Jerat Siluman Ular

Jerat Siluman Ular
Berada di tempat asing


__ADS_3

Syafira menggeliat, membuka mata perlahan-lahan, lalu melihat sekeliling dengan terkejut.


"Di mana aku ini?"


Tempat yang Syafira singgahi bukan istana, melainkan sebuah kamar yang luas namun rapih dan nyaman. Anehnya kamar itu asing di mata Syafira, karena kamar itu bukan miliknya.


"Kamu ada di rumah ku"


Seorang pria duduk di tepi kasur menyahut.


Syafira menatap pria tersebut dengan sedikit terkejut, kaget ketika bangun-bangun ada pria asing di sampingnya.


Syafira mengingat kembali pria yang tengah duduk di sertai senyum ramah itu."Kamu, kenapa kamu bawa aku ke sini!"


Seingat Syafira ia bertemu dengan pria itu di jalanan sepi, Syafira sempat menolak ajakan baiknya yang ingin mengantar Syafira pulang, tapi mengapa sekarang Syafira malah berada di rumah pria asing itu.


"Tadi kamu pingsan di jalan, aku gak tau rumah kamu, jadi aku bawa kamu ke rumah ku" jelas pria itu.


Syafira sekarang paham mengapa ia berada di rumah pria asing itu, ia tak bisa menyalahkan siapapun, di tolong oleh pria itu Syafira merasa beruntung.


Terkadang sulit menemukan orang yang peduli yang mau menolong di saat kesusahan di dalam kehidupan nyata. Namun hari ini Syafira bertemu dengan orang baik yang mau menolongnya tanpa pamrih.


"Aku mohon pada mu tolong anterin aku pulang, aku ingin pulang ke rumah ku, aku mohon sekali" titah Syafira memohon begitu tulus.


Syafira ingat kalau dia memang pernah menolak tawaran baik pria itu, tapi kali ini Syafira malah memohon padanya.


Sungguh Syafira ingin segera pulang ke rumah, dengan cara ini ia bisa pulang ke rumah dengan cepat.


"Baik, aku akan anterin kamu pulang tapi sebelum itu kamu harus makan dulu, kamu pasti belum makan bukan sampai-sampai kamu jatuh pingsan" tebak pria itu.


Syafira bungkam, bagaimana ia bisa makan, apa yang harus ia makan, pikirannya saat ia tak peduli dengan kesehatannya sendiri.


Isi pikiran Syafira penuh dengan kebejatan pangeran Andara dan anggota keluarga kerajaan yang kejam dan jahat padanya.


"Halo, kok bengong" pria itu menyadarkan Syafira dari lamunannya.


"Gimana-gimana?" Syafira yang gagal fokus pun bertanya.

__ADS_1


"Kamu belum makan kan?"


Syafira mengangguk, sudah seharian ia membiarkan perutnya keroncongan tak terisi makanan maupun minuman apapun.


"Ayo ikut aku, kamu harus makan dulu, nanti kamu pingsan lagi" ajak pria itu.


"Enggak usah, aku mau langsung pulang aja, nanti aku akan makan di rumah aja" tolak Syafira.


"Enggak boleh, kamu harus makan di rumah ku dulu, kalau kamu gak mau aku gak akan mau anterin kamu pulang" pria itu sedikit mengancam, terdengar memaksa Syafira agar mau makan siang bersamanya.


Syafira menghela nafas berat, di sini ia adalah korban yang di tolong oleh orang baik, setidaknya ia harus menghargai ajakannya selagi ajakan itu baik dan tidak merugikan orang lain.


"Baiklah aku mau, tapi janji ya habis makan kamu anterin aku pulang ke rumah" syarat Syafira.


"Iya, aku janji, aku gak akan ingkar janji. Ayo sekarang ikut aku"


Syafira pun mengangguk setuju, beranjak dari tempat duduk, lalu mengikuti kemana pria asing itu membawanya pergi.


Syafira menuruni tangga, sambil melihat-lihat rumah milik pria asing yang besar dan mewah.


"Erlangga"


"Yes mom" sahut pria asing itu.


"Owh jadi namanya Erlangga" gumam Syafira akhirnya mengetahui nama pria baik yang membantunya di kala ia dalam kesulitan.


"Kenapa kamu bawa dia keluar, dia belum sembuh" omel wanita paruh baya bernama Gauri yang panik melihat Syafira yang keluar dari kamar.


Erlangga menggaruk kepala bingung harus menjelaskan apa, Erlangga takut salah bicara dan berakhir di terkam habis-habisan oleh sang bunda.


"Saya baik-baik aja Tante, saya sudah sembuh" jawab Syafira sopan.


Dapat Syafira liat betapa pedulinya Gauri yang jelas bukan siapa-siapanya, bahkan pertama kali ini saja ia bertemu dengan sang ibunda dari Erlangga.


"Baik-baik aja gimana, kamu masih sakit nak, kamu istirahat aja di sini, kalau sudah sembuh total baru kamu boleh pulang" dengan lembut Gauri mengusap wajah Syafira, layaknya anak kandung sendiri.


Belaian lembut Gauri mengingatkan Syafira pada sang ibu, rindu di hati Syafira pada sanak keluarga kian meningkat.

__ADS_1


Entah takdir apa yang malah mempertemukan Syafira dengan keluarga Erlangga yang sebaik ini dalam memperlakukannya.


Berbeda jauh dengan keluarga suaminya yang memperlakukannya dengan tak baik bahkan mereka tetap menganggap Syafira sebagai musuh walaupun Syafira sudah berstatus sebagai istri pangeran Andara.


"Enggak kok Tante, Syafira baik-baik aja, Syafira mau langsung pulang" balas Syafira.


"Makan dulu Fira, kamu belum makan kan sampai pingsan di jalan, untung anak Tante langsung bawa kamu kemari, kalau ada orang jahat yang liat gimana" tawar Gauri tak akan membiarkan Syafira pergi dengan perut kosong.


"Iya fir, ayo kita malam dulu, habis makan aku akan anterin kamu pulang" timpal Erlangga.


Syafira tak dapat menolak, ia pun makan siang bersama Erlangga dan mamanya.


Di meja makan telah tersaji ragam lauk pauk yang menggugah selera, namun sedikitpun lauk yang tersaji tak meningkatkan selera Syafira.


Hingga detik ini tenggorokannya masih pahit, bukan pahit karena obat tapi karena rasa sakit di hati yang menyebabkan fungsi organ tubuh tak bekerja dengan baik.


Gauri dengan ramah menyiapkan Syafira makan, ia memperlakukan Syafira bagai orang penting di sini.


Syafira hanya mengucapkan kata terima kasih yang tiada henti, mereka begitu baik padanya bahkan di tengah keterpurukan mereka menolong Syafira tanpa mengharap imbalan.


Di sela-sela makan Syafira menatap Erlangga dan Gauri lekat. Dapat Syafira lihat ketulusan di mata mereka.


"Sederhana tapi berarti, inilah gambaran kehidupan mereka. Tempat ini mungkin kecil di banding istana pangeran Andara, tapi hanya di sini aku merasa bahagia, hidup bebas tanpa tertekan walau tempatnya tak semewah, tak semegah dan tak seluas kerajaan pangeran Andara" batin Syafira.


Hati memanglah aneh, ketika hidup di tempat yang indah, luas, megah dan mewah namun mengapa hati menolak bahagia. Tapi ketika berada di tempat yang terkadang tak layak di huni di temukan ribuan kebahagiaan, padahal secara logika tidak masuk akal tempat sekecil, sesederhana itu dapat menciptakan kebahagiaan yang tiada tanding.


Seusai makan Syafira berpamitan pada Gauri, ibu Erlangga yang sudah baik menerimanya selama berada di dalam rumahnya meski Syafira adalah orang asing di tengah-tengah mereka.


"Hati-hati ya, er kamu jangan ngebut, anterin Syafira sampai ke rumahnya" perintah Gauri memperingati anaknya sendiri.


"Iya ma, Syafira akan aku anterin sampai mendarat tepat di rumahnya tanpa kekurangan barang apapun, mama gak perlu cemas" sahut Erlangga meyakinkan ibunya untuk melepaskan Syafira dan kembali bersama keluarganya.


Gauri rasanya enggan melepaskan Syafira, ia yang hanya di karunia anak laki-laki saja yakni Erlangga begitu menginginkan anak perempuan, jadi wajar jika Gauri memperlakukan Syafira layaknya anak kandung.


"Syafira kamu hati-hati ya, kalau Erlangga macem-macem, bilang aja sama ke Tante, nanti akan Tante jewer telinganya"


Erlangga bergidik ngeri, ancaman ibunya tak main-main.

__ADS_1


Syafira mengangguk tersipu malu, tak tau harus membalas apa kebaikan mereka.


Erlangga membawa Syafira masuk ke dalam mobil Alphard berwarna hitam lalu melesat meninggalkan rumah.


__ADS_2