
Mobil yang Syafira tumpangi membawa Syafira menjauh dari rumah Erlangga.
Di dalam mobil senyap, tak ada satupun percakapan yang terdengar, mulut Syafira berserta Erlangga sama-sama bungkam.
Erlangga sesekali mencuri-curi pandangan, ingin sekali ia mengajak gadis di sampingnya bicara tapi bingung topik apa yang akan ia mulai.
"Syafira di mana rumah kamu?" Demi mengusir keheningan Erlangga mengajukan pertanyaan.
Mobil yang Erlangga kendarai memang melesat jauh, tapi Erlangga belum tau di mana rumah Syafira sebenarnya. Ia pun nekat untuk bertanya langsung pada Syafira.
"Rumah aku ada di jalan merpati, kamu anterin aku ke sana" jawab Syafira.
Erlangga mengangguk, walau singkat padat tapi jawaban Syafira berati baginya.
Erlangga tak akan berhenti, ia tidak akan membiarkan suasana kembali hening, di otaknya ia memikirkan cara bagaimana ia terus mengajak Syafira interaksi.
"Kamu itu masih kuliah atau udah kerja?" Tanya Erlangga mengorek informasi lebih dalam lagi pada gadis misterius di sampingnya.
"Kuliah, aku belum lulus, insyaAllah tahun depan aku lulus"
Kalimat 'o' keluar dari bibir Erlangga sambil kepalanya manggut-manggut.
"Tadi kamu itu habis dari mana, kok bisa ada di jalan seorang diri, tempat itu jauh loh dari rumah kamu"
Syafira mendadak bungkam, bingung harus menjawab apa, mana mungkin Syafira bilang kalau dia habis keluar dari kerajaan milik siluman ular. Erlangga pasti akan menganggapnya gila dan tidak akan pernah percaya lagi karena kebenaran itu tak masuk di akal manusia.
"Anu...aku habis pulang dari camping, aku sama teman-teman aku camping di hutan, kami memang sengaja milih tempat yang jauh serta menantang dan hutan itu yang kami tunjuk"
Dalam hati Syafira berdoa semoga pria bernama Erlangga Elgafa percaya dan tak curiga kalau sebenarnya ia habis kabur dari sebuah kerajaan punya siluman ular.
"Loh kok kamu tadi jalan sendiri, kamu bilang kalau kamu camping bareng-bareng teman-teman mu, di mana mereka, kenapa cuman tinggal kamu seorang?" Kaget Erlangga.
"Itu, ada problem saat camping di hutan, aku tersesat dan teman-teman ku ninggalin aku, mungkin mereka menganggap kalau aku udah meninggal di terkam hewan buas, mangkanya mereka udah gak ada di lokasi saat aku berhasil kembali ke tenda" jelas Syafira.
__ADS_1
Rasa deg-degan Syafira rasakan, berbohong bukan ahlinya, Syafira merasa tak nyaman sendiri karena telah membohongi pria baik bernama Erlangga tersebut.
"Semoga dia percaya, semoga dia gak curiga" batin Syafira tak henti-hentinya berdoa pada sang maha kuasa.
"Untung kamu masih bisa ketemu sama jalan keluar, kalau sampai kamu gak bisa keluar dari dalam hutan itu, aku gak tau apa lagi yang akan terjadi sama kamu"
Syafira tersenyum kikuk, hatinya plong kala Erlangga percaya pada penjelasannya.
"Maaf er aku boongin kamu, aku gak mungkin bilang semua yang terjadi sama aku sebenarnya, cukup aku saja yang tau, gak boleh ada orang lain lagi yang tau" batin Syafira merasa tak enak hati.
Syafira memilih diam, tak mau bicara lagi agar tak menimbulkan kebohongan yang lebih banyak lagi.
Mobil yang Erlangga kendarai terhenti di sebuah rumah. Syafira langsung keluar, ia menatap lekat rumah itu, matanya berkaca-kaca, rindu yang mendalam pada kediamannya begitu tinggi.
Entah selama apa Syafira pergi meninggalkan dunianya sehingga hari ini hatinya di serang ribuan kerinduan.
"Ini rumah kamu?" Tanya Erlangga memastikan.
Kepala Syafira mengangguk."Iya ini rumah aku, makasih ya udah anterin aku pulang"
"Kamu gak mau mampir dulu?" Tawar Syafira.
"Enggak deh, kapan-kapan aja soalnya aku ada urusan penting habis ini" tolak Erlangga.
"Owh ya udah, sekali lagi makasih banyak udah anterin aku pulang"
Kalimat terima kasih satu persatu meluncur dari bibir Syafira, tak tau lagi apa yang akan Syafira lakukan untuk membalas budi.
Jika takdir tak mempertemukan Syafira dengan Erlangga pasti saat ini Syafira masih berada di jalanan belum juga sampai di rumah, jujur saja jarak antara rumah Syafira dan hutan itu sangat jauh. Membutuhkan waktu berhari-hari jika berjalan kaki.
"Aku pulang dulu, salam buat orang tua kamu" pamit Erlangga.
"Iya, akan aku sampaiin" jawab Syafira di iringi senyum manis.
__ADS_1
Erlangga masuk kembali ke dalam mobil, lalu membawa mobilnya pergi meninggalkan rumah Syafira.
Syafira menatap kepergian Erlangga hingga tak terlihat lagi, kemudian ia kembali menatap rumah tempat ia tinggal mulai dari sejak kecil hingga sebesar sekarang.
Dengan penuh girang Syafira berlari masuk ke dalam, orang yang pertama ia temui adalah keluarganya yang ia rindukan selama ini.
"Mama papa" teriak Syafira memanggil orang tuanya dengan keras.
Boby dan Mery yang tengah berada di ruang tamu dengan terkejut menatap seorang wanita cantik, di iringi senyum lebar yang berdiri menghampiri mereka.
Mereka tersentak kaget, setengah tak percaya kala kembali melihat Syafira.
"Syafira ini kamu nak" dengan penuh haru Mery langsung memeluk erat putrinya yang di kabarkan hilang ketika di dalam hutan.
Bulir-bulir sebening kristal meluncur di wajah Mery, sempat Mery berpikir kalau putrinya tak akan kembali, melihat kondisi hutan yang banyak sekali hewan buas, tak ada harapan lagi di hati Mery jika suatu saat putrinya akan kembali.
Tapi ternyata takdir tidak sejahat itu mengambil Syafira darinya.
"Iya ma ini aku" Syafira tak kuasa menahan tangis, wanita berusia 39 tahun di depannya begitu ia rindukan.
Dengan erat Mery memeluk tubuh Syafira."Nak kamu dari mana saja, kenapa kamu bisa hilang di hutan, mama kan udah bilang jangan pernah bermain-main dengan tempat yang berbahaya. Ini yang mama takutin, mama begitu takut kehilangan kamu"
Syafira membiarkan dirinya di marahi habis-habisan oleh sang ibu, kali ini Syafira tak bisa menolak atau membela diri sebab ia sadar kalau ucapan ibunya bukan hanya sekedar kata tapi benar-benar nyata.
Kini Syafira sadar kalau mamanya sangat mengkhawatirkannya di setiap saat Syafira melangkah.
Saat Syafira dan teman-temannya pada berencana untuk camping di hutan, Mery mencoba melarang mereka tapi sayangnya mereka keras kepala.
Mery begitu takut terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya dan ketakutan Mery pun terjadi, ibu dan anak itu terpisah dalam waktu yang cukup lama.
"Maafin Syafira ma, Syafira gak pernah dengarin ucapan mama, Syafira nyesel" ucap Syafira merasakan sakitnya penyesalan.
Kepala Mery menggeleng, tangannya menyeka lembut air mata yang bercucuran di wajah Syafira.
__ADS_1
"Enggak nak, kamu gak salah, mama yang salah karena mama biarin kamu pergi tanpa pengawasan, kalau saja ada yang ngawasin kamu, kamu gak akan sampai hilang"
Mendengar itu Syafira mengeratkan pelukan, Mery adalah ibu terbaik yang Syafira miliki. Tak ada yang menandingi ibunya walau ada jutaan ibu yang mungkin lebih baik di banding Mery.