Jerat Siluman Ular

Jerat Siluman Ular
Berangkat berlima pulang berempat


__ADS_3

"Kita doakan saja semoga Syafira masih hidup dan bisa pulang, secara logika kita gak akan bisa ke sana lagi, nyawa kita lebih penting, tapi Syafira juga penting. Dan yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdoa" jawab Vino yang kini tak bisa berbuat apa-apa.


Mereka pun diam, mereka memang merasa bersalah karena meninggalkan Syafira di hutan sendirian di saat bahaya datang, namun mereka terpaksa melakukan ini semua, mereka sayang dengan nyawa mereka sendiri, untuk menolong Syafira secara langsung mereka tidak bisa, namun hanya doa yang terus mereka panjatkan dan semoga teman tercinta mereka di tolong langsung oleh sang maha kuasa.


Kevin melajukan mobil dengan kencang. Mereka berangkat berlima tapi pulang berempat, janji-janji dan rencana yang udah mereka siapkan sematang mungkin kini kacau balau.


Bahaya tiba-tiba datang dan mereka tidak bisa menghindarinya. Mereka terpaksa harus meninggalkan tempat itu untuk selamanya.


Sementara di sisi lain.


Pangeran Andara kembali duduk di tempat kehormatannya bersama anggota keluarganya yang lainnya.


"Pangeran sampai kapan kau akan membiarkan manusia itu berada di ruang lingkup tempat tinggal kita" Maura belum terima dengan lapang dada saat ada manusia yang menghuni tempat tinggalnya selama ini.


"Nanti juga dia akan pergi, kamu tidak perlu khawatir, dia tidak akan lama berada di sini. Aku yakin kok dia tidak akan mengganggu ketenangan orang-orang selama berada di kerajaan ini, aku berani jamin itu" jamin pangeran Andara.


Rasa tak terima masih terlihat jelas di wajah Maura. Apalagi yang membawa Syafira ke istana itu pangeran Andara langsung.


"Sial, kenapa pangeran malah biarkan ada manusia yang menginjakkan kakinya di istana ini, biasanya dia paling anti kalau sama manusia, kenapa sekarang dia malah berubah, apa yang menyebabkan dia berubah" batin Maura tak terima dan tidak suka dengan keberadaan Syafira di istana ini.


Maura yang kesal meninggalkan persada, percuma dia berbicara dengan pangeran Andara karena pangeran tidak mengerti apa yang dia inginkan.


"Maura, Maura kamu mau pergi kemana" teriak Ayumi, bibi pangeran Andara.


"Pangeran liat Maura marah, cepat kau kejar dia, bujuk dia biar tidak marah lagi" suruh bibi Ayumi.

__ADS_1


"Aku tidak mau bibi, biarkan dia marah, dia memang keras kepala, percuma aku membujuknya, itu tidak akan bisa membuat hatinya lunak. Aku yakin nanti amarahnya juga akan reda" jawab pangeran Andara sudah tau seluk beluk prihal Maura.


Ayumi menghembusakan nafas kasar."Kenapa pangeran Andara tidak mau ku perintah lagi. Kenapa sekarang dia tidak perhatian lagi sama Maura. Apa mungkin ini terjadi karena kedatangan manusia sialan itu, kalau itu memang benar, akan aku habisi dia dengan sekali gigitan ku" batin bibi Ayumi overthinking dan mulai menyalahkan Syafira yang tidak tau apa-apa.


"Ayah, ibu aku pulang" ujar gembira seorang pemuda tampan, umurnya kira-kira di bawah pangeran Andara.


"William"


Hati anggota kerajaan tampak gembira saat kedatangan pangeran William, adik pangeran Andara, dia adalah anak kedua dari raja Sadam dan ratu Elisa.


"Wiliam anak ku, kamu sudah pulang nak" hati ratu Elisa tampak berbunga-bunga ketika anak keduanya yang pergi dari istana sekitar 1 tahun yang lalu kini telah kembali.


"Iya ibu, aku sudah kembali, aku sudah kembali dengan selamat. Apa yang aku bilang benar bukan kalau aku bisa kembali lagi dalam keadaan hidup-hidup" jawab pangeran William memeluk erat tubuh ibu yang sangat ia rindukan.


"Nak, ibu sungguh merindukan mu, sejak kamu pergi ibu tidak bisa tidur tenang karena memikirkan mu" ujar ratu Elisa yang kini rasa khawatirnya telah menghilang kala putranya telah kembali tanpa membawa luka sedikitpun.


"Ayah, aku banyak mendengar hal-hal yang akan mereka lakukan, tapi ada sesuatu yang lebih besar dari pada itu, dan hal ini sangat-sangat penting" ucap pangeran William kembali dengan membawa rahasia besar milik kerajaan sebelah atau biasa di kenal kerajaan musuh.


"Apa itu, cepat beritahukan pada kami!" suruh raja Sadam tak sabaran.


"Mereka berniat akan menghancurkan kerajaan kita melalui orang dalam. Mereka bilang kalau anggota kerajaan ini ada yang berkhianat dan diam-diam menjadi sekutu mereka. Orang itu ingin berkuasa di kerajaan ini makanya dia mau menjadi musuh di dalam selimut" jelas pangeran Andara.


Mata para anggota kerajaan melotot sempurna, berita yang di bawa oleh pangeran William sungguh mengguncang dunia mereka.


"Apa kata mu, di antara kami ada yang berkhianat!" terkejut paman Goni sampai bangkit dari duduk.

__ADS_1


"Iya paman, dari apa yang aku dengar, di kerajaan ini ada yang berkhianat dan itu bukan prajurit melainkan anggota kerajaan sendiri" jawab pangeran William.


"Ini berita besar, kita harus hati-hati, kita masih belum tau siapa yang memilih berkhianat itu karena sebuah keserakahan" tutur paman Wisnu menjadi tak tenang.


"Kalian tenanglah dan tetap waspada karena musuh dalam selimut itu lebih mematikan dari pada yang terang-terangan membenci. Kata pangeran William musuh dalam selimut itu adalah anggota kerajaan kita, tapi kita tidak tau dan kita tidak bisa saling menuduh. Tetapi jika suatu saat nanti dia tertangkap, hukuman mati yang akan dia dapatkan karena sudah berani berkhianat dan bersekongkol dengan kerajaan musuh" pertegas raja Sadam.


Semua orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Apa yang barusan di katakan raja Sadam bukan hanyalah peringatan semata, tapi benar-benar akan di lakukan.


"Prajurit" teriak raja Sadam memanggil para prajuritnya dengan keras.


Seketika prajurit yang mendengar langsung menghampiri.


"Ampun raja" prajurit membungkukkan sedikit badan untuk menghormati raja.


"Cari dan tangkap siapa saja penghianat dan bawa dia kehadapan ku, aku mau liat seperti apa orang yang selama ini menjadi musuh di dalam selimut!" perintah raja tegas.


"Baik raja" jawab prajurit.


Prajurit-prajurit itu kemudian bergegas meninggalkan persada dan kembali melaksanakan perintah raja.


"Nak, sekarang kamu kembalilah ke kamar mu, istirahat yang banyak, kamu tidak perlu khawatir di sini aman, tidak akan ada musuh yang akan menghabisi mu, ayah mu tidak akan membiarkan hal itu terjadi" suruh ratu Elisa lembut.


"Baik ibu" jawab pangeran William.


Pangeran William meninggalkan persada dan melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


Hidup di kerajaan musuh 1 tahun belakangan ini membuat pangeran William tidak bisa tidur nyenyak, namun demi keamanan kerajaan pangeran William bersedia memberantas musuh-musuh di kerajaan meskipun ia merasa tertekan selama 1 tahun lamanya.


__ADS_2