
"Kalau kamu tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi!" Ancam Syafira.
Pangeran Andara diam seribu bahasa, wanita yang ada di depannya benar-benar tak menginginkannya lagi.
Kekecewaan Syafira padanya dapat terlihat jelas di mata pangeran Andara.
Pangeran Andara menghela nafas berat, istrinya sudah tak menginginkan kehadirannya lagi.
"Oke aku akan pergi, tapi aku akan kembali, aku tidak akan pernah memutuskan pernikahan kita karena kamu lagi hamil anak ku!" Pertegas pangeran Andara.
"Aku gak hamil, berhenti bicara itu-itu mulu, mumet aku dengarnya!" Bantah Syafira.
Kata hamil terus pangeran Andara gunakan untuk mencekik Syafira. Tapi wanita asli keturunan manusia itu tidak akan mau percaya.
Kepercayaan Syafira pada pangeran Andara telah hilang bersamaan dengan perselingkuhan pangeran Andara dan Maura.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang penting aku udah bilang yang sejujur-jujurnya kalau kamu lagi hamil anak ku. Kelak kamu akan tau sendiri kalau ada malaikat kecil di perut mu" jawab pangeran Andara.
Syafira pura-pura budeg, tak ingin mendengar suara pangeran Andara yang terus menerus membahas anak di kandungannya yang belum di ketahui kebenarannya.
Syafira yakin itu semua hanyalah akal-akalan pangeran Andara agar punya alasan untuk bersama Syafira.
"Aku minta sama kamu jauhi pria bernama Erlangga itu, aku gak suka kamu dekat-dekat sama dia!" Perintah pangeran Andara.
Syafira melongo, bingung mengapa pangeran Andara tiba-tiba memintanya menjauhi Erlangga.
"Kenapa? Kenapa kalau aku dekat-dekat sama dia, secara kan aku bebas bisa ngapain aja, orang-orang gak tau kalau kita suami istri, kalau sewaktu-waktu aku punya pacar gak masalah kan?"
Tangan pangeran Andara mengepal kuat, gertakan giginya amat nyari, Syafira bukannya menurut malah seakan-akan membantah keras perintah itu.
"Kau, kau jangan macem-macem, aku suami mu meski gak ada orang yang tau, kau jangan gila berkencan dengan laki-laki lain!" Kecam pangeran Andara.
Emosi pangeran Andara langsung meningkat tajam, wanita keras kepala itu bukannya menurut malah terlihat menantangnya.
"Mengapa kalau aku melakukan itu? Kau mau marah? Silahkan saja, aku tidak akan menuruti perintah mu lagi, aku akan hidup sesuai yang aku mau. Kau jangan pernah mengatur kehidupan ku lagi!" Tegas Syafira menunjuk pangeran ular di iringi tatapan sangar.
__ADS_1
Kali ini Syafira tidak ingin mematuhi perintah pangeran Andara lagi, secara dia sudah berada di alamnya, dia berhak melakukan apa saja yang dia inginkan, tidak perlu lagi patuh pada pengkhianatan seperti pangeran Andara.
Amarah pangeran Andara meledak-ledak, Syafira tak mengerti jika dia sedang cemburu berat ketika melihat ada pria lain yang berada di dekat Syafira.
"Syafira kau!"
"Apa? Kau akan melakukan apa?" Tantang Syafira tak ada takut-takutnya.
Jiwa singanya keluar, sudah tiba gilirannya untuk memperjuangkan harga diri dan menyembuhkan rasa sakit di hatinya dengan cara mengusir biang keladinya.
Pangeran Andara mengepal erat tangannya, rasanya ingin membungkam mulut wanita yang terus membuat hatinya meledak-ledak.
"Kalau kau tidak mau mengakhiri pernikahan kita secara baik-baik, maka aku akan gunakan cara ku sendiri agar kau mau memutuskan hubungan ini dengan sendirinya" ujar Syafira.
Keinginan Syafira untuk memutuskan hubungan yang terbilang baru kuat, keputusannya sudah bulat dan tidak dapat di ganggu gugat.
Cara-cara akan Syafira lakukan demi hubungan pernikahannya terputus. Di dalam hidup Syafira paling benci dengan yang namanya pengkhianat dan kini pria tampan di depannya sudah berkhianat.
Hilang sudah kepercayaan Syafira, sikap baiknya menghilang tak berbekas, kini hanya tinggal keburukan Syafira yang akan Syafira gunakan demi menghempaskan siluman ular dari kehidupan untuk selama-lamanya.
"Oke, aku akan liat sampai mana kau akan bertahan" jawab Syafira santai.
Hati, jantung hingga tulang-tulang pangeran Andara mendidih, wajahnya bagai bom yang akan segera meledak.
Syafira menanggapi kemarahan di wajah suaminya dengan santai, waktunya ia menguasai permainan.
Amarah pangeran Andara sudah memuncak, ia tak bisa berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan Syafira karena dapat membuatnya lepas kendali.
"Liat aja aku akan pastikan kau kembali lagi ke dalam pelukan ku!" Janji pangeran Andara.
"Silahkan, silahkan saja kalau kau mampu" sahut Syafira.
Tatapan maut pangeran Andara terarah pada Syafira, dalam keadaan otak yang lagi mendidih pangeran Andara berubah menjadi ular kobra berukuran kecil, lalu keluar dari kamar Syafira melalui jendela yang kebetulan terbuka.
Setelah ular itu pergi Syafira bergidik ngeri, panik attacknya keluar, Syafira yang phobia dengan ular mengapa harus terjerat dalam pelukan siluman ular.
__ADS_1
"Kenapa nasib aku buruk banget, hewan yang aku benci kenapa selalu ada di dekat ku, bagaimana caranya aku bisa berhenti dan bebas dari pangeran Andara sementara dia ngotot banget gak mau pergi"
"Aaaaahhh gimana ini" teriak keras Syafira menjambak rambutnya keras.
Dengan letih Syafira merebahkan tubuh, bingung harus menggunakan cara apalagi agar siluman ular itu minggat selamanya dari hidupnya.
"Aku harus bisa lepas dari dia, aku gak mau terjerat lebih lama darinya" tekad Syafira.
Syafira memikirkan ribuan cara agar hati pangeran Andara lunak dan dengan senang hati melepaskannya sehingga Syafira bisa hidup lebih baik dari saat ini.
Saking fokusnya berpikir Syafira tak sadar kalau pelan-pelan matanya tertutup rapat, angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya membuatnya terlelap dengan sendiriannya.
Gadis keras kepala itu telah masuk ke dalam alam bawah sadar. Ambisinya untuk terlepas dari jerat pangeran Andara begitu kental, mau di rayu apapun tidak akan bisa menaklukkan hatinya kembali setelah kekecewaan mengalir layaknya darah di tubuh Syafira.
Di saat Syafira tengah tidur, tiba-tiba seekor ular kobra berwarna hitam masuk kembali ke dalam kamar.
Ular itu berjalan di lantai, mendekati tempat tidur, sesekali suara mendesis terdengar. Namun sang pemilik kamar tidak menyadarinya.
Ular kobra berwarna hitam itu berubah menjadi seorang manusia, wajahnya tampan rupawan, ketampanannya dengan mudah dapat memikat wanita tanpa melakukan banyak tingkah.
Mata siluman ular itu menatap sendu ke arah wanita yang lagi tidur nyenyak.
Dengan hati-hati pria bernama pangeran Andara berjalan mendekati Syafira, pangeran ular yang kelak akan menggantikan ayahnya menjadi raja merebahkan tubuh di samping istrinya.
Menatap tenang wajah Syafira dengan sesekali senyum terukir indah, dengan lembut pula pangeran Andara mengelus surai hitam Syafira.
"Syafira, kenapa kau berubah, kau tidak tau apa yang sudah terjadi antara aku dan Maura"
"Kau belum mengetahui cerita aslinya, kau tidak mengizinkan ku untuk menjelaskan semuanya alhasil kau salah paham"
"Tapi aku janji aku akan ceritakan semuanya pada mu di hari dan suasana yang tepat, sekarang aku akan membiarkan mu membenci ku, namun kamu harus tau kalau ada suatu hal yang aku sembunyikan dari mu"
Dengan belaian lembut penuh kasih pangeran Andara mengutarakan kalimat-kalimat itu pada wanita yang tengah terlelap dan jelas tidak akan mendengar semua penuturannya.
Pangeran Andara mengecup kening Syafira, lalu memeluk erat tubuh Syafira, pangeran Andara ikutan tidur menemani istrinya yang kabur dari pelukannya.
__ADS_1