Jerat Siluman Ular

Jerat Siluman Ular
Kegembiraan Syafira


__ADS_3

Hari-hari berlalu, sejak menikah dengan pangeran Andara Syafira begitu bahagia.


Pangeran Andara memperlakukan Syafira dengan baik, tidak pernah berbuat kasar atau menunjukkan sesuatu yang dapat mengancam nyawa Syafira.


Hidup Syafira berubah total sejak menikah dengan pangeran Andara.


Terkadang Syafira merasa beruntung mendapatkan suami sebaik pangeran Andara walau pangeran Andara manusia jadi-jadian. Kadang pula Syafira kesepian, ia merindukan orang-orang terkasih yang menitih perjalanan hidupnya hingga ia sebesar ini, Syafira ingin berada di dekat orang-orang yang ia sayangi.


Di malam yang gelap rintihan air mata tenggelam karena derasnya hujan yang mengguyur di luar, kerinduan Syafira pada sanak keluarga begitu besar.


Rindu itu telah menyiksa dirinya, Syafira ingin keluar dalam belenggu cinta pangeran Andara namun ia juga tidak mau melepaskan suami yang sebaik dan setulus pangeran Andara meski Syafira tidak mencintainya.


Tap


Tap


Tap


Derap kaki seseorang terdengar memecah keheningan, Syafira langsung menyeka air mata, tak akan membiarkan ada orang lain yang melihatnya bersedih khususnya suaminya sendiri.


Terbit senyum di wajah Syafira saat pelan-pelan pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pemuda tampan yang menjadikan dia bagai ratu di kerajaan ini.


Pelukan hangat menyapu tubuh Syafira, rasa cinta pangeran Andara membuat Syafira diam tak berkutik, berapa waktu ini Syafira tak mencoba untuk kabur, ia malah belajar menerima kenyataan bahwa dirinya akan selamanya berada di dalam istana milik siluman ular.


"Ini sudah malam kenapa belum tidur?" Dengan lembut pangeran Andara bertanya.


"Nungguin kamu" jawab Syafira.


Senyum merekah menghiasi wajah pangeran Andara. Beruntung ia dapat memiliki istri manusia seperti Syafira, walau beda spesies tapi itu tak menghalangi rasa cinta pangeran Andara untuk Syafira.


"Kamu habis nangis ya?" Mata Syafira yang merah membuat pangeran menebak jika sang istri habis nangis.


"Enggak kok, siapa yang nangis" elak Syafira.


"Kamu gak usah ngelak lagi, mata kamu sudah menjelaskan semuanya, gak perlu kamu bohong sama aku" ucap pangeran Andara.


Syafira memeluk erat tubuh pangeran Andara, membenamkan wajahnya di perut suaminya.


"Kenapa, ngomong sama aku apa yang bikin kamu nangis?"


"Aku merindukan keluarga ku" jawab Syafira spontan.

__ADS_1


Spontan pula pangeran Andara terdiam, tak ada sahutan, mendadak suasana hening.


Syafira melepas pelukannya, menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh kerinduan yang mendalam.


"Aku ingin berjumpa dengan keluarga ku, tolong pangeran, jangan siksa aku dengan menjauhkan ku dari mereka, aku ingin bersama mereka, aku mohon bawa aku pulang" mohon Syafira begitu tulus.


Bulir-bulir bening ikut berjatuhan membasahi pipi mulusnya, rasa rindu tak bisa di tahan-tahan lebih lama lagi. Sungguh Syafira tersiksa dengan rasa rindu yang ada di dalam jiwanya.


Tangan pangeran Andara menghapus lembut air sebening kristal."Aku akan mengantar mu pulang, tapi tunggu hari esok, aku akan membawa mu pulang setelah matahari terbit"


Senyum mengambang di wajah Syafira, untuk pertama kalinya Syafira mendengar dari mulut pangeran Andara langsung jika dia setuju untuk mengantar Syafira pulang.


"Yang bener pangeran?" Takjub Syafira setengah tak percaya.


"Sungguh aku mengatakan yang sebenarnya, sabarlah sebentar, besok setelah matahari terbit aku akan mengantar mu pulang ke rumah mu" janji pangeran Andara.


Syafira yang girang langsung memeluk erat tubuh pangeran Andara."Makasih pangeran"


"Sama-sama" sahut pangeran Andara dengan membalas pelukan hangat istrinya.


Senyum tak henti-hentinya mengambang di wajah Syafira, sudah tak sabar baginya untuk berjumpa kembali dengan keluarga dan teman-temannya setelah sekian lama waktu berlalu.


"Ini sudah malam, waktunya kamu tidur, istirahat yang banyak karena besok kamu tidak akan istirahat di sini lagi kamu akan tidur nyenyak di rumah mu" suruh pangeran Andara.


Betapa senangnya hati Syafira, hatinya begitu berbunga-bunga, tak sabar baginya untuk keluar dari istana dan bertemu dengan kota metropolitan yang menjadi tempat tinggalnya selama ini.


"Ayo tidur, jangan senyam-senyum terus" ajak pangeran Andara.


Syafira mengangguk patuh, ia merebahkan tubuh, malam ini adalah malam terakhir baginya berada di istana milik siluman ular, karena besok pangeran Andara sendiri yang akan mengantar Syafira pulang ke kota.


Syafira begitu tak sabar matahari terbit, saking tak sabarnya ia sampai susah untuk masuk ke dalam mimpi.


Rindu yang terbilang besar akan keluarga dan orang-orang yang ia sayangi membuatnya tak sabaran berjumpa dengan mereka setelah sekian lama ia terbelenggu di dalam istana milik siluman ular.


Malam semakin larut, rintikan hujan telah terhenti, dinginnya udara meniup tubuh gadis bernama Syafira.


Mata Syafira terbuka, ia dengan terkejut menoleh ke samping.


"Pangeran" panggil Syafira.


Syafira tersentak kaget saat tak menemukan pangeran Andara di sampingnya.

__ADS_1


"Kemana pangeran Andara, tadi dia tidur di samping ku"


Pangeran Andara menghilang secara tiba-tiba, Syafira membuang selimut yang melekat di tubuh, perasaannya tak enak saat ia tak menemukan pangeran.


Kakinya melangkah mencari keberadaan suaminya di kamar mandi dan area sekitar kamar tapi hasilnya nihil.


"Kemana pangeran Andara, dia gak ada di kamar, apa dia ada di luar?" Dugaan Syafira.


"Aku harus cari dia"


Syafira melangkahkan kaki keluar dari kamar demi mencari keberadaan pangeran Andara suaminya.


Kala berada di luar kamar suasana begitu sepi, tak ada yang berlalu lalang, istana yang megah berubah total dan terkesan mengerikan meski bangunannya megah.


"Di mana pangeran Andara, ini sudah larut malam, tidak mungkin bukan dia keluyuran jam segini. Apa mungkin dia ada di dapur?" Menerka-nerka Syafira.


"Aku harus periksa"


Kaki Syafira melangkah menuju dapur, kemungkinan besar pangeran Andara berada di dapur. Tak mungkin pangeran Andara bertugas di tengah malam seperti ini.


Tiba-tiba langkah Syafira terhenti, mengerutkan alis ketika melihat pintu kamar salah satu putri terbuka separuh.


"Kok kamar Maura kebuka, apa dia belum tidur ya?" penasaran Syafira.


Satu demi satu kaki Syafira melangkah mendekati kamar tersebut.


Sontak Syafira tercekat, terguncang melihat apa yang terjadi di dalam.


Orang yang Syafira cari-cari berada di dalam satu kamar dengan Maura, gadis yang menebarkan kebencian mulai dari pertama kali ia menginjakkan kaki hingga detik ini.


"Pangeran mengapa kau membiarkan manusia itu berlama-lama berada di sini, mengapa tidak kau bunuh saja dia, kau bilang pada ku kalau kau menikahinya untuk membuatnya menderita, tapi apa, sampai sekarang ancang-ancang itu belum terlaksana. Bukankah cinta mu hanya untuk ku, kau tidak berpaling kan?" Dengan manja Maura mengajukan pertanyaan.


Tangannya memeluk erat tubuh pangeran penerus kerajaan yang bergelar putra mahkota.


"Tentu saja tidak, aku tidak akan berpaling dari mu, tidak akan ada yang bisa menggantikan mu" jawab pangeran Andara memeluk erat tubuh Maura.


Setetes air mata mengalir, Syafira menutup mulut tak percaya.


Laki-laki yang bersikap baik, memperlakukannya dengan baik pula ternyata tindakannya dengan hatinya tidak selaras. Ada maksud lain di balik tindakannya.


Syafira tidak menduga kalau semua kebaikan pangeran Andara padanya palsu, itu cuman siasat semata untuk membuatnya jatuh ke dasar jurang.

__ADS_1


__ADS_2