
Tiba-tiba langkah pangeran William terhenti, tatapan matanya terarah pada seorang gadis asing yang di percaya bukan berasal dari bangsanya.
"Eh mau pergi kemana kau!"
Syafira memejamkan mata, dalam hatinya ia mengumpat karena usahanya untuk kabur dari istana ini kembali gagal.
"Aduh, kenapa pake ketahuan segala, sial banget aku hari ini" batin Syafira.
Wajah Syafira memucat, terlihat bahwa dirinya tengah tegang dan gugup. Dengan ketakutan Syafira berbalik badan dan menghadap seseorang yang telah meneriakinya.
"Siapa kau?" tanya pangeran William mengarahkan pedangnya ke arah Syafira.
Syafira menelan ludah pahit, senjata tajam yang mengarah kepadanya membuat semua impiannya kandas. Jika seandainya pedang tajam itu menusuk tubuhnya maka tamatlah riwayatnya.
"Katakan siapa kau sebenarnya, mengapa kau ada di mari?" tanya pangeran William kembali.
"A-aku Syafira, pangeran Andara yang membawa ku kemari, karena aku tidak sengaja melukainya dengan senjata api, tapi tenang saja, pangeran Andara berjanji akan membiarkan ku pergi setelah dia sembuh total" jelas Syafira gemetaran.
"APA! Kau telah melukai kakak ku!" teriak pangeran William terkesiap.
"Aku tidak sengaja, sungguh aku benar-benar tidak sengaja, aku mohon tolong maafkan aku" mohon Syafira.
"Tidak, aku tidak akan mungkin bisa memaafkan orang yang sudah menyakiti kakak ku, selamanya aku tidak bisa melakukan itu. Kau sudah membuat kakak ku terluka maka kau tidak berhak lagi untuk hidup" ancam keras pangeran William.
Pedang besar dan tajam itu hendak di layangkan. Syafira yang ketakutan memejamkan mata.
Syafira yang tak merasakan apa-apa kembali membuka mata. Betapa terkejutnya ia kala melihat tangan pangeran Andara yang berdarah karena melindunginya dari pedang tajam itu.
"Kakak" terkejut pangeran William.
"Pangeran" kaget Syafira.
__ADS_1
"Kakak, kakak tidak apa-apa. Kakak aku minta maaf, aku tidak sengaja" panik pangeran William kala mendapati tangan pangeran Andara penuh dengan darah.
Lirikan tajam pangeran William jatuh pada Syafira."Ini semua gara-gara dia kak, dia yang harus di salahkan"
Syafira mendadak panik, ia tidak melakukan apa-apa namun pangeran William menuduhnya yang bukan-bukan.
"Enggak pangeran, aku tidak melakukan apapun, dia yang tiba-tiba datang dan langsung berniat ingin melenyapkan ku, sungguh aku mengatakan yang sebenarnya" jelas Syafira gemetaran kala berada di ambang hidup dan mati.
"Apa itu benar Wiliam?" tanya dingin pangeran Andara.
"Benar kak, tapi aku melakukan itu bukan tanpa alasan, liat dia itu manusia, mengapa dia berada di sini, dia pasti mau aneh-aneh, ya sudah aku refleks ingin menghabisinya. Peraturan di kerajaan ini kan melarang kalau ada manusia yang menginjakkan kakinya di istana ini, lantas bagaimana dengan wanita ini, dia harus di usir, dia tidak boleh berada di sini" jawab pangeran William tidak mau di salahkan.
"Aku tau peraturan kerajaan memang melarang keras hal itu, namun di sini aku yang membawanya kemari, dia sudah melukai ku, dia tidak boleh pergi sebelum aku sembuh. Aku akan biarkan dia berada di sini untuk sementara, dia harus tanggung jawab, dia tidak boleh lari dari tanggung jawab, untuk itu dia akan tinggal di istana ini sementara sampai aku sembuh, dia juga akan merawat ku" jelas pangeran Andara biar tidak terjadi salah paham lagi antara Syafira dan juga pangeran William adiknya.
"Owh begitu, tapi kenapa harus Membawa kemari kak, di kerajaan ini ada banyak tabib, kakak bisa meminta bantuan tabib, tidak perlu membawa orang yang sudah membuat kakak terluka kemari" sinis pangeran William rada-rada tidak menyukai Syafira lantaran Syafira telah membuat kakak tersayangnya terluka parah.
"Di sini memang banyak tabib, tapi aku mau dia yang merawat ku sekaligus bentuk permainan maafnya. Kamu jangan apa-apain dia, jangan lukai dia lagi" perintah pangeran Andara.
Syafira yang mendengarnya meneguk ludah pahit, ancaman dan ujaran kebencian pangeran William amat besar padanya. Syafira tidak bisa menganggap itu semua dengan enteng.
"Sekarang kamu kembalilah ke kamar mu, istirahat lah, kamu tidak perlu memikirkan dia, dia tidak seberbahaya musuh-musuh kerajaan sebelah" suruh pangeran Andara.
"Tapi bagaimana dengan tangan kakak, tangan kakak harus di obati biar tidak semakin parah" khawatir pangeran William kala darah terus bercucuran dari tangan kakaknya yang terluka akibat ulahnya.
"Ini luka kecil, biarkan dia yang mengobatinya, kau tidak perlu memikirkan ku, aku baik-baik saja" jawab pangeran William.
"Apa kau benar bisa mengobati kakak ku?" tanya pangeran William pada Syafira dengan sangat serius.
"B-bisa, aku bisa melakukannya, aku yang akan mengobati pangeran Andara" gugup Syafira.
Berurusan dengan pangeran William ternyata lebih menyakitkan dari pada pangeran Andara.
__ADS_1
"Baiklah kalau seperti itu aku pergi dulu, obati kakak ku dengan baik, awas kalau kau malah membuatnya semakin parah, kau akan tau balasan atas kelalaian mu" ancam pangeran William.
Syafira mengangguk, ia akan menanggung segala konsekuensinya. Dalam hati Syafira ketakutan, wajahnya terlihat lebih memucat dari biasanya. Berada di tempat ini membuat Syafira tidak bisa tenang. Melakukan kesalahan sedikit saja hukuman mati yang akan Syafira dapatkan.
"Sana pergi, jangan urus aku lagi" usir pangeran Andara.
Pangeran William pun berlalu meninggalkan mereka. Syafira bernafas lega, berada di dekat pangeran William rasanya ia hampir mati.
"Obati luka ku, tidak perlu kau memperhatikannya lagi" suruh pangeran Andara.
"Baik" jawab Syafira.
Syafira mengobati tangan pangeran Andara di kamar pangeran Andara.
Syafira mengobati luka pangeran Andara dengan telaten. Sebisa mungkin ia tidak akan melakukan kesalahan.
"Sudah selesai, darah itu tidak akan mengalir lagi" ucap Syafira tersenyum senang ketika tangan pangeran Andara telah di baluti dengan perban.
Senyum manis Syafira pudar, ia menjadi takut di tatap tanpa berkedip oleh pangeran Andara.
"Kenapa dia menatap ku seperti itu, apa ada yang salah dengan ku. Kenapa aku menjadi takut seperti ini" batin Syafira kembali ketar-ketir.
"Jangan dekat-dekat dengan adik ku" suruh pangeran Andara.
"Kenapa? Apa dia lebih berbahaya dari pada racun mematikan?" tanya Syafira.
"Tentu saja, dia lebih berbahaya dari racun manapun, aku peringatkan pada mu jangan dekat-dekatnya. Dia itu sangat tidak suka dengan manusia, dia paling anti sama manusia, aku hanya takut dia menghabisi mu di belakang ku" jelas pangeran Andara.
Syafira tercekat, peringatan pangeran Andara sangat menakutkan.
"Aku masih mau hidup, aku tidak mau mati, aku pasti tidak akan mau berdekatan dengan orang yang bisa membunuh ku" jawab Syafira masih sayang dengan nyawanya.
__ADS_1
"Bagus" sahut pangeran Andara.