastikan dia tidak akan betah berada di kampus ini, aku akan mendapatkan identitas perempuan yang menamparku itu, dasar kampungan!"
Aldo terdiam, lalu ia mengulangi kembali ucapannya tersebut
“Lihatlah, aku pastikan, aku akan membalas apa yang telah dia lakukan padaku hari ini,tamparan ini, akan aku balas dengan hal yang sangat memalukan yang takkan pernah dia lupakan seumur hidupnya!”
Mata Aldo terlihat merah, karena menahan amarahnya.
__ADS_1