
"Syafira kau!"
Pangeran Andara tercekat, Syafira yang ia kenal polos, lugu dan penakut tiba-tiba berubah dalam sekejap.
Sehari tak berjumpa jiwa dan karekteristik Syafira berubah, pangeran Andara yang merasakan jelas perubahan itu tercengang.
Gadis di depannya begitu berani hingga menamparnya dengan begitu keras. Ketika di istana Syafira tak akan mungkin melakukan itu semua pada pangeran tampan di depannya.
"APA? mau ngomong apa, kau tidak terima? Mau marah, silahkan" tantang Syafira.
Manik mata Syafira menatap tajam, tak ada rasa takut di balik pancaran bola mata indah itu.
Tak akan Syafira mau di perbudak lagi, saat ini Syafira berada di alamnya, tak perlu takut pada siluman ular di depannya.
Pangeran Andara mengepal kuat tangannya, gadis di depannya sekarang begitu berani melawannya.
"Sial, dia sudah tidak takut lagi pada ku, siapa yang sudah merubahnya" batin pangeran Andara mengumpat kesal.
Kini keadaan berbalik, keadaan mencekik pangeran Andara. Dulu Syafira yang merasa tercekik ketika berada di istana siluman ular, kini giliran pangeran Andara yang merasakan hal yang sama.
"Aku minta sama kamu, jangan pernah datangin aku lagi, pergi yang jauh, aku gak butuh kamu lagi!" Pertegas Syafira tak main-main.
Hatinya terlanjur sakit, tak mau merangkul sesuatu yang membuatnya makin sakit.
Sudah waktunya Syafira melepaskan rasa sakit yang beberapa waktu ini terlukis paksa di tubuhnya.
Tanpa aba-aba Syafira meninggalkan pangeran Andara yang diam mematung.
"Syafira, Syafira aku mau ngomong sesuatu, tolong kamu dengarin dulu" pangeran Andara mencoba menghentikan Syafira.
Syafira tak menggubris, ia keluar dari toilet dan berjalan lurus tak peduli lagi pada pangeran Andara.
"Syafira tolong dengarin aku dulu, aku mohon jangan pergi!"
"Syafira, Syafiraaaaaa!" Teriak keras pangeran Andara.
Tapi wanita yang ia teriaki tak merespon, malahan makin menjauh.
Jiwa ketidakpedulian Syafira tak lagi ada, ikutan menyingkir bersamaan dengan pengkhianatan yang telah pangeran Andara lakukan diam-diam.
Syafira tak memberi tanggapan, kekecewaannya tak akan mungkin membuatnya berbalik badan dan kembali merangkul orang yang sudah menusuknya hingga ia jatuh ke jurang paling dalam.
Orang yang Syafira bela-bela, ia kira baik pada akhirnya menusuknya dengan halus.
Syafira begitu bodoh percaya pada siluman ular yang kedatangannya untuk melukainya.
__ADS_1
"Kenapa dia harus datang kembali, kenapa harus dia, kenapa dia gak berhenti saja, apa yang lagi dia rencanakan coba" batin Syafira bergerutu sepanjang jalan.
Perih hati Syafira saat bertemu lagi dengan orang jahat yang mengaku baik dan pada akhirnya melukai hati tulusnya dengan tipuan muslihatnya.
Bruukk
Syafira tersentak kaget, akibat ketidak fokuskan menyebabkan ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, maaf, maaf"
Syafira langsung mengucap ribuan maaf, tanpa melihat siapa yang ia tabrak.
"Santai aja, aku gak papa kok" jawabnya.
Sontak Syafira tersentak kaget ketika mengenali suara lembut yang masuk ke gendang telinganya.
"Erlangga!" Terkesiap Syafira menatap pria tampan yang barusan ia tabrak.
Orang yang bernama Erlangga tersenyum."Kalau jalan itu liat-liat, jangan main nabrak aja" ucap Erlangga lembut.
"Maaf maaf, sumpah aku gak sengaja, aku beneran minta maaf"
Ribuan maaf lagi-lagi Syafira ucapkan, ia begitu teledor hingga tak sengaja menabrak orang lain.
"Aku udah maafin kok, santai aja"
Syafira begitu bersyukur bertemu dengan Erlangga, walau pertemuan mereka terbilang dadakan.
"Btw kamu kenapa bisa ada di kampus ini juga?" Tanya Syafira merasa janggal.
Syafira mengira ia tidak akan bertemu lagi dengan Erlangga, tapi tanpa aba-aba lagi-lagi Syafira kembali berjumpa dengan Erlangga, itupun karena faktor ketidak sengajaan.
"Aku kuliah di sini, emangnya kamu juga kuliah di sini?"
Syafira mengangguk."Iya aku juga kuliah di sini"
"Oh ya, gak nyangka loh kita bisa satu kampus" tampak girang Erlangga.
Syafira membalas dengan senyum ramah, Erlangga memang tipikal orang baik yang suka menolong, Syafira menjadi nyaman berada di dekatnya.
Sifat tulus Erlangga gampang untuk menarik perhatian orang lain, selain wajahnya yang tampan rupawan, pria itu juga berhati seperti malaikat.
"Ini kamu mau kemana, kamu pulang apa gimana?" Tanya Erlangga.
"Aku udah pulang, kelas aku udah berakhir" jawab Syafira.
__ADS_1
"Kalau begitu aku anterin kamu pulang kamu mau gak?" Tawar Erlangga.
Syafira bimbang, antara menolak atau tidak ia bingung.
Jika Syafira menolak ia tak enak hati namun jika ia menerima Syafira masih ingin menghindari laki-laki.
Syafira menoleh ke belakang, telah ada seorang pria berjas hitam mengepal tangan, wajahnya bak udang rebus, sangat tak suka ketika melihat Syafira berdekatan dengan laki-laki lain.
Syafira langsung menatap ke Erlangga kembali, tak mau menatap pria itu lebih lama lagi.
"Gimana kamu mau gak?" Tawar Erlangga sekali lagi karena Syafira tak kunjung memberikan jawaban.
"Boleh, ayo kita pergi, aku gerah di sini" ajak Syafira.
Erlangga setuju, mereka pun melangkah meninggalkan kampus.
Syafira sengaja memepet pada Erlangga agar hati pangeran Andara merasa panas.
Moment ini Syafira jadikan untuk balas dendam, walau sebelumnya tak pernah dia memiliki niatan untuk balas dendam, tapi kesempatan emas ini ia pergunakan dengan sangat baik.
Kedekatan Syafira dan Erlangga telah berhasil membuat hati seorang pangeran ular memanas.
"Apa-apaan ini, kenapa Syafira pergi dengan laki-laki lain, dia itu lupa kalau dia sudah punya suami apa bagaimana!" Geram pangeran Andara merasa panas melihat adegan series layaknya di film-film yang terjadi tepat di depan matanya.
Amarah pangeran Andara memuncak, Syafira makin keterlaluan, terang-terangan mengusirnya kini apa yang ia lakukan, dia malah pergi bersama dengan pria lain.
Sebagai seorang suami pangeran Andara tak suka dan tak terima istrinya melakukan ini semua.
"Awas aja apa yang akan aku lakukan!" ucap pangeran Andara tak akan tinggal diam.
Erlangga mengantar Syafira pulang ke rumah dengan selamat tanpa kekurangan apapun, setelah itu ia langsung melesat pergi karena ada urusan yang perlu di selesaikan.
Syafira masuk ke dalam rumah."Ma aku pulang"
Sapaan Syafira terdengar lemas, mood Syafira rusak. Bukan rusak lagi tapi hancur lebur itu semua gara-gara pertemuan singkatnya dengan laki-laki yang pernah menghancurkannya.
"Kamu pulang sama siapa, kok tadi mama liat ada mobil di depan rumah" tanya Mery.
"Sama teman, aku masuk ke kamar dulu"
Tanpa banyak bicara Syafira menaiki tangga menuju kamarnya.
Orang yang paling Syafira ingin hindari dengan mudah malah hadir kembali ke dalam kehidupannya.
Syafira berusaha sekeras mungkin untuk berusaha keluar dari ruang lingkup yang menyangkut pangeran Andara tapi takdir serasa tak berpihak.
__ADS_1
Syafira merebahkan tubuh di kasur, tubuhnya begitu letih."Kenapa aku lagi-lagi harus ketemu sama pangeran Andara"
"Kenapa dia pake datang ke kampus dan jadi dosennya, gimana caranya aku hindarin dia"