Jerat Siluman Ular

Jerat Siluman Ular
Terpaksa pergi


__ADS_3

Tatapan tajam pangeran Andara jatuh pada Syafira yang terus menunduk takut tak berani mendongak sama sekali.


Pangeran Andara bangkit dari duduk dan dengan wajah sangar menarik paksa Syafira lalu membawanya pergi dari sana.


"Pangeran lepasin aku, lepas, jangan sakiti aku, aku mohon tolong lepaskan aku dari sini, aku tidak mau berada di sini, aku mohon pada mu, ampuni aku, tolong kasihanilah aku" titah Syafira mencoba melepaskan tangan pangeran Andara dengan sekuat tenaga.


Pangeran Andara tak menggubris, ia tanpa ekspresi membawa Syafira kembali ke dalam kamarnya.


"Pangeran lepaskan aku, tolong lepaskan aku!" teriak Syafira.


Pangeran Andara melepas paksa tangan Syafira dan menyebabkan Syafira jatuh ke bawah.


Syafira memekik keras saat tubuhnya terasa sakit akibat ulah pangeran Andara.


Tatapan mata kecewa dan marah Syafira jatuh pada pangeran Andara yang berdiri di depannya tanpa rasa bersalah.


"Apa mau mu? Kenapa kamu selalu suka menyiksa ku, tak bisakah kau memaafkan ku. Aku melukai mu juga tidak sengaja, bukan karena kesengajaan, tapi kenapa kamu malah sejahat ini pada ku!" teriak Syafira mengeluarkan semua unek-uneknya dengan air mata yang sesekali membanjiri wajahnya.


Tidak hanya pangeran Andara yang bisa marah, Syafira juga bisa marah.


Pangeran Andara berjongkok dan mencekal kuat dagu Syafira."Aku tidak akan pernah melepaskan mu, kau boleh pergi dari sini, asalkan luka di perut ku ini sembuh"


"J-jadi kau tidak akan membunuh ku?" tanya Syafira di barengi mata yang berbinar.


Kepala pangeran Andara menggeleng."Aku tidak akan membunuh mu, nanti kau boleh pergi setelah aku sembuh total"


"Sungguh? Kau sungguh akan melepaskan ku" Syafira merasa tak percaya dengan apa yang barusan terdengar di telinganya.


"Iya, aku tidak akan membunuh mu, kau bisa pegang kata-kata ku, aku tidak akan mengingkarinya" jawab pangeran Andara.

__ADS_1


"Terima kasih, terima kasih pangeran"


Refleks Syafira memeluk erat tubuh pangeran Andara saking senangnya. Sebelum-sebelumnya Syafira tidak pernah bayangkan kalau pangeran Andara akan melepaskannya.


"Sungguh aku berterima kasih pada mu, aku hutang budi pada mu dan untuk itu aku akan merawat mu sampai kau sembuh. Aku janji aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum kamu sembuh" ujar Syafira akan membalas budi apa yang pangeran Andara lakukan padanya.


"Baiklah, mulai besok kau harus merawat ku dengan sebaik mungkin baru kau bisa pergi meninggalkan istana ini. Aku sendiri yang akan mengantarkan mu pulang" janji pangeran Andara.


Seulas senyuman manis merekah di bibir Syafira. Syafira sudah salah sangka, ia tadi mengira bahwa pangeran Andara benar-benar kejam dan jahat padanya, namun entah mengapa hati pangeran Andara tiba-tiba lunak dalam sekejap mata.


"Aku pasti akan merawat mu sampai sembuh, aku berjanji" jawab Syafira.


Pangeran Andara menggendong tubuh Syafira ala bridal style dan meletakkannya di tempat tidur.


"Tidurlah, kamu aman berada di sini, kamu jangan keluar kamar tanpa pengawasan ku karena itu akan sangat berbahaya. Orang-orang di kerajaan ini tak semua mengenal mu, aku hanya takut kamu di apa-apain oleh mereka" suruh pangeran Andara.


"Tetap diam di sini, aku tinggal dulu" titah pangeran Andara dan di balas anggukan oleh Syafira.


Pangeran Andara berlalu meninggalkan Syafira di dalam kamar sendirian. Senyuman manis itu tak kunjung sirna malah semakin menghiasi wajah Syafira.


Syafira menutup mata, rasa khawatir dan takut yang tadi menyerang dadanya tiba-tiba menghilang dalam sekejap.


Syafira menutup matanya dan berniat akan istirahat.


"Eh tapi kenapa pangeran Andara yang tadi kejam dan terus berargumen kalau dia akan bikin aku menderita serta menyebutkan bahwa dia akan membunuh ku tiba-tiba berubah jadi baik kayak gini"


Rasa curiga kembali menghantui Syafira. Syafira masih ingat betul apa saja yang pangeran Andara katakan di depan semua orang, namun setelah sampai di dalam kamar seketika ucapan dan tindakannya berbanding terbalik.


"Apa mungkin ini adalah triknya untuk mengelabui ku. Sebenarnya dia ingin membunuh ku namun dia pura-pura baik sama aku biar aku gak waspada"

__ADS_1


"Fixs ini kalau dia memang punya niat jahat di balik ini semua, aku gak boleh tertipu sama dirinya, aku harus tetap waspada. Dia bisa aja bunuh aku dengan caranya, gak harus dengan cara kasar bukan"


Rasa waspada kian meningkat, Syafira tak akan lengah walaupun ia sudah mendapatkan kartu hijau dari pangeran Andara yang sudah sempat ia celakai.


Syafira memejamkan mata, ia terlelap di dalam kamar pangeran Andara. Untuk sementara Syafira mengesampingkan itu semua.


Sementara itu.


Kevin, Rakha, Jessi dan Vino bergegas meninggalkan hutan. Mereka tak mau berlama-lama berada di tempat yang berbahaya itu.


Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil milik Kevin yang di titipkan pada kepala desa. Letak desa itu tak jauh dari hutan yang akan mereka jadikan tempat untuk menjelajah dan bercamping.


Mobil berwarna putih itu melaju kencang meninggalkan tempat paling terkutuk di hidup mereka.


"Kevin, Syafira masih ada di dalam hutan, gimana ini Kevin. Masa kita tinggalin dia di sana sendirian, bagaimana kalau ada apa-apa yang terjadi sama dia, apa yang akan kita bilang pada orang tua Syafira?" Rakha memikirkan nasib Syafira yang mereka tinggalkan di dalam hutan sendirian.


"Rakha, kita semua ini terpaksa ninggalin Syafira. Ini darurat, kita harus segera menyelamatkan diri, kita tidak bisa berlama-lama lagi berada di sana" jawab Kevin.


"Terus bagaimana dengan nasib Syafira kalau kita semua pergi ninggalin dia gitu aja" ujar Rakha terus menerus cemas dengan Syafira yang masih berada di dalam hutan tak sempat mereka ajak pulang.


"Apa yang harus kita lakukan saat kedua orang tuanya nanya sama kita kemana Syafira pergi, gak mungkin kan kita bilang kalau Syafira kita tinggalin di hutan sendirian" tambah Rakha.


Mereka semua diam, dalam hati mereka juga tidak mau meninggalkan Syafira, namun keadaan mendesak mereka untuk melakukan ini.


"Kami sebenarnya gak mau ninggalin Syafira Rakha, tapi gak ada cara lain, kita terpaksa ninggalin Syafira. Di antara kita gak ada yang punya nyali untuk kembali ke dalam hutan dan nolongin Syafira. Kalian gak lupa kan alasan kenapa kita kabur dan ninggalin Syafira kayak gini" ungkit Jessi.


"Kita gak mungkin lupa, koia sampai lari terbirit-birit cuman karena ingin menyelamatkan diri dari ular raksasa itu. Naasnya Syafira berada di paling belakang dan sekarang di antara kita gak ada yang tau nasib dia kayak gimana" jawab Vino.


"Apa iya Syafira masih hidup, ular itu berukuran sangat besar. Ular itu adalah ular terbesar yang aku lihat di dunia ini. Aku sedikit tidak yakin kalau Syafira masih hidup" Kevin merasa tak yakin jika Syafira masih bernyawa sampai detik ini.

__ADS_1


__ADS_2