
"Luka pangeran sudah selesai di obati. Darahnya tidak akan keluar lagi, dalam beberapa hari lukanya pasti akan mengering" ujar Syafira.
"Terima kasih, aku pergi dulu, kau tetaplah berada di sini, jangan pergi kemana pun" suruh pangeran Andara.
Kepala Syafira mengangguk."Baik pangeran, aku akan tetap di sini"
Pangeran Andara tanpa menjawab langsung berlalu meninggalkan Syafira di kamarnya sendirian.
Syafira menatapi punggung pangeran Andara yang pelan-pelan mulai tak terlihat setelah pintu tertutup.
"Huft, aku kira dia akan ngomong apa, ternyata dia cuman meringatin aku tentang hal itu. Sumpah tempat apa ini sebenarnya, kenapa kakak dan adik itu sama-sama berbisa, lama-kelamaan aku akan mati tidak bergerak kalau masih tetap berada di sini" tutur Syafira lega tapi masih saja merasa tertekan.
"Tapi bagaimana caranya aku pergi dari sini sementara setiap kali aku mencoba pergi selalu aja gagal, karena ini lah karena itu lah. Huft, kapan aku akan kembali ke kota asal ku dan kembali kumpul sama teman-teman ku" Syafira mulai berangan-angan, padahal belum satu hari ia menginjakkan kaki di istana milik siluman ular ia sudah merasa tertekan dan tak betah.
Krieet
Wajah Syafira panik saat tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar.
Syafira berdiri dari duduknya ketika seseorang melangkah mendekatinya sambil mengeluarkan tatapan tajam dan penuh dendam.
"K-kenapa kau kemari, apalagi yang kau inginkan, tadi kan sudah jelas asal muasal aku berada di sini, kenapa kau masih ke sini lagi, apa itu masih belum jelas!" terbata-bata Syafira mulai bergetar ketika teringat peringatan keras pangeran Andara.
"Aku hanya mau kemari saja, ini kan kamar kakak ku, apakah sangat di larang aku berada di sini?" Tanya pangeran William enteng dan dengan mudah duduk di kasur.
Pangeran William tidak memikirkan bertapa tegang dan paniknya Syafira saat ini.
"Ya... boleh-boleh aja, tapi kan kamu sudah punya kamar, mengapa masih datang kemari, lagian di kamar ini tidak ada pangeran Andara. Untuk apa lagi kamu di sini" balas Syafira mencoba mencari alasan untuk bisa mengusir pangeran William dari kamar ini.
__ADS_1
"Aku ke sini bukan ingin bertemu dengan kakak ku, tapi...."
"Tapi apa? Apa lagi yang mau kamu lakukan, aku kan sudah bilang kalau aku ke sini karena di ajak sama pangeran Andara. Sebenarnya aku juga gak mau berada di sini, tapi ya mau gimana lagi, aku harus menjalani hukuman ku terlebih dahulu baru kemudian aku bisa pergi" jelas Syafira sekali lagi biar pangeran William tidak nanya-nanya lagi.
"Aku tidak peduli kau berasal dari mana, tapi aku hanya ingin memperingati mu satu hal" tutur pangeran William.
"Peringatan? Peringatan apa!" Tanya Syafira mengerutkan alis.
"Aku hanya ingin mewanti-wanti kamu agar berhati-hati dengan kakak ku. Dia itu dari dulu sangat tidak suka dengan manusia, bahkan dia punya cita-cita untuk membunuh semua manusia-manusia yang ada di muka bumi ini, tapi aku heran kenapa tiba-tiba kakak ku membawa mu yang jelas-jelas manusia ke dalam istana ini. Padahal perseteruannya dengan manusia masih belum kelar" jeda pangeran William.
"Aku merasa ada sesuatu di balik ini semua, aku hanya kasihan pada mu mangkanya aku datang dan memperingati mu" sambung pangeran William.
Bungkam, itulah yang terjadi. Syafira kini di landa kebingungan, ia tidak tau harus percaya pada siapa antara pangeran Andara dan pangeran William.
"Kenapa dua pangeran di istana ini sama-sama memberi ku peringatan, apa yang sudah terjadi di antara mereka dan sebenarnya mana yang benar. Kata pangeran Andara pangeran William sangat berbahaya. Tapi kata pangeran William malah sebaliknya. Di antara mereka berdua mana yang harus aku percayai, pangeran Andara atau pangeran William?" Batin Syafira di landa pilihan yang berat.
"Kenapa kau bengong, apa ada yang salah dari ucapan ku?" Tanya pangeran William yang mendapati jika Syafira diam seribu bahasa.
"Dan untuk peringatan mu aku ucapkan terima kasih banyak, aku tidak tau kau sebenarnya teman atau musuh. Karena aku masih baru di sini, aku memang menerima peringatan mu tapi aku tidak bisa percaya 100% pada mu" ujar Syafira berterus terang.
"Yaah kalau kau tidak mau percaya pada ku ya silahkan, yang jelas aku sudah memberi mu peringatan. Sekarang memang masih belum terlihat seberbisa apa kakak ku, tapi aku yakin kau pasti akan melihatnya dan kau akan tercengang" ucap pangeran William tepat di telinga Syafira dengan iringan senyuman mematikan.
Syafira menegak ludah pahit, dua pangeran itu begitu meresahkan dan membuat dunianya semakin tidak aman.
"Aku pergi dulu ya, jangan lupakan semua kata-kata ku" tutur pangeran William sekali lagi.
Syafira diam tak bergeming, pangeran William meninggalkan Syafira yang tak bergerak dan semakin bingung sama ucapannya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, mana yang benar, mana yang harus aku percayai. Pangeran William atau pangeran Andara?" Bertanya-tanya Syafira.
Syafira tidak mau salah memilih dan akan membuatnya terjerat ke dalam tempat yang jauh lebih gelap lagi.
"Kenapa dua pangeran itu sama-sama memberi ku peringatan, mereka kan saudara, tapi mengapa mereka terlihat seperti bermusuhan saja. Kata satunya begini, kata satunya lagi juga begini, terus aku harus pilih yang mana. Kenapa mereka harus memperumit ku begini"
Syafira frustasi, untuk mengambil pilihan ia rasanya tak bisa.
"Siapapun yang benar aku tidak akan mempercayai mereka, mereka itu ular sifatnya berbisa. Aku gak boleh di perbudak sama salah satu di antara mereka" tekad Syafira.
"Untuk itu sekarang aku kudu melarikan diri dari sini, lama-lama berada di sini akan membuat ku gila" ucap Syafira.
Syafira lagi-lagi keluar dari dalam kamar itu, ia kembali melancarkan aksinya untuk melarikan diri.
Syafira melihat ke kanan dan kiri yang sepi."Ini saatnya bagi ku mencari pintu keluar dari istana ini, aku yakin pasti ada pintu keluarnya. Tidak mungkin di istana seluas ini tidak ada apa yang aku cari"
Syafira berjalan di koridor istana yang sepi.
"Di mana pintu keluarnya, kenapa gak ada, masa di istana sebesar ini tidak ada pintu keluarnya, terus bagaimana caranya pangeran Andara membawa ku masuk kemari" gumam Syafira bertanya-tanya.
Kaki Syafira melangkah tanpa henti, sementara bola matanya menatap ke kanan dan kiri seraya mencari keberadaan pintu utama yang dapat membawa Syafira keluar dari dalam istana ini.
"Tunggu kau!"
Langkah Syafira terhenti, dengan tegang Syafira menoleh ke belakang.
"Mau kemana kau?" Tanya Maura di sertai tatapan tajam dan tak sukanya.
__ADS_1
"A-aku cuman ingin jalan-jalan di sekitar sini saja, apa itu tidak boleh?" Tanya balik Syafira.
"Boleh aja sih, tapi entah kenapa semenjak kamu berada di istana ini, hawa tak nyaman malah datang dan menyelimuti kehidupan kami. Apa mungkin kedatangan mu emang membawa petaka bagi kerajaan ini" tutur Maura tak sengaja menghina Syafira.